
Cerita tentang masa lalu, lagi. Lagi dan lagi.
Cerita ini tidak akan panjang, hanya sekilas cerita yang mungkin akan dibuat sependek-pendeknya yang juga tak akan bisa dibayangkan dengan pola pikir mie instan. Eh, bukan lagi tentang ini, mungkin juga akan dibuat panjang, sepanjang sungai yang bersambung ke laut. Bukan main, teman.
Upps.. salah sebut. Bukan apa-apa—maksudnya. Bukan teman.
Ini hanya cerita lama saat dirinya dan dia bersama. Yang kini usai salah satu di antara mereka telah pergi.
Pergi bukan untuk kembali. Pergi ke sebuah tempat yang asing dari makhluk bernyawa. Bukan berpisah dengan harapan suatu saat bakal ketemu atau berpisah jauh di antara pulau dan negara. Bukan itu, tetapi ini berpisah antara dunia dan selamanya diri itu tidak akan bisa lagi berbicara, bertemu atau bahkan berjabat tangan. Diri itu hanya terdiam dalam sebuah peti mati.
Ringkas seringkas cerita ini dibuat salah satu di antara mereka sudah tidak bernyawa dan tentu hidungnya tidak mengeluarkan napas. Diri itu terbaring di liang lahat. Jabatan dan kekuasaan selama di dunia usai terbang bersama jubah kebanggaannya yang jatuh di lautan lepas. Kobaran api di kapal serta tenggelamnya kapal itu di laut Farida meninggalkan bekas kenangan di masa itu.
Pedang berkarat Kapten Lasha. Kapten Zaiya berujar lirih, “Aku senang, Lasha. Saat kau membunuhku, gelar keduniawian telah menghilang seutuhnya padaku dan setelah ini aku tidak akan dibebani hukum dan urusan duniawi yang membuatku seperti anjing kelaparan. Duniaku telah usai hari ini...”
Kapten Lasha mencabut perang yang berlumuran darah. Kapten Zaiya usai mengembuskan napas terakhirnya. Peperangan di laut Farida. Awal mula pencetus kekuasaan orde baru dimulai. Detik itu, kecaman hati bergejolak tidak menentu. Semenjak saat itu pula Kapten Lasha tersentuh akan sebuah perkataan yang membuatnya menjadi taat dan bertaubat, sadar sedikit demi sedikit.
Berjam-jam Aswa Daula di sana bercerita tentang masa lalu dan tentang Kapten Zaiya yang usai menjadi cerita di setiap waktu luang, mereka selalu begitu.
__ADS_1
Di saat-saat yang menegangkan. Salah seorang menyela cerita, “Kau bercanda cerita seperti itu terdengar membosankan.” Dia merasa tidak puas, cerita Aswa Daula hambar dan tidak ada kesan apa-apa.
Katanya begitu, sepertinya memang ini salah Author sendiri yang tidak bisa menulis. Yang lain membenarkan akan hal demikian, cerita itu.. tidak memiliki emosi.
Mereka tidak dapat merasakan bagaimana cerita itu bisa ditangkap dan diterjemahkan benak mereka. Pola pikir instan yang sukanya dengan cerita ringan.
Aswa Daula memakluminya. Dia mengakui bahwa dia tidak pandai bercerita, seperti Author yang satu ini. Benar. Dia tidak pandai bercerita, hanya menulis untuk mengisi waktu luang, walaupun berusaha semaksimal mungkin.
“Beginilah yang kalian dengar dariku, tentang ceritaku dan kapten Zaiya yang semuanya tidak mampu kujelaskan bagaimana keseruaan yang kalian maksud. Kuingat kalian sebelumnya hanya ingin mendengarkan ceritaku? Mengapa kalian menyela di saat aku sedang bercerita dan mengatakan ceritaku membosankan?” Aswa Daula mengatakan dengan menatap mereka bertiga.
Salah seorang di antara mereka menyahut bermaksud menjelaskan, “Ya, mengenai itu sebelumnya kami memang ingin mendengarkan ceritamu dan kami juga yang meminta kau bercerita. Tapi, kalau ceritamu itu malah membosankan seperti itu. Kami merasa tidak tertarik mendengarnya dan sungguh itu berbeda dengan yang pernah kami dengar. Sepertinya Aswa, engkau memang tidak punya bakat bercerita, bahkan untuk cerita hidupmu sendiri. Itulah yang membuat ceritamu tidak menarik saat kami mendengarnya.”
Aswa Daula hanya tertawa pelan. Lalu melanjutkan ucapan, “Ceritaku dan kapten Zaiya ini sepertinya memang membosankan kalau aku sendiri yang menceritakannya. Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana semua kejadian yang kualami bisa kalian rasakan. Saat kusebutkan sungai, ini tidak seperti sebuah gambar yang bisa kalian lihat atau kejadian nyata yang langsung kalian tengok dan saksikan dengan mata. Aku memang tidak punya bakat bercerita. Akan tetapi, ceritaku ini dapat kujamin keasliannya dan murni dari cerita hidupku sendiri dan cerita Kapten Zaiya ini juga sudah kuteliti lebih detail di mana tempat terjadinya.”
Mereka bertiga mendengarkan saksama, merasa itu seperti sebuah pertanda Aswa Daula sudah terkena mental dan mengucapkan kelemahan dirinya di depan mereka. Ketiga orang itu sekarang hanya diam mendengarkan dan orang yang sudah mengatakan sembarang kata tadi meminta maaf dan dia hanya ingin berterus terang, dalam hatinya tidak ada maksud menyinggung perasaan Aswa Daula.
Tak lama salah seorang berbicara, “Aku hanya heran saja. Mengapa Kapten Zaiya tidak punya kharisma, saat kau bercerita apa kau sengaja memotong bagian serunya?”
__ADS_1
Aswa Daula mencoba memahami itu. Bagian seru apa yang dimaksudkan orang itu. Dia jelas tidak mengerti.
Pikiran satu ke arah jarum jam, kini menemukan intinya. Bagian seru itu kadang sering dibuat-buat oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Tapi, kenyataannya Kapten Zaiya sejatinya memang mempunyai kharisma, hanya saja Aswa Daula menyadari bahwa dia tidak punya bakat bercerita dalam menceritakan bagaimana kharisma yang sangat disegani oleh orang-orang. Bagaimana menggambarkan kharisma, tidak tahu bagaimana cara menggambarkannya. Kala itu tidak banyak hal yang dia tahu.
Aswa Daula mula menjelaskan, “Mengenai bagian seru yang kau maksud, mungkin adalah pertarungan di antara Kapten Lasha dan Kapten Zaiya, saat itu aku tidak menyaksikannya secara langsung, aku hanya di pantai menunggu dan terus menunggu kepulangan kapten Zaiya dan ayahku dari peperangan. Tapi, ternyata tidak ada kabarnya usai itu lama waktu berlalu terdengar kabar dengan cerita yang kudengar bermacam-macam, lain mulut lain cerita. Ada pun cerita yang kuceritakan tadi itu semua berasal dari orang yang dapat dipercaya.”
“Kalian memintaku bercerita bagaimana cerita antara aku dan Kapten Zaiya. Bagiku dia seorang kapten yang tidak memandang bagaimana dunia ini ada. Bagaimana orang memandang dirinya. Dia tidak pernah memedulikan akan hal itu. Yang dia pedulikan hanya kepentingan urusan dan menunaikan apa yang sedang dia kerjakan.”
Begitulah hikayat lama yang diceritakan Aswa Daula kepada mereka. Akan tetapi, tanggapan mereka tetap saja menyebutnya itu cerita yang membosankan. Mungkin yang mereka maksud adalah gaya bercerita Aswa Daula yang memang kesannya seperti membosankan.
Salah seorang kembali berbicara, “Ceritamu memang membosankan, Aswa. Sepertinya memang benar kau tidak punya bakat bercerita. Lain halnya seperti Tabra, dia bercerita tentang cerita itu, wuishh.. dramatis, bahkan sampai merinding, saat itu kami mendengarnya.”
Mulai lagi. Aswa Daula hanya tertawa. “Kalian tahu, beginilah keadaanku yang tidak perlu topeng untuk menceritakan semua hal seru. Pagi ini, kita bercerita. Bagiku ini adalah suatu kebersamaan yang seterusnya tidak perlu membutuhkan bahan yang membosankan seperti itu, malah akan merusak kebersamaan kita, lebih baik kita membahas perkara yang lain saja.”
Yeah, pagi ini kita bercerita, tentang apa yang sepertinya tidak perlu dibahas. Aswa Daula kini hanya tertegun menatap lautan. Kala itu tebersit kenangan yang usai dulu Kapten Zaiya menghiburnya di pantai dengan burung elang yang terbang di langit biru.
“Benar juga, pagi ini, kita mendengarkan cerita dari Aswa Daula. Pagi ini, dia bercerita tentang masa lalu.”
__ADS_1
“Bukan aku yang bercerita, tapi kita.”
“Pagi ini, kita bercerita.”