Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita


__ADS_3

Ashraq di sekitar kerumunan, jauh dari tempat semula dia berdiam, di siang hari yang terbayang panas, tidak. Awan mendung, tidak terasa hawa panas. Di ujung kerumunan Ashraq berada, entah apa yang dia inginkan.


"Berapa lama ini terjadi?" Ashraq bertanya kepada salah seorang berbadan kurus, berambut panjang, berkulit sedikit putih, tak tanggung-tangung. Dia penuh keberanian dan santai, tak ada celah takut sedikit pun.


Orang yang ditanya, dia mengangguk. "Tepat saat matahari berada di tengah bumi, sepertinya." Orang itu menjawab ragu.


"Oh, begitu?" Ashraq balas mengangguk.


Ashraq kembali berjalan meninggalkan orang itu setelah mengucapkan terima kasih karena sudah memberi tahu dirinya.


Di lain keadaan, Aisha sampai di tempat kerumunan, dia melihat ada banyak orang, jejal sekali, gencet dengan sorotan amarah yang meluap-luap, dan sebagian lagi menatap sedih ke arah jasad Kapten Riyuta.


Aisha sedikit bergumam, "Kapten, Tabra ...." Aisha menatap ke puncak menara, di mana Tabra berbincang dengan Akma Jaya, di kerumunan ada banyak ghibah beredar, bergetar menembus telinga. Aisha sedikit terganggu mendengar suara-suara tersebut.


Bahkan, dia berusaha menenangkan diri sesaat, menghela napas damai, diam tak bergerak hingga dia memutuskan untuk berjalan pelan membelah barisan kerumunan.


Sementara, Asgaha mempercayai apa yang sudah dikatakan oleh Asdama. Dia bersegera cepat balik ke kedainya dan mengambil senjata pistol. Kecepatan kaki berlari tak memakan waktu lama. Di sekitaran tempat tampak jalanan sunyi, rupanya mereka semua berkumpul di tempat menara.


Seorang kutu buku, dia penasaran dan ikut serta bersama Asgaha—berlari menuju ke tempat kerumunan.


Tak lama kemudian, mereka sampai di tempat kerumunan, tangan yang menenteng senjata pistol, gopoh terengah-engah.


"Kau lama sekali!!" Orang yang menunggunya marah tak terima dengan keterlambatan orang lain. Apa itu? Hah, payah, ditambahnya perkataan sedikit merendahkan. Akan tetapi, Asgaha memaklumi dia memang terlambat.


Sahabatnya—seorang kutu buku—bergumam, tepatnya berbisik ke telinga Asgaha. "Tunggu apa lagi? Cepat serahkan senjata itu, nanti dia bertambah marah," ucap Asdama sedikit terlihat gugup, peluh keringat berceceran di area dahi.


Asgaha mengangguk, dia menatap orang yang di hadapannya santai, tidak gugup.


"Ini senjata pistol yang kau inginkan!" Asgaha menyerahkannya bersuara laki, tegas dengan posisi badan lurus, kepala menghadap, mata tak berkedip.


"Bagus." Jawaban ringkas diucapkan dan mengambil cepat dari tangan Asgaha.


"Dengan adanya senjata ini, aku akan bersegera menembaknyaa, hahaha!" Orang itu berucap dengan intonasi keras. Sampai telinga yang berada dekat dengannya hampir tangan bergerak menutupi lubang, tempat di mana suara itu menerobos.


Asdama kembali berbisik, "Ini orang terlalu percaya diri." Asdama cukup bisa menebak kemampuan seseorang, keseharian membaca membuatnya paham akan karakteristik seseorang.


"Hei, diamlah. Nanti dia mendengarnya, kau ingin ditembak olehnya?" Asgaha menjawab sama—berbisik.

__ADS_1


"Lebih baik kita menjauh dari sini." Asdama melanjutkan bisikan.


"Ayo, itu saran yang bagus!" Asgaha tak tinggal diam, dia menarik tangan Asdama.


Mereka berdua perlahan, tapi pasti menjauh dari tempat tersebut. Sementara, orang itu memandang senjata.


"Ini pertama kali, aku memegang senjata, haha luar biasa, senjata ini akan membunuh mereka berdua," ucap orang itu bermaksud Akma Jaya dan Tabra.


Di puncak menara, Akma Jaya melihat akan hal demikian, di bawah menara yang jauh dari pandangan mata, senjata itu diacungkan, diarahkan, dibidik menuju sasaran.


"Tabra, apakah kau melihatnya?" Akma Jaya bertanya sekadar tatapan biasa.


"Iya, saya melihatnya!" Tabra menjawab seraya mengangguk.


DOOOR!


Pelesatan peluru memelesat menuju ke arah mereka. "Tabraaa, menghindar!!" Akma Jaya berteriak lantang.


Tabra sigap berpindah tempat, begitu juga dengan Akma Jaya—syukurlah mereka selamat.


Betapa kekesalan membuatnya tak lihai dalam penembakan, sungguh amatir yang dikuasai emosi, tak bisa mengendalikan diri.


DOR! DOR! DOR!


Dia kembali menembakkan pistol, tembakan dia lakukan berkali-kali, mungkin bertubi-tubi, tetapi hasilnya masih nihil—tidak tepat sasaran, dia berdecak kesal karena tidak dapat mengenainya.


"Senjata macam apa ini?" Ucapan dalam bentuk kekesalan, konyol. Jelas sekali, itu senjata pistol, mengapa dia mengatakannya, kadang kala amarah membuat seseorang tak dapat berpikir jernih, bahkan kemudian dia menghempaskannya. Beh, keras. Itu pistol rusak, tidak bisa digunakannya lagi.


Histori cerita, jika hidup ini adalah sebuah cerita, apa mungkin kesedihan, kemarahan, kebahagian dan semua perasaan itu adalah konflik di dalamnya, menangis di waktu kehilangan, kesederhanaan kata yang berbentuk bahasa jiwa, kematian Kapten Riyuta menyisakan duka mendalam bagi kaum wanita, di mana ketampanan tiada tara, bentuk ucapan yang susah diungkapkan, begitu. Terindah katanya.


Air mata berderai tumpah begitu banyak, sangat pedih menyesak, menyayat sanubari, memanaskan sekitaran hingga kepingan salju mencair, kepingan harapan itu telah pecah dipukul derita.


Akma Jaya orang durjana katanya


Angka satu dan dua


Berdampingan angka tiga

__ADS_1


Satu, dua, tiga


Bait-bait nada terucap gagap


Seorang penyair menatap diam, dia tak lagi bergumam, bersyair pun kelu, membisu, menunduk dan merenungi kehidupan yang telah berlalu.


Dari sudut pandang berbeda, benar. Akma Jaya seorang yang telah melakukan pembunuhan. Durjana, bahkan lebih dari itu, tak mempunyai rasa kemanusian.


Betapa kepahitan sebuah pedang membuktikan deraian darah bercucuran, ia tak dapat menjelaskan, percuma. Di kala, ratusan orang berjejer, berkerumun menyalahkan diri, apa hendak dikata? Kesalahan harus dipertanggung jawabkan.


Di puncak menara itu, Akma Jaya menatap iba ke arah kerumunan. "Tabra, saatnya aku turun!" ucapnya penuh tatapan bersalah.


"Kapten, apa keputusan yang Anda ambil?" Tabra bertanya sedikit serak, suara tak lantang, kemungkinan dia merasakan hal yang sama dengan Akma Jaya.


Akma Jaya menggeleng. "Tak ada, keinginanku turun untuk bertanggung jawab atas semua ini, menerima hukuman yang mereka berikan. Dengan begitu, damai sudah, sebelumnya pernah kukatakan jika aku mati, kuharap kalian berdua tetap bahagia, bersama selamanya." Akma Jaya menjelaskan.


"Lagi-lagi, sepertinya aku menambah perkataan," ucap Akma Jaya sedikit tertawa.


"Selamat berpisah, Tabra." Akma Jaya mengulurkan telempap untuk berjabat tangan, Tabra menatap sorotan mata yang berair—hendak menetes, tapi tak menunjukkan tetesan, hanya genangan—belum tumpah.


Di sekitaran Akma Jaya, terdapat sebuah palu besar yang ada didekatnya, dia ambil dan acungkan. Di kala itu, kerumunan menatap penuh takjub, sesosok Akma Jaya tidak lebih dipandang rendah oleh mereka. Itulah mengapa kadang sesuatu yang dianggap remeh, bahkan dicela, tetapi kelebihan seseorang tak pernah tahu.


Dunia ini, raga, pikiran dan hati, semua itu bersatu padu dalam tubuh, berlalu hari, bercengkerama. Bahkan, tenaga bersatu dalam kesatuan yang sama—gotong royong.


Di tengah riuhnya kerumunan, Akma Jaya mengangkat palu penuh wibawa.


"Crazy, dia luar biasa!"


"Hei, apa kau belum melihatnya, dia menaiki menara sambil membawa palu itu." Orang di sebelahnya menjelaskan.


Aisha melihat, Ashraq menatap, Asgaha memandang, Asdama menyorotkan mata tak berkedip, tertuju mentok ke puncak menara—tempat Akma Jaya berada.


"Whoooo!" Salah seorang anak buah di kapal bersorak mengangkat tangan.


"Ada apa? Kenapa kau berteriak begitu?" tanya salah seorang lainnya.


"Kapten? Dia mengangkat palu berukuran besar, sulit dipercaya." Dia menjawab, jawaban yang membuat mereka kembali berebut teropong. Ingin melihat detail keseluruhannya.

__ADS_1


__ADS_2