Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 121 – Gendut


__ADS_3

Tabra berolahraga santai, mengangkat batu. Begitu pun sepuluh anak buah lainnya. Wajah yang dipenuhi senyuman sedikit lebar. Hanya Boba yang tampak mengerut, menaruh batu yang semula dia angkat, tidak ingin lebih lama. Lelah katanya.


“Boba, ayolah, mengapa kau berhenti berolahraga. Apa kau ingin beristirahat secepat itu?” Tabra bertanya. Raut wajahnya memasang ketidaksetujuan.


Boba bersekedap. “Mengangkat batu begini tidak ada gunanya.” Wajahnya cemberut. Mencih memalingkan pandangan.


Yang lainnya memperhatikan. Kalboza tertawa. “Boba, pantas saja badan kau gendut karena kurang suka berolahraga.”


Kalboza menatap ke arah sekawanannya, mereka ikut tertawa sembunyi-sembunyi. Kompak satu sama lain mangut, mingkem.


Boba menatap ketus. “Kalboza, berani sekali kau bilang badanku gendut, hah?”


“Iya, Boba. Badanmu gendut.” Kalboza mengulangi ucapannya bernada santai.


Suara cool sedingin bongkahan es di kutub selatan. Apa tadi dia bilang? Gendut? Woow, Inilah ucapan yang super duper kurang ajar bagi seorang Boba yang mendengarnya.


Boba tidak senang mendengarnya. Ingin sekali rasanya menabok. Boba meredam padam-padam marah. Yang lainnya sekarang pura pura tidak menatap, mencari perlindungan dan memang Kalboza pelakunya, siapa lagi kalau bukan dia yang terlebih dulu mengatakannya.


Tidak mungkin Aswa Daula, dia daritadi berdiam diri dari ucapan, sibuk ikut berolahraga bersama-sama di dekat Ashraq yang telah menanamkan kuat-kuat di dalam benaknya apabila terjadi perdebatan. Maka, biarkanlah, jangan dihiraukan. Lelah letih memberikan masukan tidak didengar, malah dibahas dan dibahas hingga perdebatan itu menjadi berkepanjangan masa.


Apalagi Hambala. Dia yang sebelumnya telah melakukan baku hantam dengan Boba. Sampai Aisha menyebut mereka semua munafik. Kena imbas tidak hanya satu atau dua orang, tetapi semuanya kena imbasnya.


Itulah yang sekarang menjadi bahan renungan Hambala agar terus diam. Sosok wanita yang sukses membuatnya kepikiran terus-terusan itu tengah duduk di batu berukuran lumayan besar, bersandar.


Tabra menduga akan terjadi perkelahian lagi. Hanya menduga, belum tentu terjadi. Untuk saat ini dia masih fokus mengencangkan otot. Dan lebih tidak tertarik meleraikan mereka.


Yang lainnya apalagi, tidak ingin menjadi perusuh ikutan rusuh dan menurut mereka lebih baik damai tidak ikut campur.


Kesalahan Kalboza sendiri yang menyebut Boba dengan lancang menyebutnya gendut terlebih nada bicaranya terdengar ketus.


Sementara beberapa mereka hanya ikut tertawa karena virusnya menyebar. Katanya tawa itu virus dan anehnya itulah. Menular dari satu orang ke orang lainnya.

__ADS_1


Satu saja di suatu rombongan yang akur tertawa. Sontak satu per satu ikut tertawa. Kemungkinan lain itu terjadi karena efek samping dari sinar gigi putih berseri yang memancar, bahkan menatapnya hendak tertawa lebar. Haha, iya tertawa.


Jalbia lekas bangkit. Menghampiri. “Hei, Boba. Santailah sedikit, coba kau bawa pikiranmu jalan-jalan ke persawahan, bayangkan kambing dan kerbau.”


Jalbia berbisik pelan. Menepuk-nepuk pundak Boba, sedikit menyeringai tambah suara mantap.


Peuh, saat mendengarnya si Boba ini seketika membayangkan kambing dan kerbau di persawahan yang berbunyi dengan ciri khasnya. Badannya memang gendut tabiat suka makan.


Lebih-lebih dia membayangkan sate kambing yang memang sedap di lidah. Mengepul asap mengipas sate.


Sate yang lalu dinikmati, makan bersama nasi di bawah naungan pohon rindang, tepat di tengah-tengah sawah. Udara saat itu berembus sepoi terasa sejuk ditemani pemandangan damai, tentram menatap hamparan hijau, membentang bagai permadani yang diamparkan.


Jalbia mangut-mangut memberikan imajinasi, lagi terus. Dia terus berucap hingga muncul sesosok bidadari nan cantik jelita mengatakan ini dan itu. Boba termangu sendirian, tak sanggup berkata-kata lagi, sosok bidadari itu luar biasa di pandang mata.


Kalboza tertawa. Kali ini lebih nyaring dari sebelumnya. Lanjut menatap serius. “Boba, hentikan imajinasi liarmu itu, percuma kau membayangkannya. Kau sendiri tahu itu tidak bagus untuk masa depanmu nanti.”


Imajinasi Boba terhempas. Bidadari yang tadi turun ke bumi menghampirinya seketika lenyap, menghilang bagai ditiup angin. Boba sekarang menatap Kalboza, mengepal tangan. Dia marah dan ingin memberikan pelajaran berharga untuknya.


BOOM!


Seakan terdengar suara ledakan di dalam benak pikiran Boba kala mendengarnya. Temperatur otaknya memanas.


Boba tak banyak pikir lagi, dia bersegera menyingsing lengan. Maju dengan tubuh macho. Wajahnya bersikukuh padam. Hingga jatuh kalimat di ujung lidahnya.


“Dasar keparat!” Boba melantangkan suara.


Dengan tatapan tajam tanpa raut wajah tersenyum. Marah teramat marah. Urat lehernya memunculkan wujud biru. Jalbia bersingahak menatapnya.


“Boba, tenangkan dirimu.” Jalbia mengusap usap bahu Boba. Menatap ke arah Glosia yang tampak tak hirau suasana.


“Glosia, bantu aku menenangkan Boba!” Jalbia berseru, menatap kuat-kuat.

__ADS_1


Glosia anggut angui. Cepat bergegas berada di samping Boba membantu Jalbia memberikan ketenangan terhadap sosok sahabatnya itu agar bisa menahan amarah.


Kalboza menatap paham. “Boba, kau tidak perlu marah, niatku sebelumnya hanya ingin memberikan suatu rahasia. Mengenai amarah yang lahir dari jiwa yang tidak menerima takdir. Selama kau tidak bisa menerima takdir di dirimu, apa yang orang lain katakan tentang kejelekan yang ada di dirimu, maka kau akan marah.”


Hening sejenak, menyisakan tiupan angin. Tabra mendengarnya berusaha tidak menghiraukan. Itulah baginya urusan orang lain, tiada keinginan baginya untuk ikut campur menegah atau menyahut.


Yang lainnya juga sama. Menyisakan tiga orang dan satu orang yang tadi berucap kini tampak memasukkan lengannya ke saku celana. Kemungkinan agar menambahkan sikap cool, sepertinya.


Kalboza tidak melulu diam dalam perkara ini, dia masih saja berucap dengan perumpamaan angin yang menerima takdirnya bertiup walaupun kadang hujan turun dan kadang hari panas. Ia masih bertiup menerima takdirnya.


Wajah Kalboza serius. Boba berubah ekspresi dari marah menjadi mengernyit. Membayangkan keanehan ucapan Kalboza.


Apa sebenarnya maksud ucapan Kalboza itu? Ayolah, ini membingungkan. Ucapan Kalboza itu tidak lain terdengar bagi Boba adalah berlagak sok bijak lagi, sok-sokan memberikan kata indah. Menyebalkan! katanya dalam batin, tidak bersuara.


Apa? Menerima takdir? Apa hubungannya dengan angin? Ya, ampun. Ini kacau balau bagi seorang Boba harus ditabok, tetapi tahan dulu. Dia saat ini masih berusaha terus menerus menahan dan menahan.


Takdir? Gendut itu takdir? Lebih kacau lagi, Boba tidak percaya, tidak terima begitu saja. Kalau dia ingin sejak dulu badannya kurus, tetapi apalah daya apalah hendak dikata dia suka makan. Lebih-lebih hari itu, lupakan saja. Itu aib, aib. Boba adalah sesosok yang susah dimengerti dengan maksud tujuannya.


Dua orang sahabatnya. Jalbia dan Glosia masih tetap setia berada di sisi kiri dan kanan memberikan ketabahan dan saran agar tetap berdiam mendengarkan sepahit apa pun. Abaikan dan biarkanlah Kalboza itu berkata sok bijak dan lain sebagainya.


Tutup kuping dan tutup hidung. Eh? Salah. Haduuh, Jalbia geleng kepala. Glosia ngenyir salah ucap. Boba mendengus usai melepaskan tangan menutup hidung.


Kalboza termehek-mehek menatap tingkah konyol manusia gendut di hadapannya. Entahlah, dia sekarang semakin mencerca dengan kata-kata bijak lainnya.


Seakan kata bijak menjadi andalan baginya untuk terus meruntuhkan kesabaran Boba, seolah membesarkan api yang berkobar di dalam sanubari. Api besar menjulang ke awan. Panas, bergerembul awan putih menjadi menghitam pekat. Guntur di dalam sanubari seorang Boba bersahutan.


“Kalboza, apa yang kau ucapkan, apa yang kau perbuat. Semuanya adalah kedustaan yang nyata! Kau masih saja berlagak bijak di depanku. Hah? Di mana saja kau berada, kau berbicara seperti itu dan kau tidak tahu caranya menghargai orang lain, kau sangat pantas dicap sebagai orang dungu yang lahir tanpa bola mata!” Boba berlantang suara. Memancarkan tatapan tajam.


Glosia dan Jalbia langsung memberikan kesabaran lagi, sabar Boba. Inilah sikap menyebalkan si Kalboza yang semua orang pun tahu dari dulu dia memang sok bijak.


Kalboza memalingkan pandangan, menatap awan bergeremet anggun di permukaan langit. Hawa teduh yang jelas terasa dengan tiupan angin sedang menaburkan semerbak wewangian.

__ADS_1


Hatinya sedingin pecahan bola salju dan pikirannya sejernih air yang mengalir ke celah lembah pegunungan. Sementara, Boba masih tidak terima dengan segala apa pun yang telah diucapkan Kalboza.


__ADS_2