
Terdengar jelas ombak berdebur, suara angin dan dedaunan jatuh melayang-layang. Suasana pegunungan dekat pantai. Dari tengah gunung, tempat sekarang Tabra dan para anak buah bersandar, terlihat kapal mereka bertengger di bibir pantai. Juga lautan membentang kebiruan.
Beberapa dari mereka menghela napas. Duduk bersandar di pepohonan. “Apa tidak apa-apa membiarkan kapten pergi ke sana, apalagi orang yang bersamanya adalah Aswa Daula, mana mungkin dia bisa bertarung. Yang ada dia akan mempersulit kapten.” Dausa sedang bosan. Dia menguap, menatap sekumpulan awan putih bergeremet. Beberapa daun menghalangi sinar matahari, angin berembus sepoi.
“Astaga, benar apa yang kau katakan, Aswa Daula itu trauma darah. Bagaimana kalau kapten terluka, mana bisa dia mengobatinya.” Ashraq lekas bangkit dari berbaring. Dia menatap sekalian mereka.
Tabra menepis tangan. “Sudahlah, kapten tidak selemah itu. Katanya lupakan sejenak cerita-cerita yang telah kau baca itu.” Di akhir kalimat, dia mengulangi perkataan Akma Jaya, sekilas mengecurutkan bibir. Kemungkinan dia sedang kesal, sebelumnya seorang kapten itu tidak memahami dirinya.
Mereka tertawa. Tabra mengembuskan napas bentuk lelah, sejenak diam. Untungnya, Aisha tidak mendengar. Jarak di antara mereka cukup jauh, tetapi dari jarak itu Aisha bisa mendengar tawa mereka.
***
Akma Jaya dan Aswa Daula tiba di tempat yang mana sebelumnya telah diceritakan oleh Aswa Daula sendiri tentang kejadian yang mereka alami. Benar saja, di sana ada sungai kecil, puas melirik tidak ada kabut yang terlihat.
“Ternyata benar. Sepertinya ini bukanlah ilusi, di tengah gunung ini tak disangka ada sungai.” Akma Jaya menyentuh permukaannya. Air itu jernih, juga bersih dari sampah, dari berbagai hal lainnya.
Teratai tumbuh mesra bersama sungai, tak ada kodok yang menempatinya. Akma Jaya menampung air di tangan, lalu mencuci wajah sejenak, terasa dingin dan nyaman.
“Aswa Daula, aliran sungai ini menuju ke sana. Kau ikut bersamaku atau tinggal di sini menunggu?” Akma Jaya masih menatap sungai, sedikit menoleh ke arah Aswa Daula.
“Iya, Kapten. Saya akan menunggu saja.”
__ADS_1
Akma Jaya mengangguk. Dia pun beranjak pergi mengikuti aliran sungai, Aswa Daula duduk menunggu di pinggir sungai.
***
Perputaran waktu berlalu memelesat, tiga puluh tiga menit kemudian. Tiada kabar, juga tiada batang hidung sang kapten ternampak.
Aswa Daula menunggu. Dia terus menunggu. Angin berembus, pepohonan menjulang tinggi mengeluarkan nada-nada khas hutan. Burung berkicau, suasana sunyi dari suara manusia.
Hewan-hewan hutan bagai bercengkrama satu sama lain. Aswa Daula melempar bebatuan ke sungai. Ikan melup-lup muncul di permukaan. Suasana terasa sunyi. Di saat itu, muncul perasaan bersalah, kenapa sejak awal dia tidak memilih mengikuti sang kapten. Aswa Daula benar-benar lelah menunggu.
Dia sekilas menyesal tidak ikut dengan sang kapten. Tiada kabar dan kepastian, matahari tengah berada di garis lurus bumi. Dedaunan rindang membuat suasana tidak panas, terasa sejuk dan nyaman.
Aswa Daula menghela napas, bolak-balik berjalan tidak keruan. Sedikit bergumam ingin kembali ke tempat semula supaya melaporkan masalah itu kepada yang lainnya.
Sekilas dugaan mengenai waktu menelusuri dan waktu kembali. Dari situlah, Aswa Daula percaya bahwa sang kapten dalam keadaan baik dan tidak terjadi apa-apa.
Dua jam berlalu, tiada kabar juga tanda. Tiga jam kemudian, dia bergegas melaporkan masalah itu kepada yang lainnya. “Hooii, Kapteen telah menghilang!” Dia berseru kencang seraya berlari menghampiri mereka. Astaga? Mereka semua terpengarah mendengarnya.
Aisha memelotot. “Apa? Bagaimana mungkin, bukankah kau bersamanya?”
Aswa Daula menggeleng. Dia cukup berdiam, susah menjelaskan. Hanya satu orang yang tidak ikut terpengarah, Tabra tampak acuh tak acuh, dia sibuk menatap awan putih bergerak, juga menatap lambaian daun yang disentuh angin.
__ADS_1
Aisha kembali bertutur mempertanyakan untuk kedua kalinya, Aswa Daula menelan ludah, lanjut menjelaskan perihal yang telah terjadi.
Selang beberapa menit setelah selesai menjelaskan, Aisha mempertegaskan ucapan untuk mencari sang kapten yang telah menghilang. Mereka semua berpacu lari menyusuri jalan pegunungan, menuju ke tempat sungai tersebut.
Tibalah di tempat sungai itu berada. Tiada dalam pandangan, apa yang mereka sebelumnya lihat sungai, sekarang hanya hamparan bebatuan yang memanjang.
Tabra merinding. Para anak buah terperangah lagi, hanya Aisha yang tidak mengerti karena mereka belum mengatakan apa pun, sedangkan dirinya tidak mengetahui perihal sungai tersebut.
“Ini tidak mungkin.”
“Sebelumnya, di sini ada sungai. Aswa Daula, kau bersama kapten sudah memastikannya?” Tabra memandang serius.
“Iya, saya sudah memastikan. Di sini tadinya memang ada sungai, sebelumnya kapten menyusuri pinggiran sungai.”
“Astaga? Apa mungkin—”
“Tabra, sudahi bicaramu yang tidak berguna. Lebih baik sekarang kita cepat mencari kapten.” Aisha menyergah. Tabra diam mengangguk. Para anak buah juga sama.
Mereka pun bergegas mencari sang kapten, bersambut pertanyaan rumit di setiap benak masing-masing. Di mana sebenarnya, apa yang terjadi. Doa bersenandung, semoga bisa bertemu dan kapten baik-baik saja.
Mereka pergi bersamaan menelusuri jalanan. Apa yang tadinya terlihat sungai, kini hanya bebatuan kecil memanjang bagai jalanan.
__ADS_1
Desir tiupan angin, mereka berjalan lambat seraya memandang ke segala arah, mencari dan meneriakkan suara. Dari semua itu, mereka tidak menyadari, apa yang terpampang berbeda, tidaklah sama.