Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal


__ADS_3

Ajadala menggantikan posisi Asgaha, dia menuangkannya dengan penuh sensasi, wajah santai perlahan, seperti titik koma yang menunjukkan jeda di antara kalimat dan sebutir debu perlahan tersapu, Ajadala si tikus rakus, jangan tanya, itu sejenis metafora. Tidak penting untuk diingat.


Isi botol di dalamnya tumpah ke dalam gelas, Ajadala sedikit tersenyum kemudian bergumam, "Pekerjaan yang menarik!" Sepertinya dia menyukai pada saat air tertuang dan memenuhi volume gelas.


Lantas, setelah gelas terisi, dia berjalan seraya membawa minuman yang diletakkan bersama makanan. Tepat di wadah berupa piring berukuran kurang lebih tiga porsi makanan. Dalam satu wadah, tidak dalam bentuk terpisah.


Sampai di tempat semula, Kapten Atlana menatap dengan mata yang sedikit sipit, dahinya tampak berkerut.


"Ajadala, mengapa kau membawa makanan, bukankah sudah jelas, aku menyuruhmu hanya sekadar mengambil minuman untuknya." Kapten Atlana berucap tampak tidak suka. Marah, sepertinya.


Ajadala menyeringai. "Ini minuman untuknya, makanan ini untukku sebagai upah dari apa yang telah kulakukan." Tak bertele-tele sambil berucap, Ajadala meletakkan minuman ke tempat Asgaha.


"Ah, di mana Gogoria?" Ajadala kembali bertanya.


Kapten Atlana diam, begitu juga Asgaha tak menjawabnya. Ajadala duduk ke tempatnya dan menikmati makanan yang telah dia bawa. Kala itu, Asgaha tak bersuara, dia juga lekas meminumnya.


Tegukan sederhana. "Ah, rasa hausku telah hilang, aku akan kembali menceritakan keseluruhan kejadian," ucap Asgaha setelah selesai minum.


Kapten Atlana cukup menatap, bergeming seperti apa atau kenapa, tidak diketahui alasannya.


"Jadi, saat itu di kerumunan, salah seorang menyuruhku untuk mengambil pistol—" Asgaha memulai ceritanya, hanya saja sedikit berbeda dengan terputusnya cerita, apa mungkin dia lupa, tidak. Mungkin sebagai pemanis.


Kapten Atlana tersenyum sinis. "Sepertinya itu tidak penting, lompati saja!" Kapten Atlana berucap tegas memotong cepat ucapan Asgaha.


Asgaha mengangkat kening, lalu mengangguk. Eh, tertawa sejenak. "Haha, sekarang aku baru ingat," ucapnya tertawa kecil, lalu kembali meneguk minumannya, usai dari itu dia kembali berucap, "Kejadian yang tadi kusebutkan terjadi di saat Kapten Riyuta tak lagi bernyawa dan kerumunan membeludak amarah."


Kali ini, dia tampak serius. "Ringkasnya begini, Kapten Riyuta melakukan pergerakan hendak menebas orang itu melalui arah atas, pedangnya teracung, tetapi sialnya Kapten Riyuta lengah dan tertusuk pedang hingga dia jatuh dari ketinggian menara."


"Seketika ada banyak mata terbelalak, bahkan seorang penyair bersuara merdu. Tepat saat itu, kerumunan meneriakkan suara, bergema."

__ADS_1


"Bunuh, Bunuh, Bunuh. Itu adalah kata mereka."


"Di setiap tempat hingga Kapten Broboros datang dan menghunus pedang petir, betapa saat itu, cakrawala menunjukkan cahaya kelabu, tetapi sinar dari benda pusaka mampu menghadapinya."


"Benda pusaka?" Kapten Atlana menyela cerita.


Asgaha mengangguk. "Benar, orang itu mempunyai benda pusaka bernama Atramata, pusaka yang mampu menyerap energi alam, aku mengetahuinya dari sahabatku bernama Asdama." Asgaha menjelaskan.


Kapten Atlana berdiam sejenak seperti sedang berpikir, tetapi tidak berucap, melalui ekspresinya, Asgaha berhenti melanjutkan penjelasan dan kembali bercerita.


"Dan pada saat itu, aku tidak berada di tempat kejadian, tetapi aku berada di dalam kedai ini, mengunci diri dan tertutup pintu, senyap suara karena ruangan ini kubangun dengan desain yang telah kutetapkan, aku mengetahuinya dari orang-orang, setelah kejadian itu berlalu—"


Kapten Atlana mengernyit, lantas berucap lantang. "Kau melenceng dari cerita, luruskan, jangan melebar ke segala arah!" Kapten Atlana memotong cepat.


"Hei, aku sedang menjelaskan, mengapa kau memotong di saat mendekati klimaks!" Asgaha sedikit geram, wajahnya tak karuan.


Kapten Atlana tersenyum sedikit sinis. "Orang itu, dia adalah Akma Jaya yang sedang menempuh jalan bimbang." Kepalanya sedikit mendongak, menatap langit-langit kedai.


"Akma Jaya?" Asgaha menyimak.


Kapten Atlana kembali menatap Asgaha seraya mengangguk pelan. "Ya, dialah Kapten yang memimpin kelompok Bajak Laut Hitam," ucap Kapten Atlana kemudian meneguk air putih.


"Bisakah kau jelaskan kepadaku mengenai kelompok Bajak Laut Hitam?" Asgaha meminta penjelasan.


"Tidak perlu kujelaskan, mereka mempunyai misi aneh, bahkan saat pertama kali bertemu dengannya, aku tak suka menatap sorotan matanya."


"Jadi, mereka itu ...."


Asgaha bergumam, tetapi sedikit terdengar oleh Kapten Atlana, sedangkan Ajadala telah menghabiskan seporsi makanan, tersisa dua porsi. Luar biasa dia itu, makan tiga porsi, hanya untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Kapten Atlana kembali meneguk minumannya, lalu melanjutkan ucapan.


"Begitulah, aku mendengar ucapanmu, setiap kelompok mempunyai ciri khasnya, tetapi satu hal yang tidak bisa ubah, kebencian dan kemarahan pasti ada di dalam jiwa seseorang, mereka hanya enggan mengakuinya." Kapten Atlana berucap penuh dugaan mengenai Akma Jaya.


"Begitu? Ah, ya. Bukankah waktu itu kuliat ada dua orang, apakah kau mengenal seseorang itu, dia memakai pakaian bercorak biru laut." Asgaha tampak penasaran mengenai sosok yang sedang ada di dalam isi kepalanya, mungkin.


"Heh, kau masih ingin tahu, dia bernama Tabra. Mereka berdua adalah sahabat dan satu orang lagi, dia seorang wanita bernama Aisha."


"Mereka bertiga memimpin dan membentuk kelompok Bajak Laut Hitam, tetapi dalam hal kepemimpinan bisa kutebak mereka tidak mempunyai pengalaman, amatir!" Kapten Atlana menjelaskan dan di akhir kalimat, dia mengejek dengan sebutan amatir.


Asgaha mengernyit. "Amatir?"


"Apa kau tahu istilah?" Kapten Atlana menyergah cepat.


"Apa itu, sebutkan!" Asgaha mempercepat nada bicara.


Kapten Atlana sedikit mendongak, lalu menatap santai. "Seseorang yang melakukan sesuatu atas dasar keinginan, tetapi kadang mereka melakukannya hanya untuk kesenangan, bahkan tanpa pengalaman mereka berani melakukan hal-hal yang diluar kemampuan mereka, jangan bertanya hasilnya, kau bisa menilainya sendiri." Kapten Atlana menjelaskan, kini raut wajahnya serius tanpa ada senyuman.


Asgaha sedikit menelan ludah. "Akan tetapi, walaupun amatir, lambat laun mereka akan berkembang, seorang amatir yang kau maksudkan laksana burung elang yang terbang menyusuri cakrawala, jangan pernah menganggap remeh mereka!" Dia menepisnya menurut pemikiran yang konsesif.


"Heh, kau bergurau. Lihat saja nanti, apakah benar mereka akan berkembang atau hanya bualan semata!" Kapten Atlana kembali menepis, keduanya saling berlawanan ucapan. Perbedaan dalam segi pemikiran.


Sementara, Ajadala hanya sibuk menyimak dan tampak senang mendengar perdebatan mereka berdua, hanya Gogoria yang tidak ada di tempat itu, dia sedang jalan-jalan menelusuri Wilayah Nanaina lebih luas, ada banyak tempat hiburan, bahkan wanita tak perlu disebut, kasihan mereka tidak memakai busana, berada di dalam ruangan dengan peluh keringat dan napas pengap.


Terkadang hikmah dari sesuatu mengenai itu, di belakang sana, ucapan seseorang bisa saja terkeluar membicarakan tentang perihal diri orang lain, kadang asal tebak, asal ucap, hinaan hingga fitnah atau fakta yang tak seharusnya diucapkan. Gogoria bersantai di dekat pantai.


Matahari perlahan terbenam, suasana bergerak tuk berubah malam, kini keadaan dalam gelap, Gogoria melihat dari kejauhan, sorotan lampu-lampu, hampir dekat, dia melihat ada banyak kapal berukuran besar menuju ke arah pantai, kapal itu berjejer rapi seperti buku di dalam perpustakaan.


Beuh, Gogoria lekas pergi dari tempat itu, bukan pengecut, melainkan katanya tidak pantas dirinya tuk bertemu dengan sekelompok mereka yang tak pernah menganggap dan menghargai sedikit pun.

__ADS_1


__ADS_2