
Kapten Kaiza melangkah perlahan. Dia memelasat, kembali melancarkan serangan dengan tebasan pedang yang tampak ingin menusuk, tetapi kesemuaan serangan berhasil ditangkis Kapten Lasha.
“Sudah mati saja kau Lasha!” Kapten Kaiza berteriak kesal. Dia menerjang di sela-sela kabut, tebasan pedangnya kian memanas.
Mereka bertubi-tubi melancarkan serangan satu sama lain. Di tengah kegelapan malam bercampur kabut dengan udara dingin mencekam. Kapten Kaiza bergerak gesit, sedangkan Kapten Lasha mengembuskan napas terputus-putus.
Kabut semakin tebal karena bercampur kepulan asap dari rumah-rumah penduduk yang terbakar. Penglihatan Kapten Lasha memudar, dia tidak dapat memprediksi pergerakan dari Kapten Kaiza. Dia hanya mampu menangkis setiap serangan, kadang kala luka di tangan membuat dirinya kesulitan menggerakkan pedang.
***
Sementara, Tabra terus menjaga Akma Jaya bersama Aisha yang berada di sampingnya, mereka berdua hanya bisa berdiam diri, bersembunyi dan menjaga Akma Jaya. Untungnya, rumah itu tidak terkena api dan aman dari kebakaran.
“Sa–sampai kapan kita akan bersembunyi di sini?” tanya Aisha dengan suara serak karena bekas menangis.
Belum sempat Tabra menjawab. Tiba-tiba saja, berbunyi decitan pintu, membuat Tabra siap siaga—bangun dari tempatnya berduduk kemudian berjalan pelan seraya bersiap menghunus pedang, sedangkan Aisha berada di belakang punggung kakaknya merasa ketakutan.
Ketika pintu itu terbuka, seketika Tabra mengayunkan pedang. Namun, belum sempat mengenai target, Tabra terhenti gerakan karena menatap orang yang membuka pintu tersebut adalah tabib.
“Eeh?” Tabra termenung sejenak, lalu sigap membuang pedang ke dinding.
“Maaf ... tabib, aku tidak mengetahuinya, aku mengira decitan pintu ini berasal dari salah seorang dari mereka.” Dengan ekspresi canggung. Dia menunduk bersalah.
Tabib tersenyum, mengelus jenggot seraya menggeleng. “Wahai anak muda. Tidaklah mengapa, itu artinya kamu cukup waspada dalam melindungi Akma Jaya.”
“Ah, siapa itu yang ada di belakangmu?” tanya tabib setelah melihat Aisha.
“Dia adalah adikku, Aisha.”
“Oh, jadi begitu ...,” jawab tabib mengelus jenggot putihnya. Sejenak hening, mereka saling bertatapan.
Tabib menatap serius. “Tabra, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”
Tabra seakan mengerti dan mengetahui apa yang hendak dibicarakan tabib. Dia tidak ingin membuat Aisha bertambah ketakutan, lalu mendekatkan dirinya.
“Aisha, temanilah Akma Jaya sebentar. Aku akan melakukan pembicaraan dengan tabib, jagalah dia dan jangan cemas.” Tabra berusaha menuturkan sebisa yang dia mampu, mengelus rambut adiknya.
__ADS_1
Aisha mengangguk, beranjak pergi meninggalkan mereka. Setelah Aisha pergi, hilang dari hadapan mereka berdua.
“Sebenarnya aku ingin membawa kalian pergi dari tempat ini.” Tabib menuturkan maksud kedatangannya, tidak bertele-tele.
Tabra mengangguk setuju. “Sebelum itu, bisakah kau memberi tahuku situasi Kapten Kaiza di pesisir pantai?”
Tabib menghela napas. “Situasi di pesisir pantai sangat memprihatinkan. Pada saat itu, aku bersembunyi menatap pertarungan Kapten Kaiza melawan seseorang yang tidak kuketahui namanya, dia menyerang penuh tenaga, tanpa kenal lelah. Dengan ucapan yang kadang-kadang membuatku jengkel sendiri. Kau tahu orang yang telah menangkis serangan yang melesat ke arahmu.”
“Tak lama kemudian, Kapten Lasha memerintahkan orang itu ke sini, menyuruhnya membawa Haima dan Akma Jaya ke tempat yang aman. Namun, belum sempat orang itu jauh, dia kembali saling serang dengan Kapten Kaiza hingga tusukan pedang menancap di punggungnya.” Tabib menjelaskan serius, tidak sedang bergurau.
Tabra terbelangah, terbelalak. “Orang itu ... orang itu adalah ayahku!”
Setelah mendengarnya. Tabib juga tercengang. “Ayahmu? Maafkanlah aku yang telah lancang menceritakan ini kepadamu.” Tabib membungkuk maaf seperti merasa bersalah.
Tabra memakluminya karena dialah yang semula bertanya. “Tidak mengapa, jadi begitu. Memang, lebih baik kita meninggalkan dan pergi dari dataran pulau ini. Sepertinya Kapten Kaiza bukan semata menghanguskan desa, juga bukan semata Kapten Lasha. Aku mempunyai dugaan bahwa dia ingin menghabisi Akma Jaya.” Dengan genggaman tangan. Tabra mengepal kesal.
Tabib mengangguk. “Iya, kita memang harus pergi dari sini. Di samping itu bagaimana keadaan Haima dan Akma Jaya?”
Tabra menggeleng perlahan. “Ketika aku sampai di tempat ini, ada orang yang sudah siap menebas. Aku tidak berhasil menyelamatkan Haima, aku datang terlambat. Akan tetapi, Akma Jaya dia tidak apa-apa.” Tabra menunduk dengan raut wajah bersalah atas kejadian yang telah menimpa Haima.
Tabra mengangkat kepala, lalu mengangguk. Tabib berjalan lebih dulu memasuki ruangan kamar Akma Jaya yang tengah berbaring. Tabra mengikuti di belakangnya. Di saat dia memasuki ruangan, cairan darah memenuhi sekitaran tempat, kasur dan lain-lainnya.
Tabib tercengang “Ya ampun?! Apakah ini jasad Haima?” Dia menatap jasad yang tak sanggup dibahas, tak tega diungkapkan. Dia menggeleng dengan perasaan sedih, menatap jasad yang terbunuh mengenaskan.
Tabra sekadar mengangguk—tidak bisa berkata apa pun lagi. Sejenak menunduk, Aisha menghampiri sang kakak, lalu berusaha menenangkannya.
“Mereka memang begitu kejam melakukan semua ini, sebenarnya jika mereka dendam pada satu orang mengapa harus melibatkan perkara lain.” Tabib mengeluarkan sekilas ucapan, menggelus jenggotnya.
“Bersiaplah. Kita akan pergi ke benua Palung Makmur. Mulai sekarang, aku akan menjaga kalian,” lanjut tabib seraya menatap mereka berdua yang tampak setelahnya mengangguk.
Tabib bersegera mengangkat Akma Jaya, lalu merangkul ke pundaknya. Mereka pun bergegas, berlari menuju arah selatan, menembus ketebalan kabut. Di sana terpampang kapal bertengger anggun yang dapat memuat mereka berlayar, juga termasuk daerah yang tidak diketahui oleh kelompok bajak laut Mafia Kelas Kakap.
***
Di lain tempat dari itu, Kapten Lasha kewalahan menangkis serangan Kapten Kaiza, tebasan pedang itu terus menebas ke arah Kapten Lasha, sedangkan pergerakan Kapten Kaiza seolah-olah menghilang ditelan kabut.
__ADS_1
Pergerakan yang dilihat Kapten Lasha hanyalah sebilah pedang, penglihatannya menjadi terhalang, pedang itu terus mengarah kepadanya. “Kaiza, tunjukkan dirimu, kau adalah seorang pengecut!” Kapten Lasha berseru menangkis tebasan pedang tersebut.
Kapten Kaiza tidak menjawab. Serangannya membabi-buta. “Kaiza, tunjukkan dirimu!” Kapten Lasha kembali berteriak lantang.
“Lasha, kau sudah terdesak!” balas Kapten Kaiza dengan suara keras. Kali ini, Kapten Lasha berusaha menebak lokasi dari sumber suara, tetapi masih sulit baginya, apa yang tengah terlihat hanyalah goresan pedang membabi-buta.
Keringat Kapten Lasha bercucuran di area pelipis membasahi permukaannya, perlahan-lahan keringat itu jatuh ke permukaan pasir, ditambah rasa lelah yang telah menyelimuti keseluruhan badannya. Embusan napas dihela untuk sekian kalinya.
“Lasha, malam ini adalah akhir dari kehidupannmuu!” Kapten Kaiza berjalan perlahan memperlihatkan dirinya. Kabut bergerak ditiup angin.
Mereka saling memandang. Kapten Lasha tersenyum menatap tak mengedarkan pandangan. “Kaiza, kehidupanku akan terwariskan kepada Akma Jaya. Pada suatu saat nanti, kau hanya akan menunggu dia datang dan menghancurkanmu!”
Kapten Kaiza tak menjawab. Dia memelesat tajam. “Heh, sebelum itu terjadi, dia juga akan mati malam ini!” Kapten Kaiza berseru sangar menyerang Kapten Lasha dengan serangan bertubi-tubi.
Kapten Lasha kewalahan menangkis, rasa lelah dan pikiran melanglang, mengkhawatirkan keadaan istri dan anaknya. Dalam tangkisan serangan, dia renungkan semuanya. Dia sekarang mengembuskan napas lelah, tak kuasa lagi menahan serangan Kapten Kaiza.
Pedang Kapten Lasha terlepas dari tangannya. Jleb! Kapten Kaiza menusukkan pedang tepat dijantung Kapten Lasha.
Darah memuncrat. “Akmaa ... jayaa, kuserahkan harapanku kepadamu ....” Kapten Lasha berujar pelan. Berangsur-angsur pandangannya meredup. Jatuh ke hamparan pasir, kabut di sekeliling lokasi masih pekat terlihat.
Dengan tatapan sinis, Kapten Kaiza mencabut pedang yang semula tertancap di jantung Kapten Lasha. Seorang bajak laut tua itu telah mengembuskan napas terakhirnya seakan berguguran bunga dari langit, berdebur ombak.
“Lasha, semua ini telah berakhir. Masa kepimpinanmu telah pupus, sekarang aku akan menghabisi anakmu!” Kapten Kaiza berseru seraya memelesat menuju ke tempat Akma Jaya dan meninggalkan Kapten Lasha yang sudah tak bernyawa.
Namun, sesampainya Kapten Kaiza di tempat itu, Akma Jaya tidak ada lagi di tempatnya, tetapi dia telah berpuas diri. Bahkan, sekarang tertawa setelah melihat jasad Haima.
Kapten Kaiza keluar dari rumah tersebut, dia pun tersenyum sinis—mendongak, menatap ke arah bulan purnama. “Akma Jaya, kali ini, kau termasuk beruntung bisa kabur dariku, tetapi ingatlah, kau akan tetap mati di tanganku!” ucap Kapten Kaiza seraya tertawa lantang.
Dia berjalan pelan menuju kapal. Kemudian, Kapten Kaiza bersama anak buahnya pun bertolak meninggalkan desa Muara Ujung Alsa yang seakan telah menjadi porak-poranda, kepulan asap, kobaran api melahap rumah-rumah, bangkai manusia berserakkan.
Tak lama kemudian, banyak burung berdatangan, terlihat hiu berkumpul mengelilingi pulau karena mencium bau darah segar yang memenuhi seisi pulau.
Sementara, tabib membawa Akma Jaya berlayar menuju ke benua Palung Makmur bersama Aisha dan Tabra, mereka berempat mengarungi lautan, meninggalkan desa Muara Ujung Alsa untuk berlindung dari Kapten Kaiza. Apa yang sebelumnya menjadi dugaan Tabra, ternyata benar adanya. Mereka telah bernapas lega, bisa kabur dengan mudah tanpa diketahui.
Dari jarak kejauhan, dari kapal bertolak mengarungi lautan tampak kobaran api menyala besar, menjulang ke cakrawala. Tabra berurai air mata tak kuasa menatap kobaran api lebih lama, juga Aisha yang masih menggigil ketakutan.
__ADS_1
Tabib di samping mereka, hanya mampu memberikan kesabaran dan sedikit hendak menghibur dengan kata-kata sederhana. Kesemuaan kesedihan itu berasal dari lubuk hati, tiada campur tangan dari lemah atau sekadar basa-basi tak berfaedah.