
Boba menghela napas. Berat sedikit berat. Astaga? Melelahkan sekali rasanya, berpikir ide lain dalam hal menatap iba.
“Puyuuh, Kalpra!” Jalbia menepuk pundak Kalpra, tersenyum sedikit menahan tawa.
“Kalpra, bagiku kau adalah sosok yang pemberani. Tentulah kau lebih berani dari aku yang tidak berani.” Jalbia tertawa.
Raut wajahnya mengembang. Pueh, alamat yang berbeda dengan Boba. Kendatipun demikian, Boba tampak berdamai dengan perasaan ibanya.
Kalpra sedikit menyeringai. “Sebatas inikah kebersamaan? Heh, Jalbia jangan memuji begitu, kau tahu aku tidak suka dipuji.”
Jalbia tertawa lagi. “Tetaplah, Kalpra. Kau masih sama seperti dulu yang kukenal di desa Daura, seorang pemegang kitab di tangan. Kau tetaplah orang yang bisa membagi dua hal dalam kehidupan antara tawa dan air mata.”
Kalboza mengangkat kepala. Dengungan dari ucapan Jalbia bermuara di dalam pikirannya saat ini. Adapun Kalpra, dia tampak tertawa, ucapan Jalbia jelas terdengar aneh baginya.
“Jalbia, aku tidak peduli mengenai apa yang kau ucapkan. Banyak hal di dunia ini, hanya beberapa hal bagiku yang kurasa istimewa. Dan dari semua itu tidak banyak hal yang istimewa di dalam kehidupanku.” Kalpra menyahut dengan bahasanya. Sedikit aneh terdengar. Embusan napas menyertainya.
“Kalau ingin tahu apa yang dulu kupelajari di kitab para tetua, mengaji ilmu pengetahuan batin bersama mereka, saat itulah aku menyadari bahwa kehidupan di dunia ini hanya sebatas menatap tak lama. Semua sementara, semu belaka. Seberapa banyak hal yang kita lewati dalam sehari, selama hidup selama itu waktu terus berjalan meninggalkan kita dan di suatu masa apa yang kita lalui hari ini suatu saat nanti akan menjadi kenangan. Masa akan berlalu dan meninggalkan bekas bayangan masa lalu. Bisa saja seseorang terkenang kembali, mengingat berbagai hal dalam hidupnya. Bahkan lebih mengerikan terkekang kenangan buruk yang bisa membebani dirinya dalam melangkah, menjalani hidupnya. Bayangan yang muncul terus berdatangan tak diundang, susah dia lupakan.” Kalpra lanjut bicara, menjelaskan apa yang diketahuinya dulu.
Dulu dan sekarang yang kesemuaannya sama saja dan hanya berbeda sudut pandang mereka mengenai semuanya.
Pandangan orang lain tentunya berbeda. Kalpra sering menyembunyikan sesuatu yang ada di dalam dirinya agar orang lain tidak banyak tahu.
Jalbia merasa ada sesuatu yang terasa lain dari biasanya, ini baru pertama kali dia mendengar Kalpra mengatakan hal demikian. Glosia nyengir. “Kalpra, sepertinya kau baru saja ketularan virus dari jiwa Kalboza. Kali ini, ucapanmu sungguh bijak, kudengar tentram terasa.”
Sementara Boba masih sibuk mencoba meringankan isi kepala yang terasa berat, berusaha sekuat tenaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi mengenai dirinya yang bimbang dengan ide Kalpra. Lelah dan membingungkan.
Sesak bertumpuk berusaha dileraikan olehnya agar dirinya bisa terus menatap tanpa canggung dan lain sebagainya.
Apa yang sekarang dirasakannya dalam kelipatan angka ganda. Angka yang bermuara bingung dalam benak pikirannya bagai sederet pohon berjejer di pinggiran sungai yang airnya mengalir tanpa ujung, mengalir dan terus mengalir.
“Sebenarnya aku tidak setuju dengan ide gilamu, Kalpra. Lebih baik kita cari cara lain saja untuk menemukan kapten.”
“Boba, sudahlah. Kau punya cara lain untuk menemukan Kapten?” Tabra menatap serius. Kali ini angkat bicara.
Jalbia dan Glosia sama mendukung ucapan Tabra. Boba tidak punya caranya. Dia terdiam, terpaksa ikut dengan hal perihal semuanya. Ide gila seperti itu, heh. Boba geleng kepala tidak kuat membayangkan lebih leluasa, katanya itu ide gila.
Jurang yang entah sampai mana batas kedalamannya. Oh, oh. Seram sekali dia membayangkannya seperti bermimpi bertemu hantu di ruangan gelap gulita. Boba mengepal tangan bukan karena marah atau karena apa, melainkan dia begitu tidak menyukai ide seperti itu.
Perasaannya kalau dibahas, maka akan terasa membingungkan juga. Inilah yang dirasakan Boba sekarang, rasa tidak suka dan kurang nyaman dipikirannya.
“Lebih baik kita cepat ke kapal agar pencarian kapten lebih cepat dilakukan.”
Ashraq angkat bicara. Lama-lama berada di sana dia berpikir juga untuk ke depannya, sedangkan waktu itu terus berputar mulai dari menit ke menit hingga berubah jam. Terlalu lama bahas sana bahas sini, seharian mereka akan berada di situ saja.
Sosok Ashraq ini punya kemampuan yang bisa memprediksi lebih lanjut. Ah, lupakan saja itu hanya bergurau. Dia sebenarnya hanya tidak ingin membuang waktu.
__ADS_1
Tabra berjalan memimpin tanpa suara, melambai dengan gerakan kepala ringan. Yang lainnya ikut bersamanya. Satu per satu jalan perlahan tidak cepat dan tidak lambat.
Mereka menyesuaikan langkah di belakang Tabra. Sepertinya sosok yang sedang memimpin barisan itu seakan sengaja menjadikan langkahnya sedang. Dengan gaya seorang kapten tersenyum mantap.
Jalbia berbisik ke telinga Glosia. “Kalau begini cara jalannya, kau tahu berapa lama waktu yang kita perlukan untuk sampai ke kapal nantinya?”
Glosia angkat bahu, balas berbisik. “Mana aku tahu, jangan bertanya padaku, lebih baik kau itu pikirkan saja mengapa sapi tidak bertelur?”
“Eeh?”
Jalbia memasang wajah aneh. Sapi memang tidak bertelur, ia hewan yang beranak. Buat apa memikirkannya? Glosia ada-ada saja bagi seorang Jalbia.
Masih berjalan terus berjalan. Aisha di depan sana tampak bersekedap, berjalan terus berjalan. Glosia berbisik kembali ke Jalbia. “Hei, Jalbia.”
“Apa?” Jalbia balas berbisik.
“Ngomong-ngomong, dari pagi sampai saat ini kita belum makan sama sekali, perutku sudah lapar. Ini sudah siang.” Glosia balas berbisik terus berbisik.
“Astaga? Iya, benar. Kita semua dari pagi sampai sekarang belum makan. Buset!” Jalbia memegang wajah.
Selama itu mereka semua belum makan sama sekali. Jalbia memegang perut, lapar. Mereka belum makan sama sekali. Sekarang, matahari telah berada sempurna di atas sana membulat dengan terangnya.
“Hoho... biarkanlah lapar tidak akan membuatmu mati bukan?” Glosia tertawa.
“Glosia, kau mengada-ada!” Boba menyahut ketus, tidak suka.
Boba mendengus. “Heh, itu bukan maksud ucapanku.”
Glosia menatap fokus. “Lalu apa maksudmu, Boba?”
“Maksudku kau mengucapkan perkara yang mengada-ada. Mati kelaparan bisa terjadi selama seseorang tidak makan berhari-hari lamanya, anggaplah sebulan atau kurang dari itu, dua hari saja tubuh akan melemah hingga seminggu kau akan menjadi tulang berjalan, terhuyung. Itu mengerikan hingga mendekati ajal, kau wafat dalam keadaan yang mengenaskan, tulang belulang!”
Boba mendramatisir sedikit menyeramkan. Glosia tertawa. “Boba, Boba, kaulah yang mengada-ada. Sembarangan!”
“Perkataan Boba ada benarnya, Glosia.” Jalbia menegahi. Mendukung ucapan Boba.
Hambala menguping pembicaraan. Menggumam di telinganya rasa penasaran, lebih-lebih ini terasa tidak nyaman untuk dibahas baginya. Lapar tidak ada makanan adalah hal yang menyakitkan.
Batinnya bersuara. Menatap langit yang berpijar matahari dengan cahaya terangnya. Tengah hari. Panas yang terasa seharusnya, tetapi di sekitaran mereka naung akibat pepohonan yang luar biasa memenuhi pandangan mereka, sejuk alami.
Boba tertawa nyaring. “Sebenarnya aku juga tidak tahu mengenai itu, sekadar gambaran dari yang kupikirkan.”
“Hahaha.”
Sementara, Glosia dan Jalbia kompak memasang wajah datar. Tidak lucu, bagi mereka itu tidak lucu. Menyebalkan rasanya.
__ADS_1
Tabra sedikit tersenyum. Mendengarnya cukup tahu bagaimana lawakan Boba gagal menggelitik perut Glosia dan Jalbia. Bagaimana mungkin mereka tertawa, Boba memang tidak ada bakat menjadi pelawak.
Masih jauh jarak mereka dari kapal. Mereka saat ini kompak terus berjalan sambil sesekali bercengkrama satu sama lain. Di antaranya tadi baru saja Boba ingin melawak, tetapi sayangnya gagal. Kasihan sekali, hanya dia yang tertawa sendirian.
Ashraq sudah tidak peduli lagi, saat sebelumnya dia telah lelah berucap lagi, lagi dan lagi terus saja menimbulkan perdebatan. Sekarang rasanya dia ingin beristirahat dari ucapan, begitu pun Aswa Daula. Perkara sebelumnya patut dijadikan baginya pelajaran berharga dalam kehidupan yang mana bisa saja awalnya bercanda bisa berujung perdebatan.
Eh? Tunggu dulu, Boba tadi ingin ngelawak, tetapi gagal rencana. Nyatanya dia tidak sedang berdebat. Itulah Ashraq yang sudah tidak ingin lagi bicara apa pun masalahnya, sama Aswa Daula. Ssssttt ... yang lainnya juga sama seperti mereka berdua.
Hanya Glosia dan Jalbia yang tetap setia menemani Boba selalu dan selalu. Mereka bertiga terbilang sudah bersahabat sejak dulu. Lama, sekian lamanya melewati hari bersama suka maupun duka telah mereka lalui, memenuhi ruangan sanubari jauh lebih indah melewati hari dengan senyuman, berbagi rasa senang dalam persahabatan dan saling mendukung satu sama lain.
Walaupun terkadang. Iya, begitu. Tidak selalu senang. Marah, tetapi di balik semua itu selalu ada ujung bahagia. Glosia sekarang menatap tersenyum semringah.
“Boba, sepertinya kau harus belajar membawa tawa ke orang lain.”
Boba mendengus. “Heh, tidak perlu. Bagiku itu bukan gayaku.”
“Belajarlah, Boba. Kau juga sama, Jalbia. Belajarlah hingga kalian bisa menjadi sepertiku. Akulah senior di antara kalian berdua. Ngomong-ngomong kalian tahu tupai itu tidak bisa terbang. Ia khilaf melompat ke sungai, akhirnya tidak bisa berenang. Hanyut dan berenang lelah katanya. Hingga ia pun terbang ke langit. Woow, ada tupai terbang. Mustahil? Sama aku juga tidak percaya. Tapi eh tapi ia si tupai tadi bertemu ribuan malaikat berpakaian putih bukan merah bukan pula hijau. Jangan salah arti menangkap ucapanku. Ia pun bertanya aku ada di mana? Haduuh, tidak tahu kata mereka dan sedih ia sejenak menangis hingga salah seorang memberikannya permen. Ia pun tertawa. Nikmat rasanya bukan? Iya, jawabnya. Tupai itu kini bahagia di alam sana, tertawa tiada kesedihan lagi yang ia rasakan. Kalian tahu tupai itu memilih hidup di bumi lebih lama dari siapa pun. Sayangnya ia tenggelam di dalam raga yang tak akan pernah hilang keputusasaan. BUUUM! Kacau balau. Hahahaha, aku bercanda dan itulah lawakanku. Bagaimana menurut kalian?” Glosia lanjut bicara niat ingin melawak, sama tidak lucu.
Krik! Krik! Krik!
Glosia bagai seorang pendongeng yang kehabisan cerita. Dan bagaikan orang yang mengetik kisah ini tentunya. Eh, tidak begitu juga konsepnya.
“Kau sama saja, Glosia.” Jalbia berwajah datar. Menatap tidak tertawa.
Boba menatap, mengernyit. “Di mana letak lucunya, Glosia?”
Glosia mengembuskan napas. “Tidak ada, itu memang tidak lucu. Perutku sedang lapar. Kalian tahu ucapanku saat ini tidak terkendali dengan baik.”
“Haha, kalian cukup memakluminya.” Glosia lanjut tertawa sesuka hatinya.
Kalboza mendengus. “Glosia, ucapanmu seperti tamsil dan entahlah aku tidak ingin menjelaskannya. Kau cukup lihai mengemas kisah tawa yang memilukan.”
Jalbia menyimak diam. Glosia terkekeh puas, padahal mana ada. Kalboza seakan sedang bergurau. Lihatlah, ekspresi Boba yang sekarang ternampak aneh.
“Apa maksudmu, Kalboza?” Boba balas memelotot. Ini orang pasti akan berlagak sok bijak lagi—batin Boba bersuara.
“Tidak perlu ada maksud, Boba. Kau sendiri tahu kalimat yang kuucap sederhana, tidak rumit. Apa kau ingin bertanya maksudnya. Hanya sebegitu saja kah kapasitas otakku yang kau punya, Boba?” Kalboza sekarang menajamkan ucapannya.
Puyuuh, rasanya menyebalkan. Tidak ada unsur kelucuannya. Hal yang semula diinginkan Boba seketika ambyar. Tidak lagi tawa, semua itu berubah marah.
Boba mengepal tangan. “Kalboza, lagi-lagi kau berlagak sok bijak dan mulai berani sombong di hadapanku, hah!”
“Sudahlah, Boba. Kendalikan amarahmu. Perlu kau tahu amarah itu tak akan melembutkan hati, justeru ia akan membakar hatimu hingga menghitam dan terus berderaian abu yang menyesak di dalamnya dan kau harus bersihkan sesegera mungkin dengan pikir. Hilangkan prasangka yang berserakan itu, jangan biarkan hatimu terbakar hingga habis ditatap bagai tumpukan abu yang kala kau bernapas dan terhirup batuk-batuk. Itulah mengapa kau mudah tersinggung mendengar perkataan orang lain.”
Kalboza menatap teduh. Raut wajah yang terbilang tidak ingin ditatap Boba, menyebalkan. Boba menghirup napas dalam. Sekian dalamnya hingga tak terasa berpijak di tanah, tembus ke dasar dan rasa yang mencekam di lubuk sanubarinya terasa bergejolak memenuhi pikiran.
__ADS_1
Tiada percakapan lagi, sekarang hening terus berjalan. Ini memang tidak lucu, bahkan rasanya menyebalkan.