
Detak sang waktu berdetak. Berbeda tempat dengan para anak buah dan dua orang yang memimpin kelompoknya.
Seorang kapten tengah terjebak di alam putih, di dimensi waktu. Dengan kacamata ghaib sebelumnya. Akma Jaya mampu melihat pusat kota yang saat ini dipenuhi sorak sorai. Pesta besar-besaran digelar.
Di setiap penjuru kota. Penduduk ramai bersorak sorai mengatakan beragam macam kata menyambut Akma Jaya. Ini berbeda dari apa yang terpampang di depan mata.
Tahukah ini jauh? Beda jauh dari sekadar tatapan tanpa pembandingan yang sederhana, menuduh dengan kata kasar. Kadang mengingatnya menyebalkan. Kala itu berdesing peluru memelesat lurus.
Bukan lurus ke depan, melainkan ke atas. Udara, awan bergeremet di permukaan langit. DOR! Berabi. Menuju langit, persis saat peluru itu memelesat terus hingga mencapai batas awan. Peluru itu meledak, memecah menjadi partikel yang jelas ditatap indah.
Siang hari. Keindahan seakan bersatu bersama langit di dimensi waktu, kemilau warna menenangkan. Wajah-wajah menatap fokus. Sorak sorai semakin ramai.
Pukulan drum beserta musik lainnya bergema. Wajah-wajah antusias, bergembira. Hangat tertawa sana sini. Heboh tari menari.
Berbeda suasana. Dari balik pintu terbuka dari pintu ke pintu. Sosok bayangan berwujud marmut berjubah merah yang bertugas mengatur waktu. Wanita dengan perangai ketus tak henti bersedekap. Daraysiraswati namanya.
Bersama Aygha. Mereka berdua menelusuri tempat ke tempat ruangan—tempat mereka bekerja, menuju dunia luar.
Daraysiraswati mengoceh ketus tak henti hentinya di sepanjang perjalanan. Aygha selaku orang yang bersamanya mengeluh dalam batin. Hendak bicara, takut tersalah. Ia hanya berdiam mendengarkan. Sesekali mengembuskan napas sabar.
Nasib! Tidak menjamin senyuman terlukis. Wajah getir menahan amarah yang ditatapnya menyebalkan. Ia ingin sekali berteriak sekeras-kerasnya, tertahan. Lebih tepatnya berusaha ia tahan, tidak menghiraukan.
Yeah—menghadapi wanita cerewet amat susah baginya. Berusaha kuat tersenyum dengan dekapan tangan di bawah dada. Wajah yang tampak berbeda, susah dijelaskan. Sabar dan tidak terpancing amarah.
***
Tibalah mereka berdua di pesta penyambutan Akma Jaya yang digelar besar-besaran. Persiapan pesta yang dilakukan dalam waktu singkat. Aygha terpelongo melamun, wajahnya sedikit merendah. Menatap keramaian. Pun banyaknya makanan yang diarak di kepala para marmut. Dansa dan lagu-lagu terdengar serasi dengan alunan nada yang seakan membuat badan ingin ikut berdansa.
Selamat hari berbunga
Hari ini kita kawan bersama-sama
Dalam penuh suka cita bergembira ....
Tiada kesal di dalam jiwa
Nasib kita kan sama ... oohh oohh
Ooh oh oh oh!
Sebarkan kasih sayang
Ayolah jadi penyayang
Jangan dibuang-buaaaang.
Ooh oh oh ooo!
Daraysiraswati menepuk-nepuk wajah Aygha yang pelongonya kian melebar dari detik ke detik. Matanya ternampak ikut melebar dengan penuh imajinasi di dalam kepalanya. Tepukan Daraysiraswati seakan membuat Aygha terjatuh dari ketinggian menara. BYUUR! Bagai disiram air, Aygha sadar dari lamunan dan pelongonya pun hilang, pergi jauh dari dirinya.
“Hei, Aygha. Kau ini seperti orang yang baru pertama kali ke pesta. Menyebalkan!”
Aygha mengusap wajah yang semula kena tepukan, sakit—tepukan yang cukup keras. Belum sempat apa-apa Daraysiraswati kembali menepuk wajahnya kembali.
Aygha menggeram kesal. “Daraysiraswati. Hei, berhenti menepuk wajahku. Kau ini seperti orang yang kurang kerjaan!”
Tidak terima begitu saja. Enak benar tepuk-tepuk sembarangan! Aygha memaki dalam batinnya, tetapi tidak terkeluar dari mulutnya. Dasar wanita sialan!
Itu katanya dalam batin. Tidak terdengar oleh Daraysiraswati. Kalau terdengar bisa gawat, bisa benjol kepalanya.
“Iya, iya. Maaf. Aku salah!” Daraysiraswati mengerut ketus. Tidak serius meminta maaf.
__ADS_1
Aygha balas sama. “Sangat kelihatan, kau minta maafnya tidak ikhlas!”
“Tidak ikhlas apanya? Kau ingin kupukul?”
“Sini! Pukul!”
Aygha menantang. Lanjut mengangkat bahu, meremehkan. “Hah, kau itu hanya berani bicara lebar. Kalau betul berani. Ayo, sini pukul!”
BUUK!
Tanpa berbasa-basi. Kepala Aygha benjol kena tampar. Daraysiraswati menggeram kesal. Puas diri telah melakukannya.
“Dasar lelaki sialan!”
Seimbang. Aygha juga sama mengatakannya dalam batin. Mengutuk dengan kata sial. Astaga? Kelakukan mereka itu tidak mencerminkan akhlak yang baik.
Sementara pesta terus menerus ramai oleh para penduduk marmut yang masih daritadi bersorak sorai. Ini menyenangkan, bukan?
Menyenangkan. Riuh bergemuruh disekian kalinya warna yang ditatap menyenangkan. Walikota mengambil mic. Itu pertanda akan diadakannya pidato sementara.
Mendeham-deham kepada para pemain alat musik sebagai isyarat agar memberi kesan pada irama senada dengan ucapan yang akan diucapkannya. Agar terdengar antusias.
Layar monitor di atas gedung gedung menampilkan wajah walikota. Dansa berhenti. Keramaian bersedia mendengarkan pidato Walikota. Perhatian mata Daraysiraswati dan Aygha teralihkan ke layar monitor. Walikota di sana merapikan dasi.
Marmut berbadan gendut. Bulunya putih, kumis hitam dan wajahnya bulat. Matanya sedikit ada pancaran kekuningan dan lebar menatap ke kamera yang menyorot wajahnya. Menyeringai dengan gaya dan mendadah sebentar. Menyuarakan deham kembali ke mic yang dipegangnya.
“Moazarella de vantastiko!” Aygha berkata menatap layar monitor. Refleks keluar logat dirinya, sejak kecil dulu.
Aygha terbelalak mata. Menatap Akma Jaya di sana orang yang dia temui sebelumnya tak menyangka. Orang itu ternyata mendapatkan penyambutan besar dari para penduduk.
Bahkan dari Walikota sendiri. Ini moment pertama kalinya di kota mereka. Di alam mereka kedatangan sesosok manusia.
“Aygha, kau melongo lagi!” Daraysiraswati menepuk bahunya. Kali ini tidak di wajah, kasihan mungkin atau tidak ingin tambah berdebat lagi.
Sosok Aygha itu memegang bahu sambil mengguncang. Matanya melebar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Hei. Hei, biasa saja melihatnya. Kau ini, dasar tidak tahu malu.” Daraysiraswati melepas paksa pegangan tangan di kedua bahunya. Enak saja pegang-pegang!
Lanjut bersedekap ketus. “Hei, bukankah sebelumnya kau itu sudah melihatnya di layar, bahkan di antara kita kaulah yang sangat ingin ke acara ini!”
Nada ketus dan raut wajah yang serasi membuat Aygha garuk kepala salah tingkah. Astaga? Itu tadi refleks tidak sengaja.
Sumpah katanya, sih? Omong kosong, Daraysiraswati tidak percaya begitu saja.
Bukan muhrim malah pegang-pegang. Dasar lelaki sialan! Daraysiraswati membatin, tidak suka menatapnya. Aygha benar tidak sengaja melakukannya.
“Maaf, aku tidak sengaja.” Kedua tangannya bertangkup meminta maaf.
Daraysiraswati memelototinya. “Apa? Kau bilang tidak sengaja? Hah?”
“Iya, maaf.” Aygha menjawab lemah. Takut kena tampar lagi.
Sebenarnya saat menantang sebelumnya dia juga tidak sengaja alias refleks.
Daraysiraswati mengerut. “Alasan!”
Sejenak memalingkan pandangan. Wanita yang satu ini cerewetnya bikin kepala ikut panas. Aygha tidak habis pikir, kok ada sifat yang seperti itu? Menyebalkan malah.
Ah! Selama ini ia memang tidak mengenal banyak wanita, hanya sedikit. Rata-rata perangainya lembut, beda sama Daraysiraswati yang begitu menyebalkan.
Saat ini pun tidak ingin ambil pusing. Buat apa diambil pusing? lebih baik baginya fokus ke layar monitor sana. Mendengarkan Walikota memberikan pidato.
__ADS_1
Daraysiraswati merasa tidak dihiraukan. Ya, sudah. Dia juga ikut menatap ke layar monitor di sana, wajah mereka saling tidak ingin menatap. Sama-sama mengerut.
Walikota masih bersitatap kamera. Memberikan senyum terbaiknya. Ramah. Walikota itu sungguh ramah.
“Baik. Saya berdiri di sini, menatap kalian. Terima kasih atas segala apa yang kalian beri kepada saya. Semuanya berkat kalian para hadirin. Bapak, ibu sekalian anak muda yang berjiwa sehat, sekalian mahasiswa. Para pejabat dan kantor sekretariat kota yang semuanya kami hormati dan kiranya tidak mungkin saya sebutkan satu per satu. Waktu bagai koin yang berharga, walaupun di sini di dimensi waktu. Tapi, kita sekarang menyambut seorang tamu dari alam manusia. Di sana ada yang menyebut time is money. Jadi, saya harap kalian mengerti.”
Irama musik syahdu membahana mengikuti alunan nada bicara Walikota. Para hadirin yang jumlahnya ribuan sibuk mendengarkan dengan saksama, rukun dan taat.
“Kita di sini berkumpul bersama. Memberikan penyambutan terhadap manusia yang satu ini. Pesta besar-besaran yang pernah ada dan digelar dengan persiapannya dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Kalian semua, saya ingin mengucapkan terima kasih atas segalanya. Saya selaku Walikota meminta maaf yang sebesar-besarnya sekiranya saya membuat kalian marah, jengkel, kesal. Bertubi perasaan yang kurang nyaman di dalam hati dan benak pikiran kalian semua. Sekali lagi, saya meminta maaf, saya sebatas memerintah tanpa bisa membantu banyak. Diam jasad, bahkan berdiri di sini berbicara dengan gaya sok hebat. Bersikukuh dengan wajah tampan menatap layar dan berlagak berbicara banyak dan seenaknya kepada kalian semua.”
Para hadirin ada yang tertawa. Mendengar kata tampan, wajah Walikota menunjukkan gayanya dengan senyuman yang dipaksa.
Haduh. Apalagi Aygha hendak muntah. Tampan? Woow, kata itu lumayan bombastis mengernyitkan dahi Daraysiraswati.
“Maafkan saya lagi, para hadirin yang jumlahnya seisi kota ini. Saya akan memberikan pidato singkat saja, tidak lama. Saya harap kalian tidak keberatan.”
“Di dimensi waktu ini kita telah lama tinggal, bersama selalu suka maupun duka. Saya selaku walikota merasa senang. Hari ini, kita kedatangan tamu seorang manusia. Ini kali pertama yang terjadi, entah bagaimana dia bisa kemari? Apakah ada penjelasan dari semua yang terjadi ini? Eh, tunggu saya tadi hanya ingin berpidato dan mengapa saya sekarang bertanya? Apakah saya telah menjadi linglung dalam hal ini?”
Daraysiraswati mengembuskan napas heran. Sama Aygha bahkan yang lainnya pun sama herannya. Walikota yang satu itu bicara seperti berkumur-kumur, tidak konsisten dan tidak nyaman didengar.
“Baik. Hadirin yang berbahagia, semoga tidak ada kesedihan hari ini. Saya meminta maaf lagi, lagi dan lagi maaf. Hanya itu kalimat sakti yang sering diucapkan oleh seorang manusia kala ada kesalahan.”
“Kita di sini sering mendengar cerita bagaimana para manusia beraktivitas, mengerikan. Hari-hari dari beberapa mereka kadang terlibat dalam kejahatan yang tidak tanggung-tanggung. Meresahkan satu orang ke orang lainnya. Terikat seperti tali yang sambung menyambut, membuat lingkaran tali yang menjulang hingga dibahas terus menerus, mencapai langit. Membutuhkan waktu tahunan. Berlalu hingga saat ini kita menatap satu orang terdampar di sini, bahkan apa mungkin semua itu benar?”
“Haaah? Apa itu benar, para hadirin?”
Walikota bertanya dengan raut wajah mantap. Intonasi sedemikian rupa diatur olehnya. Musik dengan irama yang mencekam ikut menyertai ucapannya.
Para pemusik lihai bermain alat-alat. Mencampurkan ucapan Walikota dengan nada yang menggetarkan setiap marmut di sana. Seimbang, lirik nada yang pas.
“Jawabannya benar dan poin utamanya tidak, para hadirin. Tidak semua manusia memiliki sikap yang seperti itu, di dunia mereka ada yang baik. Adapula yang jahat. Di sana penuh bisa dikatakan penuh warna warni kehidupan.”
“Saya selaku walikota menyambut kedatangan seorang manusia yang satu ini dengan penuh perasaan gembira, suka dan lepas. Ayo, mainkan musik dengan irama syahdu. Kita akan mulai berpesta lagi.”
Walikota menatap mantap, mengisyaratkan dengan jempol teracung. “Maafkan saya yang tidak konsisten selama ini. Saya seperti merasa bersalah atas apa yang terjadi pada pelaksanaan pesta ini, saya meminta maaf.”
“Dengan berakhirnya pidato ini. Mari, kita mulai lagi pestanya.” Walikota tertawa antusias. Kembali memberikan isyarat kepada pemusik di sana untuk memutar nada syahdu.
Namun, siapa sangka para pemain musik tidak hirau. Malah memulai pesta dengan irama mellow. Tidak melulu menyahut perintah walikota sebelumnya. Para pemusik ingin menyampaikan pesan tentang alam bumi yang ingin mereka kenang.
Di pertengahan abad berlalu. Ras kaum elang pernah musnah. Pendekar dengan legendanya dihancurkan dengan meteor yang jatuh ke bumi. Dari tahun ke tahun, satu ras kembali tumbuh bagai biji-bijian dan kembali mengisi alam dunia, sejarah pun berubah hingga sekarang. Konon katanya dunia manusia itu sering didaur ulang, bahkan satu kehidupan mengalami beberapa sejarahnya masing-masing. Itulah konon fiksi yang kadang menyebalkan.
Walikota merasa tidak penting. Ayolah, untuk apa katanya mengingat sesuatu yang bahkan tamu kita itu tidak tahu. Alam dunia didaur ulang dan manusia baru dengan sejarah baru mengisinya kembali, tentulah hal itu tidak akan membuatnya terkejut atau sedih dan sebagainya, tidak akan. Malah terkesan sia-sia, percuma.
Namun, tidak demikian. Justeru berbeda reaksinya dengan para marmut yang tampak satu-dua menghayati. Beberapa menit seakan memelesat detak berdetak melewati alunan nada mellow. Aygha menghayati bait ke bait tampak berlinangan. Menyeka pelan matanya.
Daraysiraswati berada di dekatnya sedikit mendesis, menggumamkan suara kecil yang tak terdengar siapa pun. Dasar cengeng! Itulah gumaman suara antiknya.
Lain dengan Walikota. Langit bumi perbedaannya. Hanya dirinyalah yang terus bersikukuh melambaikan isyarat untuk kesekian kalinya ia tunjukkan.
“Kalian ini bagaimana, sih? Irama syahdu ... wooy irama syahdu!”
Bukanlah kata ucapan yang dilontarkan Walikota, melainkan kata isyarat yang ia tunjukkan dengan bersikukuh mantap.
Mic di tangannya sudah tidak bersuara lagi. Berakhir pidato, mic itu otomatis tidak berfungsi. Pesta telah di mulai dengan irama mellow. Walikota menganggapnya kurang pantas, kurang nyaman didengar.
“Hei, ayolah. Ini pesta. Mengapa memulai dengan irama melow. Kalian ini bagaimana, sih?” Kali ini isyarat Walikota tampak ketus.
Para pemusik menatap paham, tidak berani melawan perintah. Kala itu pun irama dimainkan berubah syahdu dengan sorak sorai kembali ramai, bersahutan dari satu tempat ke tempat lainnya. Rasa yang terasa berbeda, ini sungguh berbeda.
Akma Jaya saat itu terdiam menikmati pesta dengan jutaan makanan diarak, tarian dan sorak sorai semerbak memenuhi tempat. Dalam otaknya sekilas terpikir tidak ingin banyak ucap, tidak pula banyak bergerak. Bagaimana kiranya terlepas dari dimensi waktu yang sangat menguraikan batasan api kesabaran.
__ADS_1
Hanya itulah yang saat ini ada di dalam otaknya. Berharap bisa kembali bersatu dalam kelompok Bajak Laut Hitam.
Helaan napas berguguran cemas di dalam batinnya. Mengingat para anak buah, juga dua orang sahabatnya yang entah sekarang bagaimana kabar mereka yang dia sendiri pun tidak tahu apa pun, hanya mampu berharap dan berharap semuanya baik-baik saja.