Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA


__ADS_3

Syair itu telah selesai dilantunkan olehnya dengan suara yang membahana.


“Bagaimana usai kalian mendengar suaraku yang begitu indah? Apakah kalian tertarik ingin mendengarnya lagi, dengan senang hati aku akan melantunkannya berapa kali pun kalian ingin.”


Tabra cukup senang dan percaya diri menatap mereka semua. Usai lantunan yang dibuat dramatis olehnya. Ombak yang tenang di antara kemilau siang mentari.


Dia tidak tahu di sana ada satu orang yang cahayanya seperti warna kuning ada bercak putih-putih di tengahnya. Seseorang yang tidak menyukai suaranya. Siapa lagi kalau bukan si Boba. Dia adalah orangnya yang dalam jumlah satu tidak menyukai suara Tabra.


Boba mendengus kesal seketika mendengar penuturan itu, lantas berkata. “Suaramu itu tidaklah indah, Tabra. Bahkan saat mendengarnya kau tahu aku ingin muntah!”


Dia memang dari dulu tidak suka saat mendengar seseorang berbangga diri seperti itu, apalagi di hadapannya dan baginya mengenai itu kau tahu sama saja dengan sifat pamer yang amat dia benci.


Masa lalu hari itu telah menggambarkan imajinasi kukuh dalam benak pikirannya, betapa dia sudah mengibarkan bendera perang terhadap sifat pamer tersebut. Kalpra kala itu meneguk ludah menyingkirkan kata pamer dalam dirinya.


Boba memang berbeda dari mereka semua. Dia tidak pernah pamer semasa hidupnya, bahkan Kalpra ikut terkena imbas dari nasihatnya hari itu mendadak juga sama seperti Boba tidak suka dengan pamer, tetapi entah mengapa sikap Boba itu sama saja mirip dengan pamer. Itulah sesuatu yang tidak disadari olehnya, hanya sibuk selama ini menatap dan menilai orang lain dengan sesuka hatinya, tidak dengan diri sendiri. Cermin besar itu tidak bisa becermin ke arah dirinya. Mata itu juga tidak bisa melihat ke dalam relung sana seperti langit yang diselemuti awan hitam yang bergerembul di permukaan langit Bumi, mendung dan gelap keadaan di sana. Hujan lebat pun turun dengan petir.


Pandangan menjadi buram. Halusinasi melanglang tidak menentu dan berakhirlah semua angan menjadi butiran debu yang beterbangan, tidak berarti dan tidak dapat dilihat lagi wujudnya. Luka itu sangat dalam, teman. Air mata itu di masa lalu tolong mohon sangat dimohon jangan ditumpahkan, tersenyumlah.


Di salah satu pasar di antrean masa lalu. Pamer itu menjadi sifat yang tercela bagi dirinya. Alangkah tercela. Lihatlah orang kaya, bergelimang harta dan pedagang miskin seperti Boba tidak punya hal yang dapat dia pamerkan seperti mereka. Pamer itu adalah awal yang tidak disukai olehnya dengan harta benda dan kemilau pakaian yang membuatnya muak, yang membuatnya marah. Apalah arti dari semua itu? Kala jasad dikubur ke liang lahat. Bagi seorang Boba yang tidak menyukainya bahkan dalam hatinya mengutuk dan tidak menyukai akan sifat pamer tersebut.


Saat Boba menyebut suara Tabra tidaklah indah. Jauh teramat jauh di dalam hatinya sana, di dalam gumaman yang tak didengar oleh siapa pun. Di dalam angan dan hatinya sudah berbicara, bahkan mencaci hina dan mengutuk akan sifat pamer. Alangkah baginya seseorang tidak perlu pamer akan kehebatan yang ada pada dirinya. Pamer untuk dipuja-puji semata seperti itu untuk apa? Baginya hanyalah omong kosong yang dilengkapi topeng kepalsuan dan dusta.


Dasar tukang pamer! Siapalah dia itu, yang tentu bukanlah seorang penyair, hanya seseorang yang sok jago. Suaranya itu saja tidak enak, jelas dia bukanlah seorang penyair dan membuat telingaku hampir sakit karena mendengar suaranya—Boba menggumam dalam sanubari yang tak bisa didengar oleh siapa pun, usai itu menyebut-nyebut kata pamer.


Dia menyebut Tabra pamer plus tukang?—Tukang? Apa yang dimaksud pamer itu? Apalagi tukang? Kadang begitulah keanehan dunia, ada saja keanehan seperti menyangka durian itu nangka. Mengapa seseorang bisa menyangka seseorang lainnya berbuat pamer, padahal bisa saja orang itu tidak pamer, hanya sekedar melantunkan saja. Prasangka dalam hatinya itulah yang kadang menyesatkan.


Bahkan mahaguru berbicara pada Boba dipertemuan pasar. “Boba, berbicaralah lebih sopan dan jagalah prasangkamu itu terhadap orang lain. Apa yang kau sangka begini dan begitu, belum tentu semua itu benar. Sebelum berkata jangan langsung kau katakan, tetapi pikirkanlah terlebih dahulu. Ini yang terpenting adalah menjaga kesucian hati, keluhuran budi pekerti dan jagalah mulutmu dari berdusta, dari macam-macam hal seperti bergunjing dalam sedudukan bersama temanmu karena sebab awalnya kedua hal itu adalah prasangka. Maka, kau harus belajar mengelola hati dan pikiranmu agar senantiasa bersih dari sifat buruk sangka yang akan melahirkan berbagai fitnah, kekacauan, dusta dan bisa membawa malapetaka, membawa perpecahan di antara rakyat dan kerajaan. Membawa permusuhan di antara dirimu dan temanmu. Begitulah pesanku kepadamu.”

__ADS_1


Boba tahu pamer itu terletak di hati. Siapa yang bisa tahu hati seseorang? Apakah seseorang itu sedang pamer atau tidak? Siapa? Siapa yang tahu? Kalpra juga mengetahui akan hal demikian—tahu bahwa tidak ada yang bisa mengetahui hati seseorang, kecuali orang itu mempunyai kelebihan indra seperti mata batin.


Itulah yang dikatakan Boba hari itu kepada Kalpra yang juga si Boba itu usai menyebutnya berbuat pamer. Kalpra masih mengingatnya dengan jelas tentang kejadian tempo lalu, mengenai Kalpra pamer atau bukan dia jelas tahu dalam hatinya, apa yang dia niatkan dan apa yang hendak dia mulai. Boba semata menuduh.


Semua itu hanyalah terkaan sekilas dugaan dan prasangka yang menyebutnya begitu. Dasar tukang pamer! Begitulah Boba dengan geram mengepal tangan ingin menabok wajah Tabra yang mengesalkan.


Boba memang tidak bisa mengetahui hati seseorang, tetapi dia tahu dari semua itu terdapat ciri yang bisa diketahui olehnya. Dan ciri itu baginya terlihat dari sosok Tabra yang usai berbangga dan seperti sedang memamerkan suara di hadapannya.


Entah mengapa Boba bisa merasakan atmosfer kepameran Tabra. Dia semacam orang pintar yang tengah berlagak pintar dalam membaca pikiran orang lain.


Tabra juga berusaha mengerti tentang Boba yang mengatakan suaranya tidaklah indah. Dia cukup memahaminya.


“Aku bisa mengerti apa yang kau katakan, Boba. Kau sering menyebutku pamer.”


“Apakah itu benar?” Tabra bertanya.


Seakan terkena satu sengatan listrik dengan cahaya terang di area itu. Boba menyambar dengan kilat. “Memang begitulah kenyataannya yang harus kau tahu! Kau itu bangga diri dan suka memamerkan sesuatu di hadapan kami, itulah sifat burukmu!” Boba menyahut lantang. Menatap ganas ingin lebih banyak berkata, tetapi alangkah tenang dirinya berusaha tegah mulutnya agar tidak terbawa emosi yang sedang dia rasakan.


Menjadi penegah di antara mereka adalah Ashraq. Menyuruh bertenang diri dan memberikan nasihat bahwa tidak ada keuntungan bagi seseorang menyebut seseorang lainnya dengan sebutan pamer ataupun mengatakan seseorang lainnya itu sedang berbuat pamer. Sesungguhnya jikalau seseorang benar-benar telah berbuat pamer apakah kau selaku orang yang menyebutnya pamer mendapat kerugian ataupun keuntungan dari hal itu? Maka cara terbaik katanya biarkanlah semua itu di antara orang itu dan sifat tercelanya. Lalu dia berucap yang pada intinya tinggalkanlah perdebatan.


“Terlepas masalah Tabra pamer atau tidak. Semua itu tidak berguna. Sejatinya kita tidak pernah tahu hati seseorang. Boba, tenangkanlah dirimu tidak usah banyak berdebat lagi. Pamer bagi dirinya tetaplah sifat yang tercela, walaupun ratusan pendapat dia ajukan kepadamu untuk membantah dan memberitahu bahwa dia tidak pamer. Sesungguhnya, pamer tetaplah pamer apa pun alasan yang dia kemukakan!” Ashraq menjelaskan panjang lebar, menjadi penengah di antara mereka.


Mereka semua hanya mendengarkan. Terpusat pandangan ke arah Boba, Tabra dan Ashraq di sana. Boba sekali lagi mengepal tangan, lalu menghela napas.


Perlahan melepaskan genggaman tangannya. Di antara orang-orang tidak ada yang bersuara memberi tanggapan.


Seperti kicauan yang memecah ketegangan. Suara itu terdengar, “Benarlah apa yang dikatakan Ashraq.” Aswa Daula menyahut di ujung sana. Yang lainnya menoleh, serentak kompak memusatkan pandangan.

__ADS_1


Yang lainnya pun sahut-menyahut. Di antara mereka ada yang berkata, “Ohoi. Benar sekali, untuk apa berkelahi hanya karena masalah sepele seperti itu. Berdebatlah sesuai kapasitas otak dan jangan marah kalau kau tidak punya bahan untuk melawan.” Salah seorang berbicara.


Ada lagi yang menjawab. “Kita tidak perlu mengemis cinta kalau hanya ini saja, kita tidak perlu berkelahi, hanya karena kalah dalam perdebatan atau lebih buruk lagi menyelam di dalam air, tanpa pelampung.”


Boba bisa menerima semuanya hanya sebagai penenang. Yang lainnya menepuk nepuk pundak Boba dan mengatakan banyak hal. Tabra bisa menghirup napas lega usai suara itu bersorak sorai.


“Ini sepertinya akan menjadi hal yang bertele-tele!” Aisha menggumam geram.


“Dan satu hal lagi, Boba. Jangan mengurusi hidup orang lain seperti kau itu lebih baik saja darinya.” Kali ini Hambala mengajukan suara sok tahunya. Seketika pula suasana kala itu kembali memanas.


Malah mulutnya disumpal Boba. Dan hendak ditaboknya. “Diam kau! Kau ingin menyalakan api? Aku tidak berniat mengurusi hidup orang lain, apakah dengan aku menyebut Tabra pamer kau menyimpulkan bahwa aku mengurusi hidup orang lain, sama sekali tidak! Kau harus tahu di sanalah terletak kepedulian! Saat kau bilang mengurusi hidup orang lain, lihatlah di sana...! DI SANA ada terletak kepedulian seperti ibumu yang mengurusmu pada saat kau kecil hingga besar, seperti ayahmu yang mencarikan nafkah dan mengurusmu dari kecil hingga kau besar, kau tahu apa tentang mengurusi hidup orang lain. KAU HANYA SEORANG PELAUT yang tidak pernah menikmati daratan. KAU PELAUT yang tidak tahu apa itu mengurusi hidup orang lain!” Boba menajamkan tatapan ke wajah Hambala.


Bagi Hambala itu seperti kepedulian yang tak bisa dia pahami, dia memang seorang pelaut yang hampir tidak pernah menikmati daratan. Dia lebih suka duduk di perahu miliknya, tidur dan makan di sana juga enggan turun ke daratan. Terserah Boba saja dia tidak ingin ikut campur lagi, begitu kini hatinya berbicara pasrah. Dia berdamai dengan meminta maaf.


Tabra menurunkan dirinya dari kotak yang sebelumnya dia berpijak, menyejajarkan posisi dengan mereka. Saat itu ada rasa bersalah yang hinggap dalam benaknya. Tapi, alangkah pelik dia malah tidak jadi. Entah apa yang dia inginkan.


“Boba, kau sudah dengar kata Hambala tadi, bukan? Jangan mengurusi hidup orang lain hanya karena aku pamer, kau tidak usah mengurusi hidup orang lain.” Tabra menjawab bersitatap wajah dengan pasti.


Boba menegah kata dengan secepat mungkin, tanggapannya seperti petir menggelegar di langit. “Mengurusi? Kau bilang aku mengurusi hidupmu. Kau keliru besar! Perlu kau tahu aku tidak sudi mengurusi hidup orang lain, apalagi hidupmu. Aku lebih suka menghina. Lebih tepatnya aku sedang menghina kehidupanmu seraya membangun istana dalam diriku sendiri, membentuk uraian yang tak akan bisa kau mengerti. Satu hal yang perlu kau tahu, aku tidak suka orang pamer! Satu hal yang harus kau tahu lagi mengenai mengurusi hidup orang lain, kau harus tahu itulah bentuk kepedulian orang terhadapmu. Mereka menasihati karena peduli, mereka mengatakannya karena peduli. Kau bilang jangan mengurusi hidup orang lain. Akan tetapi, perlu kau tahu kepedulian seseorang terletak di sana!”


“Bersyukurlah di sisimu kau perdapati seseorang yang mau bicara tentang kejelekkanmu. Bukan malah kau hampiri dan mengucapkan kata-kata seperti itu!” Boba berterus panjang mengatakannya.


Nasihat itu adakalanya seperti bara api yang panasnya mendidihkan kepala, adakalanya seperti obat penyembuh. Adakalanya seperti bubur basi yang dimakan hendak muntah. Tergantung bagaimana cara menyampaikannya. Bagi Tabra, sosok Boba ini hendak menjadi ahli penceramah tapi caranya sedikit salah.


Akan tetapi, seperti apa pun adakalanya sebuah nasihat itu terasa. Hal yang terpenting adalah cara menanggapi bagi diri dan menerimanya dalam bentuk apa pun yang tentu diubah dari semula adakalanya kata itu kasar menjadi sedikit lembut, kata yang mudah diterima bagi diri. Perenungan lama kadang diperlukan seorang pelaut seraya menatap bintang di tengah malam. Ditemani alunan ombak.


Tabra mengutip beberapa dari kata itu. Pelaut yang arif berkata mengenai sebuah nasihat tetaplah nasihat walaupun disampaikan dengan cara yang salah sekalipun itu tetaplah nasihat, walaupun disampaikan dengan nada amarah.

__ADS_1


Dia bisa menerima semua itu sebagai kata pemanis sebelum pidato yang akan dikatakan olehnya. Entah dia buang usai itu atau simpan sebagai kenangan yang berharga semasa hidupnya, disimpan di antara kenangan dirinya dan kelompok itu, bahkan disimpan kenangan itu di antara lautan dan samudra. Berlabuh di atasnya kapal layar itu yang melaju ditiup angin.


__ADS_2