Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara


__ADS_3

Cakrawala membentang pesona keindahan, partikel awan hitam menghilang, pudar ditelan sinar yang memancar dahsyat ke titik puncak hingga melebihi batas ketinggian. Bahkan, sambaran petir tak ada lagi.


Cakrawala di atas mereka menjadi saksi bisu pertarungan singkat melibatkan kekuatan mistik, sejenak keduanya menghirup napas.


Sebelum sinar, sebelum pertarungan dengan Kapten Broboros, Akma Jaya sudah menderita luka akibat tebasan Kapten Riyuta.


Deraian luka sebelumnya mendadak pulih karena sinar yang memancar di tubuhnya memulihkan, bahkan menghilangkan bekas luka tersebut.


Para anak buah yang berada di kapal melihat sorotan sinar menyilaukan. Sekilas terlihat, lama kelamaan keadaan menjadi normal kembali, pandangan memperjelas bentuknya.


Banyak diantara orang yang berada di situ menggelengkan kepala—tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Ini sangat mustahil!" Salah seorang anak buah Akma Jaya berseru disertai ekspresi wajah kaget, dia meneropong.


"Apa yang kau maksud?" Salah seorang lagi bertanya—mengernyit heran.


"Luka sebelumnya, dia pulih dari lukanya!" Jawaban terlontarkan secara ringkas, tidak bertele-tele. Begitu saja, dia masih fokus dalam meneropong.


"Eeh, bukankah itu bagus. Untuk apa kau terkejut?" Orang yang tadi bertanya, kini dia kembali menuturkan kalimat seraya menggerakkan tangan ke area hidung, mengupil.


Melalui penuturan tersebut, orang yang tadi sibuk meneropong, kini dia melepaskan pandangan sejenak. Balik menatap lawan bicara. "Bukan tentang bagus atau tidak. Tapi, ini begitu mustahil, bahkan sekujur tubuh kapten bersinar!" jawabnya menjelaskan.


"Apa kau bilang?" Dia tercengang, spontan mengeluarkan upil, tidak banyak, tampak sebutir kelereng. Lantas, membuangnya ke laut.


"Sini, serahkan teropong itu!" Dengan cepat, dia bertindak mengambil teropong dari tangan rekannya yang berkata mengenai Akma Jaya, sedangkan sebagian lagi menyimak perbincangan mereka berdua.


Orang itu meneropong, betapa terkejut dirinya melihat sekujur tubuh Akma Jaya bersinar, "Luar biasa!" Decak kagum kembali bermuara beserta kata yang dia ucapkan.


Keheranan menyelimuti suasana. Aisha, Ashraq, Tabra, bahkan Kapten Broboros bersitatap langsung dengan Akma Jaya, dia juga sama—menatap heran.


Kemarahan, kekesalan yang tadinya membeludak, kini bertambah-tambah, ia memuncak, memandang seseorang yang kini dijadikannya sebagai saingan.

__ADS_1


Bahkan, saingan itu berada jelas di depan matanya. Tak berlangsung lama, gerakan memelesat disertai serangan kembali memusat ke titik temu menuju Akma Jaya.


"Tidak peduli siapa dirimu, hari ini kau akan mati di tanganku!" Kapten Broboros mengeluarkan ucapan seraya melancarkan serangan.


Akma Jaya terdiam, fokus menyerap energi alam, tetapi dia belum bisa mengendalikan sepenuhnya.


Kapten Broboros menyerang, melancarkan tebasan yang bersatu dengan petir menyambar, tetapi cakrawala tak seperti sebelumnya. Ia membiru tak ada awan kelabu, ternyata petir itu memiliki sifat alami, ia keluar langsung dari pedang bukan dari awan.


Akma Jaya berwajah tenang menangkis serangan, sedikit petir terserap, sisanya mengenai dirinya, tetapi tak menunjukkan luka karena petir adalah bagian dari alam, sedangkan alam telah merasuk ke dalam jiwanya.


Hanya saja, dia masih tidak bisa mengendalikan pusaka Atramata itu dengan leluasa. Pada saat itu, kedua netra musuh tertuju fokus melihat celah letaknya.


"Ternyata, kau mempunyai benda pusaka, benda itu adalah Atramata!" Kapten Broboros berucap seraya menjauh cepat dari posisi Akma Jaya.


Akma Jaya menggelengkan kepala. "Aku tidak mempunyainya, aku sekadar meminjam!" jawabnya, sedang mata terkantup. Atramata memanggil kumpulan energi, membentuk pusaran dalam benak pikirannya, perlahan alam menyatu sempurna ke dalam jiwa Akma Jaya.


...Banyak orang menginginkan dunia, ia dipandang, tetapi mereka tidak pernah bertanya, bagaimana dunia tanpa aku, ia akan hampa, tak ada udara, tak ada makanan....


...Bagi mereka yang durjana, bahkan lupa dan terlena akan keindahan dunia, aku dianggap sebutir debu pengganggu, beterbangan tak diperhatikan. Hangus, lebur baru mereka sadar, tak berpikirkah mereka, aku memberi segala keindahan itu pada dunia, tangan manusia yang kotor merusak tanpa peduli, tanpa memikirkan, tanpa menerungkan, tanpa balas kasihan....


"Serahkan benda pusaka itu kepadaku, kau tak bisa mengendalikannya, bahkan kau akan mati jika tak bisa mencegah ucapan alam yang ada dipikiranmu!"


"Apakah alam sedang berbicara denganmu?" Kapten Broboros menduga-duga, melontarkan pertanyaan singkat.


Akma Jaya bergeming, masih dengan mata yang terpejam. Kapten Broboros tak tinggal diam, dia kembali memelesat, menggunakan pergerakan untuk mengambil benda pusaka tersebut.


Sedikit celah disertai firasat hampir dapat, tak disangka Kapten Broboros terpental, untungnya tangan sigap meraih besi—dinding menara—dia berpegang erat dan berusaha mendapatkan posisinya semula.


Anak buah yang tadinya meneropong, dia menelan ludah. Beberapa orang kembali berdatangan, berkumpul membentuk kerumunan.


"Sepertinya dia menggunakan ilmu sihir." Salah seorang berambut jambul berucap, disebut pada episode yang telah lama berlalu, dia kembali menduga-duga.

__ADS_1


Orang yang berada disebelahnya mengangguk. "Dia telah membuat Kapten Broboros terpental tanpa perlawanan sedikit pun, apa mungkin dia memiliki kemampuan yang sama dengan Kapten Broboros?"


Orang yang ditanya, dia menggeleng. "Aku tidak mengetahuinya, tapi sebelumnya sinar yang memancar di sekujur tubuh itu cukup membuktikan semuanya!"


Mereka sibuk berbincang mengenai peristiwa yang sejenak tertera netra, sekilas tentang sudut pandang mereka, bagaimana itu bisa terjadi, permasalahan itu cukup membingungkan bagi mereka, bahkan memperbincangkannya adalah solusi untuk mendamaikan pikiran yang tergambar kacau karena menangkap pandangan diluar batas pemikiran.


Sementara itu, Akma Jaya memulai perbincangan dengan alam dan berusaha mendamaikannya, menghibur kesedihan yang dirasakan olehnya, menjelaskan bahwa tak semua manusia seperti itu, ada golongan manusia yang menjaga alam, merawat dengan kasih sayang. Tidak semata merusaknya.


Alam menuturkan kalimat sempurna, ia telah berdamai, Akma Jaya bisa mengendalikannya, sekarang dia bisa menyerap energi atas izin yang telah disepakati dalam benak pikiran.


"Hei, apa yang terjadi, daritadi kau melihat teropong, sekarang giliranku!" Salah seorang berucap ingin mengambil teropong.


"Iya, iya. Baiklah!" Orang itu langsung menyerahkan teropong tanpa menjelaskan kejadiannya, sebenarnya apa yang hendak dijelaskan. Dalam sudut pandang biasa, Akma Jaya bergeming, tetapi sejatinya dia sedang berbincang dengan alam.


Mengenai serangan Kapten Broboros membuatnya terpental, dari sorotan mata yang terlihat, orang itu tampak sengaja menyembunyikannya—mungkin.


Orang yang di sebelah mencoba menerka ekspresi. "Kenapa kau tidak menjelaskannya, apakah kau sedang menyembunyikan sesuatu?" tanya orang yang mengambil teropong seraya menyimpulkan sebuah terkaan.


"Lihat saja sendiri, aku lelah menjelaskan. Satu hal bagiku, kapten baik-baik saja. Itu sudah cukup, tidak perlu ada penjelasan lagi!" jawabnya menjelaskan.


Setelah berbincang dengan alam, Akma Jaya menjatuhkan diri dari ketinggian menara, Kapten Broboros melihat dan tanpa pikir panjang, dia melakukan hal yang sama.


Terjun payung, istilah modern, tetapi bukan itu, jelas bukan. Ini mereka menggugurkan diri laksana daun gugur dari pohon. Tak hanya itu, tak tinggal diam, pelesatan pedang berdencang. Puyuuh, kata si anak buah yang sedang meneropong.


Tabra masih berada di puncak menara, dia menatap perdetiknya, sekilas terpandang cepat. Dia menelan ludah.


Hingga gugurnya mereka mendekati tanah, keduanya sigap meraih pegangan di dinding menara—sebuah besi memanjang, begitulah gambaran dinding tersebut.


Kerumunan yang tadinya berkumpul, sekarang berlari, bercerai-berai. Teriakan bergema, terkejut memenuhi suasana.


Kapten Broboros melihat ke bawah, hampir dekat dari pandangan mata—jasad Kapten Riyuta—terlihat jelas, dia bertambah marah.

__ADS_1


"Lihatlah, dia adalah sahabatku, apa kau tahu kesalahanmu, berpikirlah... apa kau pantas hidup? Tidaaak, lebih baik kau mati untuk menembusnya!" Kapten Broboros berucap lantang, menatap tajam seraya memuncakkan amarah.


Satu tangan berpegang pada besi, sedangkan satunya lagi memegang pedang. Kapten Broboros memelesat, dia kembali menebaskan pedang tanpa jeda, terlihat kilatan pedang berbentuk petir itu mengenai Akma Jaya. Akan tetapi, hanya terlihat bukan yang sebenarnya.


__ADS_2