Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya


__ADS_3

Hambala masih bersikukuh getir berusaha dengan maksimal kemampuannya untuk menyadarkan Aswa Daula. Pun Ashraq, Jalbia dan Glosia. Mereka semua sekarang terus menjaganya di sana. Dum duridam irama kaki Jalbia bergerak risau.


Keempat anak buah itu sibuk menjaga. Memberikan sedikit kekuatan full power teruntuk Aswa Daula supaya diri yang semula terbaring pingsan itu bisa bangun dan sadar mengucapkan kalimat seperti biasa. Iya, seperti keseharian pada umumnya. Tidak banyak kalimat dalam sehari, sedikit pun senyum tak apa.


“Aswa Daula. Dia pasti akan sadar dari pingsannya. Kita hanya harus percaya untuk saat ini bahwa dia baik-baik saja. Semoga dia baik-baik saja.” Hambala sedikit menghela napas khawatir. Berusaha melambungkan doa teruntuk Aswa Daula.


***


Mundur dikit. Waktunya saat Jalbia tersenyum, memalingkan arah pandangan menatap Boba. Itu terjadi di waktu yang baru saja beberapa saat Boba pergi dan sebelumnya Hambala berteriak-teriak.


Awal mula pembagian tugas. Jalbia menatap angguk. “Boba, kau harus bisa mengalahkan beruang itu.”


Glosia mengangguk. “Benar, Boba. Kau harus bisa mengalahkannya.”


Sosok anak buah berperangai ajaib dan berbadan gendut itu tidak menatap betul, hanya sekilas menoleh dengan pacuan kaki telah berlari. Ya, sudah tahu namanya?


Si Boba itu namanya. Dia maju tanpa hirau arah belakang. Bayangkan fokus sekali. Gerakannya cepat. Wuush... beranjak lari seperti tiupan angin. Memelesat.


Jalbia cukup terkesingahak sedikit bercampur bahak menatap Boba yang lain dari biasanya. Puyuuuh, semangat betul si Boba itu seperti menajamkan bilah bambu yang semula tumpul menjadi runcing ke atas lancip, sembuluh nadinya bergetar hebat merasakan aura yang berbeda.


Boba dengan gerak cepat menyusul Tabra dan Aisha yang terlebih dulu darinya.


Beda lagi sama Kalboza dan Kalpra hanya terdiam sejenak saling pandang.


“Bagaimana menurutmu, Kalboza?” tanya Kalpra semringah.


Usai lama diamnya, ucapan di mulai dengan nada gebu, memastikan. Menatap ke arah semangat Boba yang membara.


Terpampang jelas. Mengungkit batasan ke permukaan langit. Dausa tidak tertarik, sama Dasasa juga tidak begitu. Boba hanya tukang nyinyir yang berlagak kuat.


Boba si badan gendut itu tidak lain bagi mereka cuma suka makan sama mulut ember yang tidak bisa menampung air.


Baik jernih maupun keruh mudah sekali membedakannya. Air keruh mengandung tanah. Maka tanahnya mengendap. Sementara air bersih akan habis semuanya terbuang tak bersisa. Ember besar tapi sayang penuh lubang dan bocor.


Kebohongan dan banyak omong itulah lubangnya. Dausa mendesis tidak suka mendengar ucapan Kalpra yang seakan memuji Boba yang bermulut besar bagai ember. Tukang nyinyir plus tukang ghibah!


Kalboza bersedekap. “Kalpra, kau tidak perlu bertanya padaku. Lebih baik kau bertanya pada mereka berdua.”


Sejenak Mengarahkan pandangannya ke arah Dasasa dan Dausa sebagai isyarat tanpa menunjuk.


Dausa dan Dasasa kompak geleng kepala—kaget—Astaga? Jangan-jangan si Kalboza itu mendengar isi hati mereka yang sebelumnya mereka pikirkan. Astaga? Astaga? Itu hanya prasangka Dausa dan Dasasa yang sedikit berlebihan, tidak baik berlebihan. Padahal Kalboza tidak begitu.


Kalpra sedikit tertawa. “Kalboza, saat ini aku hanya penasaran bagaimana ekspresi wajahmu kali ini, ternyata sama saja.”


“Ya. Kalpra, begitulah hidupku.”


“Hidupku yang mungkin selama ini kau tahu, ada banyak hal yang kulewati selama ini.”


Kalboza dan Kalpra bicara lain topik. Dausa dan Dasasa merasa lega. Tidak berprasangka buruk lagi, kadang batin mereka tidak terkontrol.


“Hidup? Keseharianmu?” tanya Kalpra memastikan. Pura-pura tidak tahu.


Dasasa hanya diam. Pun Dausa sama juga diamnya, tidak bicara. Mereka seperti dikacangin oleh kedua orang itu yang hanya sibuk tatap muka berdua.


Kalboza menjelaskan sambil mengingat masa lalu. Para tetua di desa Daura menghukumnya. Dikurung dalam ruangan yang tidak pernah disentuh tangan. Sendirian tanpa ada orang selainnya, tetapi Kalboza tidak pernah merasa kesunyian.

__ADS_1


“Selama ini kau pun tahu itulah hidupku yang selama ini aku jalani. Di masa lalu para tetua pernah menghukumku dalam ruangan tanpa cahaya, aku tidak bisa apa-apa. Saat ini aku merasakan hal yang sama dengan hari itu dan itu rasanya menyebalkan!”


Bagi Kalboza dulu manusia bisa bertahan dalam kondisi apa pun selama dirinya mampu bersyukur. Ruangan tanpa cahaya. Sungguh mengerikan. Terpenjara dan frustasi? Tidak, Kalboza tidak pernah, sesekali dia lega tertawa.


Saat itu dia lebih leluasa bersyair dalam gumaman dan bahkan nyaring, tentunya orang lain tidak akan mendengarnya. Ruangan itu tertutup rapat, tidak tembus cahaya. Udara datang dari celah lubang yang juga tidak bercahaya.


Gelap gulita. Kalpra membayangkan ucapan Kalboza sebelumnya merasa tidak kuasa membayangkannya. Ruangan yang terbilang gelap seperti itu terbayang olehnya tidak bisa dihuni dan rasanya bagaimana mungkin Kalboza itu bisa bertahan hidup di dalamnya? Itulah yang dipikirkan Kalpra, rasa tidak mungkin. Mustahil!


Padahal dia dahulu persis mengetahuinya. Baru kali ini, Kalboza menyebutkannya sendiri dengan detail kesemuaan yang jelas terpampang bagai berada di sana.


Kalboza sejenak mendongak. “Kalpra, kau juga sudah mengetahuinya. Para tetua pernah dulu bertanya padaku mengenai hakikat kehidupan. Bagiku hakikat kehidupan ini tidak lain hanyalah tempat gelap gulita tanpa cahaya. Itulah kehidupan bagiku, keseharian yang selama itu kulalui. Dan beberapa ucapan kadang menemui titik temunya seperti sasaran anak panah yang dilontarkan sang pemanah.”


Kalpra mendengar cukup tidak ingin bicara. Nada bicara Kalboza tampak lain dari sebelumnya. Dan cukup membingungkan mengenai katanya; “Beberapa ucapan kadang menemui titik temunya.” Kalpra heran. Apa maksudnya?—mungkinkah? Kalpra tidak ingin menanyakannya.


Kalboza masih lanjut bicara; “Sudut pandang mereka berbeda mengenai hakikat kehidupan ini. Sesederhana dalam pandanganku dunia ini hanyalah sebatas tempat gelap gulita tanpa cahaya. Bahkan sering kuperhatikan beberapa orang kadang tersesat arah tujuan dalam hidupnya. Itulah kehidupan yang kupandang. Bisa jadi bagi orang lain dunia ini adalah tempat ramai. Penuh kegembiraan yang mereka dapat. Namun, tiba masa itu di mana mereka lupa kesan semua ini yang terbilang percuma. Mau sebahagia apa pun, sesedih apa pun. Kehidupan tetaplah kehidupan bagiku.”


Kalboza lagi, lagi dan lagi terus saja berkata ini itu yang semakin tidak ingin didengar Kalpra. Pun sama saja, Dausa dan Dasasa juga tidak ingin ikut mendengarkannya. Itu seakan keluar jalur.


Sementara Boba di sana sibuk. Semangat membara. Melancarkan serangan dan perlawanan terhadap beruang. Satu dua tiga tebasan langsung diperlihatkannya. Sambil bergerak toleh sepintas. Berseru-seru. Sayang beribu sayang, tidak dihiraukan.


“Mengapa mereka itu tidak menghiraukan seruanku. Sebenarnya mereka itu sibuk membicarakan apa?” Boba sebentar berucap abis menatap langsung geram.


Tabra tertawa. “Boba, santai saja!”


Boba lelah. Menghirup napas menjauh. Beruang masih tidak terkendali, sempat berpikir lebih baik lari saja. Toh, itu beruang tidak akan mampu mengejar larinya.


“Boba, anggap saja ini latihan buat mengencangkan otot.” Tabra menghibur.


Boba heran. Aneh, itu suara yang terdengar aneh baginya. Otot? Dikencangkan?—Wah, wah—ada apakah gerangan?


“Otot? Kau bilang? Untuk apa dikencangkan kalau sudah kencang.” Kembali menyeringai. Hendak tertawa, dia tahan.


Tabra menatap angkat bahu. “Untuk membuatnya lebih kencang lagi.”


“Kencang bagaimana menurutmu?”


“Bagai balon, mungkin.”


Tabra sejenak tertawa. Otot dikencangkan bagai balon, biar apa?—biar kencang. Eh? Boba tidak paham. Astaga? Saat genting begitu malah ngelawak. Lawakannya garing pula. Boba tidak tertawa.


“Ini lelah, perutku juga lapar!”


“Beristirahatlah, Boba. Biar aku dan Aisha yang melancarkan serangan. Oh, ya—ya. Aku lupa mengatakannya—sebelumnya aku tadi menyusun strategi penyerangan saat sebelum kau datang kemari.”


“Beristiharat? Oh, tidak—omong omong, strategi apa yang kau maksud, Tabra?”


Tidak sabar ingin mendengarnya. Kalboza saat ditatap Boba seakan mengerti maksudnya, tetap saja tidak hirau. Saat ini masih bersikukuh ucap sama Kalpra


Kalboza sejenak menghela napas. Sosok banyak bicara itu masih saja sibuk menjelaskan; “Dan mengenai kehidupan ini bagiku adalah tempat gelap gulita tanpa cahaya. Sebenarnya itu sekilas kutipan dalam buku yang pernah kubaca dan selama ini aku mengetahui sendiri dan membuktikannya bahwa dunia ini memang gelap gulita, orang yang terlena akan buta jalan. Tidak melihatnya. Walaupun di atas sana ada matahari. Cahaya yang mampu menyinari dunia ini dan pada hakikatnya dunia ini memang tempat gelap gulita. Tentunya gelap gulita tanpa adanya ilmu di dalam jiwa seseorang. Sejatinya ilmu itu adalah cahaya yang terang benderang menyinari jalan hidup menuju gerbang keberangkatan. Siapa pun orangnya kalau tidak punya ilmu. Maka kehidupannya akan menjadi suram, gelap.”


“Aku pernah membaca tulisan kuno di dalam kitab para tetua mengenai berbagai macam sudut pandang yang menjelaskan hakikat kehidupan, tetapi dari banyaknya sudut pandang hanya satu yang dapat kupahami, bahwa kehidupan ini memang gelap gulita. Ilmulah yang membuat dunia ini bercahaya, membuat kita mampu melihat arah yang benar dalam rute pelayaran.”


“Bayangkan, Kalpra. Tanpa tahu arah mata angin. Kau akan tersesat di lautan sana.”


“Dan satu lagi, Kalpra. Bagiku kehidupan yang selama ini aku jalani memang gelap gulita tanpa cahaya. Kau sendiri tahu mengenai hari itu para tetua telah mengutukku dengan perkataan mereka yang sampai saat ini aku bingung dan sering berpikir mengapa mereka mengutukku hanya karena dulu aku pernah menyebut mereka keledai yang membawa kitab?”

__ADS_1


Kalboza menatap teduh. Sedikit mendongak, kesiur angin lewat menyentuh rambutnya.


Kalpra masih diam. Membungkum mulutnya rapat-rapat. Kalboza masih sibuk mengucapkan ini itu hingga lidah Kalboza jatuh pada keyakinan dalam lubuk sanubari Kalpra bahwa itu adalah kalimat akhir dari pembahasan ucapannya.


“Kalpra, aku sekarang berharap semoga para tetua akan memaafkanku saat nanti aku tiba kembali ke desa Daura.”


Kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan Kalboza itu seperti tidak nyambung, seperti autis. Kalpra angkat bahu. “Kau tidak pernah berubah, Kalboza. Persis ucapanmu tidak selalu nyambung denganku.”


“Apa maksudmu, Kapra?—kau pikir ucapan itu seperti nada lagu yang bagimu mudah dilantunkan? Begitukah menurutmu?”


Kalboza keluar jalur. Bahkan itu semakin membingungkan, tidak sinkron semakin tidak nyambung dan terkesan autis.


Kalpra tertawa. “Baiklah—baiklah, teman!”


Dia memaklumi ucapan Kalboza yang kadang tidak sinkron. Sejenak menunjuk ke arah Boba di sana.


“Lihatlah Boba di sana sedang bertarung dengan kemampuannya. Ayo, kita bantu dia. Dausa dan Dasasa biarkan saja mereka termenung seperti itu.” Kalpra lanjut bicara.


Dausa dan Dasasa mendengarnya. Kembali bersedekap dehem. “Kalpra, nada bicaramu terkesan sombong.”


Sombong?—sombong? Wah—wah, tersinggung. “Hari ini, aku peringatkan kepadamu jangan pernah sesekali lagi. Mulai detik ini dan seterusnya jangan memandang remeh ke arah kami. Kau asal ucap saja, tidak tahu kemampuan kami yang sebenarnya!” Dausa bicara, tidak suka.


Tidak terima apa yang diucapkan Kalpra sebelumnya. Baiklah, ini awal yang berat rupanya. Tersinggung? Ya, lebih berat daripada memikul beras sekilo di punggung. Perasaan. Itulah yang terberat, bahkan aneh terasa sedikit sulit dipahami.


Kalpra menghela napas. “Sebenarnya aku tidak berniat meremehkan kalian.”


“Walaupun begitu nada bicaramu seperti meremehkan kami.” Dausa menjawab.


“Benar. Benar!” Dasasa menyahut ucapan Dausa sebelumnya.


“Kalau begitu aku minta maaf.” Kalpra menjawab hambar tanpa ekspresi.


Kalboza mendengus. “Dausa dan Dasasa, diamlah. Jangan membahas perkara yang kalian sendiri ingkar terhadapnya. Kalau benar-benar merasa takut melawan beruang yang mengamuk itu. Maka, kami akan membiarkan kalian beristirahat dan tetaplah berada di sini atau kalian bergabung bersama mereka yang menjaga Aswa Daula. Dan Kalpra, baru saja kau yang meminta kepadaku. Ayo, kita maju dan jangan buang waktu terlalu lama bicara!”


“Kau tidak sabaran rupanya!” Kalpra menjawab sedikit tertawa.


Dasasa angkat bahu. Dausa menatap geleng kepala. “Takut? Hah, kami tidak takut,” balasnya penuh percaya diri.


Sejenak menoleh. “Benar begitu, Dasasa?”


Dasasa mengacungkan jempol. “Benar sekali, Dausa. Aku tidak takut.” Dengan pedang itu dia bergaya-gaya.


Kalpra tertawa pelan. “Baiklah, jangan buang waktu lagi dan hentikan bicara, saatnya kita maju membantu mereka.”


Keempat anak buah itu sejenak saling pandang, saling mengencangkan otot. Tak lama setelahnya lanjut bersiap. Dan beranjak lari secepat yang mereka bisa. Menambahkan kekuatan dan menyusul ketiga orang yang berada di sana.


Gelegar suara beruang terus menerus masuk telinga. Mengkhawatirkan. Ditambah keadaan Aswa Daula yang masih saja terbaring pingsan dan apa yang terjadi pada dirinya? Kenangan buruk. Masa lalu tentang kesunyian masih terngiang. Kenangan yang tentu tidak menyakitkan bagi orang lain.


Bagi diri yang merasakannya jelas akan tahu seperti apa rasanya. Siksaan hari itu tidak diperlihatkan dan sekilas bayangan tanpa ujung yang jelas. Bicara atau tertawa.


Aswa Daula bernapas. Semula tidak. Hambala bergumam senang, merasakan dengan tangannya. Memeriksa keadaan, mengetahui sekujur badan Aswa Daula yang kini menggigil seperti orang yang ketakutan.


Hambala menatap paham. Dia melepaskan pakaian jaket di badannya. Itu cukup tebal, juga berharap mampu mengatasinya. Saat itu dibuat selimut untuk Aswa Daula.


Di sana Ashraq hanya menatap. Dua arah. satu di depan mata dan satu lagi sejenak memalingkan pandangan ke arah beruang yang sedang mengamuk tidak keruan.

__ADS_1


Pun menatap perjuangan Boba yang membantu Tabra dan Aisha. Tanpa kehadiran seorang kapten di sisi mereka agak kesusahan dan tidak tentu arahan.


Saat itu pun Boba bertindak sesuka hati dan sesuka kemauannya sendiri untuk menyerang dengan kemampuan yang entah mampu atau tidak. Sedikit arahan dari Tabra menyesuaikan rencana. Dia hanya bermodal percaya. Itu baginya sudah cukup untuk saat ini melawan dan terus melawan.


__ADS_2