Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 108 — Sepuluh Anak Buah


__ADS_3

Selama dalam pencarian harta karun, mereka banyak hilang kontrol. Jati diri yang hilang melayang, berharap dirinya berada di ambang sukses, kendala yang dilalui mereka tak semudah benak pikiran.


Sebelumnya Aswa Daula merenung, terpaku di bawah tetesan hujan, kesedihan, trauma masa lalu yang sebelumnya dia alami membuat dirinya melanglang, lelaki berusia tua itu masih trauma. Amat susah baginya menghilangkan ingatan masa lalu. Akma Jaya terdiam menghampiri, menyapanya hangat.


Ditarik tangannya. Di dalam gua itu, mereka memulai cerita lamanya. Tabra berulah menantang Akma Jaya untuk menceritakan masa lalu, sedangkan Aswa Daula tengah berselimut, mungkin saja dia sudah tertidur.


Usai bercerita. Kini, mereka beristirahat dengan tidur nyenyak. Tabra mendengkur hebat, Aisha menyumpal telinga. Waktu kembali berlalu, sekarang dunia telah cerah.


Pagi bersambut tangan menampakkan cahaya. “Ahoy. Segar sekali pagi ini.” Tabra bersorak khas bajak laut yang baru dia ketahui dari salah seorang penyair pada saat perlayaran menuju wilayah Valissa.


“Kapten, bangunlah.” Dengan gopoh dia mengguncang tubuh yang tengah tidur nyenyak. Aisha sontak memukul lengannya.


“Astaga, engkau tidak sopan sekali, ini kapten bukan sembarangan orang!”


Tabra mangut-mangut, garuk kepala. Dia terpaksa menjauh maklum. Wajahnya masih mengernyit kecut, sebenarnya ada apa dengan tingkah laku dari adiknya yang ternampak aneh, wanita itu kini seperti berubah lebih sensitif, tidak seperti dulu lagi seakan berputar 90°(Sembilan puluh derajat)


Akma Jaya mengerjap-ngerjap, menyeka pelipis dahi, tersenyum menyeringai. Terik mentari pagi menyenari mulut gua.


Aisha menyapa—mengucapkan selamat pagi, Akma Jaya balas menyapa, malah menanyakan di mana Tabra, wanita lebih muda usianya itu seketika mengernyit, sekilas Akma Jaya kembali menyeringai, menjauh maklum.


Beberapa anak buah masih nyenyak tidur dan tampak berselimut dingin. Tabra berada di luar gua memandang hamparan nan hijau, menutup mata sejenak, menghirup napas, mengembuskannya.


“Tabra.” Akma Jaya menepuk pundak. Tersenyum menatapnya dari belakang, lelaki lebih tua setahun itu menoleh, menyeringai.


“Kapten, Anda sudah bangun?”


“Tentu, baru saja.”


Mereka berdua bersitatap sejenak, tentram dan damai. Tersenyum sepintas. Angin berembus meniup dedaunan, tampak embun menetes—jatuh ke tanah.


Burung-burung beterbangan damai, suara khas pagi hari. Tabra mendongak, menatap cakrawala di sana ada sepasang elang terbang berputar.


Tak lama dari itu, keadaan berubah hawa merinding menusuk tulang, sekelompok burung gagak mengepakkan sayap, meneriakan suara.


Tabra menelan ludah. “Kapten, apa ini pertanda sesuatu?” Dia menatap sekelompok gagak, burung hitam itu terbang mengitari sekitaran gua.

__ADS_1


Di tengah hutan tampak percikkan api menyambar, membubung tinggi ke partikel awan, cahaya kelabu mengelilingi sekitaran tempat.


Akma Jaya menatap bersipit mata. Tabra membenam bibir, manik mata mereka tertuju fokus, tidak mengedarkannya.


Dari pancaran api nampak sesosok naga terbang membelah awan, suara memekik dari angkasa bagai meteor turun ke bumi.


Tiada napas bergumam sendu


Dunia menunjukkan cahaya kelabu


Naga menatap ke arah mereka berdua, ia bernapas mendengus, sebutir percikkan jatuh ke tanah. Api seakan membakar awan, kilatan menyambar, guntur bersahutan.


Ia memelesat. Akma Jaya cepat bergerak membangunkan para anak buah. Aisha gopoh menepuk pipi orang hingga memerah sakit. Tabra geleng-geleng tidak kuasa membayangkannya.


“Cepat bersembunyi!” Akma Jaya melambai-lambai cepat, embusan napasnya terkeluar drastis, di tengah gua hawa panas semakin terasa, peluh berceceran.


Para anak buah berlarian, Aisha dan Tabra juga sama, tetapi sepertinya bersembunyi di dalam gua, bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan tempat persembunyian.


Namun, tidak disangka naga itu terbang membubung ke dalam awan, kilatan petir masih menyambar, gema dunia bergetar.


Tabra bergumam syair. Aisha balas bergumam doa. Para anak buah berpangku tangan, berpegangan.


Tabra menghela napas. Aisha menepuk pundaknya. “Kita selamat.” Wanita itu ikut menghela napas, menatap tersenyum, Tabra jelas tidak menyukai akan hal itu. Dia lekas menepisnya.


“Hei, hei. Aisha kau jangan menyentuhku!” Tabra datar. Menyingkirlah—bentuk isyarat tangan dia gunakan.


“Eh?” Aisha heran, lekas menjauh meski tak mengerti. Sementara, Akma Jaya berjalan menatap sekitaran, tidak ada tanda sedikit pun dari naga tersebut, ia seakan lenyap atau kenapa. Berbagai pertanyaan memenuhi isi kepala.


“Aswa Daula.” Akma Jaya memanggil isyarat santai. “Ada apa, Kapten?” Lelaki gagah berusia tua itu mengangkat lengan. Gumpalan lemak sebaya tinggi gedung pencakar langit dia nampakkan.


Dunia menghitam seakan lenyap penglihatan, Akma Jaya terkekeh melihat perangai si lelaki tua berambut kusut itu.


“Besok. Kita akan makan!” Akma Jaya menyeringai. Aswa Daula menggaruk alis—tidak mengerti.


“Harta karun.” Kapten setengah tua ditengah mereka melanjutkan ujaran. Tersenyum tawa sedikit lebih dari biasanya.

__ADS_1


Aswa Daula kembali menggaruk bokong. Sedikit mengangkat alis, mencoba menyeringai, tetapi kurang tulus. Akma Jaya kembali terkekeh. Apalagi, yang lain pun sama—tidak mengerti.


Mereka menatap heran. Apa yang baru saja dimakan Kapten, mengapa dia mengucapkan hal yang unfaedah. Astaga, semua orang tahu itu, tetapi mereka tak berani menyahut cukup tersenyum palsu.


“Aku baru ingat, kalian bersamaku menghabiskan waktu setahun lebih, selama itu juga. Apakah kesan kalian terhadapku?” Akma Jaya berjalan menjauh dari mereka, duduk di salah satu batu berukuran besar.


“Aswa Daula.” Akma Jaya menunjukkan isyarat untuk bicara, tetapi orang yang ditunjuk tidak bicara.


“Ashraq.” Akma Jaya lanjut menunjukkan isyarat, hasilnya sama—tidak menjawab.


“Dausa, Kalboza, Boba, Kalpra, Glosia, Jalbia, Dasasa, Hambala.” Mereka semua ditunjuk satu per satu, hasilnya membungkam.


Bagai dijerat di mulut, enggan atau tidak punya jawaban, kedua hal itu menjadi renungan Akma Jaya, sedangkan Tabra menyimak diam, juga Aisha yang tampak mencari udara segar.


Wanita semampai berambut pirang itu bernapas santai memperhatikan kupu-kupu terbang, hinggap di bunga-bunga.


“Jika kalian tidak menjawabnya, maka tak apa. Lain kali, siapkanlah jawaban kalian, apa yang kalian kenal dariku. Selama ini, selama kalian bersamaku, aku meminta maaf karena telah menyusahkan kalian.” Akma Jaya berdiri memalingkan pandangan. Sejenak menunduk sendu.


“Kapten.” Aswa Daula menghampiri, berpelan suara.


Akma Jaya tak menjawab, dia berpaling wajah menatap sekalian mereka. “Lupakan saja mengenai apa yang telah aku katakan. Kita lanjutkan mencari harta karun, setelah mendapatkan harta karun, kalian memilih pergi atau tetap bersamaku, sesuka kalian.”


Aswa Daula mengangguk maklum. Para anak buah lainnya ikut mengangguk. Di samping itu, mereka sekarang menjadi buronan tersangka kasus penghancuran menara.


Pada saat sebelumnya, saat mereka bertemu Kapten Kuja, seorang kapten memakai jubah merah itu tampak tak menghiraukannya, malah pergi dari tempat bertemunya mereka, meninggalkan perkara tanpa pertarungan.


Tabra menyeringai. “Kapten, sepertinya saatnya kita makan.” Lelaki itu menoleh ke arah Aisha yang tengah sibuk bercengkrama dengan bunga-bunga. “Aisha, kau jagonya memasak. Ayo, buatkan kami sarapan!”


Aisha menatap ketus. “Iya. Iya.”


“Baiklah, aku akan mencari bahan untuk dimasak. Dan, tentu kalian ikut membantuku.” Tabra mengajak semua anak buah, mereka semua mengangguk.


Aisha dan Akma Jaya diam menunggu. Mereka semua berlarian menuruni pegunungan. Tabra memimpin jalan.


Tak berlangsung lama, kabut tebal muncul menyelimuti pandangan, ternampak sungai berukuran kecil memanjang.

__ADS_1


Sedikit mengherankan, di tengah gunung itu ada sebuah sungai. Ikan berwarna kecoklatan, juga merah mengisinya, Tabra leluasa menebaskan pedang ke dalam air, beberapa ikan tergores lemah. Dia lekas mengambilnya. Lalu, memasukkan ikan ke dalam wadah.


Beberapa menit berlalu, mereka membawanya kepada Aisha, ada sepuluh ikan yang berhasil dikumpulkan. Tabra menghela napas santui. Para anak buah bergumam syukur. Wajah mereka secerah surya menyinari pagi.


__ADS_2