
Perbincangan mereka berdua melibatkan amarah, tuturan kata terucap berdasarkan kekesalan dan bualan pikiran.
Akma Jaya bergerak tangan—menepuk pundak sahabatnya. "Tabra, dia mempunyai pedang petir, sepertinya kau tak akan sanggup untuk menghadapinya, biarkan aku saja." Akma Jaya tersenyum dari arah belakang, sedangkan Tabra masih menatap lawan.
"Kapten, saya sudah melihat semuanya, mengenai itu biarkanlah, mati pun tak apa, demi kapten saya rela melakukan apa saja." Tabra juga tersenyum, tetapi tidak menatap Akma Jaya.
Kapten Broboros tertawa lepas, frekuensi suara mereka, ternyata dapat didengar jelas si wajah gurita yang sedang melebarkan mulut tersebut.
"Haha.. kalian berdua pecundang, lemah, berbincang, bersandiwara seakan kalian saling melindungi!" Kapten Broboros berucap setelah puas tertawa.
"Broboros, kami tidak lemah, hanya saja apakah kau berpikir, kau mempunyai pedang petir, bahkan kau bertarung menggunakannya, kekuatan mistik yang jauh berbeda, sedangkan kami tidak mempunyainya, Apakah kau ingin berlaku curang dalam pertarungan ini?" Tabra mengucapkannya spontan.
"Lantas, apa yang kau inginkan?" Kapten Broboros sedikit mengeluarkan tawa bernada sinis. Tabra menggenggam..
"Bertarunglah denganku menggunakan pedang biasa, maka kau akan tahu siapa yang sebenarnya lemah, andai aku mempunyai pedang mistik, niscaya kau sudah mati di tanganku!" Tabra berucap sangar. Berandai-andai. Sesuatu yang diharapkan dan andai. Hanya itu, tidak lebih sekadar bualan.
Kapten Broboros memasukkan pedang ke tempatnya—kompang—Dia setuju dengan ucapan Tabra. Sedikit tertawa dia menatap Tabra dengan sifat arogan.
"Sebenarnya dari dulu hingga sekarang aku adalah orang yang pemalas, tepatnya malas bertarung, selama ini aku lebih memilih untuk menyambar mereka dengan petir, tetapi sekarang, aku melihatmu, rasa gairah bertarungku seperti meningkat, aku sangat ingin menebasmu." Kapten Broboros berujar sinis. Dia memang sering menganggap lawannya lemah, begitu. Akan tetapi, Hampir semua kapten bajak laut memang cenderung mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, kadang itu berlebihan, terlalu tinggi, hebat katanya—tak pandai bercermin atau mereka enggan.
Terkadang apa yang dipandang diri, betul mantap. Namun, ada kalanya itu salah, semua kepastiannya dikembalikan ke asal permasalahan.
Tak butuh waktu lama, Kapten Broboros mengakhiri perbincangan, dia cepat bergerak memelesatkan serangan, Tabra pun sama. Mereka bertarung dengan sepak terjak pedang biasa. Gerakan keduanya berpapasan.
Akma Jaya mengembuskan napas lelah, dia beristirahat, sedangkan Tabra sedang sibuk bertarung di hadapannya. Pelesatan pedang. Begitu, mereka saling serang.
Beranjak dari tempat itu, pada waktu yang sama. Asgaha menghela napas. "Hei, Asdama. Apakah kau tidak bosan berada di dalam kedai ini?" Dia bertanya dari tempat duduknya.
Asdama mengernyit. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" Dia balik bertanya.
"Tak apa, apakah kau berpikir sama denganku, nanti malam akan banyak bajak laut yang datang ke pulau ini, nasib dua orang yang kita lihat di menara pasti akan bernasib sial." Asgaha mengalihkan pembicaraan.
"Sial? Aku tidak percaya kalimat itu." Asdama tetap fokus menatap buku, dia geleng-geleng kepala seraya mengucapkannya.
Asgaha terbelalak mata. "Kau tidak percaya? Sungguh terlaluuu, kesialan itu memang ada, kau harus tahu."
__ADS_1
"Ya, kau percaya. Aku tidak." Asdama menjawab ringkas.
"Sudahlah, berbincang denganmu membuat kepalaku bertambah pusing!" Asgaha menyeringai.
Asgaha beranjak pergi dan menabrak meja. "Aduuuh, benar-benar sial!" Asgaha berucap nyaring seolah-olah dia sengaja melakukannya, sejenak Asdama tertawa.
"Hei, Asdama. Kenapa kau tertawa, apa ini lucu buatmu?" Asgaha berkacak pinggang.
Bersegera Asdama menatap bukunya, pura-pura tidak ada yang terjadi, Asgaha menghampiri dengan sorotan mata sipit. "Haah, dasar!" Asgaha balik memutar pandangan, dia memilih keluar kedai, bermaksud untuk melihat keseluruhan kejadian di sekitaran menara.
Namun, dia mengurungkan niat, dia beranggapan lebih baik pulang ke kedai minuman miliknya.
Beuh, padahal kejadian di tempat menara, lagi seru-serunya. Di mana Tabra dan Kapten Broboros berkuat tenaga saling melancarkan serangan, keduanya menebaskan pedang.
"Jika kau menyadari betapa lemahnya dirimu, kau akan berlutut di hadapanku!" Kapten Broboros berucap lantang.
Tabra meloncat mundur untuk menghindari serangannya. "Tidak, kau salah. Jika aku lemah, bahkan sekarang kau berucap, aku sudah lama menyadari kelemahan diri, tetapi meskipun begitu, aku tak sudi berlutut di hadapanmu!" Tabra menjawab, mengakui kelemahan dirinya, hanya saja ucapannya bukan berarti merendah.
Kapten Broboros menancapkan pedang, dia seperti tidak ingin bertarung lagi, sorotan mata tampak layu dan enggan bersitatap.
Kerumunan pun menatap heran. Bahkan, banyak yang tidak percaya. "Ba—bagaimana mungkin Kapten Broboros memaafkannya begitu saja."
"Hah, pasti orang itu melakukan ilmu sihir untuk menghipnotis Kapten Broboros!"
"Tidak, sepertinya Kapten Broboros memang memaafkannya!"
"Heh, bukankah mereka sudah merusak menara dan juga membunuh Kapten Riyuta, apakah semudah itu untuk memaafkan mereka?"
"Entah apa yang dipikirkan Kapten Broboros, ini membingungkan!"
Kerumunan sibuk berbincang mengenai apa yang mereka dengar dari mulut Kapten Broboros. Tabra pun sama.
"Apa maksudmu? Kau berubah sikap sekejap mata, berucap memaafkan semudah itu, apakah kau sedang menunjukkan bulu domba kepadaku?" Tabra memulainya, menunjukkan ketidakpercayaan dirinya melalui ucapan.
Kapten Broboros mendengus. "Kau menuduhku sembarangan, tapi tak apa. Lebih utama dari semua hal, dia lebih utama." Kapten Broboros menatap ke arah jasad Kapten Riyuta
__ADS_1
"Aku akan membawa sahabatku untuk menguburkannya sebelum petang menjelang." Kapten Broboros melanjutkan ucapan damai, sejuk. Kata itu terucap tak mencerminkan sosok Kapten Broboros yang semula berucap sangar, seketika Tabra merasakan iba di sanubarinya, terkikis ombak, tertiup angin, terlewat masa. Begitu, singkat menyayat.
"Kapten." Tabra balik menoleh ke arah Akma Jaya.
"Tabra, sepertinya dia tulus memilih untuk memaafkan kita," jawab Akma Jaya seraya berdiri dari posisi bungkuknya.
Kapten Broboros tak menghiraukan mereka lagi. Sekarang, dia menenteng Kapten Riyuta di pundaknya, kesalahan apa ini? Sekilas menyakitkan, menggores luka yang tak kunjung iba, tetapi kerumunan menatap iba, sedih terasa, perih pun sama. Seketika deraian air mata tumpah, mengalir di setiap pasang mata, mereka ikut mengiringi, tepat di belakang Kapten Broboros.
Dukacita melibatkan seutas nyawa
Seketika asa berkelabu, berurai sendu
Mereka semua pergi dari hadapan Akma Jaya dan Tabra. Tak memedulikannya dan tak menghiraukan kedua orang yang tadinya merusak menara dan membunuh.
"Kapten, sepertinya ini sudah selesai, lebih baik kita cepat pergi dari sini." Tabra mengajukan saran, dia menatap Akma Jaya.
Mereka berdua bersitatap. "Itu, baiklah. Kita akan pergi." Sejenak Akma Jaya menghela napas, mendongakkan kepala ke permukaan cakrawala, "Waktu mendekati petang, nanti malam akan banyak bajak laut yang berdatangan ke wilayah ini." Dia melanjutkan ucapan kemudian berjalan, walau terhuyung.
"Kapten, sepertinya Anda sudah kelelahan." Tabra sigap merangkul tangan kanan Akma Jaya ke pundaknya. Kini mereka berdua berjalan. Dirangkul, tersenyum.
Langkah yang berpijak, bertapak pelan menelusuri jalanan menuju kapal hingga tapak kaki mereka sampai di dermaga.
Hawa-hawa damai, lautan membiru indah, membentang terhias cahaya matahari yang mulai condong ke arah barat, mendekati waktu petang.
Ketika Akma Jaya dan Tabra tiba di dermaga, para anak buah menatap senang. "Kapten, syukurlah." Mereka menyambut kedatangan sang Kapten.
"Apa Anda baik-baik saja?" tanya salah seorang lainnya. Akma Jaya hanya mengangguk, tetapi rangkulan Tabra sudah membuktikan keadaan yang sebenarnya.
Mungkin anak buah itu hanya sekadar basa-basi saja. Toh, sudah kelihatan dari embusan napas lelah, bahkan berjalan dirangkul. Semua itu membuktikan, tak perlu lagi penjelasan.
Aisha mendengar suara di luar. Lantas keluar kabin, dia bersegera menyambut kedatangan sang kapten.
Akma Jaya memasuki kapal, di sana Aisha kembali ingin mengobati luka Akma Jaya, tetapi Akma Jaya menolaknya. Bahkan, dia mengatakan tidak ada luka sedikit pun, pusaka Atramata sudah memulihkannya. Walaupun sekarang, pusaka itu telah pecah berkeping-keping. Tak butuh waktu lama, layar kapal dibentang, mereka berlayar meninggalkan Wilayah Nanaina. Selamat diri mereka, tak ada cacat sedikit pun di anggota tubuh.
Suatu keberuntungan mereka juga berhasil mendapatkan inti menara berupa permata, Akma Jaya bermaksud kembali ke Desa Lauma untuk bertemu Adfain dan menyerahkan permata itu kepadanya, bahkan bermaksud mengatakan maaf atas pecahnya pusaka Atramata. Beberapa waktu lalu, dia berucap tentang takdir. Apakah ini takdir, tidak ada yang tahu.
__ADS_1
Dugaan sesaat Adfain terbelalak mata saat kepergian Akma Jaya meninggalkan Desa Lauma, begitu. Hilang sudah pikiran kacau itu, terbuang, terlupakan. Waktu berlalu, kelelahan, duka cita itu melebur dalam peluk erat sang waktu. Terima kasih, ucapan kembali bersambut di dalam sanubari, Akma Jaya tertegun menatap lautan bersama Tabra dan Aisha, birunya lautan, embusan angin yang ikut menyertainya dan juga ombak, semua itu bersatu di dalam pelayaran.