Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya


__ADS_3

Kini matahari sudah bersinar menyinari hari dengan cahaya redup di ufuk timur, waktu pagi menyambut diri.


Beberapa masih ada yang belum bangun, pagi itu Akma Jaya sudah berlari-lari di pinggir pantai melatih otot kakinya.


Kraken pun sudah tidak ada lagi, kemungkinan rumor itu benar adanya ia sudah kembali ke tempatnya berasal. Benarlah, pulau Butariya adalah tempat ia untuk tidur.


Seperti biasa. Cuaca pagi hari terasa sejuk, ditemani dengan deburan ombak pelan menyentuh pasir, desir angin sepoi. Akma Jaya terus menggerakkan kaki, berlari ke sana ke sini, dia terus berbolik-balik, berhenti sejenak mengatur pernapasan.


Tabra masih tertidur pulas, bahkan sampai mengingau memakan sate gurita, bermimpi dengan rasa kenyang yang terasa sungguhan.


Tak lama waktu berlalu, dia langsung terbangun dari mimpinya. Mimpi yang tadi dialami, memakan sate gurita yang lama kelamaan sate gurita itu malah berubah menjadi sosok Kraken yang tampak begitu mengerikan. “Aaahh!! Tolong!” Terikannya nyaring hingga terdengar Akma Jaya.


?!!


Akma Jaya pun memacu langkah cepat, mendatangi ke tempat Tabra. Dia masih mempertahankan lari, masih melatih otot kaki. Dengan pergerakkan biasa menuju rumah.


Dia membuka pintu. “Tabraaa ... ada apa?” Akma Jaya berseru sambil menghampiri sahabatnya di tempat tidur.


Akma Jaya menepuk pipi sahabatnya. Tabra menatap tawa. “Tidak ada apa-apa, Akma. Tadi aku hanya terkejut melihat sosok kraken dalam mimpi anehku.” jawabnya dengan wajah canggung, garuk kepala.


Akma Jaya tersenyum, mengangguk. “Oh, begitu, Kalau begitu, aku akan melanjutkan latihanku.” Akma Jaya lanjut berlari ke arah pantai.


Sementara, Tabra masih mengingat sosok Kraken dalam mimpinya yang tampak mengerikan. Di samping itu, Altha pun baru bangun, dia menguap dengan lebar, menghela napas, lalu keluar rumah. Dia melihat Akma Jaya yang sudah bangun, berlari-lari di pinggir pantai.


Tak berlangsung lama, Akma Jaya pun menghentikan larinya, menghampiri Altha.


Altha menyapa semringah. “Akma, berapa lama kau berlari-lari seperti itu?”


Akma Jaya baru berduduk. Altha mempertanyakannya dengan santai.


“Tidak usah kau pertanyakan itu kepadaku. Berlari di pagi hari adalah kebiasaanku sejak dari dulu.” Akma Jaya menjelaskan.


Altha mengelus jenggot putihnya. “Oh, begitu? Aku senang mendengarnya. Sepertinya yang kuketahui berlari di pagi hari itu menyehatkan tubuh. Dari sini aku cukup tahu bahwa kau anak yang rajin.”


“Ngomong-ngomong. Sesuai dengan apa yang sudah kukatakan kepada kalian pada malam kemarin. Hari ini, aku akan berlayar ke kota Taiya untuk mencari orang yang akan melatih kalian.” Altha melanjutkan omongannya.


Akma Jaya tersenyum. “Altha, kau selalu ingat bahaya, apakah pelayaran menuju kota Taiya itu aman dari para bajak laut?”


“Tenang saja, pelayaran ke kota Taiya cukup aman. Daerah itu adalah kawasan yang terlihat miskin, tetapi itu hanya terlihat. Di daerah itu banyak penduduk berpura-pura miskin agar para bajak laut tidak memasuki wilayah laut mereka. Di sana terdapat satu orang kukenal. Dia pandai memainkan pedang. Dia adalah salah seorang yang sangat disegani oleh para bajak laut.” Altha menjelaskan panjang lebar.


Akma Jaya mangut-mangut, menyimak. “Siapa namanya, apakah kau tahu?”

__ADS_1


“Dia bernama Qaisha, aku dan dia pernah bertemu saat dia terluka dan akulah yang mengobati lukanya.”


Tidak pernah disangka, di saat pembicaraan mereka tampak Tabra menguping di belakang rumah, mengangguk-ngangguk. Dia cukup menguping banyak.


Sebelumnya, pada saat Akma Jaya menghampiri Altha. Dia penasaran dengan apa yang akan dibicarakan mereka. Jadilah, aksinya pun berjalan, berinisiatif menguping.


“Baiklah. Altha, aku berharap dia itu bisa melatih kami bertiga.” Akma Jaya menyahut. Tabra masih menguping cukup tahu.


“Tentu. Dia pasti akan bisa melatih kalian. Aku akan berusaha membujuknya agar dia bisa melatih kalian bertiga.”


Mereka berdua terus mengobrol. Di lain keadaan, Aisha sibuk mempersiapkan makanan. Dia memasak persediaan bahan-bahan yang ada. Seperlunya perut untuk makan.


“Baiklah, aku percaya denganmu Altha.” Akma Jaya menepuk-nepuk bahu Altha.


Tabra sepertinya lelah bersembunyi menguping, dia pun menampakkan dirinya.


“Daritadi kalian berdua itu sibuk berbicara. Akma, cepatlah! Bantu Aisha, dia memasak sendirian, apa kau tahu itu?” Dia mencerocos lebih banyak, lebih tajam ucapannya.


Akma Jaya cukup mengangguk, memaklumi. “Baiklah, Tabraaa ... ayo, kau juga ikut membantunya.” Mereka berdua saling tatap. Altha berdiam menyimak apa yang akan mereka bicarakan.


“Kau saja, Akma. Aku akan melihat kau membantunya.” Tabra tak ingin mengalah, rupanya tadi dia sekadar menyuruh atau apalah. Mengesalkan.


Akma Jaya tahu kelakuan Tabra yang dari dulu selalu begitu. “Eh, aku? Kamu tidak ikut membantunya?”


“Hah, latihan apanya? Kau mengada-ada. Aku tidak percaya dengan ucapanmu.”


“Ya, sudahlah. Kalau kau tidak percaya. Aku akan ikut membantumu supaya kau percaya denganku. Lihat saja, latihan memasak itu lebih seru dari latihan pedang.” Tabra menjelaskan.


“Nah, itu baru Tabraa yang kukenal. Tabra yang selama ini selalu setia kawan.” Akma Jaya merangkul bahu sahabatnya, menyeretnya berjalan ke tempat Aisha.


Altha tersenyum melihat tingkah laku, walaupun dirinya dikacangin, tetapi melihat tingkah laku mereka berdua seakan mengingatkannya pada sahabatnya dulu.


Altha pun setelah itu mempersiapkan diri, mulai dari bekal dan lain-lainnya untuk bersiap berlayar menuju ke kota Taiya.


Akma Jaya dan Tabra membantu Aisha memasak, mereka bertiga saling kompak bekerja sama dan saling tertawa satu sama lain, layaknya seperti saudara begitulah suasana mereka bertiga.


Di samping itu, tampak para kru juga ikut membantu. Mereka semua tidak tega rasanya membiarkan tiga orang anak kecil itu memasak, juga alangkah malunya mereka tidak bisa memasak. Mereka membantu sebisa tangan, ada banyak jumlahnya tertib bekerja sama memasak.


Setelah selesai, mereka pun menghidangkannya di piring. Disusun di atas tempat yang sudah disediakan.


Tempat yang beralaskan daun kelapa di susun rapi membentuk hamparan tikar. Mereka semua makan di atas daun kelapa tersebut. Termasuk Altha yang sebelumnya dipanggil makan bersama.

__ADS_1


Senyuman dari kebersamaan mereka sangat terasa, mereka semua makan dengan wajah berseri, tiupan angin yang bertiup sepoi-sepoi membuat suasana tampak nyaman, ditambah dengan cahaya pagi hari yang membuat suasana hangat itu menambah rasa kenyamanan.


Kesemuaan rasa itu hanya bisa dirasakan oleh mereka yang merasakannya. Orang yang tidak pernah makan di atas daun kelapa tidak akan tahu rasanya.


Selesai makan, Altha dan para kru lainnya pun pamit izin kepada mereka untuk berangkat melakukan pelayaran ke kota Taiya. Kapal yang bertengger di bibir pantai itu sudah siap sedia, bekal pun sama. Sudah siap semuanya.


“Akma Jaya, Tabra, Aisha. Aku akan pergi berlayar menuju kota Taiya, kalian bertiga tetaplah berada di sini. Semua ini kulakukan hanyalah demi keselamatan kalian bertiga, aku akan membawakan seseorang yang dapat melatih kalian bertiga.” Altha menjelaskan, menatap mereka bertiga.


“Haah ... aku sudah tahu itu,” gumam Tabra di dalam hatinya dengan senyuman miring yang tampak jelas di bibirnya. Altha menghampiri, menepuk pundak Tabra.


“Baiklah, aku sangat berterima kasih karena kau adalah orang yang begitu baik terhadap kami bertiga. Entah dengan kebaikan apa yang bisa kami berikan kepadamu.” Akma Jaya mengeluarkan kosa kata yang berasal dari lubuk hatinya yang terdalam. Kalimat terima kasih sederhana.


Tabib menatap Akma Jaya. “Tidak usah memikirkan balas budi. Kau tahu, usiaku ini sudah tidak muda lagi, aku sudah tua. Kadang-kadang batuk. Kalianlah harapan itu, aku pun sekarang akan menitipkan harapan yang tinggi terhadap kalian.”


“Altha, sebelum Kapten Kaiza datang menyerang, aku akan berlatih dengan kemampuan sebisa yang kubisa. Altha, percayalah. Kami bertiga akan terus berlatih bersama lebih keras supaya bisa mewujudkannya.” Akma Jaya menatap serius. Memandang ke dua orang di sisinya, mereka bertiga saling menguatkan tekad.


“Benar, Akma. Setelah kita menjadi kuat kita akan menghajar para bajak laut itu!” Tabra menyahut sponstan.


“Akma Jaya, Tabra. Kalian berdua punya tekad yang sangat bagus. Aku menyukainya. Akma Jaya, ketahuilah harapan Kapten Lasha tertuang ke dalam dirimu. Ayahmu berharap kau akan menciptakan kedamaian, ketentraman dari kebijakan dan keadilan. Maka dari itu, jangan pernah kecewakan dirinya. Bawalah dirimu dengan kekuatan tanpa pantang menyerah. Dan Aisha, kuatkanlah dirimu juga agar kalian bertiga bisa mencapai kemampuan di atas kemampuan.”


Altha menjelaskan panjang lebar, memberikan mereka semangat, memberi tahu kepada Akma Jaya tentang harapan Kapten Lasha. Sementara, Akma Jaya tidak mengetahui harapan itu, di balik sikap dingin ayahnya ternyata menyimpan harapan yang tidak diketahui olehnya. Benar dia tidak tahu. Harapan yang jauh berbeda dari kenyataan yang ada supaya menciptakan kedamaian bukan kehancuran dan lain sebagainya.


Akma Jaya menunduk sedikit. Dia teringat Ayah, bagaimana mungkin Altha tahu mengenai harapan itu, kemungkinan dia hanya mengada-ada saja. Lihatlah, bagaimana mungkin? Sementara, anak kandung yang selama ini hidup bersamanya saja tidak tahu.


“Akma Jaya, percayalah. Kapten Lasha tidak pernah mengatakan itu kepadamu karena jika dia mengatakannya kau hanya akan menjadi anak manja yang tak tahu kondisi sebenarnya dari dunia ini.” Altha menjelaskan saat menatap raut wajah Akma Jaya yang menunduk lesu.


“Hei, Altha. Kau berbicara terlalu dalam, membosankan. Lebih baik kau ingat pesanku ini, kala kau sampai di sana, jangan pernah lupa membawakan kami bertiga oleh-oleh, barang yang menjadi ciri khas daerah di sana.” Tabra menyergah. Dia tahu masalah itu sepertinya tidak perlu diungkit lebih dalam. Masa sekarang, mereka harus melupakannya.


“Tabra, perlu kau tahu. Di sana sudah terkenal kawasan miskin. Walaupun, sebenarnya penduduknya kaya raya, tetapi mereka begitu mendalami peran sebagai orang miskin. Jadi, tidak ada barang khas dari sana, tetapi ada salah satu makanan yaitu keripik ikan tuna, apakah kau mau itu untuk kubawakan kepada kalian?”


“Baiklah, aku mau!” Tabra berseru girang.


Sementara, para kru. Mereka semua sudah menaiki kapal. Tertib di dalamnya menunggu Altha yang tampak masih sibuk berbicara dengan tiga orang di hadapannya.


Altha menoleh ke arah kapal. “Baiklah, sepertinya sudah saat aku berlayar. Sampai jumpa, jaga diri kalian baik-baik.”


Altha melangkah, memasuki kapal. Ketiga orang anak itu tampak melambaikan tangan.


Para kru membentang layar, kapal pun berlayar meninggalkan pulau. Tabra masih saja melambaikan tangannya, sedangkan Akma Jaya dan Aisha tampak diam memperhatikan kapal itu berlayar.


Pelayaran Altha menuju arah selatan. Di sanalah letak kota Taiya, kota yang terkenal miskin, tidak banyak tempat wisata, bahkan tidak ada pengunjungnya sama sekali.

__ADS_1


“Qaisha, kuharap kau bersedia melatih Akma Jaya dan dua orang temannya karena mereka bertiga adalah harapan yang akan menyinari lautan dengan kebijakan dan keadilan.”


Altha menatap hamparan lautan. Di dalam sanubari bergema ucapan. Angin pun berembus menyentuh jenggot putihnya. Dia berpejam dengan tangan ke belakang.


__ADS_2