Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah


__ADS_3

Di puncak menara, Akma Jaya masih bertengger menatap kerumunan, suara teriakan amarah yang bertebaran membuat orang-orang berdatangan, ada banyak jumlahnya.


Suasana ricuh, riuh bergemuruh. Ashraq berlari, memacu kaki—sangat cepat


Di lain keadaan. Aisha juga berlari, tetapi sedikit pelan dan jauh tertinggal karena dia baru mengetahuinya, selang waktu beberapa menit setelah kepergian Ashraq.


Di kerumunan, orang-orang sedang berbincang mengenai hukuman yang pantas untuk Akma Jaya dan Tabra.


"Lebih baik, mereka berdua kita musnahkan. Dengan cara membakarnya hidup-hidup." Salah seorang berucap memberi masukan kepada yang lainnya.


"Tidak, lebih baik, kita cambuk dan siksa sampai mereka berdua mati." Salah seorang lainnya menyahut.


Perbincangan itu terus menerus mereka uraikan mengenai suatu hukuman yang pantas untuk mereka berdua, lebih tepatnya eksekusi mati.


"Apa yang kalian berdua ucapkan, sepertinya tidak ada satu pun yang bisa kuambil sebagai ketentuan hukum, lebih baik kita tikam dengan pedang, bahkan bertubi-tubi sampai usus mereka keluar." Salah seorang lagi berucap menambahkan masukannya.


"Cerdas." Salah seorang lagi berucap singkat, memuji seraya menjentikkan jari.


"Jadi, kau setuju dengan apa yang telah ucapkan?" Dia bertanya, bermaksud menuju ke satu orang.


Namun, bukan hanya seorang, mereka semua ikut mengangguk. "Ya, kami setuju."


"Adakah cara untuk membuat mereka turun? Apa kalian punya saran?"


"Kita tembak saja laksana menembak burung di dahan pohon—" jawab salah seorang sambil menyebutkan perumpamaan.


Aisha masih di tengah perjalanan, masih berlari, sedangkan Ashraq sudah tiba di tempat kerumunan. Dari jarak yang lumayan dekat, dia mendengar perbincangan tersebut.


"Hei, Sebenarnya ada apa ini?" Ashraq berani mempertanyakannya, tidak ada ketakutan. Toh, dia tidak dikenali, mereka itu tidak kenal dengan Ashraq, begitu pun sebaliknya.


"Kau siapa? Kami baru melihatmu?" Salah seorang bertanya heran. Dia mengernyit sedikit saja senyuman yang tergaris di bibirnya.


Ashraq tersenyum lebar, dia membalas senyuman orang yang di hadapannya, walaupun sebuah senyum berbentuk garis, bisa dibilang tak sempurna.

__ADS_1


"Namaku adalah Ashraq, seorang pelayan yang baru tiba di wilayah ini. Jadi, maukah kalian memberitahu, apa yang sebernanya terjadi?"


"Oh, begitu. Aku akan menjelaskannya kepadamu, mereka berdua," ucap orang itu sambil menunjuk ke arah Akma Jaya dan Tabra, "Mereka itu telah membunuh Kapten Riyuta, mereka itu telah membunuh Kapten Riyuta."


"Mereka itu telah membunuh Kapten Riyutaaa!!"


Berulang-ulang ucapan itu dilontarkan, kekesalan memenuhi area dahi, berkerut kening menyertai sorotan mata menakutkan. Di bait terakhir suara lantang, luar biasa, bentuk suara tak kasat mata, tetapi menusuk tajam.


Ashraq menelan ludah, mendengarkan ujaran keras dari orang di hadapannya, mulut terpampang dekat dari arah telinga, bagi orang yang tak terbiasa, menutup telinga adalah jalan utama, tetapi Ashraq tidak begitu, dia masih mendengarkan.


Orang yang tadinya bersuara lantang, dia menghela napas, menenangkan diri sejenak. Di sela-sela itu, Ashraq menatap tidak menunjukkan apa-apa, sekadar tatapan biasa.


Orang itu menjauh dari sisinya.


"Kami sedang berbincang mengenai hukuman yang pantas untuk mereka berdua." Salah seorang berucap bukan orang yang tadinya bersuara lantang.


"Begitu?" jawab Ashraq ringkas.


Ashraq melamun tak hirau suasana.


"Hei, apa kau baik-baik saja?" Salah seorang melambaikan tanganya di dekat mata Ashraq.


"Tak apa, aku merasa sedikit takut, secara pandang kau bisa menilai, aku seorang pelayan tak punya keberanian untuk melihat hukuman apa yang akan diberikan, bahkan mendengarnya saja, telingaku dan lamunanku pergi entah kemana." Ashraq sedikit mendramatisir mengenai keadaannya.


"Badanmu kekar, mana mungkin aku percaya dengan ucapanmu!" Salah seorang tadi menyeringai karena Ashraq berucap 'secara pandang kau bisa menilai' dan apa yang ada di pandangan, dia berbadan kekar—penuh otot bukan lemak.


Walaupun Ashraq menambahkan kata pelayan di sampingnya.


"Apakah kau merasa, orang ini sedikit mencurigakan." Mereka berbisik-bisik dengan rekannya di sampingnya.


"Benar, aku juga merasakan hal yang sama."


"Jangan-jangan dia adalah golongan dari mereka berdua, kita harus menangkapnya sebelum terlambat."

__ADS_1


Mereka berbisik, tetapi tidak menyadari Ashraq mencari perlindungan dan menerobos kerumunan, melindungi diri di balik kerumunan.


"Di mana dia?" Seseorang baru menyadari bahwa Ashraq sudah menghilang dari pandangan mereka.


"Sepertinya memang benar, dia termasuk golongan mereka berdua, andai tadi aku mengetahuinya, maka kutikam tanpa ampun!" ucapnya marah, membentak hebat, luar biasa, keras sekali ucapan itu menggetarkan orang yang mendengarnya.


"Tenanglah, dia baru pergi dan kemungkinan tidak jauh dari sini," ucap yang lainnya menenangkan suasana.


Salah seorang berseru seraya mengacungkan tangannya. Kerumunan balik menoleh, diam fokus menatap.


"Adakah di antara kalian melihat seseorang yang berbadan kekar, berambut lurus, berkulit putih, berpakaian warna kebiruan bercampur putih?" Suara lantang, dia menyampaikan sosok Ashraq secara detail, menggambarkan isi benak-benak kerumunan.


Akan tetapi, sebelumnya Ashraq sudah bersiap sedia, bahkan dia menduga hal itu akan terjadi. Kini Ashraq tersenyum manis.


Sosoknya berubah penampilan dengan rambut yang diikat ke belakang, pakaian kebiruan dia lepaskan dan tinggalkan di tengah sesaknya kerumunan.


Semua orang, hampir beberapa menggelengkan kepala, terlebih hal itu lumrah, kadang ada banyak orang yang seperti itu, tidak spesifik. Dan juga, banyaknya orang berkerumun, hal itu menyulitkan bagi mereka untuk mengetahuinya.


Salah seorang tergencet di sela-sela orang banyak itu memiliki ciri yang sama dengan sosok yang telah disebutkan. Maka orang itu, ditenteng dengan paksa menghadap.


Dari sorotan mata, wajah, telinga dan anggota lainnya, tidak mirip sama sekali, tetapi pakaiannya mirip.


"Darimana kau dapatkan pakaian ini?" Pertanyaan konyol diucapkan begitu saja. Toh, apa pentingnya menanyakan hal itu—dasar sok keren, sok detektif.


"Saya menemukannya dan langsung memakai!" jawabnya gugup penuh hormat, dia mengeluarkan kalimat saya untuk menghormati. Duh, si pendengar mengernyit bangga.


"Kalau begitu, pergilah." Dia menyuruhnya pergi, dalam segi pemahaman mungkin dia sudah mendapatkan jawabannya. Entah apa? dia tidak berucap sama sekali.


Tak lama, dia bergumam, "Heemmm, dia cukup pintar melepaskan pakaian, tapi juga terlalu naif melakukannya di sembarang tempat."


Ucapan itu jelas asal ucap, dia menduga demikian, nyatanya tidak begitu, semuanya berbeda kawan. Ayolah, jangan karena apa seolah menerka ini dan itu, nyatanya tidak ada. Bukan begitu, jelas sekali ini ngawur.


Ashraq berada di tengah kerumunan, menatap Akma Jaya mengisyaratkan bahasa melalui pergerakan tangan. (Apa Anda baik-baik saja?) Isyarat tangan dia gerakan membentuk kata sederhana. Secara tidak sengaja Akma Jaya melihatnya, dia tersenyum seraya mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2