
Kapten Zaiya masih menunggu pertanyaan yang akan dipertanyakan Aswa Daula. Menunggunya seperti irama yang bergema, semua itu dapat dilihat dari kaki Kapten Zaiya yang bergerak santai dengan mata fokus menatap ombak.
Beuh, rindu rasanya hari itu bisa kembali, saat ini keadaan terasa suram. Ada sedikit yang dapat diingat dari sekadar kenangan bahagia, senyum dan tawa yang menghiasi hari dulu. Di pinggir pantai, di alam batin Aswa Daula tersenyum.
Wajah yang teringat masa lalu bahagia. Cahaya putih kembali menyeruak, menutupi penglihatan alam nyata ke alam masa lalu.
Saat itu di pinggir pantai mereka berduduk dengan perasaan tentram kala mendengar kesiur angin bagai diiringi alunan yang menenangkan. Lautan itu menyimpan banyak pesona kenangan.
“Aswa Daula, bertanyalah!” Kapten Zaiya kembali mengulangi ucapan.
Aswa Daula mengangguk. Di dalam pikirannya menimbang pertanyaan yang entah akan ditanyakan atau tidak. Dia merasa urung, takut salah.
Aswa Daula menatap semringah. “Aku ingin bertanya berapa lama waktu untukku bisa sehebat dirimu, Kapten?”
Ternyata Aswa Daula mengurungkan niatnya untuk bertanya perihal tulisan apa yang ditulis Kapten Zaiya. Jauh di dalam benak pikirannya sebelum bertanya sudah menggambarkan. Pun menimbangnya, urung dan takut tersalah ucap.
Terlebih Aswa Daula berpikir mengenai catatan yang hari itu ditulis Kapten Zaiya usai bertarung melawan Kapten Auriza.
Aswa Daula punya kemungkinan lain dalam benak pikirannya, bisa saja itu pribadi dan rasanya tidak mungkin dikasih tahu isinya ke sembarang orang yang bahkan tidak memiliki hubungan keluarga.
“Aswa Daula, sebelum itu apa yang kau inginkan di dunia ini? Kekuasaan? Gelar atau sanjungan orang-orang?” Kapten Zaiya bertanya, mengalihkan topik.
“Maaf, kapten. Aku tadi hanya bertanya, apakah aku perlu menjawabnya juga?” Aswa Daula kala itu benar-benar polos.
__ADS_1
Telanjur ucap hingga sekarang tangannya menutupi mulut. Kapten Zaiya hanya mengeluarkan suara mencih. Tidak hirau, fokus menatap ombak di sana.
Aswa Daula tidak mengerti pertanyaan seperti itu. Kapten Zaiya ini seperti orang yang kurang kerjaan. Bayangkan anak kecil ditanya perihal yang tidak jelas dan membingungkan bagi anak seusia tujuh tahun, tertawalah orang yang mendengarnya. Terbahak mengatakan kekonyolan dengan sebutan stres!
Kapten Zaiya ini mengherankan sekali, entah apa maksud pertanyaannya. Aswa Daula semula hanya bertanya. Dia seorang kapten yang selama ini berwibawa disanjung banyak orang, justeru malah balik bertanya tentang sesuatu yang tidak dimengerti oleh anak seusia itu. Di mana letak pola pikirnya? Di lutut?
Kapten Zaiya mendeham, menatap dengan pikiran paham. “Jangan menganggapku seperti orang yang linglung saat ditanya, justeru balas bertanya. Sejatinya pertanyaan ada beserta jawaban. Begitu pun sebaliknya. Kau harus mengerti sebelum ingin menjadi sehebat diriku. Karena dibalik kemampuan hebat sudah tentu akan muncul wibawa. Bisa jadi kau mendapatkan kekuasaan, gelar ataupun sanjungan banyak orang dan semua itu harus kau persiapkan agar di dalam perasaanmu tidak tertanam rasa kesombongan.”
“Ringkasnya aku tidak ingin menjawab pertanyaan yang kau berikan, sebelum kau menjawab pertanyaanku.” Kapten Zaiya melanjutkan bicara.
Aswa Daula merasa heran sendiri. Anak kecil berusia tujuh tahun itu tidak mengerti. Bahkan sebelumnya sebatas bertanya berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk sehebat kapten tersebut. Hanya itu, tetapi Kapten Zaiya ini seperti kehilangan koneksi. Sudah ini menyebalkan!
“Ta–tapi, kapten. Sebelumnya aku hanya bertanya berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk bisa sehebat dirimu.” Aswa Daula menjawab berterus terang.
Sejenak geleng kepala. Sementara si Aswa Daula itu menatap tertawa dan itu tidak bisa ditahannya. Murni tertawa sendiri, bukan menertawakan. Melainkan tingkah laku Kapten Zaiya yang ternampak lucu.
Lihatlah kepala dan matanya. Bergerak bersamaan, ini tidak bisa dibayangkan kelucuannya. Tapi, bisa dilihat dengan jelas dan itu lucu bagi Aswa Daula.
“Syukurlah, kau bisa tertawa dari semula wajahmu tampak murung menatapku.” Kapten Zaiya mengucapkannya.
Aswa Daula merasa aneh sendiri. Sosok kapten yang selama ini ditakutinya, malah mengucapkan perkara yang membuatnya merasa tidak mengerti sama sekali. Secepat itukah perubahan sikap? Aswa Daula memang tidak begitu mengenal Kapten Zaiya.
Sosok kapten berambut merah dan wajah tertutup kain hitam itu adalah sosok misterius, tak banyak orang yang mengenal sikap aslinya.
__ADS_1
Aswa Daula menggaruk pipi. Canggung sendiri. “Kapten, apakah sebelumnya—”
“Iya, sebelumnya aku memang sengaja melakukannya hanya ingin membuatmu tertawa.” Kapten Zaiya menyergah. Mengatakan perkara yang seakan tahu segalanya.
Kapten Zaiya ini sok tahu. Aswa Daula tidak mengerti mengapa sosok kapten itu sikapnya begitu berbeda. Apa mungkin tugas menjadi kapten selama ini telah membuatnya stres? Kapten Zaiya tidak menatap, fokus ke arah lautan.
“Perlu kau tahu. Aswa Daula, aku memang tidak bisa memberikan lelucuan untuk membuat orang lain tertawa dan tidak bisa membuat perasaan sedih menjadi bahagia, selama ini aku memang tidak bisa menghilangkan masalah yang orang lain hadapi. Ini kemungkinan hanyalah suatu kebetulan yang bisa membuatmu tertawa.”
“Aswa Daula, kalau kau merasa heran menatapku? Baiklah, di antara kita tidak perlu lagi ada pembicaraan. Saat ini aku hanya sekadar ingin memberitahumu beberapa orang yang telah kutemui kadang punya sisi negatif di jiwa mereka. Saat kuberikan satu nasehat dengan tanpa banyak ucap langsung menurut. Beda kuperhatikan saat mereka dinasehati oleh orang tua renta di pinggir dinding pasar. Mereka tidak hirau bahkan menghina dengan menyebut tingkat kedudukan di antaranya yang jelas berbeda jauh.”
“Kedudukan di mata mereka kuperhatikan ternyata sangat berpengaruh dalam hal berbicara kepada sesama. Padahal nasehat tetaplah nasehat walaupun diucapkan oleh orang tua renta di pinggir dinding pasar. Tanduk mereka bermunculan dan otak mereka tenggelam tak ada wujudnya.”
Cahaya putih mulai redup. Aswa Daula terpejam dan bayangan Kapten Zaiya perlahan menghilang. Sejenak membuka mata. Redup dan kembali memancar cahaya terang. Menyilaukan pandangan.
“Aswa Daula, selama ini aku telah banyak berjumpa mereka yang menatapku takut sepertimu. Sesekali aku tidak seperti apa yang mereka takuti, kutemukan satu fakta mengenai orang sepertiku yang berkuasa dengan wibawa hingga tersebarlah rumor yang menakutkan bagi orang-orang. Mungkin itulah alasannya mengapa mereka menatap takut kepadaku. Sering saat itu aku bergumam dalam keheningan tanpa suara. Orang lain pun tidak ada yang tahu. Inilah kehidupan yang bagiku fana. Bahkan orang lain tidak akan tahu masalahmu saat kau memendamnya sendirian. Orang lain sebatas menatap kehidupanmu, tanpa mengerti apa yang kau hadapi selama ini.”
“Saat di mana kau sendirian meratapi nasib kehidupan ini, lautan yang berombak dan kapal yang tenggelam di dalam kesunyian, tanpa ada orang yang tahu sedikit pun rasanya. Begitulah untuk saat ini.”
“Kehidupan memang tidak selalu bahagia, ada suka dan duka .....”
NGIIING ....!
Cahaya putih telah lenyap. Sosok kapten Zaiya menghilang ditelan cahaya. Aswa Daula berada di ambang angan, memejam sendirian di alam yang entah di mana.
__ADS_1
Bertanya pada dirinya kemungkinan terbesar apakah dia telah mati? Teman atau sanak saudara tidak ada di sisinya. Pun Kapten Zaiya tidak ada. Di mana? Apakah ini alam kematian seseorang?