
Di samping kebersamaan ada kala waktu berlalu, di tengah siang, petang, malam, dan berbagai waktu lainnya, beberapa hal terlewat, ada suka maupun duka. Keduanya sejenis bumbu dalam kehidupan.
Sejenis warna yang membuat orang betah tuk melihat berlama-lama, tidak bosan.
Apa mereka sedang berada di daratan? Jawabannya tidak. Mereka sedang di tengah lautan, mengarungi lautan berombak, melewati siang berganti malam, tepat di situ keluh kesah tak terucap seolah-olah lautan memberikan suatu ketenangan, damai.
Embusan angin mendesau, embusan yang mendorong layar kapal, beberapa ikan lomba-lomba menunjukkan sekilas action, melompat—tinggi, tapi sayang jatuh lagi.
Pelayaran yang telah lama mereka arungi bersama, dari gontong royong saat badai, bercanda gurau, Akma Jaya berbeda dari kapten lainnya, dia menganggap anak buahnya sebagai teman, bukan pelayan.
“Aisha, kau kalah!” Tabra menunjukkan gerakan tangan menancapkan pedang.
Mereka berdua sedang berlatih untuk lebih berani menghadapi pertarungan.
Sekarang, bagi mereka berat, insting mengatakan mereka adalah buronan, pasti akan bertemu dengan para bajak laut ganas lainnya karena itu mereka berlatih.
“Kau beruntung, tapi jangan sampai lengah,” ucap Aisha memelesat.
Tabra gesit menghindar. “Gerakan yang lambat,” jawab Tabra santai.
“Wiih, puyuuh.”
“Heh, tentu.”
“Coba kau lihat, mereka itu seperti orang yang kekurangan makan, seperti setahun tak makan, kenapa wajah mereka sangar begitu, ya?”
“Ssstt... tutup mulutmu, nanti mereka dengar.”
“Iya, iya.”
“Udah, simak saja.”
Tabra sekilas mendengar perbincangan mengenai dirinya, lantas menoleh ke arah mereka. “Sudah cukup bicaranya? Sekarang aku membutuhkan bantuan kalian,” ucap Tabra menunjukkan pesona gagah miliknya.
“Puyuuh, tentu saja kami akan membantumu,” jawab salah seorang optimis.
Hanya Aisha yang seperti tidak mendengarnya, padahal jarak di antara mereka cukup dekat, sebutlah sedekat mata melihat, mungkin lebih tepatnya dia tidak menghiraukan apa yang ia dengar.
Saat itu, mereka sama-sama sibuk bertarung hingga Tabra meloncat mundur. Lalu menyeringai.
“Aisha, sekarang kami bersatu, sudah dapat dipastikan kau akan kalah.” Tabra bertutur mantap.
Sementara Aisha mendengar sepintas, cukup balas menyeringai, desir angin bertiup di tengah mereka bagai membentuk sebuah kalimat versus.
Tepat di bawah layar, berada di tengah kapal, ada tiang layar besar di dekat mereka.
Suasana berubah tegang, hening saling bertatapan, terpaku dalam diam, penuh membisu, detak jantung kala itu berdetak kencang, sekencang kuda berlari dan cakrawala bergemuruh petir.
“Eeeeh,” sergah salah seorang.
“Ini tidak adil.”
“Benar juga.”
“Kami tidak ingin membantumu, Tabra.”
Suara itu mencerocos masuk ke lubang telinga. Sekarang, Tabra berwajah datar mendengarnya, lesu, tak ada semangat katanya.
Dia menghela napas panjang, sangat panjang, sepanjang lautan terbentang—angan melambung tinggi, semakin tinggi mencapai awan hingga grativasi bumi menolak dan jatuh. Aduuh, sakit katanya, besok inginkan pelampung, kenapa? tanya anak buahnya, agar pada saat jatuh embuk katanya. Haha.
“Hahaha.” Aisha tertawa.
__ADS_1
“Bagi dua tim, bagaimana?” Salah seorang mengajukan pendapat.
“Setuju.”
“Benar, bagi dua tim saja.”
“Dua tim? Kalian cukup pandai, baiklah. Aku menyukai pendapat kalian,” jawab Tabra menerima usulan. Aisha hanya diam menyimak, tak ada jawaban darinya.
Sekarang, mereka membentuk dua tim, keduanya berhadapan, terdiam menatap, bergeming.
“Serbuuu!” Aisha memulainya dengan suara lantang, berteriak memimpin pasukan.
Pelesatan pedang saling tebas, tetapi ini hanya bentuk latihan, seperti tak ada luka di sekujur badan. Misal, seperti drama klasik, seolah-olah pedang mengenai tubuh, padahal jaraknya lumayan jauh.
Bukan main, tapi ini pedang sungguhan, pada saat itu, masing-masing di antara mereka saling menunjukkan cengkaman tangan memegang erat pedang.
Bunyi dencangan pedang? Jangan tanya, ia bersahutan, teriakan ambisi serangan mereka seolah-olah mengisi suasana dramatis pertarungan.
Tibalah Akma Jaya keluar ruangan melihat semua itu, dia cukup duduk dan menyimak santai.
“Eeh, itu kapten.”
“Astaga, aku tidak menyadarinya.”
Mereka kaget melihat keberadaan Akma Jaya, sedangkan kedatangannya tidak diketahui karena tak ada suara, tapi batang hidungnya muncul begitu saja.
Entah bagaimana caranya, tetapi sebagian dari mereka tak mempertanyakannya.
Mereka pun lantas menghentikan serangan untuk memberikan sikap hormat kepadanya.
Sementara Tabra dan Aisha juga sama, mereka bergegas menghentikan serangan dan memasukkan pedang ke dalam kompang.
“Lanjutkan saja,” katanya lagi cepat tanpa bisa disergah orang.
Mendengar ucapan Akma Jaya, mereka kembali berlatih pedang. Tepat di belakang sana, ada tukang kemudi, dia juga melihat santai seraya memegang setir kapal, di atas layar juga ada orang. Dia sedang mengamati perlayaran.
“Hooii,” teriak orang yang ada di atas layar.
“Di depannya sana Desa Lauma, kita akan segera sampai, tidak jauh, dari sini sudah terlihat rumah-rumah penduduk.”
Akma Jaya mendongak, semuanya juga sama, menatap seruan orang yang memberitahu informasi tersebut.
“Yeah, akhirnya kita akan sampai setelah berhari-hari menempuh perlayaran.” Salah seorang berlompatan senang.
“Hihi, yeah!”
“Benar, syukurlah.” Salah seorang lagi menyahut.
Ketika mengetahui itu, Aisha dan Tabra menghentikan latihannya, mereka pun mempersiapkan diri untuk bertemu orang-orang di Desa Lauma.
Sementara di Desa Lauma, salah seorang melihat kapal Akma Jaya, melalui ciri-cirinya dari layar dan permukaan kapal serta ukuran besarnya, dia cukup lihai dan mengangguk-angguk.
“Hei, itu Akma Jaya!” Dia berteriak lantang.
Teriakan yang mengundang perhatian banyak orang.
“Benarkah? Mana dia?”
“Itu, lihatlah kapal besar itu.”
“Heleh, tadi kau kata Akma Jaya, kenapa kapal pula kau tunjuk nih?”
__ADS_1
“Aduuh, pening kepala aku!”
“Sudah, saatnya kita menyambut kedatangan mereka!” Salah seorang menyergah.
“Ayo!”
“Baiklah.”
Sekarang mereka beramai-ramai untuk menyambut kedatangan Akma Jaya, bahkan sempat berkeliling desa untuk memberitahukan orang-orang. Adfain mendengar sepintas, lalu juga ikut berhadir di dalamnya.
“Apakah mereka telah berhasil mendapatkan inti menara?” gumam Adfain sejenak seraya menatap kapal yang masih ada di lautan, belum berlabuh di desa.
“Akma Jaya, tak kusangka kau akan pulang ke desa ini lagi, kukira kau akan berpetualang, entah kemana?” Lagi-lagi Adfain bergumam.
Keadaan di desa itu sekarang penuh jejal dengan orang-orang, sepertinya yang dimaksudkan dekat itu lumayan jauh, bahkan sempat mereka berseru mengumpulkan orang-orang.
“Tabra, Aisha, dan kalian semua. Bersiaplah bertemu mereka semua!” Akma Jaya berkata menatap ke arah pantai.
“Baik, Kapten.”
“Kapten, topi Anda sedikit miring.”
“Eeh, iya?” Akma Jaya memastikan.
“Iya, Kapten.”
Setelah itu, Akma Jaya lekas memperbaiki kemiringannya dan kembali menatap orang yang berucap demikian.
“Bagaimana? Apakah sudah pas?” tanyanya memastikan.
“Hmmm, sudah.”
“Hihi.”
Di pojok di dinding kapal, Tabra berada di sana bersama Aisha.
“Haduuuh,” ucap Tabra mengembuskan napas sedikit keluh.
“Tabra, kau kenapa?” tanya Aisha.
“Tidak ada apa-apa," jawab Tabra.
“Ya, sudah. Sana pergi!”
“Pergi ke mana?”
“Pergi dari hadapanku!”
“.......”
Tabra tak menjawabnya, sekarang dia berwajah datar, Aisha tertawa melihatnya, begitu pun anak buah, tapi tak semua, beberapa ada yang menahan tawa agar tak terlalu nyaring.
Kadang terdengar sepintas garing, keriting, candaan mereka entah mengapa sederhana, yang tertawa cuma mereka, di belahan bumi sana. Pasti ada yang bilang: “Ini apa? Tidak lucu sama sekali.” Atau lebih ngeri lagi: “Cringe! You crazy?”
Jawab saja begini: “No, you stupid!” Eeeh, jadi saling ejek, “Relax!” katanya. Benar itu? tanya salah seorang. Tidak! katanya, “What?”
“You Understand?” tanya orang di samping kirinya. “Eh, no, I do not understand.” dia kaget sambil geleng-geleng kepala.
“Intinya kita akan segera sampai,” sergah salah seorang, “Yeah! OHoooiii.” Haha, dia kembali berteriak, kata temannya harus semangat, dia semangat, tapi tidak begitu juga, sih. Berbeda dengan yang lain, mereka tampak diam—tak ada suaranya—diam itu emas katanya.
Mereka cukup diam, sudah itu saja sembari menunggu kapal tiba di desa Lauma.
__ADS_1