
Ucapan Kapten Zaiya sebelumnya membuat Aswa Daula masih sama, tidak mengerti.
Apa maksud ucapannya. Aneh? Sangat aneh ditangkap logika. Kapten Zaiya saat itu menatap paham. Wajah sembunyi di balik kain hitam itu menyeringai.
“Heh, kau tidak mengerti ucapanku?” tanya Kapten Zaiya, sedikit mendengus.
Aswa Daula mengangguk, tidak bersuara. Perasaannya masih takut menatap, juga takut tersalah ucap yang akan menimbulkan masalah. Bisa berakibat fatal nantinya.
“Kau perlu masuk sekolah!” Kapten Zaiya menepuk pundak Aswa Daula.
Ini bukan kenangan dan masa lalu buruk. Melainkan inilah cahaya putih yang tadi menyeruak, mengingatkan kembali moment Kapten Zaiya yang kala itu membuat Aswa Daula merasa tentram. Bisa tertawa.
“Aswa Daula, namamu mempunyai arti yang bagus dan semoga kau bisa menjadi orang yang kuat dan tegar dalam menjalani kehidupan ini, tidak selalu kebahagian. Perasaan datang silih berganti, baik sedih maupun bahagia. Keduanya sama saja dalam bentuk perasaan.” Kapten Zaiya kembali menuturkan perkara tambahan.
“Menghadapi ujian demi ujian hidup perlu kesabaran, seperti elang yang tadi terbang di langit. Kepakkan sayapmu dan jangan biarkan orang lain menghentikanmu terbang, teruslah menelusuri negeri ini dan jangan pernah berputus asa. Karena hidup tidak selalu bahagia, seperti pasang surut air laut dan beberapa cahaya bintang di langit. Matahari yang bersinar menambahkan rasa peduli terhadap alam ini. Dengan mata orang dapat melihat alam semesta dan melihat berbagai macam makna dan keindahan yang selama ini terkandung di dalam kitab-kitab.”
Kapten Zaiya sejenak berjalan. Duduk di hamparan pasir. Menyuruh hal yang sama pada Aswa Daula agar ikut duduk.
Aswa Daula tak bersuara mengikuti. Mereka berdua saling berduduk menatap lautan. Kesiur angin dan membelai dedaunan kelapa di sana, wajah teduh menenangkan.
“Aswa Daula. Inilah kehidupan yang dari dulu sangat ingin kunikmati. Jabatan menjadi seorang kapten membuatku terlalu sibuk mengurus perkara masalah dan sibuk memimpin perintah untuk mereka terus bekerja. Hari ini aku mengambil masa istirahat berjalan menyusuri pantai hingga aku melihatmu dari kejauhan.” Kapten Zaiya menjelaskan apa yang dirasakannya.
__ADS_1
“Linangan air yang kutatap di matamu membuktikan suatu tanda kau sedang merasakan pedihnya kehidupan di dunia ini, begitulah kehidupan dalam peristiwa dan perkara yang kadang menyebalkan. Terlebih kau harus menyakininya bahwa ujian hidup adalah tameng kuat yang akan membuatmu menjadi bangunan kukuh. Jalani kehidupan dengan lapang dada supaya kau terus bisa tersenyum menatap dunia ini dari masa ke masa.”
“Mengenai ini kau tidak perlu menjawab semua ucapanku. Beginilah ringkasnya apa yang dari dulu ingin kurasakan. Merasakan hawa damai tentram.”
Kapten Zaiya kembali menerangkan panjang lebar mengenai alasan kedatangannya dan beberapa kalimat yang sengaja dituturkan untuknya. Sekadar ingin beristirahat dan berjalan menyusuri pantai.
Aswa Daula menatap, memenuhi perasaan yang mencair dari semula beku bagai es di kutub utara. Aswa Daula kini merasakan aura yang berbeda dan ternyata Kapten Zaiya memiliki sikap yang tidak pernah diduga olehnya.
Ada keinginan kuat untuk Aswa Daula bertanya mengenai apa yang ditulis oleh Kapten Zaiya usai bertarung dengan Kapten Auriza. Sebenarnya tulisan apa yang ditulisnya saat itu?
Itulah pertanyaan yang ada dalam kepala Aswa Daula sekarang. Dengan tidak berani dia membungkam semua itu, tidak jadi mempertanyakannya.
Kapten Zaiya seakan menatap paham. Dengan perangai Aswa Daula, tatapan mata menebak semuanya. “Adakah sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku. Karena daritadi aku memperhatikan kau tidak bersuara, saat kutanya apa kau tidak mengerti dan kau mengangguk, sekarang berikanlah aku pertanyaan apa yang tidak kau mengerti?”
“Apa boleh aku bertanya di luar pembicaraan?” Aswa Daula memberanikan dirinya dengan suara yang diatur.
Meminta izin dengan perangai takzim. Anak berusia kecil terbilang tujuh tahun itu merasa takut kalau tidak izin terlebih dulu, sopan santun saat itu begitu dijaga. Saat bertutur bercampur perasaan gugup yang membahana di jantungnya. Berhadapan sesosok kapten yang selama ini ditakuti olehnya, siapa sangka bahkan sekarang dia bicara langsung tatap muka dengannya.
Kapten Zaiya mengangguk. “Silakan, bertanyalah dan aku akan menjawabnya. Apa pun yang akan kau tanyakan sambil mengisi waktu istirahatku sekarang. Perlu kau tahu baru kali ini aku merasa seperti bebas dan tidak terkekang oleh perkara yang menyebalkan.”
Aswa Daula mengangguk senyum, menatap sebentar menguatkan mental. “Sebelum itu aku ingin meminta maaf karena benar akulah orang yang mengintip di balik semak belukar hari itu ....” Aswa Daula terhenti.
__ADS_1
Persis ucapan di ujung lidah, tak sanggup meneruskan takut tersalah dan terbayang bayangan suatu hal yang akan membuat Kapten Zaiya murka terhadapnya.
“Heh, aku sudah mengatakannya dan itu tidak mengapa. Langsung ke inti saja, silakan tanya apa yang ingin kau tanya?”
Kapten Zaiya tidak marah, tetapi membuat Aswa Daula garuk kepala. Pertanyaan yang sebelumnya ingin dia tanya menjadi ambyar dan terkesan tidak relevan. Membayangkan hal demikian perasaan pun bergejolak serba salah, bahkan takut tersalah ucap dan lain sebagainya yang membuatnya gemetar.
“Bukankah sebelumnya pernah kukatakan kau tidak perlu takut. Perlu kau tahu selama orang yang berhadapan denganku tidak berbuat salah yang berlebih dan tidak termasuk sikapnya di buku catatanku, aku tidak membunuh sembarang orang.” Kapten Zaiya menjelaskan.
“Termasuk kapten Auriza yang telah kucatat namanya di buku catatanku dengan beberapa untai kalimat bahwa kematian memang pantas baginya yang memiliki sikap keserakahan. Bagiku sikap itu hanya akan mengotori dunia ini dengan ocehan ocehan yang tidak punya tata krama.”
Kapten Zaiya mengatakannya. Secara tak langsung benak pikiran Aswa Daula membayangkan saat itu Kapten Zaiya menulis catatan. Dan itulah yang ingin dia tanyakan sebelumnya mengenai tulisan apa yang ditulis oleh kapten tersebut.
Aswa Daula masih enggan. Menimbang kemungkinan yang akan terjadi, sosok anak kecil berusia tujuh tahun itu memiliki perangai yang tidak sembarangan.
“Sepertinya kau enggan bertanya.” Kapten Zaiya mengatakan dugaan.
“Untuk menyakinkanmu saat ini aku akan berjanji apa pun yang kau tanyakan kepadaku, aku tidak akan marah dan tidak akan menganggapnya sebagai pertanyaan menyebalkan. Maka, bertanyalah!”
“Terlebih ini adalah masa istirahatku, aku ingin menatap keindahan lautan lebih lama dari sekadar tugas yang menyebalkan. Dan aku menyukai pertanyaan, bahkan semakin rumit bagiku semakin baik.”
Sosok kapten berambut merah dan wajah tertutup kain hitam itu menjelaskan semuanya sambil menatap lautan.
__ADS_1
Aswa Daula mengangguk senang. Ternyata sosok Kapten Zaiya itu menyimpan sikap yang membuatnya merasa seperti berada di bawah langit bertabur bintang dan rembulan dengan tiupan angin yang menenangkan.
Aswa Daula kembali berusaha memberanikan diri dan bersiap dengan perasaan mantap ingin mengatakannya.