Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha


__ADS_3

Di sebuah kabin kapal, di mana tempat gelap gulita—tak terlihat apa pun, terlelap tak hirau suasana.


Seorang penyair, dia bersyair dengan irama merdu berbalut doa, cahaya-cahaya memancar ke puncak menara, menembus batas cakrawala, di mana atmosfer bumi, tepat di sana cahaya itu membelah dan berubah menjadi partikel kecil, ia terus-menerus menembus hingga mencapai ruang angkasa.


Kerlip-kerlip bintang dari kejauhan, berbagai keindahannya. Di ruang angkasa, ia menyebar ke berbagai planet, mengitari dan menjelajah seluruh isinya.


Cahaya itu terus memancar hingga keluar dari galaxy warna menuju galaxy hampa—tak ada kehidupan di dalamnya.


BOOM!


BOOM!


BOOM!


Cahaya meledak!


Partikel kecil itu bertebaran, ada banyak jumlahnya, tak terhitung dengan jari, tapi terlihat indah, berkilat seperti sebuah cermin yang memantulkan bentuk cahaya.


Di bumi, di Wilayah Nanaina, di puncak menara, di tempat Akma Jaya berdiri, di tempat Tabra bergelayut, di bawahnya kerumunan berucap. Tiba-tiba cakrawala menggumpal awan bergemuruh, ia memuntahkan cahaya, halilintar menggelegar.


"Bunuh!"


"Bunuh!"


"Bunuh!"


Ucapan berupa teriakan bergema, lantang bersahutan, bertebaran menyelimuti suasana, Akma Jaya dan Tabra berlaku lajak pasrah, menelan ludah.


Aisha di dalam kabin kapal terbangun dari mimpi anehnya. Di mana lantunan syair dari mulut seorang penyair berbalut doa bergelora, beriak tak terbayangkan.


"Mimpiku sangat aneh?" Aisha terbangun seraya menggelengkan kepala sejenak.


Dia menghela napas berat, memegang kepala, ada apa dan kenapa? Itu jadi pertanyaan yang sedikit mengkhawatirkan.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Akma Jaya dan Tabra? Apa mereka baik-baik saja?" Sifat alami seorang wanita, khawatir akan keselamatan orang di sekitarnya.


Aisha menutup mulut penuh kekhawatiran. Dia terus bergumam, bersuara pelan mempertanyakan keadaan Akma Jaya dan Tabra. Dia tidak tenang hingga keluar kabin.


"Anak buah!" Aisha berseru.

__ADS_1


Sebagian anak buah yang berjaga di dalam kapal, mereka semua datang menghadap lalu memberi hormat.


"Bisakah salah seorang diantara kalian memeriksa keadaan di luar, sebenarnya baru saja aku bermimpi aneh, jadi periksa keadaan Kapten dan Tabra. Aku sedikit mempunyai firasat buruk." Aisha berucap seolah curhat. Ciri khas wanita—mungkin.


"Ba—baik, kami akan memeriksanya." Salah seorang anak buah berucap ngasal sembari meletakkan telempap berbentuk lurus di dahi—bentuk hormat.


Aisha mengernyit. "Bukankah sudah kukatakan, salah seorang bukan kalian!" Kali ini dia berucap lebih tegas.


Anak buah itu mengangguk pelan, sedangkan Aisha kembali masuk ke dalam kabin, mereka berunding mengenai siapa yang akan memeriksa keadaan.


"Aku saja," ucap salah seorang beramput panjang, dia mengacungkan tangan.


"Tidak, aku saja. Apakah kau bisa berkelahi? Badan kurus sepertimu mana bisa!" Salah seorang berbadan kekar menyahut cepat—berlagak berani.


"Ya, sudah. Kau saja!" Balasnya ketus.


Sementara, anak buah yang lainnya mengangguk—setuju dengan perkataannya.


Anak buah berbadan kekar, berambut lurus, berkulit putih, berpakaian warna kebiruan bercampur putih, dia bernama Ashraq—seorang pandai besi.


Dia beranjak pergi meninggalkan kawan-kawannya yang harus berjaga. Di kala itu, senyuman terpampang, mereka saling menyapa satu sama lain. Di tengah perjalanan, tidak jauh dari jarak kapal. Dia kebingungan, ke mana arah yang dituju.


Secara refleks—tidak dikehendaki dia memutar arah pandangan dan balik menuju kapal. "Ada apa?" tanya salah seorang yang berjaga di luar kapal.


Ashraq menggeleng. "Tidak ada, aku hanya sedikit gugup," jawabnya menghela napas.


Suara samar terdengar, kerumunan yang berteriak-teriak, Akma Jaya bertengger di puncak menara, suara itu cukup nyaring, kemungkinan banyaknya orang yang berteriak, suara itu menyebar karena terpantul dari frekuensi berupa getaran dari mulut yang terlontarkan—mungkin.


"Hei, apakah kau mendengarnya!" Salah seorang berucap, dia mendengar sesuatu yang samar—tidak jelas dan bertanya memastikan.


Orang yang mendengar, mereka semua mengangguk. "Benar, aku mendengarnya!" Ashraq menatap ke arah suara, mencoba memprediksi frekuensi, "Puncak menara?"


Dia berlari tak hirau apa pun—gopoh. "Hei, dia terburu-buru." Salah seorang kaget berseru memandang yang lainnya.


"Cobalah, kau lihat di puncak menara itu!" Salah seorang menunjuk ke arah tersebut.


Tepat arah sasaran, dia menunjuk sesosok samar berpakaian hitam bertengger di puncak menara.


"Itu, Kapten!" Tercengang, mereka semua berusaha melihat, tetapi jarak yang tinggi dan jauh—tak jelas, samar-samar.

__ADS_1


Dari jarak sejauh itu, mereka bisa mengenalinya, terikat batin dari hari ke hari, hubungan yang dekat dan perasaan kuat. Mereka semua tercengang mendengarnya—seperti tidak percaya.


"Apakah kau tidak salah mengenalinya, Apakah benar itu Kapten?" Salah seorang meragukan apa yang dikatakan oleh rekannya.


"Ambil teropong, kita akan tahu!" ucap salah seorang memberi saran.


Salah seorang mengernyit. "Ambil saja sendiri, mengapa kau memerintah begitu?"


"Hei, itu saran, kau tidak bisa membedakan saran dengan perintah?" Dia menjawab.


"Bagiku itu adalah perintah bukan sekadar saran yang kau ucapkan—"


"Sudah, kalian berdua sibuk bertengkar mengenai sesuatu, tidak berguna. Biar aku saja yang mengambil teropong." Salah seorang lainnya menjadi penengah agar pertengkaran mereka tidak melebar.


Beberapa saat kemudian, dia datang membawa teropong. "Ini, untukmu, kau lihat saja. Aku sudah yakin itu kapten, tidak perlu bagiku teropong, aku sudah melihatnya!" Dia berucap yakin, sangat yakin hingga tidak ingin menggunakan teropong.


"Sini." Salah seorang cepat mengambilnya, dia meneropong fokus, tidak berucap sama sekali, "Eee–eehh," ucapnya terkejut.


"Ada apa?" tanya yang lainnya.


"Itu, benar Kapten. Dan Tabra, dia bergelayut di dinding menara, Kapten menatap ke arah bawah, pedangnya berlumuran darah, sebenarnya apa yang terjadi?" jawabnya seraya melontarkan pertanyaan heran.


"Apa benar? Sini teropongnya!" Salah seorang anak buah yang awalnya berucap tidak membutuhkan teropong, kini dia mengambil secara cepat.


"Eeh, tadi kau bilang tidak perlu teropong," ucapnya kaget sedikit kesal.


"Diamlah." Dia menjawab singkat, menunjukkan gaya fokus dalam meneropong, tidak berucap sedikit pun. Yang lain melontarkan pertanyaan, dia tetap diam hingga mereka ribut.


Aisha di dalam kabin kapal merasa terganggu dengan keributan mereka, tak lama, dia keluar kabin. "Hei, kalian. Ada apa sebenarnya? Mengapa kalian ribut?" tanya Aisha sedikit geram.


Mereka semua cepat menundukkan kepala, Aisha berkacak pinggang penuh tatapan tajam. "Ekheemm," dehem sejenak.


Namun, wanita secantik Aisha, ketika dia marah, cahaya wajahnya memerah indah, suara lantang terlontarkan bagai menelan obat, memang pahit, tapi menyembuhkan.


"Kapten berada di puncak menara dan Tabra bergelayut di dinding menara." Salah seorang menjawab tegas.


"Benarkah?" Aisha sedikit kaget, "Sini, serahkan teropong padaku," ucap Aisha mengulurkan telapak tangan dengan keempat jari yang bergerak—meminta.


Aisha melihat melalui teropong, dia sedikit tercengang, apa yang dilihatnya sekarang sama persis, sebelas-duabelas dari mimpinya, di mana Akma Jaya bertengger di puncak menara dan Tabra bergelayut di dindingnya. Hanya saja, sedikit berbeda.

__ADS_1


Setelah berpuas meneropong, dia menyerahkannya kembali ke tangan salah seorang anak buah. "Kalian semua, tetaplah berjaga, aku akan pergi ke sana untuk mengecek keadaan!" Aisha berucap memandang ke sekeliling mereka dengan suara lantang. Dia bersegera memacu kaki—berlari cepat menuju ke arah menara.


__ADS_2