Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang


__ADS_3

Beberapa saat berlalu, sepertinya waktu terasa lama, Kapten Atlana menunggu dengan segelas air putih di tangannya.


Dia diam menunggu, cukup membosankan ternyata, lumayan, di samping itu tidak ada kemunculan batang hidung dan juga kepastian bahwa Kapten Riyuta berada di dalam kedai tersebut. Kapten Atlana hampir bergumam seraya menoleh dengan pergerakan ringan.


Ajadala di sampingnya mendengar jelas. "Atlana, kau terdengar sedang bergumam tidak bagus, tenanglah!" Ucapan sederhana saja, tetapi siapa sangka Kapten Atlana mengubah ekspresi santai menjadi geram.


"Siapa yang kau maksud? Aku tidak seperti itu, kau berucap sembarangan!" Kapten Atlana menjawab sangar, menunjukkan sikapnya.


Lalu, menghela napas. "Ajadala, sebenarnya tidak mengapa kau berucap sembarangan," ucapnya sedikit berubah dan terdengar aneh.


"Sungguh. Di dunia ini ada banyak firasat dan sangkaan bertebaran, itu belum tentu benar. Jangan kau kotori mulutmu dengan ucapan sampah seperti itu." Kapten Atlana melanjutkan ucapannya, berceramah singkat. Ajadala sedikit memaklumi. Toh, itulah sikap asli dari sahabatnya, buruk dan baik. Tentu dia menerimanya.


Padahal, sebelumnya Kapten Atlana sering mengucapkan suatu sangkaan yang belum tentu kebenarannya, apa mungkin seseorang berucap nasehat, kadang dia pun melakukan hal demikian, tidak. Mungkin, Itu hanya Atlana, bukan siapa yang dimaksud, tidak ada.


Kemungkinan ada rasa yang tak ingin disalahkan. Ajadala menepuk bahu Kapten Atlana. "Ya, Atlana. Aku mengerti maksud dari ucapanmu." Ajadala cukup berucap demikian, kini senyuman bangga terpampang jelas di wajahnya.


Sementara, Gogoria sedikit geleng kepala karena mendengarnya atau kesal. "Atlana, apa kau pernah memikirkan mengenai ucapanmu?" tanya Gogoria seperti memancing suasana.


Seketika wajah Kapten Atlana memerah padam, pekat, pertanda amarahnya sedang membeludak dahsyat. "Kauuu!" Dia berucap lantang seraya bergerak cepat menarik kerah leher Gogoria.


Kini, wajah mereka berdekatan, orang-orang pun menatap diam ke arah mereka.


Gogoria tersenyum cela. "Atlana, aku sekadar mengetesmu dan apa yang telah kuucapkan, itu hanyalah bentuk cerminan." Dia berani berucap demikian.


Tangan Kapten Atlana mengepal ingin segera menaboknya. Orang-orang melihat dan hanya mampu berdiam diri seolah-olah masalah tak ingin mereka cari, tetapi Asgaha yang melihat dari kejauhan, dia tak tinggal diam, bersegera menghampiri.


"Ma–maaf, di sini sudah tertera tulisan, dilarang bertengkar, to–tolong patuhi peraturan yang telah ditetapkan di kedai ini," ucapnya dengan penuh gugup, badan berkali-kali membungkuk.


Asgaha memperlihatkan papan aturan yang tertempel di dinding. Kapten Atlana menoleh, dia menghampiri dan membacanya, lalu menganggut-anggut seolah-olah setuju, mematuhi apa yang telah dia baca.


"Dalam hidupku, aku tidak pernah melanggar aturan, di mana pun aku berada!" Kapten Atlana mengucapkannya.


Asgaha mendengarnya dengan jelas, dia menghela napas. "Baiklah, mohon untuk tertib dan damai," ucapnya memberi hormat kemudian beranjak pergi.


Ajadala dan Gogoria tampak duduk, mereka sedang menatap ke arah Kapten Atlana tanpa berkedip sedikit pun. Tatapan tegang tanpa helaan napas. Kemungkinan perasaan gugup yang sedang melanda mereka, kesangaran dari Kapten Atlana bagaikan seekor serigala yang melolong, sedangkan Ajadala dan Gogoria hanyalah dua kelinci yang sedang tersesat.


Tersesat di tengah hutan dan di kegelapan malam, bahkan bagaikan dua ekor kelinci yang terperosok kakinya ke dalam lubang, terlanjur ucapan, seekor serigala siap menyantap. Namun, Asgaha datang bagai hujan yang turun lebat membuat serigala tak jadi memakannya.

__ADS_1


Ia semacam takut air, sesuatu yang sangat jarang terjadi, atau bahkan tidak pernah ditemui sama sekali, sebuah peraturan tertera tulisan, Kapten Atlana mengangguk setuju dan mematuhi, itulah airnya.


"Tunggu!" Kapten Atlana menegah.


"Apa kau kenal orang yang bernama Riyuta?" lanjutnya bertanya.


Asgaha mengernyit, lalu menoleh. "Riyuta?"


"Kapten Riyuta?" Ulangnya memastikan.


"Iya, itu maksudku." Kapten Atlana menjawab ringkas.


"Dia ...," ucapnya terhenti.


Kapten Atlana menebak ekspresi, ada raut wajah enggan berucap di sana.


"Katakan atau kau mati!" Dia mengancam penuh kejam, pedang hendak terhunus, seketika Asgaha menelan ludah.


"Ba–baik ...."


Sekilas gambaran mengenai seorang berjubah hitam, Kapten Atlana bisa menebaknya, bahwa tidak lain adalah Akma Jaya yang baru saja dia temui dengan napas berembus lelah.


"Katakan semuanya dengan detail yang jelas!" Kapten Atlana kembali berucap sangar.


Asgaha kembali menelan ludah.


"Eng ...."


"Berbicaralah yang jelas!" Kapten Atlana mengulang ucapan lantang seperti sedang membentak. Seketika sorotan mata dari orang-orang kembali tertuju ke arah mereka berdua.


Untungnya, mereka yang berada di dalam kedai Asgaha bukanlah bajak luat, melainkan rakyat biasa sama seperti dirinya. Lantas, Asgaha memainkan drama.


"Sebenarnya, aku hanya bergurau!" Asgaha mengubah suara, terdengar sedikit maco.


Kapten Atlana menatap tidak peduli. "Aku tidak menanyakannya. Cepatlah, kau jelaskan, apa yang terjadi sebenarnya?"


"Bisakah kita mengobrol sambil berduduk, kau ingin kakiku ini lelah, sungguh manusia tak berpikir," ucap Asgaha masih memainkan drama, suaranya terkeluar santai. Beuh, luar biasa.

__ADS_1


Kapten Atlana mengernyit. Ada raut wajah tak suka darinya, tetapi siapa sangka mereka berduduk tanpa debat dan orang-orang pun menatap tak kisah.


"Jadi, kau ingin mengetahui apa yang terjadi?" Asgaha mengucapkan kata santai dengan bertangkup genggam, sikunya seolah-olah menjadi pasak, sedangkan tangan bertangkup genggam menutupi sekitar mulut.


Kapten Atlana mendengus. "Kau cukup percaya diri!" ucapnya tidak suka melihat gerak-gerik Asgaha.


"Aku sekadar bertanya, mengapa kau tidak menjawabnya!" Kini Asgaha memainkan perannya dalam drama. Seolah-olah aktingnya sedang menjadi big bos yang menghadapi anak buah.


Sekarang, Kapten Atlana berusaha menahan emosi, menatap dengan wajah bersimbah marah. "Bukankah aku telah mengatakannya, untuk apa lagi kau bertanya!" jawabnya dengan nada sedikit sangar.


"Oh, baiklah. Jika itu yang kau mau," balas Asgaha, sama sangarnya.


Ajadala dan Gogoria cukup terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Asgaha, mereka berdua sedang fokus menyimak pembicaraan Kapten Atlana dan Asgaha.


"Kejadian itu tepat di siang hari, di mana kau membayangkan cuaca saat itu panas, tetapi tidak. Awan mendung menyelimuti permukaan cakrawala, hujan pun tidak. Awan hanya mendung, tak memberi kepastian bahwa ia akan hujan." Lagi-lagi Asgaha berucap drama klasik tanpa memperdulikan lawan bicara yang sedang ingin menabok dirinya.


Kepalan tangan telah memusatkan titik target, tetapi dia enggan menabok, tepatnya sedang menahan diri tuk damai, menarik napas, lalu mengembuskannya adalah sesuatu yang lumrah, dia lakukan tuk menghilangkan amarah.


"Lanjutkan," ucap Kapten Atlana ringkas.


"Pada saat itu, kejadiannya di puncak menara. Dua orang sedang ada di sana, satu orang memakai jubah bercorak hitam dan satunya lagi memakai pakaian bercorak biru laut, juga ada kumis tipis di permukaan bibirnya," lanjut Asgaha menjelaskan.


Sejak pertama kali mendengarnya, Kapten Atlana sudah menduga, bahwa ciri-ciri yang disebutkan Asgaha adalah Akma Jaya dan sekarang, dia membayangkan sosok Tabra.


"Lalu, apa yang terjadi setelah itu?" Kapten Atlana kembali bertanya, sepertinya dia cukup penasaran.


"Hah, aku haus. Bisakah seseorang mengambilkan aku minum," sergah Asgaha memainkan drama. Tidak melanjutkan apa yang diucapkan Kapten Atlana.


Ajadala tersenyum miring, bahkan ingin tertawa mendengarnya. Namun, dia tahan. Benar saja, dia masih teringat kejadian yang menimpa Gogoria.


Kapten Atlana menoleh ke arahnya. Lantas, Ajadala cepat berpaling dan mengatur wajah, agar terlihat santai.


"Ajadala, ambilkan segelas air untuknya!" Kapten Atlana berseru menatap Ajadala.


Ajadala juga sama, menatap dan cukup mengangguk, dia pun beranjak dari mejanya tuk mengambil segelas air yang dibutuhkan oleh Asgaha.


Sesaat mereka bergeming, seperti sebuah video yang diputar, ada jeda di antara mereka berdua, sekarang hanya duduk menunggu minuman itu datang. Gogoria tak kisah. Dia beranjak pergi dari hadapan mereka, keluar tuk mencari udara segar.

__ADS_1


__ADS_2