
Tabra terpaksa meninggalkan satu keranjang, dia mengangkat dengan tenaga yang terkuras lesu, lelah yang menjularkan ke sekujur tubuh.
Salah satu anak buah yang kembali dari mengantarkan keranjang tersebut, dia membantu Tabra mengangkatnya.
Adapun keranjang yang ditinggal oleh Tabra, salah satu anak buah yang lain, dia mengangkatnya.
Saling membantu, Tabra tersenyum bahagia, dia berwajah cerah, secerah matahari yang bersinar di atas kepalanya.
"Hati-hati. Jaga mata, awas jatuh!" ucap anak buah tersebut mengingatkan Tabra.
"Iya, aku tahu."
Tabra menjawab, dia berusaha menguatkan pijakan, menaiki tangga kapal itu susah, lumayan. Tabra belum terbiasa, dia kesulitan dalam menaiki tangga.
Pada akhirnya, dia menyuruh anak buah untuk mengangkatnya. Singkat cerita, penjelasan mengenai tangga, sebuah papan tanpa lubang, datar dan menurun.
Sejenis prosotan, entah apa namanya?
Itu susah, benaran susah, bahkan bagi orang yang tak biasa menaikinya akan kesusahan. Tabra hanya terbiasa untuk menaiki tangga tersebut, hanya saja dia belum terbiasa menaikinya dengan tangan yang mengangkat sesuatu.
"Kalian hebat!" ujar Tabra mengacungkan jempol, tersenyum lebar, giginya berkilau.
Alangkah bahagianya mereka mendapatkan jempol dari Tabra, wajah mereka berseri laksana bunga yang bermekaran, suasana kebersamaan yang mengembirakan.
"Hah, sial. Perutku keram. Aduuh!" Tabra meronta, dia menjerit memegang perut.
"Ada apa?"
"Ada apa?"
"Apakah Anda baik-baik saja?"
Mereka semua berucap sembarangan, tak beraturan, ucapan itu terkeluar begitu saja akibat kaget yang spontan, mereka bergegas menghampiri Tabra.
"Aduuuh!" Tabra bersuara keras.
Dia berguling-guling sejenak, para anak buah begitu khawatir, panik bukan kepalang.
"Ha ha ha ...."
Tabra tertawa, sedangkan anak buah berwajah heran.
"Aku hanya bercanda."
Tabra bangun dan menunjukkan kekuataannya.
"Lihatlah ototku, mana mungkin perutku sakit hanya karena mengangkat sekeranjang wortel itu," ucap Tabra menyombongkan dirinya.
__ADS_1
Para anak buah hanya tersenyum, mereka menahan tawa, Tabra mengernyit bingung.
"Kenapa kalian tidak tertawa? Apa ini tidak lucu?" Tabra bertanya, wajahnya mulai menyeringai, kedua mata itu memelotot lebar.
Mendengar apa yang dikatakan Tabra, para anak buah itu melepaskan tawa, suara terbahak, mereka semua tertawa. Itu sedikit Aneh, jelas sekali itu tidak lucu, mungkin saja pembawaan Tabra yang membuat mereka tertawa.
***
Sementara itu, Akma Jaya masih menunggu kedatangan mereka, dia berduduk, bersantai di tempat reruntuhan.
Aisha juga sama, mereka berdua sama-sama sendirian, tetapi Aisha berbeda dengan Akma Jaya yang hanya duduk bersantai.
Aisha menjelajah Desa Buana, menjelalah sendirian, tidak ada rasa ketakutan pada raut wajahnya, dia berani, wanita tangguh yang sudah lama hidup berbaur dengan alam, dia menelusuri ke dalam celah-celah yang tak tembus sorotan cahaya matahari pagi.
Sekarang, matahari naik sepenggalah. Aisha menelusuri tempat yang tidak tembus cahaya pagi, di salah satu lorong sebelah barat. Ditutupi oleh banyak batu-batu besar yang menjulang tinggi.
"Tempat apa ini?" gumam Aisha dalam hatinya.
Tempat yang lembab, berhawa panas yang membuat sekujur tubuh mulus itu mengeluarkan keringat yang bercucuran, tubuh Aisha basah.
Pada akhirnya, dia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, hawa yang terasa sangat berbeda, seolah ada makhluk lain di sekitaran tempat tersebut.
Entahlah, yang jelas itu mengerikan, bulu kuduk berdiri, merinding dengan suara yang terdengar aneh ditelinga.
Tak disangka, seekor buaya berukuran besar berwarna putih menghadang jalan Aisha.
"Apa? Hewan ini? Buaya?" Aisha tercengang, bagaimana mungkin hewan spesies itu berada di tempat tersebut.
Benar saja, buaya itu menyerang, giginya menyeramkan, mulut yang terbuka lebar, gigi yang tajam bermulut datar. Cepat, pergerakan buaya itu sangat cepat.
Aisha terpengarah, apa ini? Jenis buaya yang tak pernah ditemui oleh Aisha. Dimana biasanya buaya berwarna kecoklatan, sedangkan yang sekarang dia temui buaya berwarna putih, itu menganehkan.
Aisha bergumam bingung, pedang yang dia genggam, bersiap menghadang dan menebaskan pedang ke arah kepala buaya tersebut.
Buaya itu semakin mendekat, Aisha menebaskan pedang, mata Aisha terbelalak, raut wajah yang tercengang, buaya itu melarikan diri setelah Aisha menebasnya, tepat mengenai kepala, cairan darah segar berceceran.
"Buaya seperti apa itu? Mengapa ia menyerangku dan lari seperti manusia!" ucap Aisha dengan tangan yang memegang pedang dan raut wajah ternganga, dia heran mengapa ada buaya seperti itu, mengejutkan.
Bahkan tak pernah terpikir ada buaya yang tak diundang, itu menyebalkan. Ya, menyebalkan.
Aisha kembali keluar dari tempat itu, betapa suasana baginya begitu aneh.
***
Sementara itu, Tabra dan beserta anak buah, mereka semua berjalan menemui Akma Jaya, pekerjaan mereka sudah selesai.
Tabra masih melawak, selama di perjalanan menuju ke tempat Akma Jaya, dia bercanda gurau dengan anak buah, tertawa dengan leluasa.
__ADS_1
"Tahu kenapa bumi itu bulat?" Tabra bertanya menyeringai.
Mereka membungkam dengan kepala yang menggeleng, Tabra mengulanginya sampai tiga kali, tetapi masih sama, mereka tetap tak bisa menjawabnya.
"Aku juga tidak tahu, Ha Ha." Tabra tertawa, dia merangkul salah satu anak buah dan menepuk-nepuknya.
Mereka bergumam heran, Tabra terlalu terbawa suasana yang mengherankan, entahlah.
Tabra terus berjalan, begitu pun anak buah itu, mereka semua berjalan dengan cukup cepat hingga sampai kepada Akma Jaya kurang lebih 20 menit lamanya.
"Kapten, semua keranjang wortel sudah kami muat dalam kapal," ucap salah satu anak buah.
Akma Jaya mengangguk.
"Baiklah."
Tak lama dari itu, Aisha datang menghampiri mereka.
"Kapten, saya menjumpai buaya yang berwarna putih tepat di sebelah barat dari desa ini!"
Aisha berucap setelah dia berhadapan dengan Akma Jaya dan menatap yang lainnya.
"Aisha, kau menjelajah sendirian!" Tabra terkejut.
Aisha hanya mengangkat bahunya, menghela napas.
Akma Jaya menatap heran ke sekeliling, sedangkan hawa dingin di tempat itu berubah sedikit mencekam.
"Tabra, apa yang kau katakan sebelumnya, tentang ruangan yang mengurung para penduduk." Akma Jaya berucap mengenai apa yang Tabra ucapkan sebelumnya.
"Kapten, ruangan yang saya maksudkan tak jauh dari sini, apakah kita akan mengeceknya, tetapi hawa ini cukup mengerikan, rumor yang beredar itu mengatakan–"
BUUUM!
Burung-burung beterbangan, mengapakkan sayap, suara ledakan di arah selatan mengejutkannya.
Lantas, mereka semua mengernyit kaget, ada apa sebenarnya, suara ledakan yang mengherankan.
Akma Jaya dan yang lain bergegas, mereka berlari menuju ke arah tersebut.
"Kapten, sepertinya ada orang lain, selain kita!"
"Benar, maka dari itu, kita akan mengeceknya!"
Akma Jaya terus berlari, berlari, berlari, dan berlari, terus berlari. Tabra sudah merasakan lelah, lesu karena bekas mengangkat keranjang wortel, sekarang dia harus lari, napasnya menjadi terputus-putus.
Berbeda dengan Aisha, wanita tangguh itu memang berbeda dari wanita pada umumnya, tak ada lelah, napasnya berembus panjang. Mereka semua berlari, melangkah hebat, langkah yang banyak.
__ADS_1
Suara hentakan, langkah kaki yang berlari, memacu kaki dengan kecepatan yang terus meningkat. Pada akhirnya mereka sampai di tempat tersebut.
Sesosok manusia samar terlihat, berambut abu-abu, berkumis tipis, bermata galak, berhidung mancung, tubuh yang kekar berotot besar, berbaju kebiruan serta bercampur kuning kecoklatan. Entahlah.