
Kapal berlambang tengkorak dengan bendera merah itu terus berlayar, perlayaran yang terpampang penuh ketenangan, embusan angin membuat Kapten Lasha duduk di haluan merasakan hawa pelayaran.
Pelayaran mereka telah jauh meninggalkan desa Anmala, sekarang menuju arah pulang ke Desa Muara Ujung Alsa.
Mereka berada di tengah laut, suasana lautan ternampak sepi, Kapten Lasha menatap ke depan dengan menggunakan teropong, terlihat dari teropong ada kapal besar menghadang kapal mereka.
Kapten Lasha berdiri. “Kapal itu, sepertinya tidak memihak. Jika mereka bertindak, kita akan menghabisi mereka!” Dia bersuara tegas.
“Ba–baik, Kapten!” jawab seluruh anak buah serentak. Kapal kian berdekatan satu sama lain.
Kapal yang ternampak dari teropong itu berlambang taring harimau, berbalut kain hitam. Mereka adalah sekelompok bajak laut Taring Putih.
Kapal yang tadinya ternampak jauh. Kini, menabrak kapal Kapten Lasha. “Hei, ada apa dengan kalian, kenapa kalian menabrak kapalku?” Kapten Lasha berseru lantang.
Tidak ada jawaban. Kapten Lasha kembali berseru lantang. Jembatan seutas tali dibentang, dilempar ke dalam kapal Kapten Lasha. Anak buah, juga kapten dari kelompok bajak laut Taring Putih menggunakan jembatan tali, mereka masuk ke dalam kapal Kapten Lasha.
Saat mereka berada di dalam kapal, masing-masing dari mereka sudah menghunus pedang, siap untuk menyerang.
“Semuanya serang!” Kapten bajak laut itu memerintahkan anak buahnya. Dia adalah Kapten Abka, seorang kapten yang memimpin, memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Kapten Lasha.
Kapten Lasha tidak tinggal diam. “Kalian semua, hadapi mereka!” Kapten Lasha bersuara lantang.
“Baik, Kapten!” Mereka bergerak serentak, masing-masing menghunus pedang.
Di antara kedua kelompok anak buah itu saling serang, di tengah pertarungan antara anak buah mereka, Kapten Abka dan Kapten Lasha saling berbicara. “Selama ini, aku tidak pernah berbuat salah terhadap kalian, kenapa kalian menyerangku?” Kapten Lasha bersiap menghunus pedang.
Kapten Abka tersenyum sinis, mengelus jenggot lebat. “Lasha, aku telah lama geram terhadap dirimu!” Dia menunjuk ke arah Kapten Lasha menggunakan jari telunjuk disertai ekspresi wajah marah.
__ADS_1
Kapten Lasha menatap tajam. “Cobalah kau sebutkan apa yang membuatmu geram?”
Kapten Abka sedikit berjalan-jalan, mengangkat bahu, lalu menatap dengan senyuman sinis. “Sederhana saja, saat kau berlayar dua tahun lalu, kau telah menghalangiku merampok kapal, kau membantu orang-orang itu untuk meloloskan diri. Kau telah melakukan kesalahan terbesar. Bodoh, kau menyebut dirimu seorang bajak laut, tetapi kau mengubah tatanan kehidupan bajak laut, kau memang pantas mati, Lasha!”
“Abka, kau tau gelar yang kumiliki, kau tidak memihak, kau akan tenggelam dalam lautan tanpa dasar!” Kapten Lasha mengepal tangan, meremas genggaman pedang. Dia menghunus tepat saat selesai berucap.
“Lasha, prinsipmu tetap sama seperti dulu, tapi kau telah mengubah tatanan kehidupan bajak laut, kau akan menerima—”
“Apakah kau sudah selesai berbicara? Heh, aku muak mendengar suaramu.” Kapten Lasha memotong, lalu memelesat.
Anak buah Kapten Abka menghadang pergerakan Kapten Lasha, tetapi mudah saja bagi Kapten Lasha. Dia menebaskan pedang hingga mereka semua terluka, sayatan yang menyakitkan, darah memuncrat, mereka terkapar sadis tak bernyawa.
Kapten Lasha kembali dikepung sebanyak mata memandang. “Lasha, hari ini kau pasti akan mati di tanganku.” Kapten Abka tertawa menatap cukup berpuas diri.
Kapten Lasha tersenyum, lalu meloncat, mereka semua mendongak, menatap loncatan, menerka di mana dia akan jatuh.
“Oh, ya. Aku telah lama tidak melakukan pertarungan. Baiklah, Lasha. Aku akan menghadapimu!” Kapten Abka mendongak, menatap seraya menunjuk dengan pedang.
Mereka bersitatap. Di sekitaran embusan angin terdengar, keheningan tatapan mereka, Kapten Lasha bergerak gesit ke arah Kapten Abka. Serangan dilancarkan, mereka melancarkan serangan dengan pergerakkan mendebarkan.
Tebasan pedang dilancarkan Kapten Abka dengan mudah ditangkis Kapten Lasha. “Permainan pedangmu tidak buruk. Heh, Lasha. Walaupun kau berusia tua, tapi pergerakanmu boleh juga!” Kapten Abka menyerang gesit, tebasannya melayang ke udara, angin berembus.
Kapten Lasha tak menjawab. Dia kembali memelesat, menebaskan pedang. Begitu pun Kapten Abka, pedang mereka beradu dengan tebasan yang terus-menerus, tanpa henti mereka berdua memelesatkan serangan, Kapten Lasha membuat pergerakan Kapten Abka menjadi mundur, dia terus mundur sampai ke dinding kapal.
Kapten Abka sudah terdesak, lautan terlihat jelas dari sorotan mata, kalau dia tidak melangkah maju, dia akan tercebur ke permukaan air laut.
Kapten Lasha masih memelesatkan serangan. “Menyerahlah, Abka!” Disela-sela pertarungan itu Kapten Lasha berucap lantang.
__ADS_1
“Aku tidak akan menyerah, hari ini kau harus mati, Lasha!” Kapten Abka bersuara nyaring.
Kapten Lasha mengakhiri pertarungan dengan sebuah sayatan tajam, membelah lebar tepat di area perut Kapten Abka, perut itu memuncratkan cairan merah pekat, lalu menginjaknya. Jasad Kapten Abka terkeluar dari kapal, jatuh ke dalam luatan.
“Kau sudah mengenal gelarku, tapi malah menyerangku, itulah akibat dari kesalahanmu sendiri!” Kapten Lasha meremas pedang sejenak. Kembali, memasukkannya ke dalam kompang seraya menatap gugurnya jasad Kapten Abka ke dalam laut, jasad itu perlahan-lahan tenggelam, permukaan air laut yang semula berwarna kebiruan berubah menjadi kemerahan–warna darah.
Seketika itu hiu-hiu berdatangan, berkumpul memakan jasad Kapten Abka. Anak buah Kapten Abka terpaksa mundur karena menatap kematian sang kapten yang teramat sadis, terpampang jelas di pandangan.
Kapten Lasha membiarkan mereka kabur, baginya tidak ada kepentingan menghabisi mereka, baginya Akma Jaya jauh lebih penting. “Ka–kapteen ... apa Anda terluka?” ucap salah seorang anak buahnya merangkul tangan, menaikkan ke bahu.
“Ini hanyalah goresan kecil. Tidak sakit!” jawab Kapten Lasha memperlihatkan sayatan luka di dadanya.
Sayatan luka itu menyebabkan Kapten Lasha kekurangan banyak darah, dia mulai merasakan pusing. Anak buahnya masih merangkul, membawa Kapten Lasha ke dalam kabin. Perlahan dia membaringkannya, lalu mengobati luka yang menganga di area dada.
“Kapten, beristirahatlah sebentar, jangan banyak gerak.” Anak buah itu tersenyum. Setelah selesai mengobati luka Kapten Lasha. Dia membenamkan selimut.
Anak buah itu beranjak pergi dari ruangan, memberikan waktu kepada Kapten Lasha beristirahat, menyembuhkan luka sayatan di dadanya. Kapten Lasha beristirahat memejamkan mata. Pelayaran mereka berlanjut setelah anak buahnya membereskan kekacauan yang membuat barang-barang menjadi berserakan.
***
Terlepas dari kejadian itu, sekarang mereka telah sampai di desa Muara Ujung Alsa, Kapten Lasha bergegas dan tidak peduli dengan luka yang dia derita.
Sementara, tabib tidak mengetahui kedatangan Kapten Lasha, tabib sedang sibuk meneliti obat penawar yang diberikan bos penculik—tidak disebutkan namanya.
Tabra berada di samping tabib, menyimak dan melihat cara tabib meneliti, cukup lama mereka meneliti. Tepat hari ini, obat penawar itu telah selesai dibuat, hanya menunggu daun Iris sebagai pelengkapnya.
Tabra berdecak kagum memperhatikan kemampuan tabib dalam meracik ramuan. “Tabib, kemampuanmu hebat!” Dia menepuk pundak tabib. Mereka berbahagia, saling senyum karena telah menyelesaikan penelitian terhadap obat penawar. Tabra kembali mengakhiri dengan sepatah kalimat canda tawa. Mereka berdua tertawa.
__ADS_1