Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 112 — Jurang


__ADS_3

Apa yang terpampang di depan mata mereka sebenarnya adalah jurang yang menganga. Jalanan itu sekadar titik henti sebelum tiba ke dasar paling curam lurus ke bawah. Mereka tidak menyadarinya.


Sementara, apa yang terpampang saat ini. Di depan mata mereka tampak hanyalah jalanan. Mereka merasa sedang berjalan, menelusuri bebatuan memanjang. Padahal, jalanan menurun.


Dari situ, entah bagaimana menjelaskannya, tetapi perasaan salah seorang anak buah bergejolak kurang nyaman. Dia mengatakan pelan, apa yang sekarang ditatap bagai semacam hipnotis—bayangan semu belaka.


Dia bernama Hambala. Orang yang pertama menyadari, ada yang tidak beres. Hambala menepuk pipi, mencubit lengan.


Hambala mencoba melakukan lebih keras hingga pandangannya berubah normal. Dia menatap ke bawah. Apa yang sekarang terlihat olehnya adalah jalanan itu menurun, semakin menurun. Dari itulah, Hambala bergegas menepuk ke semua wajah tanpa peduli mereka marah atau tidak kepadanya.


Tepukan Hambala cukup keras. Tepukan yang mampu membangunkan mereka semua dari lamunan yang berbentuk bayangan—menipu penglihatan.


Aisha terperanjat, juga Tabra tampak tercengang. Mereka semua menatap ke bawah, menelan ludah. Di saat itu, Hambala menanyakan keadaan mereka, tetapi mereka terdiam beku, tercengang.


“Syukurlah kalian semua sudah terbangun. Kesemuaan ini seperti ilusi, apa yang kita lihat berbeda dengan kenyataan.” Hambala lanjut menjelaskan.


Mereka semua pun bertumpu kuat di kaki, menguatkan pijakan di bebatuan agar tidak terpeleset—jatuh ke jurang. Perlahan, mereka berjalan naik. Untung saja, jalanan belum terlalu menurun hingga mereka bisa selamat dan tidak jatuh ke dasar jurang sana. Prangsangka pun mencuat tajam, juga merasuk ke hadirat sanubari, bentuk perasaan cemas yang membuat diri gelisah.


“Kapteeenn!” Tabra menatap ke bawah, memekik sehabis suara, lantas terpantul. Gema terdengar, Aisha menatap sedih.


“Apa yang harus kita lakukan?”


“Apa mungkin kapten terjatuh ke dalam jurang?” Mereka semua saling tatap. Diam tak ada jawaban. “Semua ini salahmu Aswa, kau bersama kapten, tapi kau tidak menemaninya!” Aisha berlantang suara.


“Ini bukan salah Aswa. Dia tidak bisa disalahkan, bahkan jika tidak ada yang menyadari, kita semua akan terjatuh ke jurang sana. Beruntungnya, Hambala menyadari sebelum kita terpeleset.” Tabra cepat membela, bukan semata membela, melainkan apa yang dikatakannya tertangkap benar di dalam benak Aisha.


Aisha tak berbicara. Dia meremas tangan kuat semakin khawatir. “Aisha, Kapten pasti akan baik-baik saja. Percayalah, untuk saat ini, jangan terlalu memikirkannya.” Tabra mencoba sebisa mungkin memberikan sedikit kelonggaran dari jeratan perasaan adiknya.


Dia cukup memahami kekhawatiran Aisha, tetapi khawatir saja tidak akan cukup. Mereka harus berbuat sesuatu untuk menemukan sang kapten.


“Tabra, Anda sebagai pengganti kapten. Apa yang akan Anda putuskan?” tanya Dausa memandang hormat.


“Astaga. Kau menyuruhku mengambil keputusan. Aku tidak bisa melakukannya, kau tahu itu jangan sebut aku menggunakan kalimat Anda, kau sebut saja seperti biasa.”

__ADS_1


Dausa garuk kepala. “Memang.”


“Apa?” Tabra memelotot kuat.


“Memang begitulah kau.”


Tabra tertawa sejenak, lanjut menatap serius. “Ya, kau tahu itu. Cukup, aku ada usul. Paham, ini hanya usulan dariku, kalian boleh setuju, boleh tidak, juga boleh mengajukan pendapat kalian. Sekaligus aku ingin meminta pendapat, alangkah baiknya kalian memberikan tanggapan atas usulku yang kuberikan ini. Jadi begini—”


“Tabra, kau bertele-tele. Ingin kupukul?” Aisha menyergah. Tabra berhenti sejenak menahan mulut berbicara. Dia cukup kaget, garuk-garuk kelapa. Isyarat jangan pukul melambaikan tangan di dekat dada, wajahnya kecut meminta ampun. Para anak buah menatapnya hendak tertawa.


Aisha bersekedap menatap ketus. “Langsung ke inti pembicaraan saja, kau tahu aku paling tidak suka bertele-tele.”


Tabra mangut-mangut, mengatakan iya seraya meminta maaf. Tabra kembali menatap mereka. Raut wajah Aisha yang tadinya ternampak sedih, sekarang hilang karena ulah kakaknya.


Kemungkinan Tabra sengaja mengatakannya bertele-tele semata ingin menghibur anak buah, juga adiknya.


Kali ini, Tabra menatap serius. “Mengenai usulku yang tadi kukatakan, kita akan menuruni jurang ini secara perlahan. Batas bebatuan itu, kalian sudah melihatnya. Di sana ada curam, habis dari jalanan menurun, tidak ada tempat berpijak lagi, seperti dugaanku jurang itu lurus ke dasar dan tidak tahu seberapa kedalamannya. Kita mencari kapten sebatas kaki bisa berpijak. Bahaya, kalau terjatuh kita bisa mati. Kesimpulannya, kita mencari sebatas kesanggupan diri. Jika kapten tetap tidak ditemukan. Kita harus menghela napas, merelakan kepergiannya—”


PLAAAAK!


“Aisha, aku hanya menjelaskan. Berhentilah bersikap seperti anak kecil. Kau tahu, kita ini sudah besar, bahkan kapten tidak akan menangis sepertimu. Berdoalah, agar dia baik-baik saja.” Kali ini, penuturan Tabra menuai tatapan tidak suka, bukan hanya Aisha, melainkan semua anak buah yang berada di dekatnya tampak tidak suka.


“Tabra, apa yang dikatakan Aisha benar. Bahkan, aku memandang kau tampak berpasrah diri, mengajak kami semua untuk menghela napas, merelakan kepergian kapten. Apa itu hasil dari semua kebersamaan kita selama ini?”


“Benar, tidak seharusnya kita begitu.”


Tabra menatap serius. “Kalian semua sama saja, tetap bersikap seperti anak kecil yang tak tahu kondisi.”


“Kondisi Apanya?” Dasasa menyahut cepat.


“Dasasa, apakah kau tahu aku sekadar memberikan penjelasan dan kesemuaan itu hanyalah usulan. Kalian semua tidak perlu serius menanggapinya. Juga Aisha, kau tidak sepantasnya membulatkan mata, seperti biasa kau sering bersikap seolah-olah kau adalah seekor singa. Kau menganggap aku bagaikan seekor kucing malang yang takut padamu. Sesekali tidak begitu, bahkan aku lebih darimu, Aisha.”


Tabra menatap mereka semua. Terdengar nada marah, ucapannya memelesat, membelah jantung adiknya sendiri.

__ADS_1


Aisha terpaku diam. Para anak buah juga terdiam, tak dapat menuturkan jawaban. Sebelumnya, Tabra memang berkata ingin memberikan usulan, tetapi baru saja usulan yang dia sampaikan menyebabkan kesalahpahaman, juga ketidaknyambungan antara ucapan satu dan yang lainnya.


“Apa kalian puas menatapku begitu?” Tabra berlantang suara, menatap marah. Mereka semua tetap diam tak berkutik. “Kutanya apakah kalian puas?” Tambahnya lagi, ucapan yang keluar dengan nada menggelegar bagai petir menyambar dahsyat. Wajahnya menatap getar.


Kadang ucapan bisa salah tangkap. Persepsi orang berbeda, tidaklah sama. Lidah hanya tahu ucapan, dirilah yang menimbangnya. Jika ditanya siapa yang salah, sudut pandang mereka mengatakan Tabralah yang mula-mula mencari masalah.


Mereka diam, tahu semua itu adalah kesalahan Tabra sendiri. “Kalian tak menjawabnya! Haaah!” Tabra memandang ke sekeliling mereka.


Dia mengepal tangan. BUUK! menghantam pohon sekali. BUUK! Dua kali, BUUK! tiga kali hingga lima hantaman, pohon itu bengkok ke kiri, pohon yang dihantam bukan main, melainkan besar menjulang tinggi dengan ranting dan dedaunan lebat.


Aswa Daula menatap tidak main-main. Dia menelan ludah, mencari solusi atas semua yang telah terjadi. “Tabra, ketahuilah. Kami tidak menyalahkanmu, kau menelan utuh perkataan tanpa mendengarkan penjelasan apa pun dari kami.”


Benarlah perkataan Aswa Daula, di dalam benak Tabra sendiri memutar kembali moment tersebut, sebelumnya dialah yang terlalu serius, malah sebelumnya Tabra mengucapkan merekalah yang terlalu serius. Menyebut orang lain begitu, nyatanya Tabralah yang begitu. Kali ini, diri yang menyadari kesalahan itu menunduk tak kuasa menatap mereka.


Aisha menyeka air mata. Beberapa anak buah berdiam menatap. Sementara, Aswa Daula beriringan dengan Kalboza menghampiri, senyum menatap hangat.


“Tabra, tidak perlu kau sembunyikan wajah. Aku memaklumi kadang di saat seseorang mengalami amarah, sudah biasa akan timbul prasangka dan kadang menunduh yang bukan-bukan. Hela napaslah sejenak, Tabra. Kau harus tahu, di pentas dunia yang terbentang lautan dan daratan ini, kadang sering terjadi perbedaan pendapat, kita bisa bermusyawarah.” Aswa Daula memberikan solusi damai. Selama beberapa menit berkutat, dia mendapatkan solusinya.


Kalboza menepuk pundak Tabra yang tengah menunduk, perlahan wajahnya terangkat, menatap Kalboza pelan.


“Tabra, aku sudah sering merenung. Tiada guna, hidup tanpa renungan. Selama dalam masa renung, aku menyadari permasalahan yang dihadapi dengan amarah, hasilnya tidak akan bagus, justeru akan berantakan, amarah hanyalah semacam racun yang membebankan pikiran seseorang, tenangkanlah sejenak, hela napaslah seperti yang dikatakan Aswa Daula. Kita semua tahu, Kapten telah menghilang. Dengan niat, Tabra. Awali semua itu dengan niat, kita akan terus berupaya menemukannya.”


Kalboza lagi, lagi dan lagi menepuk pundak seseorang yang sedang mengangkat kepala pelan. Dia tertawa menatap sedikit raut wajah Tabra.


“Kalboza, kau berlagak seakan orang bijak di depanku. Aswa Daula, kalian berdua sama saja. Sama seperti Asra Burona. Mudah sekali, kau mengucapkannya! Mudah. Di kala kalian sendiri yang mengalaminya, apa yang akan kalian perbuat? Haaah!” Tabra menatap tanya, memekik suara keras.


Mereka semua terdiam menelan ludah, sejenak sunyi, menyisakan suara angin bertiup, tampak awan putih bergeremet anggun menutupi sinar matahari.


Tabra berpejam dalam, lanjut membuka mata. “Baiklah, daripada berdebat. Sungai ini ternyata benar ilusi, tetapi bagaimana dengan ikan yang semula kita dapat?”


Kata yang diucapkan Tabra itu memelesat ke dalam benak mereka masing-masing. Ikan yang semula mereka tinggalkan di dalam wadah sana, apa yang terjadi pada ikan itu, mereka baru menyadarinya.


“Benar, apa yang kau katakan, Tabra. kita harus kembali ke tempat itu, melihat ikan dan memastikannya.” Kalpra menyahut, mereka pun saling pandang setuju, lantas berjalan menuju ke tempat ikan yang semula mereka tinggalkan.

__ADS_1


Perasaan pun saat itu terasa sunyi, menyisakan helaan napas bergelayut harapan nan mencakar langit, juga doa-doa melambung ke hadirat sanubari terdalam.


__ADS_2