
Besok lusa libur adalah kalimat pembuka dari apa yang tidak diketahui seseorang bagaimana pastinya akan keadaan besok. Besok lusa adalah pertemuan mereka dengan Raja Hurmosa. Yang mana libur kali ini bukan berarti mereka bersantai.
Libur bagi mereka adalah berhenti sejenak. Bebas dari bekerja yang tentu menguras pikiran dan tenaga. Libur ini tentang petualangan menuju padang pasir yang gersang.
Menuju rintangan yang tak tertandingi. Rasa yang menggebu dalam satu-dua rasa itu bisa dikatakan.
Mereka ingat moment itu sejak dulu kala. Seorang pelaut berkebangsaan Hindian Barat menyelam ke dasar samudra dan bertemu salah seorang raja.
Bawah samudra yang terhubung langsung ke sebuah portal. Dia masuk ke dalamnya melihat banyak hal. Dari yang dia tidak tahu sampai ke hal yang dia tahu.
Raja itu merajai dari dataran yang isinya tidak lebih hanyalah seperti senda gurau. Rakyatnya makmur sentosa, penuh senyuman si isi penduduk. Negeri itu berada di seberang antara benua Ruyanisma dan benua Maura Hiba yang dikelilingi awan di setiap penjuru, terkenal di kalangan masyarakat sekitar sebagai pulau kura-kura yang mana pulau dan kerajaan itu bisa bergerak sendiri ke mana pun arah yang mereka inginkan.
Selang beberapa tahun periode berganti, daun di musim gugur menggugurkan hikayat demi hikayat. Periode tahun baru sang anak bermetamorfosis menggantikan posisi ayahnya. Anak itu menjadi Raja.
Anak inilah yang dikenal orang dengan nama Hurmosa. Konon cerita, itu karena selera humornya yang absurd dan suka memaksa dalam hal memberi. Raja Hurmosa ini terkenal akan kebaikannya dan menerima gelar tersebut. Itulah mengapa dia dijuluki Hurmosa. Humornya absurd dan suka memaksa dalam hal memberi. Kepemimpinan itu terjadi selama empat tahun lamanya hingga datang salah seorang penyihir yang dikatakan Raja Hurmosa penyihir itu orang jahat yang hendak mengajarkan ajaran sesat. Sontak saja, api fitnah tersebar ke seluruh kerajaan.
Kesalahan ini seperti lava yang sekejap melenyapkan lilin, sekejap melenyapkan bangunan megah yang berdiri kokoh di sana. Penyihir itu tidak terbukti kejahatannya dan memang dia tidak memperbuat kejahatan itu. Dia terbang ke cakrawala membaca beberapa mantra dan mengutuk Raja Hurmosa. Semenjak saat itu, penawar terus dicari.
Penyihir itu menghilang! Malapetaka seakan menghantui Raja Hurmosa. Dia amat menyesal menuduh sembarangan tanpa bukti yang jelas.
Fitnah itulah kesalahan besar dalam hidupnya. Semenjak saat itu, dia sadar siapa dirinya. Kebaikan tidak menjamin hidup akan selalu baik kalau tidak bisa menjaga lidah. Bersumber dari lidah yang tutur katanya cacat dalam menuturkan kata, berakibat fatal bagi dirinya dan kerajaannya.
Berpuluh tahun berlalu. Musim dingin berganti sebanyak hitungan jari. Raja itu mendiam dalam tangis penyesalan, rakyatnya menjadi tidak tentram.
Wajah dengan tubuh aroma amis itu tercium ke seluruh kerajaan. Bersembilu di hatinya dalam menahan penyakit dan terus berdiam dalam keadaan yang tak lagi sama, Raja Hurmosa terpaksa mendekap dalam kamarnya, beserta tangis yang tidak tertahankan lagi bagaimana rasa sakitnya.
__ADS_1
Suatu hari salah seorang datang menghadap dan memberi kabar gembira. “Baginda Raja, kami sudah menyusuri banyak wilayah, di salah satu tempat. Kami bertemu sekelompok bajak laut yang selama ini dicari banyak bajak laut lainnya untuk dibunuh. Obat penawar itu ada pada mereka. Apa tindakan yang hendak baginda lakukan. Akankah kita menyendera mereka atau memasukkan mereka ke dalam penjara?”
Baginda Raja Hurmosa berpikir bijaksana, lantas berkata, “Jangan lakukan keduanya. Kirim utusan, suruh mereka menunggu di teluk. Agar aku bisa menemuinya sendiri. Kudengar mereka itu kelompok bajak laut yang sebenarnya adalah orang baik. Kita tidak bisa melakukan hal itu kepada mereka, terlebih mereka punya penawar atas penyakitku. Bagaimanalah mungkin kebaikan dibalas kejahatan?”
“Tapi, mereka itu penjahat, Baginda?”
“Itu hanya rumor. Kita belum tahu yang sebenarnya.”
Raja Hurmosa tidak ingin membahasnya dan lanjut bicara. “Lakukan seruanku. Hanya di teluk itu, di mana aku mendapatkan peti jarahan dari kelompok Bajak Laut Jaraya. Mereka mungkin tertarik menukar obat penawar itu dengan peti tersebut. Di teluk itu juga adalah tempat yang sepi, sangat cocok untuk buronan seperti mereka dan tentu saja untukku mengadakan pertemuan dengan mereka.”
Seorang yang menghadap tadi mengangguk-angguk. Usai itu izin pamit menunaikan titah sang Raja. Utusan kemudian dikirim secepat kilat dari yang kau tahu, teman.
Sepuas rasa itu usai dilontarkan. Di mata-mata yang terurai sajak dan pelipis yang menahan tetes demi tetes.
“Raja Hurmosa, kita bertemu. Ini awal pertemuan yang menarik. Kau mengambil peti jarahan itu dari kami.” Akma Jaya selalu berubah nada bicara kalau bertemu orang asing.
“Lebih menarik lagi, kau justru tahu namaku walaupun tidak kuberitahu.” Raja Hurmosa juga sama, selalu mencocokkan nada bicaranya dengan siapa dia bicara.
Raja Hurmosa langsung ke inti. “Aku ingin mengadakan perjanjian dengan kalian. Antara peti jarahan dan obat penyembuh yang ada pada kalian. Kita adakan penukaran yang berbanding impas.”
Tabra merasa perlu ikut campur. “Ah, tidak segampang itu, Raja Hurmosa. Kudengar penyakitmu adalah penyakit langka. Dan ini obat penawar yang telah kau cari selama puluhan tahun. Penukaran antara peti jarahan dan obat penawar ini tidak sebanding. Bahkan peti jarahan itu, kelompok kami hampir saja mendapatkannya, tetapi pasukan istanamu mengepung kami dan merebut peti itu.”
“Dan dengan polosnya kau berperilaku dan bertingkah konyol di hadapanku.” Tabra mengucapkan kata yang terdengar lancang.
“Heh, kau siapa? Aku adalah raja yang merajai wilayah dari negeriku hingga ke teluk ini. Jagalah bicaramu kalau tidak ingin kau binasa dan dihukum mati!” Raja Hurmosa mengancam. Tabra naik pitam.
__ADS_1
Akma Jaya selalu tahu Tabra temperamental. Dia merentangkan tangan dan berkata. “Santailah dan kau tahu diam lebih baik daripada banyak bicara.”
“Raja Hurmosa, apa yang tadi dikatakan Tabra itu semua ada benarnya. Aku menginginkan beberapa hal yang harus kau penuhi.”
“Apa yang kau inginkan?”
“Ada sebuah perjanjian lama di surat yang ditulis Kapten Atlana, dengan tahta dan istana yang kau punya. Untuk di wilayahmu, aku menginginkan sebuah tempat pengasingan dengan tahtamu lindungi kami. Lebih sopan kata yang ingin kusebut adalah bantu kami dalam menjalankan rencana untuk memusnahkan bajak laut.”
Raja Hurmosa menyeringai. “Jadi, kelompok kalian ini terbentuk atas misi sekeji itu? Amat sungguh tidak bisa kupercaya, kau tidak malu mengatasnamakan kelompokmu dengan nama bajak laut dengan misi sekeji itu. Kalian penjahat yang seharusnya kupenggal dan dihukum mati.”
“Tidak ada urusannya bagimu. Obat penawar itu ada pada kelompok kami. Kalaupun kau mau menukarkannya tukarkanlah dengan yang tadi kusebutkan beserta peti jarahan yang sebenarnya pasukanmu telah merampasnya dari kami.”
Raja Hurmosa tersenyum miring, “Baiklah. Tidak ada pilihan lain yang harus kupertimbangkan.”
Dibalik senyuman Raja Hurmosa itulah Tabra berprasangka yang tidak-tidak. Prasangka bahwa Raja Hurmosa punya niat yang buruk. Ringkas cerita itulah pertemuan mereka hari itu.
Di mana kalimat janji dituturkan. Perawakan terdiam beku. “Bagaimana kerja sama kita ini bisa terjalin dengan kuat? Karna ini adalah janji di antara laut dan samudera. Di antara tahta dan istana!” Raja Hurmosa mengucapkan janji, mengutip kata luka.
Begini katanya. “Luka dan dendam yang tertinggal akan mengakibatkan sakit hati yang mendalam. Lalu bagaimanakah dengan dirimu. Apa yang akan kau perbuat duhai orang yang mengikat janji denganku.”
Masih panjang kalimat-kalimat itu yang entah kapan selesai. Sinar dalam relung yang seakan tak memberi kesan berarti bagi diri seorang Tabra menatapnya.
Mendengar jawaban Akma Jaya yang ingin memusnahkan bajak laut dari muka bumi. Saat itulah Raja Hurmosa berubah pikiran. Mereka memang penjahat, begitu gumam Raja Hurmosa.
Besok lusa. Pertemuan itu akan terjadi lagi dan entah bagaimana mereka bisa bertemu nantinya.
__ADS_1