Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 122 – Tiga Tahun Lalu


__ADS_3

Kalau ingin tahu Dausa berbadan gendut gemuk juga sama. Rambut kribo juga sama tabiatnya suka makan kala mendengar ucapan Kalboza. Dia juga ikut tersinggung.


Iya, tersingung. “Kalboza, apa maksud perkataanmu, jelaskanlah kepadaku?” Dausa maju menunjukkan raut wajah yang kurang nyaman dilihat.


Ya, ampun. Apa sebenarnya maksudnya? Inilah yang membingungkan. Antara air laut tawar dan asin, ya jelas rasanya asin. Siapa kuat menegok air asin? Begitulah, ucapan Kalboza yang terdengar asin di telinga orang yang mendengarnya.


Pasti ada udang di balik batu ini. Dausa menduga prasangka buruk di benak pikirannya. Hei, ayolah. Ingin berkelahi lagi, bukankah sebelumnya Kalboza sendiri yang mengatakan berbagai hal dan menegah mereka agar tidak terjadi perdebatan.


Mengapa sekarang? Ya, ampun. Susah dibahas. Inilah yang lebih parah dari sebelumnya.


Kalboza masih bersitatap awan. Dengan pelan mata terpejam sejenak. Boba masih menatap kurang nyaman. Wajahnya diliputi hawa kehitaman pekat bertumpuk amarah.


Atmosfer sanubarinya seakan memanas dengan temperatur yang begitu panas. Boba mengepal tangan. Kalboza sibuk bercengkrama angin dan awan, tampak tenang dan tidak menunjukkan ekspresi.


Dausa berjalan menghampiri pelan. Kalpra menegahnya. Dengan raut wajah tidak suka, Dausa menatap. “Ada apa, Kapra?”


“Dausa, saranku jangan dekati dirinya dulu. Dia sedang berusaha menghilangkan keinginannya untuk berucap lebih banyak.” Kalpra menjawab, mengeluarkan nada pasti.


Boba juga ikut maju ingin menaboknya. Kalpra sigap menghadang. Dausa juga sama tertahan di sana.


“Kalpra, menyingkirkanlah dari hadapanku!” Boba melantangkan suara.


Kalpra bersitatap lawan penuh arti di manik mata. “Tenanglah, Boba. Beri Kalboza sebentar waktu untuknya menenangkan diri, menghilangkan semua apa yang ada di dalam benak pikirannya.”


“Boba. Dausa. Jalbia. Glosia. Kemungkinan apa yang kalian dengar adalah penyakit yang selama ini Kalboza derita sedang kambuh. Kalian harus tahu itu.” Kalpra angkat bicara menjelaskan.

__ADS_1


“Penyakit? Apa maksudmu?” Boba tersentak penasaran. Dausa juga sama tersentaknya.


Kalpra menatap tanah. “Penyakit tiga tahun lalu, dia kebanyakan membaca buku di kitab tebal milik para tetua, suatu ketika seharian dia berbicara sendirian tanpa menghiraukan apa pun yang dikatakannya. Inilah yang dinamakan para tetua dengan sebutan yang tak ingin kukatakan. Sederhana ucapan, dia hilang kesadaran saat mengatakannya.”


Kalpra menjelaskan sepintas. Kejadian tiga tahun lalu. Masa lalu Kalboza membaca tanpa izin kitab tetua di Langrai, Desa Daura. Mengambil paksa ilmu hikmah tanpa izin dari para tetua. Akhirnya dia dinyatakan gila dalam ucapan, tidak bisa mengontrol.


Boba sedikit mengernyit. Hei, seharusnya itu menjadi berita paling dibicarakan seluruh desa, mengapa saat itu dia tidak mendengar apa pun. Terlebih tiga tahun lalu, Boba adalah sosok seorang pedagang yang sering bercengkrama dengan para pembeli, ibu-ibu tukang gosip dan para pedagang yang seharusnya ada kabar beritanya.


Tiga tahun lalu. Keadaan sunyi senyap tiada kabar berita seperti itu, jangan-jangan Kalpra ini hanya mengatakan ucapan dusta. Boba tidak percaya dengan semua itu.


“Kalpra, apa yang kau katakan bisakah kau memastikan kebenarannya padaku. Tiga tahun lalu, mengapa tidak ada kabar berita sama sekali yang kudengar mengenai Kalboza ini?” Boba melakukan pembelaan argumen beserta kalimat tanya.


Dusta. Ini pasti dusta. Benak pikiran Boba terselimuti kata-kata mendustakan apa yang dikatakan Kalpra.


“Apa yang terjadi tiga tahun lalu, tidak ada yang tahu karena para tetua memilih menyembunyikannya. Kalboza dikurung berbulan-bulan lamanya. Kau tahu selama itu dia terus melantunkan bait syair yang bahkan para tetua geleng kepala mendengarnya. Ucapan Kalboza kadang sering tidak terkontrol betul di dirinya. Semacam hilang kesadaran. Jadi, apa pun yang dia katakan semua ucapannya itu bisa saja menyimpang dari ketentuan yang ada di dalam kitab-kitab tebal.”


Boba. Glosia. Jalbia. Dausa tertegun mendengarkan. Sunyi senyap dari bersuara. Ini lebih menyeramkan dari sekadar kejadian yang pernah dialami keempat orang tersebut. Eh? Tunggu, bukankah sebelumnya? Ah, Boba tidak percaya lagi.


“Kalpra, mengapa baru sekarang kau mengatakannya kepada kami? Bukankah selama ini kita telah berlayar cukup lama menghabiskan waktu bersama, selama itu kau tidak pernah mengatakannya. Bahkan, selama itu juga Kalboza sering mengatakan berbagai ucapan yang ditolak pikiranku.”


“Aku hanya tidak ingin mengatakan hal ini kepada kalian. Memikirkan saat itu waktu yang sesuai, jauh sebelumnya aku telah menanamkan niat ingin menjelaskan perkara ini di saat tiba waktunya nanti dan ternyata inilah waktu yang pas untukku mengatakan yang sebenarnya mengenai penyakit Kalboza tiga tahun lalu.”


Kalpra menyebutkannya. Persis hari ini, di mana sebelumnya dan sebelumnya dia selalu menyembunyikan perkara tersebut. Bahkan berpura pura tidak terjadi apa pun.


“Mengenai ini, kalian berempat harus tahu agar di lain keadaan kalian bisa memahami tingkah laku dan ucapan Kalboza.”

__ADS_1


Kalboza membuka mata, menatap Kalpra dengan menyipit. “Jangan mengatakan apa pun tentangku yang sama sekali jauh berbeda, Kalpra. Kau berlagak seakan tahu segalanya tentangku, padahal sesekali tidak begitu. Kau tidak mengerti dan tidak tahu apa-apa, sekadar mengatakan apa yang terjadi di masa tiga tahun lalu.”


Boba menyeringai. “Ilmu hikmah yang kau curi tanpa seorang guru tak akan membuatmu menjadi orang yang bijak, Kalboza justeru kau akan gila karenanya.”


“Boba, kau tidak tahu perkara yang sebenarnya! Sebagaimana dinding usang. Kau tidak lebih catnya yang telah memudar. Hangus terbakar api, menyisakan debu, lantas dihanyutkan ke lautan. Lihatlah debu itu menyatu bersama air. Kau mengatakan apa yang dikatakan Kalpra. Mencontek dan tidak ada sama sekali, jiwamu terkekang di dalam angka tujuh dan berakhir ke sepuluh kian jumlahnya hingga tak berbekas lagi.”


Kalboza memalingkan pandangan lagi, bernada santai dengan gaya cool. Entah apa maksudnya? Boba tidak mengerti, dasar sok bijak dan tidak sinkron dengan apa yang diucapkannya. Sama sekali tidak sinkron.


Dausa. Jalbia. Glosia. Ketiga orang ini saling pandang, Jalbia angkat bahu sepintas, Glosia mengangkat alis.


Dausa menghela napas. “Ada berapa banyak keanehan yang kutemui hari ini?”


Jalbia menepuk pundak Dausa, sedikit tersenyum simpul. “Bersabarlah, kawan. Percayalah, apa yang kau inginkan pasti suatu saat nanti akan kau dapatkan, harta karun misalnya.”


Jalbia seakan mengerti raut wajah Dausa. Harta karun itulah alasan mereka tiba berkunjung ke pulau yang sekarang mereka pijak. Termasuk Hambala yang baginya harta karun itu sangat dia inginkan.


Mendengar ucapan Kalboza. Boba semakin yakin Kalpra sekadar berdusta. “Kalpra, dustamu semakin nyata di depanku.”


Kalpra hendak berkata menjelaskan lagi, sudahlah dia memilih menjadi orang yang disebut dusta juga tidak mengapa. Toh, itulah kejadian yang sebenarnya. Kalboza tidak ingin mengingatnya, malam hari itu bertabur bintang gemintang. Sosok Kalboza bersyair menatap rembulan bersinar terang.


Nada bermajaz dari satu hal ke perihal lainnya. Ketidaknyamanannya terjadi adalah apa yang diucapkan Kalboza itu menyimpang jauh teramat jauh, bahkan tidak sinkron. Akhirnya dia diasingkan dan jauhkan dari masyarakat dihilangkan jejak sedikit kabar pun tidak ada.


Bagai dilenyapkan dari muka bumi. Kalboza mendekap dalam ruangan, di sana dia lebih leluasa berbicara sendirian, membuang semua jutaan kata yang berserakan di dalam benak pikirannya.


“Cih, pendusta!” Boba menatap Kalpra dan menjauh darinya, mencoba untuk tidak hirau masalahnya dengan Kalboza.

__ADS_1


Apalagi Kalpra yang dianggapnya telah mengatakan kedustaan yang nyata.


__ADS_2