
Akma Jaya tetap pada keadaan yang sama, duduk menatap Kapten Atlana.
"Kenapa kau tidak pergi? Apa kau belum puas melihat kekalahanku!" ujar Kapten Atlana masih dikuasai amarah.
"Atlana, tenangkanlah dirimu! Aku bukan orang yang seperti itu," jawab Akma Jaya mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
Akan tetapi, Kapten Atlana menepis secara mentah-mentah, wajah cemberut dengan mulut tertutup ke arah bawah.
"Kau tak pantas menyentuhku!"
"Pergi dari hadapanku!" Kapten Atlana berucap marah.
Akma Jaya mengangguk.
"Baiklah, jika itu kehendakmu, aku akan meninggalkanmu dengan beberapa nasehat yang ingin kuutarakan kepadamu!"
Akma Jaya tersenyum manis, menatap hangat penuh hawa damai, tidak menunjukkan permusuhan sama sekali.
"Cih, aku tak butuh nasehat dari orang munafik!" Kapten Atlana menjawab kasar tanpa moral, menyebutkan sesuatu yang dianggapnya benar, sesuatu tanpa dasar, tanpa rujukan, tanpa sebab, sembarangan.
Akma Jaya menelan apa yang dikatakan Kapten Atlana tentang dirinya.
Akma Jaya tidak membalas ucapan itu dengan kata kasar, dia hanya berdiam mendengarkan.
"Cepat, pergilah dari hadapanku!" Kapten Atlana tetap sama, berucap untuk menyuruh pergi.
Kendati demikian, Akma Jaya masih tetap diam di tempat, sebelumnya dia ingin beranjak pergi, hanya saja Akma Jaya tampak ragu tentang kebencian yang dimaksudkan oleh Kapten Atlana.
Jika itu dibiarkan, asumsi akan melebar, berita bohong akan tersebar luas tak diinginkan. Sebagai perumpamaan semata, seekor serigala yang memangsa, ia menyeret mangsa sambil berjalan, terbawa bangkai berceceran darah. Orang-orang melihat penuh tanda tanya, tetapi serigala tidak menjelaskan alasan sebenarnya, ia seekor binatang tidak bisa menjawab menggunakan akal pikiran, akibat dari kejadian yang dilihat oleh mata, bermunculan kata dibalik itu semua.
Akma Jaya cukup menyakinkan, dia menatap Kapten Atlana berujar lirih penuh drama klasik seperti film-film pada umumnya.
"Atlana, aku menyadari kebencian itu memang ada, ia tercipta karena cinta, mencintai sesuatu, seperti desaku, kehilangan membuatnya ada, muncul disela-sela rasa sedih dan cinta yang telah patah."
"Ia juga tercipta dari kumpulan amarah dan kekesalan, keduanya bercampur menjadi satu menciptakan suatu kebencian."
"Akan tetapi, Atlana. Aku sangat mencintai ibuku, dia selalu ada dalam benak pikiranku, kemana pun aku berlayar, menemaniku dengan suatu kata berbentuk nasehat, kau tak tahu mengenai itu, tentang nasehat yang mendamaikan kebencianku."
Akma Jaya berkata serius tanpa sedikit pun menunjukkan ekspresi lain. Jelas sekali, tatapan mata yang menusuk Kapten Atlana, bukan tatapan semata, tetapi bentuk kata terucap, sedikit mengandung sesuatu yang menusuk, entah apa? sulit menjelaskannya.
Kapten Atlana bersegera bangun dari posisinya, berwajah marah. Seketika tanpa jeda, dia mengayunkan genggaman tangan, menuju ke arah wajah Akma Jaya, tetapi pergerakan itu dapat ditebak oleh Akma Jaya, dengan cepat dia menahan genggaman tersebut.
"Atlana, hentikan semua ini. Bukankah duel diantara kita telah usai?"
__ADS_1
"Apakah kau menginginkan aku untuk membunuhmu?" Akma Jaya berucap seolah memancing-mancing suasana.
Mendengar itu, Kapten Atlana melepaskan genggaman tangannya.
Kapten Atlana mendengus.
"Apa kemauanmu?" Pertanyaan sederhana dari Kapten Atlana, setelah itu dia menawarkan kekuasaan, tetapi Akma Jaya menolaknya.
"Atlana, itu bukan tujuanku!" jawab Akma Jaya ringkas menunjukkan penolakkan.
"Lantas, apa tujuanmu?" Kapten Atlana kembali bertanya, nada tinggi, mata memelotot tajam.
"Tujuanku adalah berkelana, mengarungi lautan, menjaga dan melindungi orang-orang yang berlayar!" Akma Jaya menjawab santai.
"Apakah kau ingin menghabiskan hidupmu sia-sia?" Kapten Atlana tepat memusatkan arah bola mata tertuju ke hadapan Akma Jaya. Mendelik penuh wibawa.
Akma Jaya tersenyum geleng.
"Bagiku, apa yang kulakukan, apa yang sekarang menjadi tujuanku, itu tidak sia-sia karena aku menjalani dengan harapan yang telah lama aku menanti masa dimana aku hidup tentram!"
"Terkadang, Atlana. Tujuan hidup membuatku merasa kuat dan kebencian itu hilang dari hadapanku serta benak pikiranku!" Akma Jaya menjelaskan tentang apa yang dikatakan oleh Kapten Atlana. Dia menolak ujaran dengan cara yang halus.
Kapten Atlana mencibir lebar mendengarnya, memperluas kata terperangkap, menunjukkan rasa tidak percaya yang kuat, menganggap Akma Jaya seorang munafik, penipu ulung.
"Jika kau menganggapku demikian, aku memakluminya karena ini adalah awal pertemuanku denganmu ...." Akma Jaya kembali menuturkan kalimat.
"Tanyakanlah kepada mereka berdua, apa kau mengetahui kehendak mereka? Kau memang seorang kapten sampah, tak memperhatikan anak buahmu secara jelas!"
"Aku bertanya kepadamu, siapakah yang membuat nama kelompokmu? Kau tidak lebih hanya sekadar boneka untuk kepuasan mereka!"
Kapten Atlana memanjatkan ujaran yang panjang, sedangkan Akma Jaya mendengarkan, setelah Kapten Atlana selesai berujar, Akma Jaya mengalihkan pandangan menatap ke arah Tabra dan Aisha.
"Aku memutuskan untuk pergi dari hadapanmu!" Kapten Atlana beranjak pergi, dia berjalan walau terhuyung.
Sesaat kemudian, dia berhenti.
"Kau pasti sedang berpikir untuk melakukan balas dendam!" Kapten Atlana berucap dengan pandangan mata lurus ke depan, posisi membelakangi Akma Jaya, setelah itu dia berjalan.
Akma Jaya berjalan menghampiri.
"Atlana, aku ingin mengetahui di mana tempat markas Kapten Kaiza?" Akma Jaya berucap sambil berjalan menyusul Kapten Atlana.
Kapten Atlana berhenti melangkah, menoleh ke arah belakang, menatap Akma Jaya yang sudah berdiri tepat di belakangnya.
__ADS_1
"Katakan saja, kau membencinya dan ingin membalas dendam!"
"Aku tidak membenci siapa pun, tidak pula ingin membalas dendam."
"Lantas, apa keinginanmu untuk mengetahui markas Kapten Kaiza?"
"Aku ingin memberinya sedikit pelajaran!"
"Bukankah itu sama? Kau jelas membenci dan ingin membalas dendam!"
"Bagiku, itu tidak sama, aku ingin meminta bantuanmu, sebarkanlah kelompok kami, Bajak Laut Hitam, sebarkanlah sampai ke pelosok negeri di wilayahmu!"
"Apa keuntungannya buatku?" Kapten Atlana berucap sedikit meminta keuntungan dari apa yang dia inginkan.
Akma Jaya mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, sebuah butiran berwarna putih cerah, mengkilau terkena sorotan sinar matahari.
"Saat aku berada direruntuhan, aku menemukan kristal ini, kristal berharga yang sangat mahal harganya!" Akma Jaya berucap seraya memperlihatkan kristal tersebut.
Kapten Atlana melihat takjub, memilih langsung mengambilnya dan menyetujui untuk menyebarkan berita tentang kelompok Bajak Laut Hitam.
Kapten Atlana tersenyum sinis, ciri khas senyuman yang menjadi andalan buatnya.
"Markas Kapten Kaiza berada di desa Jauma, tempat dataran yang luas penuh kehijauan di sanalah dia membangun markas megah penuh kapal-kapal besar."
"Namun, kemampuan Kapten Kaiza di atas dirimu, bahkan ayahku tidak dapat mengalahkannya, sekarang dia pemegang gelar yang pertama dari Pilar Tujuh Lantai!"
Akma Jaya mengangguk mendengarnya.
"Baiklah, aku akan terus menunggu, saat dia berusia semakin tua atau kematian yang mendahuluinya." Akma Jaya menjawab, menunjukkan wajah santai.
Kapten Atlana mengerut heran.
"Jika dia mati karena ditelan usia, kau tidak akan bisa membalaskan dendammu!" Kapten Atlana berucap melangkahkan logika mengenai balas dendam Akma Jaya.
Akan tetapi, Akma Jaya menggelengkan kepala.
"Atlana, bukankah kukatakan diawal, aku bukan balas dendam, hanya sebatas memberi pelajaran!"
"Terserah dirimu, Akma Jaya!"
Kapten Atlana berjalan menjauh, dia berseru kepada anak buahnya untuk merangkul dirinya berjalan menuju kapal.
Akma Jaya tersenyum menatap Kapten Atlana, pertemuaan pertama, pertarungan duel yang mengingatkan masa lalu.
__ADS_1
Masa lalu bersama Haima–sang ibu yang telah memberikan nasehat kepadanya.
Sungguh berkesan.