Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka


__ADS_3

“Begitu rupanya.” Akma Jaya kali ini berdiri tegak. Mempersiapkan diri agar lebih kuat berpijak, suasana kala itu sungguh amat mengingatkan akan sebuah masa lalu.


Tentang masa lalu apa dan siapa lagi yang dimaksud? Nanti akan dijelaskan pada chapter-chapter berikutnya bagaimana bisa masa lalu ada di sana.


Kapten Atlana perlahan menghampiri, jalan kaki yang terlihat santai, seperti kakek tua yang tertawa-tawa. Saat gendrang benak berdetak, saat matahari ditutup awan itulah gumaman dalam hatinya berbicara. Lantas mulutnya mengeluarkan decak-decak kehinaan. Bentuk hinaan terkemuka itu betapa sangat tidak relevan dengan jati diri yang berada di sana. Kapten Atlana mengeluarkan semua kekesalan dalam dirinya yang satu, dua, tiga, dan empat. Dalam hitungan jumlah yang tidak banyak itulah keagungan dan kebesaran yang berasal dari masa silam. Sebuah gelar yang menjadi kebanggaan bagi ayahnya, Kapten Gaiha.


Pilar tujuh lantai. Begitulah, Kapten Gaiha usai dulu mendapatkan gelar tersebut. Gelar terhormat seorang bajak laut.


Pengkhianat bangsa seperti Akma Jaya mana mungkin paham akan gelar seperti itu. Pikir, Kapten Atlana dalam benaknya menghina.


“Ketahuilah, wahai Akma Jaya. Kehidupan ini seperti makanan yang mempunyai banyak rasa. Di antara rasa itu, amarah dan kebencian termasuk di antaranya, keduanya ikut tertumpah ruah dalam bentuk perasaan. Bahkan pada saat kau lahir. Di dunia yang dikelilingi lautan dan samudra, orang seperti dirimu bisa saja dibenci dan tidak inginkan oleh kedua orang tuamu. Kau berucap sebelumnya tentang kebencian dan kemarahan yang katamu tidak ada artinya. Sudahkah kau menggunakan akalmu sebelum bicara? Heh, perasaan marah pada tempatnya adalah suatu kemuliaan, saat kau mengatakannya tanpa berpikir bagaimana timbal balik dari ucapan yang telah kau katakan, bahkan tanpa rasa bersalah. Kau menatapku seperti bangga diri. Perkara ini sudah jelas terlihat, Akma Jaya. Itu semua menandakan dirimu yang seringkali kau dikuasai keinginan dan terus berkeinginan membela diri yang sejatinya walau kau salah, kau tetap saja tidak mau mengakui kesalahanmu. Kau malah bersibuk diri dan mencari-cari alasan yang sebenarnya semua itu tidak lebih hanyalah sebuah omong kosong.”


Seorang kapten bernama Atlana. Anak bungsu dari Kapten Gaiha. Pemegang gelar yang konon banyak dibicarakan bajak laut.


Di mana pun dia berada sama kehormatannya antara lautan dan samudra. Terlebih di Benua Ruyanisma.


Kapten Zaiya yang menjadi sejarah lama menuturkan. “Gelar dan jabatan itu memang hanyalah sementara. Kelak manusia akan mati meninggalkan semua gelar dan jabatan itu yang tidak lagi ada artinya. Kecuali sejarah yang akan selalu ada dan menjadi bahan cerita. Adakalanya cerita itu baik, adakalanya pula tidak. Buatlah sejarah dalam hidup yang berkesan baik agar tidak mudah dilupakan orang.”


Dan sejarah bagaimana kharisma Kapten Gaiha cukup menjadi kebanggaan bagi Kapten Atlana yang sering disebut-sebut olehnya. Seperti mie pasta kesukaan Dausa.


Seringkali disebut Boba sebagai mie instan, kenyal di mulut dan tak mudah basi.


Akma Jaya di sana tak mampu menjawab. Berdiam adalah jalan yang dia pilih.


Kesiuar angin dan gejolak pertarungan para anak buah mendramatiskan suasana. Aisha berkali-kali menerjang lawan, juga Tabra.


Kapten Atlana menunjuk ke sisi anak buah Akma Jaya yang tengah bertarung. “Lihatlah ke arah mereka, Akma Jaya. TIDAKKAH KAU MERASA SEBAGAI seorang kapten! KAU tidak berguna dan kau ADALAH SEORANG PECUNDANG yang hanya bisa lari dan lari dari kejaran kami. Bahkan, kau tidak bisa bertarung dengan kekuatanmu seorang diri. Itu menandakan bahwa betapa hidupmu memang layak untuk dijadikan sebagai bahan lawakan dan nyatalah, kau hanya seorang pecundang!”


“Apakah aku sebelumnya sudah salah dalam mendengar? Kau berucap tidak ada yang lebih kau inginkan di dunia ini selain bajak laut itu musnah dari muka bumi. Heeh, tentang ini bisa kubayangkan! Tentang dirimu yang dipenuhi kebencian dan amarahmu, terpendam di sana. Kau sungguh orang yang tidak waras dikuasai oleh rasa kebencian hanya karena kejadian yang menimpa masa lalumu!”


Kapten Atlana berusaha menyerang mental si lawan bicara. Entah bagaimana mental itu masih saja kuat walaupun dicak-cak.


“Aku pernah mengucapkan kepadamu, Kapten Atlana, bahwa aku tidak membenci akan kejadian yang dulu terjadi pada desaku, bahkan saat kejadian itu aku tidak tahu apa-apa dan masih dalam keadaan yang tidak sadarkan diri.” Akma Jaya santai menjelaskan. Dia memang dulu saat pertama kali berjumpa dengan Kapten Atlana, sudah pernah mengucapkannya. Kapten Atlana seperti terus saja berputar-putar.


Seperti kincir angin yang putarannya begitu saja, tidak ada bedanya.


Usai mendengarnya, Kapten Atlana meludah dengan amarah. Itu suatu pertanda bahwa dia tidak percaya dan muak mendengar penuturan Akma Jaya yang baginya seperti kincir angin yang berputar-putar di situ saja. Agak terbalik, mereka berdua sama-sama berpikir sama.


“Tutuplah mulutmu yang hina, wahai Akma Jaya! Kita lanjutkan pertarungan!”


Kapten Atlana merasa cukup bicara, dia memelesat lebih dulu dengan pedangnya nan tajam bersembilu luka pada masa lalu. Berniat ingin menderaikan luka kali ini. Dia menuju cepat dengan tusukan pedang yang berkilauan cahaya, bertumpu kekuatan di ujung lengan. Kapten Atlana memulai melanjutkan pertarungan di antara mereka yang sempat tertunda.


Akma Jaya menangkis serangan demi serangan, belum ada perlawanan di sana. Dan bertubi-bertubi dencangan pedang memenuhi suasana. Tabra melihat hendak membantu, tetapi dia diserbu sepuluh orang dari anak buah Kapten Atlana.


Pertarungan itu dengan dencangan pedang. Perasaan di sanubari yang mereka rasa entah apa gerangan? Entah apa yang merasa rasakan? Getar getir angan melanglang, bagaimana tebasan pedang yang saling beradu satu sama lain. Terlalu dalam perasaan yang dihempaskan ke udara.


Kapten Atlana menggeram marah. Satu sayatan luka berderai di tangan Akma Jaya.

__ADS_1


Akma Jaya mundur bermaksud ingin memperban luka dengan kain baju yang dia lepas. Para anak buah tidak tahu akan hal itu karena fokus mereka bertarung juga.


Begitu pun Aisha dan Tabra yang kewalahan menghadapi sepuluh orang sekaligus. Kapten Atlana semakin tertawa.


Lantas berkata, “Kau lemah!”


“Sepertinya kau perlu kuberi ceramah! Kelemahanmu itu disebabkan oleh rasa kebencian yang tidak bisa kau kendalikan dan kau tidak sadar diri. Tidakkah kau sadar akan hal ini tentang ayahmu adalah seorang bajak laut yang biadab, saat kau menyangkalnya kau sudah menjadi anak durhaka. Sadarlah, wahai Akma Jaya! Engkau terlahir di dunia dan tercipta dengan paras rupa seperti ayahmu serta saat kau ada. Ayahmu menjadi tanda, kau berada dalam garis takdir sebagai seorang bajak laut. Tersambung ikatan demi ikatan, walau bagaimanapun kau menyangkalnya. Kau tetaplah berasal dari keturunan yang sama dari keturunan ayahmu, bahkan mau berapa kali kau menyangkalnya! Seratus atau seribu kali. Hah! Itu semua percuma dan tidak ada artinya. Tentang hancurnya desamu beserta kematian Kapten Lasha, semua itu tidak bisa kau jadikan sebagai tolak ukur dan alasan busukmu yang ingin memusnahkan bajak laut dari muka bumi ini. Kehancuran desa dan kematian Kapten Lasha, bahkan seluruh penduduk yang berada di sana itu tidak lain tidak bukan adalah bentuk takdir yang seharusnya tidak perlu kau bawa hingga ke ujung dunia. Bahkan orang yang tidak punya salah atas kejadian itu malah kau jadikan sasaran dari rencanamu yang busuk, rencana yang hanya mementingkan diri sendiri!” Berhenti sejenak. Tarik napas, ceramah yang untuk kedua kalinya dilontarkan Kapten Atlana.


Ceramah Kapten Atlana yang menggebu-gebu itu lumayan panjang. Pedang yang dia pegang sengaja diletakkan olehnya di bahu. Dan catatan penting mengenai itu, ceramah yang dikatakannya bukanlah untuk menasihati, tetapi untuk menghina dan menghakimi.


Akma Jaya sempat memperban luka sambil mendengarkan ceramah dengan nada yang menggebu-gebu beserta desakkan napas yang kian menunjukkan rasa lelah dan letih.


Hembusan angin siang itu membuang hasrat sebuah rasa yang diterkam derita.


“Wahai Akma Jaya, kau adalah orang yang bodoh dan orang gila yang tidak punya otak! Sudah kuduga akan hal ini, kau tidak bisa berpikir jernih lagi usai kejadian malam hari itu dan betapa hatimu sudah rusak. Karena kau telah dikuasai oleh rasa kebencian yang begitu mendalam. Kebencian yang jelas saja itu merusak dirimu sendiri dan kebencian itulah yang saat ini membawamu terbang dengan sayap dan membentuk kelompokmu yang anggotanya sama-sama rusak karena dipimpin oleh dirimu yang memberikan harapan palsu kepada mereka hingga kau berlayar bersama mereka untuk hal keji seperti ini yang malah dengan bangga diri, semua ini engkau anggap sebagai suatu pencapaian dalam hidupmu. Dan terhimpun semuanya dalam kesimpulan, bagiku kau adalah makhluk biadab dan hina, bahkan engkau lebih biadab dan hina dari ayahmu!” Kapten Atlana memberikan uraian yang panjang. Hampir lelah telinga saat mendengarkannya.


Bagaimana perasaan dan mental Akma Jaya saat itu? Dia tidak menanggapi apa pun. Belum saatnya bicara, dia menahan diri dari hal yang tidak diinginkan.


Semakin panjang perkataan itu terdengar. Akma Jaya di sana hanya terpaku dalam diam. Fokus diri mendengarkan. Memang benar, bagi Akma Jaya. Dia sudah mengakui akan kesalahan itu dalam dirinya sendiri yang telah salah dalam berbicara dan sebelumya malah tidak berpikir kemana arah pembicaraan mereka yang justru menjadi sebuah kesalahpahaman baru di antara mereka. Akma Jaya usai mengakui dirinya bahwa dia sudah berucap sembarangan dan itu malah menjadi sebuah kesalahpahaman baru yang terjadi di sana. Berdebar Aisha menoleh, saat itu.


Bagaimanalah diri bisa menjelaskannya? Sukar dilakukan dan susah pula disusun dengan kata secepat itu. Kapasitas otaknya dalam berpikir terbatas dan bisa dibilang tidak mencukupi daya tangkap untuk bisa berpikir seketika itu juga dan memulainya harus dari mana? Dari manalah? Bingung.


Akma Jaya berusaha tenang seperti alunan ombak di pesisir pantai. Mengikuti arah angin dan menjelaskannya perlahan. “Kau benar mengenai itu dan perkataanmu membuatku sadar akan satu hal. Aku menarik perkataanku yang sebelumnya. Aku juga tidak bermaksud demikian dan kusadari akan kesalahanku yang sebelumnya berbicara tanpa pertimbangan diri terlebih dahulu dan peristiwa masa lalu itu membuatku seperti anak-anak yang berumur sebelas tahun, aku tidak tahu apa-apa. Seorang anak yang masih lugu dalam berbicara. Mungkin saja, semua ini terjadi karena kesalahanku sendiri dalam berbicara dan tidak bisa mengelola kata. Dirimu dan para bajak laut itu mungkin saja sudah salah dalam mengartikan ucapanku. Kalian telah salah paham dan berujung menjadi seperti ini.”


Akma Jaya di sana cukup mengerti yang pada intinya perkataan Kapten Atlana ada benarnya. Dia mengakuinya.


Akma Jaya hanya ingin berkata yang maksudnya begini. Mengapa Kapten Atlana membencinya, wal hal itu tidak ada urusan apa pun dengan dirinya. Jelaslah sudah kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Kesalahpahaman dalam hal itu cukup menyulitkan telinga dan kepala.


Satu pihak salah paham, begitupun pihak yang satunya lagi. Keduanya tidak sinkron.


Saat-saat getaran jiwa bersuara. Akma Jaya hanya bisa menggenggam pedang lebih erat, menatap Kapten Atlana. Getaran jiwa bercampur dalam satu raga dan perasaan hati itu bergema dan lisannya seraya menuturkan dengan kesiur angin yang menggerakkan jubah kehitaman yang dia kenakan.


“Seandainya kau bisa mengerti.” Akma Jaya saat itu ingin menjelaskan panjang lebar.


Kapten Atlana hanya mencih.


“Apa pun yang kau katakan, semua itu tidak akan kupercaya!” Kapten Atlana berkata menyahut kalimat sebelumnya.


Akma Jaya terdiam mendengarkan ucapan itu. Kapten Atlana sedikit tertawa saat menatapnya seperti menatap kue kering yang hendak dia hancurkan. Pertarungan pedang yang terjadi di antara mereka kini berubah menjadi pertarungan mulut yang pandai berucap, tentu dialah pemenangnya.


Akma Jaya akhirnya bicara, “Di saat pelayaranku ke berbagai wilayah yang di sana dikuasai bajak laut. Aku melihat sendiri bagaimana kondisi dan suasana di wilayah tersebut. Banyak di sana orang-orang yang menderita akan penderitaan yang sama seperti yang aku alami! Desa mereka hancur, mereka dijadikan budak. Apa kau bisa merasakan penderitaan itu, Kapten Atlana. Para bajak laut itu banyak di antara mereka yang tidak mempunyai rasa iba dan tidak peduli atas perlakuan mereka yang telah membuat kerusakan di mana-mana. Itulah alasan kuatku mengarungi lautan, alasan mengapa aku berlayar dan berkata lantang ingin memusnahkan para bajak laut. Dalam arti yang sebenarnya, aku berlayar dengan kapal ini atas dasar melindungi orang-orang lemah yang seenaknya mereka perlakukan sebagai makhluk rendahan yang bebas mereka pergunakan sebagai budak. Kapten Atlana, dalam pembicaraan antara kau dan aku ini sepertinya kau sudah salah paham dalam memahami kata-kataku yang sebelumnya. Saat aku bicara. Dari sejak dulu, saat pertama kali membentuk kelompok, aku tidak pernah sama sekali bermaksud dan berkeinginan menentang. Ini lebih ke suatu hal yang di mana saat aku berlayar. Semua masalah itu menjadi terang, pada suatu masanya aku bisa lebih tahu tentang mereka.”


“Dan pada saat berlayar, saat itu juga aku menemukan arti dan sebuah makna di dalam hidup yang tidak terkecuali air mata. Di sana, aku menemukan banyak pelajaran yang entah dari mana datangnya. Selama masa pelayaran ini berlangsung. Tidak lain, tidak bukan semua ini kulakukan atas kesenangan diri semata dan aku berniat menjalani hidup dengan prinsip hidup yang senantiasa bisa berbuat baik. Menjalani hidup ini tanpa merampok atau bahkan merampas harta orang lain. Adapun sejarah bajak laut yang kau maksud dan kau bilang itu sudah digariskan padaku. Tentang itu, aku tidak menyangkalnya, tetapi tugasku hanyalah berkeinginan mengubahnya, mengenai ucapanku sebelumnya. Saat kubilang tidak ada hal yang lebih kuinginkan selain para bajak laut itu musnah dari muka bumi. Itu adalah salah satu bagian dari ucapanku.”


Akma Jaya terus berpanjang kata. Menjelaskan semua itu agar semuanya menjadi jelas. Kapten Atlana berkata, “Hahaha.. kau bilang itu adalah salah satu bagian dari ucapanmu? Heh, lalu apa yang kau maksud itu, jelaskanlah dengan rinci!”


Akma Jaya di sana seperti dahan ranting terhisap angin. Dalam rasa hati dan kata bercampur menjadi sebuah penjelasan sukma seiya sekata.

__ADS_1


Diri yang terlahir dengan prasangka ayahnya. Kini hidup dalam pengarungan lautan, pergi kemana pun arah mata angin membawanya berlayar.


Akma Jaya menuturkan, “Mengenai penjelasannya begitulah ucapanku yang sebenarnya mengandung arti dan maksud yang tidak bisa kau pahami. Sungguh, teramat jauh perkara yang kau berlagak tahu dan menilai semua kehidupanku, aku tidak pernah bermaksud seperti yang kau katakan. Pertama kali kata itu kuucapkan aku hanya ingin mereka para bajak laut itu kembali menjadi rakyat biasa dan meninggalkan pekerjaan mereka sebagai bajak laut dan hidup berdampingan dengan sentosa, juga bersahabat dengan yang lainnya, agar suasana menjadi tentram seperti biasanya. Aku ingin mereka berhenti merampas harta benda yang sejatinya bukanlah milik mereka. Masalah ini sudah seringkali terjadi dan kerapkali kutemui, wahai Kapten Atlana. Banyak orang yang menderita atas keberadaan bajak laut itu yang meresahkan dan para rakyat biasa tidak mampu melawan. Mereka tidak punya kekuatan. Dan banyak orang yang kutemui mengakui mereka tidak menyukai keberadaan bajak laut. Dan banyak pula di antaranya orang-orang yang berkata mereka dijadikan budak. Mereka disiksa seperti boneka yang tidak pernah bisa kumengerti. Tangan-tangan yang terikat tali. Begitulah keadaan di luar sana.”


Kapten Atlana usai mendengarkan hanya tersenyum miring. Dalam hatinya menyebut kosa kata yang tidak selayaknya. “Banyak kata yang kau terlalu melebih-lebihkan!” tuturnya kemudian.


Akma Jaya menjawab, “Aku hanya ingin menjelaskan agar kau bisa mengerti.”


“Omong kosong!” Kapten Atlana menyahut keras.


Akma Jaya memberi senyuman yang terlihat menyebalkan. “Walaupun bagimu itu semua adalah omong kosong. Akan tetapi, aku hanya ingin kau tahu itulah alasan mengapa dan kenapa aku di sini menjelaskannya panjang lebar. Agar kau mengerti, Kapten Atlana. Aku berlayar selama ini ke berbagai wilayah atas kesenangan diri dan kalau menurutmu selama ini aku terus lari dari pengejaran kalian, aku akan menjawab tentang perkara yang kau salah dalam menuduhku. Selama ini aku tidak lari atau bahkan aku tidak menyembunyikan diri dan mengenai semua itu hanyalah sebuah kesalahan yang harus kuluruskan dan entah mengapa aku merasa semua ini memang hanyalah kesalahpahaman yang terjadi di antara kita dan tentang para bajak laut itu. Perasaanku mengatakan saat berada di Wilayah Nanaina kau adalah orang yang bermulut besar dan berhasil dengan pidatomu menghasut mereka agar membenciku dan menyebarkan pengumuman di setiap wilayah. Aku hanya menduga semua itu, saat bertemu denganmu di hari itu, tertera juga namamu di kertas pengumuman dengan bait pesan yang kau tuliskan.”


Kata-kata itu seperti pisau tumpul yang berubah diasah. Agar lebih tajam. Dalam menerangkannya sorotan mata itu saling beradu.


Uraian Akma Jaya lebih panjang dari Kapten Atlana. Uraian yang jelas tidak ingin didengar Kapten Atlana, sedikit banyak itu malah tidak ada satu pun yang bisa diterima Kapten Atlana seperti yang usai dikatakan olehnya.


“Apa pun yang kau katakan, semua itu tidak akan kupercaya!” Kapten Atlana berkata, sebelumnya dan itu membuktikan apa pun itu yang dikatakan Akma Jaya tentang penjelasan atau hal lainnya. Dia takkan menerimanya dalam artian percuma. Dia tidak percaya dengan perkataan Akma Jaya.


“Heh, tak kusangka kau benar mengenai pidatoku waktu itu, ternyata kertas pengumuman itu telah sampai ke telinga dan matamu. Sudah kubilang di awal kau orang yang memang layak untuk dibenci semua orang, ini akan menjadi menarik!”


Kapten Atlana berkata dan tertawa keras usai mendengarkan penjelasan Akma Jaya yang di sana baginya berbelit-belit dan rumit. Apalagi, panjangnya kata itu cukup melelahkan telinga dan ingin dia tampar. Kata-kata bijak seakan menjelaskan akan satu makna dalam hal itu.


Ya—kata kata bijak yang memberikan pengingat di kala itu Kapten Atlana tertawa menghina. Di situlah, Akma Jaya baru menyadari akan satu hal lagi. Mengenai satu hal yang hanya dirinya yang tahu dan tidak akan diberi tahu.


Kebencian yang asasnya dari semula. Walaupun dijelaskan itu percuma. Pada dasarnya diri itu sudah tidak suka, apalagi yang mau diperbuat. Perasaan didorong perasaan, di sana terletak kata yang bisa saja bercampur menjadi satu dengan beragam macam hal. Kebencian atau kemarahan.


Menjadikannya sebagai wadah penyaring ucapan. Mau seberapa bagus dan terang penjelasan itu, tetaplah Kapten Atlana merasa tidak tertarik saat mendengarnya.


Dan berkata, “Suka atau tidak suka mereka itu bukan urusan seorang bajak laut seperti kami. Merampok lautan adalah pekerjaan kami yang mana bisa kau mengerti. Orang bodoh sepertimu mana bisa mengerti! Saat kau berbicara dengan lancang, apakah ada dasar pengetahuan atas semua itu? Heh, kalau tidak ada, lebih baik kau diam saja daripada kau terus bicara dan terlalu banyak kata yang terbuang sia-sia. Dan kau mengatakan hal yang tidak ada gunanya, hal yang bahkan sukar untuk bisa kumengerti dan tidak bisa kupahami, apalagi untuk kuterima. Kau katakan sebelumnya kau berlayar atas kesenangan diri.. hahaaaa. Kau seperti orang munafik yang persis itulah perangai ayahmu! Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.”


Kapten Atlana berpuas diri, tertawa dengan tawa terbahak. Menertawakan Akma Jaya yang baginya adalah orang hina dan tidak lebih hanyalah sampah serta orang munafik yang hidupnya dipenuhi topeng. Kepalsuan nada irama, kepalsuan dirinya dalam menjelaskan perkara yang sia-sia.


Tidak pernah disangka Akma Jaya bahwa ucapan yang sebelumnya malah akan menyebabkan kesalahpahaman itu terjadi lagi dan lagi.


Akma Jaya bermaksud baik ingin menjelaskan maksud dan tujuannya menjadi seorang bajak laut yang berlayar atas dasar melindungi orang-orang. Memberantas bajak laut lainnya bukan berarti saling bunuh, kecuali dalam keadaan terpaksa dan sangat terpaksa.


Selama dalam masa pelayaran. Akma Jaya sering termenung akan sebuah jati diri yang hilang di dirinya. Dia bertanya di mana dia berada. Di ujung benua mana akan dia cari.


Kapten Atlana menyimpulkan, “Jadi, Akma Jaya. Kesimpulan yang bisa kutarik dari ucapanmu adalah kau ingin menjadi pahlawan. Pahlawan di siang bolong begini. Hahaha.. bangunlah kau pecundang, hari sudah berlalu siang. Matahari meninggi untuk apa kau bermimpi. Apakah itu benar? Kau sedang bermimpi wahai orang yang sedang berdiri dengan mulutmu yang tak bisa menjawab! Kau memang seorang pecundang. Kalau saja perkataanku itu benar dan kau berkata dan mengakuinya dalam benakmu, dapat kupastikan dengan jelas. Hari ini, kutemukan kau bukan seorang manusia, tetapi kau hanyalah sampah yang tak berguna. Sampah yang persis dulu itulah perkataan ayahmu. Seorang kapten yang sangat angkuh dan tidak punya etika dalam berbicara!”


Keterbatasan kata yang dimiliki Akma Jaya dalam berbicara membuat semua itu menjadi kacau. Kapten Atlana semakin memanas saat mendengar Akma Jaya berkata, “Aku tidak ingin menjadi pahlawan, aku hanya ingin menikmati hidup dengan caraku sendiri.”


Kesalahpahaman itu bagai air tawar yang disangka adalah air asin. Kesalahpahaman di antaranya berujung kepada suatu perasaan. Amarah membara-bara bukan asmara.


Kemarahan dan pertarungan yang sengit kembali terjadi di antara mereka dan suasana kala itu memanas. Pedang saling beradu, gerak-gerakan itu bertumpu kekuatan.


Betapa hari itu.. titik tinta jatuh dan membentuk goresan seperti pena.

__ADS_1


Bajak Laut Hitam kembali berlayar usai pertarungan reda, memilih jalur aman mengarungi lautan dan untuk kesekian kalinya catatan sejarah menuai nasib buruk.


__ADS_2