Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan


__ADS_3

Aisha keluar ruangan dengan raut wajah kesal, di pikirannya berjuta sosok Tabra bergelayut—gentayangan, menghantui.


Tabra tak kisah, dia masih kuat tertawa.


“Hahaha ....” Tangannya menunjuk ke sekitaran wajah Akma Jaya, “Kapten, wajah Anda lucu,” lanjutnya masih lekat tertawa.


“Heh, apa yang lucu?” tanya Akma Jaya.


“Itu ....”


“Ha ha ha ha.” Tabra tertawa renyah.


Akma Jaya menyeringai, menahan tawa, tapi sulit sepertinya. Tabra seperti mengocok perut kuat-kuat, tawanya semakin nyaring. Puyuuh, hahaha ..., tak lama, permukaan bibir Akma Jaya melebar perlahan, luas, benaran. Itu tidak bohong. “Ha ha ha.” Dia ketawa, lumayan nyaring.


Sekarang, mereka berdua tertawa layaknya seekor kera, bukan sepertinya, bagai lomba-lomba, mungkin.


Di luar ruangan. “Eh, dengar tidak? Itu suara tawa Kapten sama Tabra,” ucap salah seorang lagi.


“Hahaha, seperti crazy, ya?”


“Ssstt... nanti didengar Aisha.”


“Itu dia sedang berdiri, apa kau tidak takut dengannya?”


“Iya, takut, dia galak, seraaam.”


“Sssttt.. jangan ucap keras-keras.”


Tap


Tap


Lari. Bugh!


Ketabrak dinding. Astaga, sakit katanya. Kasihan, besok lusa tutup muka, kenapa? tanya temannya, takut ditampar! Eeh, takut? Benar?, katanya jujur tidak bohong.


***


Desir angin sedap di telinga, sejuk.


Pelayaran kapal pun tampak aman, tidak ada bajak laut di sepanjang mata memandang, hanya ada lautan, luas, biru membentang. Awan di atas sana berwarna cerah, indah.


Aisha berjalan menuju dapur di suatu ruangan khusus memasak, di situ dia memainkan keahlian tangan, kecepatan, ketepatan, dan semua itu tercampur menjadi bumbu masakan.


Sementara, Tabra kembali keluar ruangan, di dalam sana, hanya ada Akma Jaya yang sibuk entah apa, kebiasaan seorang kapten sedikit serius.


Berbeda dengan Tabra, dia leluasa bebas memantau anak buah yang sedang mengepel–membersihkan kapal.


“Hei, hei.”


“Ayo, semua. Bersihkan dek kapal, haluan, belakang dengan benar dan rajin,” ucapnya seraya mengangkat batang pel. Aneh juga, dia justru ikut membersihkan kapal.


“Kerajinan seorang pelaut amatlah berharga, tidak bisa lakukan oleh orang murahan. Hahaha,” ucap Tabra, lalu tertawa. Anak buahnya menatap lucu, mereka tertawa—tapi kecil tidak nyaring.


Hari itu, pagi bergembira, berawal dari kemiringan tingkah laku Tabra yang sukses membuat anak buahnya ikut terbawa arus, sedangkan Aisha memasak hampir bergumam, “Ada apa dengan mereka itu, tertawa tidak jelas.” Gerakan tangan melambat, kurang fokus sepertinya.


[1.5 jam kemudian]


“Huh, panasnya!”


Tabra berkipas kelelahan, panas katanya, padahal yang lain ada yang kedinginan, bahkan angin berembus, apa itu, mungkin sekadar keluhan bercanda, tidak serius.


“Istirahat?” sambungnya seraya mengembuskan napas lelah.

__ADS_1


“Hehehe.”


“Lelah.”


“Aku tidak kuat,” ucap Tabra terus menerus, lelah katanya, tenaga berkurang drastis, entah kenapa terdengar lucu, sebagian anak buah tertawa kecil.


Ada yang hanya tersenyum canggung, ada yang masih mengepel—tak hirau.


“Silakan beristirahat, jangan paksa.” Salah seorang memberanikan dirinya berucap, sedikit terdengar canggung.


“Kalian memaksa?” tanya Tabra menatap sekalian mereka.


Sontak, mereka menggeleng. Merasa takut bersalah atau disalahkan. “Tak apa, olahraga?” Tabra melanjutkan bicara.


“Eh?”


“Apa–”


“Kalian tidak percaya denganku?” tegas Tabra memotong ucapan.


“Percaya, tapi mustahil.”


“Jangan bilang, nanti tercebur ke laut, bahaya.”


“Iya, benar.”


“Konon katanya, ada salah seorang berucap begitu, tahu apa yang terjadi pada besok harinya?”


“Kenapa?”


“Apa yang terjadi?”


“Dia mati, gantung diri. Nahas sekali.”


“Benar, aku tidak bohong.”


“Seraaaam.”


“Ekheem,” dehem Aisha datang menghampiri mereka.


“Tabraaa, apa yang tadi kau bilang?” Aisha memasang manik mata pelotot.


Tabra berceceran gugup campur takut. “Tak ada apa-apa, benar. Wahai anak buahku sekalian?” Pandangan matanya mengalihkan.


“Iya, benar. Tidak bohong.”


“Itu ... cerita lama katanya—”


“Cerita apa?” Aisha menyela cepat.


“Eh, tutup mulutmu,” bisik salah seorang.


“Hehehe.” Tabra cengar-cengir mengalihkan perhatian, “Ah, masakan sudah siap?” tanyanya.


“Ya, waktunya makan pagi.” Aisha menjawab dan anehnya dia lekas pergi. “Huuuh... nasib baik, beruntung hari ini, aku lulus dari cengkamannya.”


Belum jauh, Aisha menoleh. “Tabra, ajak kapten dan yang lain ke ruangan makan, aku sudah selesai menyiapkan makanan, jangan lupa. Awas!” Dia berjalan sambil mengancam. Tabra geleng-geleng kepala.


Di lain hal, dia tersenyum syukur, beda sama anak buah, mereka kuat-kuat mental menatap sikap geram Aisha, hendak tertawa juga lihatnya.


Kadang wajah yang ditengok lucu, kala marah, wajahnya memerah rona—tidak pahit, tapi asin katanya, benar kata Akma Jaya tempo malam, Tabra masih lekat mengingatnya.


“Heh, dasar Aisha.” Tabra bergumam, bertatap langit sejenak. Lantas berjalan memasuki ruangan Akma Jaya.

__ADS_1


Dia menyapa seperti biasa. “Hidup ini singkat, Kapten,” ucap Tabra sukses membuat Akma Jaya bingung.


“Tabra, kau kenapa?” tanya Akma Jaya ringkas.


“Singkat. Benar, waktunya makan?”


“Oh.”


“Benar. Tidak bohong,” balas Tabra mengacungkan dua jari bentuk V.


Akma Jaya mengangguk. “Baik, nanti aku akan menyusul.” Terlihat dia sibuk dengan sesuatu yang Tabra sulit menerkanya.


Tabra melirik enggan, alisnya terangkat kuat, lantas beranjak pergi, memasang wajah serius. “Jangan lama, nanti-nanti habis makanannya, ingatlah pada waktu kecil, jangan sampai terulang.”


“Hahaha.” Dia lanjut tertawa.


“Hihi.”


Begitu juga Akma Jaya turut tertawa mengikuti suasana, eh bukan tertawa, sekilas senyum, tapi ada bunyinya—kecil.


“Ayo, cepatlah.”


Tabra mengisyaratkan tangan, lalu menutup pintu—ingin tahu raut wajahnya? terlihat sedikit menjengkelkan.


Akma Jaya menghela napas. Dia menutup lembaran buku dan beranjak dari tempat duduknya. Tersenyum sepintas.


***


Tiba di ruangan makanan. Aisha menatap tajam, menakutkan. “Tabra, di mana Kapten?” Dia bertanya garang, macam kucing yang sedang kelaparan. Haha.


“Ng ....”


Tabra tak kuasa melanjutkan ucapan, garuk-garuk kepala, lalu usap-usap hidung. Tersenyum canggung sepertinya.


Tak berlangsung lama. “Masakan apa yang kau hidangkan hari ini, Aisha?” Akma Jaya berucap dari kejauhan, Aisha cepat menatap, sedangkan Tabra bernapas lega, senang, dia memilih untuk cepat menjauh dari Aisha–takut sama kucing katanya.


“Silakan, Kapten,” ucap Aisha memberi sikap hormat, sedangkan Akma Jaya menepisnya, “Tak apa, aku bisa sendiri.”


Tadi, Aisha bermaksud untuk menarik tangan Akma Jaya—menuntun. Akan tetapi, sayang sekali, tak ada balasan.


“Aisha, jangan pikirkan.”


“Baik, Kapten.”


Akma Jaya berduduk menikmati hidangan, tepat di hadapan mereka semua berjejer ayam kari dengan sayuran yang digumpal dan dimasak sedemikian rupa lezatnya, ada juga sambal pedas yang tampak menambah kesempurnaan masakan.


Katanya, sebelum bahan masakan itu ada, tentu ada orang yang telah membelinya.


Sebagian anak buah hanya sibuk mengawasi, meneropong, tetapi di lain dari itu ada salah seorang di antara mereka yang tak hirau suasana. Saat berada di Wilayah Nanaina, dia membeli banyak bekal, sayuran, dll.


Benar saja, mereka patut berterima kasih kepadanya.


“Begitu?”


“Iya.”


“Hahahaha.”


“Jika begitu, makan yang banyak.”


“Benar, jangan sungkan.”


“Habiskan. Hahaha.”

__ADS_1


Sekarang, kebersamaan mereka saling melengkapi, di kala berkumpul, bercanda gurau, dunia ini akan terasa berarti, keseharian akan berwarna cerah. Tidak kelabu, seperti bayangan sekilas kenangan yang menyakitkan.


__ADS_2