Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty


__ADS_3

Akma Jaya sudah mengembuskan napas terakhirnya pada saat berada dalam dekapan Tabra, beberapa mimpi yang dia harapkan tergambar dengan sendirinya.


Tentang mimpi dengan masa yang telah berlalu, tepatnya pada tahun yang ke 1665.


Tepat hari itu, hari yang mengembirakan bagi Haima, begitu pun juga dengan Kapten Lasha melihat anaknya tumbuh dengan perkembangan yang sempurna.


Wajah Akma Jaya mulai terlihat ketampanannya, sekilas dia mirip dengan Haima, dari sorotan mata dan juga dagunya, sedangkan badannya mirip dengan Kapten Lasha.


Berbagai harapan sudah Kapten Lasha titipkan pada Akma Jaya mengingat usianya yang sudah 55 tahun.


Usia Kapten Lasha semakin menua, tetapi dia tetap pada pendiriannya, tetap seperti dulu berdarah dingin, kecuali dengan Haima dan Akma Jaya.


Sementara itu, Tabra sekarang berusia 16 tahun, dia lebih dewasa dari Akma Jaya dan usia mereka berdua selisih 1 tahun.


Mereka berdua tetap bersahabat sampai sekarang, tepat hari ini mereka juga sudah menjalani 8 tahun yang telah berlalu bersama-sama dengan ikatan persahabatan satu sama lain.


Akma Jaya belum diizinkan untuk berlayar, Kapten Lasha perlu sedikit melatih dia untuk terbiasa dengan lautan, akhirnya Kapten Lasha membuatkan sebuah perahu kecil dengan dayung sebagai alat untuk menggerakan perahu tersebut.


Akma Jaya sangat senang mendengar itu, walaupun hanya perahu kecil, sudah lama dia ingin berdekatan dengan lautan, keinginan itu terpendam begitu lama dan sekarang Kapten Lasha mengajaknya untuk terbiasa dengan lautan.


"Ayah, benarkah itu?" tanya Akma Jaya dengan girangnya.


"Kau harus terbiasa dengan ombak yang menerpa kapal, belajarlah mulai sekarang melaut agar kamu mengerti." Kapten Lasha berucap dengan tegasnya.


"Baiklah, apa boleh Akma mengajak Tabra?" tanya Akma Jaya.


"Terserah kau saja!"


Kapten Lasha menjawab sambil berjalan ke tempat yang sudah dia katakan untuk menunjukan perahu kecil itu, sedangkan Akma Jaya mengikutinya dari belakang.


Sampai di tempat perahu kecil itu, Akma Jaya tampak bersorak dengan girang, dia bergegas meminta izin kepada Kapten Lasha untuk memanggil Tabra.


"Ayah, izinkan Akma untuk memanggil Tabra ke sini," ucap Akma Jaya meminta izin.


Kapten Lasha mengangguk, "Baiklah, aku ada urusan sisanya terserah padamu. Ingat! Biasakan diri dengan terpaan ombak dan ikuti saja gerakan ombak kemana ia akan menerpamu."


Kapten Lasha berucap sambil beranjak pergi dari tempat itu, begitupun juga dengan Akma Jaya.


Akma Jaya mendatangi tempat tinggal Tabra, sesampainya Akma Jaya di tempat itu, terlihat Aisha sedang mencuci pakaian, Akma Jaya menyapanya dan bertanya,


"Aisha, di mana Tabra? Apakah engkau melihatnya?"

__ADS_1


"Tabra sedang ke pasar membeli makanan, tunggulah sebentar. Silakan duduk di bangku itu," jawab Aisha sambil menunjuk bangku yang berada dekat dengan rumahnya.


Akma Jaya pun duduk di bangku tersebut, matanya tak bisa diam, dia menengok ke kanan dan juga ke kiri, Aisha melihat Akma Jaya yang tampak gelisah.


"Ada apa, Akma? Kenapa engkau terlihat gelisah begitu?" tanya Aisha sambil mencuci pakaiannya.


"Sebenarnya aku bukan sedang gelisah, tetapi aku sudah tidak sabar untuk mencoba perahu kecil yang ayah berikan padaku," jawab Akma Jaya menjelaskan kepada Aisha.


Aisha tampak tersenyum seraya berkata, "Jadi begitu!"


"Iya, begitulah. Dengan perahu itu aku akan berlatih untuk membiasakan diri dengan lautan," ucap Akma Jaya menjelaskan.


Tiba-tiba datang seseorang berjanggut putih berbadan gendut, dia adalah ayah dari Aisha dan Tabra.


"Hei, apakah engkau orang yang bernama Akma Jaya?" Orang itu berucap sambil memandang ke arah Akma Jaya.


Akma Jaya tidak pernah bertemu dengan orang itu, mereka berdua sama-sama tidak pernah bertemu, sedangkan orang itu mengetahui Akma Jaya hanya dari namanya saja.


"Benar, Ayah. Dia adalah Akma Jaya!" jawab Aisha menjelaskan pada ayahnya.


Dia tertawa mendengarnya. "Hohoho ... kau sudah tumbuh besar rupanya," ucapnya memeluk Akma Jaya dengan tangan kanan yang merangkul bahu Akma Jaya dan tangan kiri yang mengelus kepala Akma Jaya.


Akma Jaya hanya bergeming dan menunjukkan senyumannya.


"Aku belum pernah bertemu denganmu, syukurlah sekarang aku bisa bertemu denganmu, perkenalkan namaku Alba, ayah dari Aisha dan Tabra."


Lanjut orang itu sambil memperkenalkan dirinya.


"Baiklah, aku adalah Akma Jaya. Senang bertemu denganmu!"


"Hohoho ... aku banyak mengetahui tentangmu dari Tabra, terima kasih karena kau sudah mau menerima Tabra menjadi sahabatmu," ucap Alba yang terlihat senang dengan itu.


Akma Jaya mengangguk mendengarnya.


"Iya, seharusnya akulah yang berterima kasih kepada Tabra yang menjadi sahabatku, kami berdua selalu bersama pada waktu suka maupun duka."


Alba tertawa mendengarnya.


"Hohoho ... kau begitu merendah, Akma. Apa kapten Lasha tidak mengajarimu cara bersikap seperti seorang Kapten?" tepuk Alba di punggung Akma Jaya.


Akma Jaya berwajah datar seraya berujur, "Apa salahnya berterima kasih?"

__ADS_1


"Benar, tidak ada salahnya. Aku cuma ingin bercanda denganmu, sepertinya kau mewarisi sikap Haima dan bukan Kapten Lasha. Aku suka itu!"


"Aku sangat berterima kasih kepadamu karena kau telah bersedia untuk menjadi sahabat Tabra dan engkau tak perlu berterima kasih akan itu." Lanjut Alba menjelaskan kepada Akma Jaya.


"Kalau aku ingin berterima kasih, apakah engkau berani menegahku?" Akma Jaya bertanya balik dengan tatapan penuh kewibawaan dan suara yang berubah layaknya suara Kapten Lasha.


"Benarkah? Kau akan mengatakannya, katakan saja. Aku tidak berani menegahmu." Alba berucap dengan sedikit menelan air ludah.


Sementara itu, Aisha tampak menyimak pembicaraan mereka, dia sibuk mencuci dan tak terasa cuciannya selesai kemudian dia pun menjemur pakaian tersebut.


Setelah selesai mencuci, Alba menyuruh Aisha untuk menjamu Akma Jaya dengan minuman. Aisha pun beranjak masuk ke dalam rumah untuk membuatkan minuman tersebut.


Sebelum Aisha selesai membuatkannya, Alba terus berbicara dengan Akma Jaya.


Dia seolah sangat senang dengan kedatangan Akma Jaya ke rumahnya dan ini adalah pertama kali mereka berdua saling berjumpa.


"Izinkan aku bertanya?"


"Iya, Silakan!"


"Apa tujuan kau datang kemari?" tanya Alba


"Kedatanganku kemari ingin mengajak Tabra berlatih naik perahu bersama, walaupun perahu itu kecil, kata ayah perahu itu bertujuan untuk melatihku dalam membiasakan diri dengan lautan." Akma Jaya menjelaskan maksud kedatangan kepada Alba.


"Benarkah? Sepertinya Kapten Lasha berharap banyak padamu, jangan pernah engkau mengecewakan dirinya!"


"Aku juga akan mendukungmu." Alba melanjutkan perkataannya.


"Ah, ya. Terima kasih." Akma Jaya berucap dengan wajah yang terlihat senang.


"Kenapa kau berterima kasih, bukankah sudah kukatakan jangan berterima kasih."


"Bukankah aku juga sudah mengatakannya!"


"Jika aku ingin berterima kasih, apakah engkau berani menegahku?" ketus Akma Jaya dengan sorotan mata tajamnya.


Alba tersedak mendengarnya.


Kemudian, Akma Jaya memecah suasana itu dengan sebuah tawa dan menepuk bahu Alba.


"Kamu tak perlu menegahku untuk berterima kasih, karena itu memang adalah kebiasaanku!"

__ADS_1


"Baiklah, aku memang tidak berani menegahmu."


"Anak ini ... dia menamparku dengan perkataannya, dia memang hebat!" batin Alba sambil kedua matanya memandang ke arah Akma Jaya.


__ADS_2