Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 110 — Bagaimana Sekarang


__ADS_3

Sejenak mereka semua diam.


Saling melirik satu sama lain, bulu kuduk seakan berdiri. Hal itu bagai kucing diguyur air. Helaan napas, trauma yang mereka rasakan dalam. Dulu, saat berlayar pergi melanglang ke wilayah Valissa. Di sana mereka mendapatkan hal-hal menakutkan.


Hari-hari berkutat perihal ghaib. Sekarang pun rasanya, aduh mengerikan. Pekik salah seorang anak buah menatap takut ke sekelilingnya hingga sekarang, semua itu masih terngiang di dalam benak pikiran.


“Jangan sebut macam-macam. Kalian tahu ini daerah pegunungan. Aku banyak membaca buku, sedikit banyak. Aku tahu di daerah seperti ini, jangan menyebut sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan kita.” Tabra menjelaskan sedikit.


Di akhir kalimat disamarkan, maksud dari tidak ada kaitannya dengan kita adalah menyebut roh-roh ghaib yang gentayangan di pegunungan.


Di berbagai buku yang telah dibaca Tabra, di perpustakaan sebelum berlayar menuju ke wilayah Valissa. Dia cukup menelan ludah.


Pada saat itu, wilayah Valissa menempati nomor urut tiga—tempat paling angker. Berbagai kisah hantu dan roh ghaib lainnya.


Dia endarkan kertas membalik halaman hingga pada suatu bab yang membahas daerah pegunungan. Tempat sekarang mereka berpijak. Di dalam buku itu, ternampak Tabra memperhatikan lebih jelas daerah pegunungan.


Di situlah, dia menelan ludah mengetahui bahwa pegunungan adalah tempat para roh ghaib senang berpesta, bahkan bercengkrama leluasa.


Ketika mengingat teks bacaan. Tabra merinding di sekujur tubuhnya. Dia mengelus tangan, mendekatkan dirinya dengan para anak buahnya.


“Tabra, kau justru menambah kesamaran cerita. Lebih baik kau diam!” Aisha memelototi kakaknya, berkacak pinggang.


Tabra tersenyum canggung. Garuk-garuk kepala dan lekas mencari perlindungan, tepat di balik punggung Akma Jaya, dia berada di sana meminta perlindungan dari sang kapten.


“Kalian berdua tenanglah. Tidak bagus bertengkar. Kita dalam masa berdiam, juga di tengah gunung ini, jangan menambah keributan.” Akma Jaya meleraikan, memberikan sebucu kalimat larangan.


Mereka berdua mangut-mangut takzim, meminta maaf. Keadaan kembali sunyi. Desir angin meniup dedaunan, hanya itu yang terdengar. Mereka semua diam mematuhi perkataan Akma Jaya, sejenak saling melirik.


“Kapten, bagaimana seterusnya pencarian harta karun? Dilihat dari keadaan, rupanya amat berbeda.” Ashraq memecah kesunyian. Ikan di dalam wadah berkecipak. Sejenak Akma Jaya berduduk.

__ADS_1


Mereka pun ikut duduk. Mereka semua kompak menanti jawaban sang kapten, berawal dari pertanyaan Ashraq. Pertanyaan yang mewakili setiap benak mereka.


Pencarian harta karun yang sekarang mereka lakukan itu bisa dibilang aneh. Di permulaan saja, tiba-tiba mereka bertemu Kapten Kuja, tidak sengaja hendak terlibat pertarungan, tetapi syukurlah pertarungan itu tidak terjadi.


Di samping itu. Naga berkeliaran, lalu hilang entah ke mana, lenyap atau masuk ke dalam portal dimensi, kemungkinan lain ada kekuatan ghaib yang menyelimuti dataran pulau.


Tabra sekadar menduga, Kapten Broboros sengaja memberikan peta harta karun itu karena dirinya sendiri tidak berhasil mendapatkannya.


Kemungkinan lain di dalam benak Tabra tergambar dugaan bahwa Kapten Broboros pernah mencoba menelusuri pulau yang sekarang mereka pijak.


Dia pun menyerahkan peta harta karun itu tidak sebagai hadiah. Mungkin memang pantas disebut hadiah, tetapi bukan hadiah manis, melainkan hadiah kematian.


Beberapa dari mereka setuju untuk menyerah saja dalam mencari harta karun tersebut. Tiada guna lagi. Toh, ada banyak keanehan yang mereka temui.


Tidak wajar ditangkap logika. Pikiran seakan diajak terbang ke puncak tiada bertepi lagi. Lelah, letih. Kerasukan gundah gulana membayangkannya saja, kejadian itu ternampak tidak mungkin bisa dipercaya.


Akma Jaya menatap ke sekeliling mereka. “Kita akan tetap melanjutkan pencarian harta karun.” Dengan berpelan suara. Akma Jaya bersikukuh dengan keputusannya. Ashraq yang mendengarnya cukup menelan ludah ingin membantah, tetapi dia urungkan.


“Itu benar. Aku tidak akan mengambil keputusan sebelum berpikir. Sederhananya, kita terbiasa hidup bersama di dalam kapal, kita terlalu lama berlayar. Hidup merantau, menghabiskan waktu di tengah lautan hingga tidak mengenal seperti apa pegunungan. Tabra, cerita yang kau baca mungkin ada benarnya, tetapi di lain pandangan, kadang orang daratan menganggap lautan berbahaya. Begitu pun sebaliknya. Itu pun tertulis di dalam buku. Akan tetapi, kita telah mengarungi lautan, mengetahui semua bahaya, bahkan menghadapinya, hanya saja kita belum pernah menginjakkan kaki di pegunungan. Sekadar prasangka yang mungkin benar adanya. Orang yang hidup di daratan, kadang menceritakan keganasan lautan dan kau membaca cerita sebaliknya. Cerita yang menggambarkan tentang keganasan pegunungan. Jadi, selagi kita di sini, nikmatilah. Lupakan sejenak cerita-cerita yang telah kau baca itu.”


Tabra melirik sekitar. Bulu kuduknya berdiri. “Kapten, ini bukan tentang itu, sebelumnya kita telah merasakan aura menyeramkan. Apakah Anda mengingat tentang Wilayah Valissa, tempat dulu yang kita kunjungi.”


“Hei, Tabra. Jangan memulainya!” Aisha menyergah—dia menyumpal mulut kakaknya itu. Bahkan, Akma Jaya menggelengkan kepala. Mengusap wajah cemas. Bagaimana mungkin dia melupakannya, ingatan itu masih terngiang, juga merinding.


Semua anak buah saling berpegangan tangan. Melirik-lirik sekitaran. Angin berembus, dedaunan mengeluarkan sunyi, hawa dingin terasa menusuk kulit.


“Lupakan untuk hal ini, lebih baik kita ke sana untuk memastikannya. Kita akan pergi ke tempat yang baru saja Aswa Daula ceritakan.” Akma Jaya menyela situasi tegang. Aisha menggeleng. Dia tidak ingin ikut ke tempat tersebut.


“Aisha, kau ingin tinggal di sini? Di sini lebih seram, lebih menakutkan.” Tabra berbisik—menakut-nakuti.

__ADS_1


Aisha memelototinya, sejenak berkacak pinggang.


PLAAK!


Tabra mengelus pipi, sakit katanya. Rasakan ujar Aisha. Mereka berdua memulainya lagi.


Kembali Akma Jaya meleraikan mereka, mengajukan dirinya sendiri. Memerintahkan mereka untuk tetap menunggu.


Akma Jaya dan Aswa Daula akan menuju ke tempat itu untuk mengetahui keadaan lengkapnya. Apakah benar ada sungai atau hanya sekadar ilusi tak nyata.


Sebelum beranjak pergi. Dia menoleh sepintas. “Tabra, dulu saat kita berada di desa Muara Ujung Alsa juga ada gunung, hanya saja kita belum sempat mendakinya.”


Tabra menelan ludah. Benar saja, di desa mereka dulu menjulang gunung tinggi, pepohonan lebat. Penuh kehijauan ternampak indah. Di sepanjang pantai berjejer pohon kelapa yang daunnya rindang. Menjadi ciri khas disentuh angin, daunnya melambai.


Secara tak langsung, Tabra kembali mengenang peristiwa itu. Sial, di dalam benak hanya tebersit mengenai pembantaian habis penduduk yang tak tahu menahu. Desa mereka telah porak poranda, puing-puing rumah berserakan. Malam hari berkabut, desa mereka dibakar. Asap mengepul, kobaran api menyala besar melahap. Habis semuanya seakan hilang, lenyap dari pandangan.


Lenyap sekadar genggaman, sekadar ingatan samar yang tak kunjung usai, seakan trauma bertahun-tahun. Jauh di dalam renungan tertanam kerinduan. Keluarga, desa, senyuman dan lain sebagainya.


Kenangan masa lalu, kesedihan yang memusatkan titik pasrah dan keluh, tertinggal di kerongkongan. mengisak tangis, napas mengeluh deras bagai turun hujan bergema petir. Suara pun terdengar serak.


Bagaimana keadaan desa itu sekarang, mereka tidak pernah tahu, bahkan tidak pernah bertolak pergi ke sana.


Tabra membayangkan peristiwa itu cukup jelas, dia berharap di malam-malam sepi, mendongak sejenak, menatap kuat ke arah rembulan malam hari itu, dia berandai-andai angan, membayangkan peristiwa itu tidak pernah terjadi, tentu mereka akan berbahagia. Dilengkapi keluarga di sisi mereka.


Sekarang, Tabra mengingat dirinya yang malam hari itu menangis tersedu-sedu, dirinya yang malam hari itu menatap kobaran api melahap rumah, dirinya yang malam hari itu berlinang air mata, dia seka perlahan. Aisha juga sama.


Mereka berdua menunduk sejenak. Diam dan tak berbicara, Tabra mencari tempat bersandar, dia duduk di salah satu pohon. Menenangkan dirinya.


Akma Jaya terpejam. Dia melangkah pergi untuk memastikan tempat tersebut, ikan yang tadinya ditangkap, terdiam rapi di wadah, semua itu dibiarkan sejenak. Aisha tidak ingin menyentuhnya.

__ADS_1


Anak buah yang tertinggal dan Tabra, mereka semua tampak duduk bersandar di pepohonan. Akma Jaya dan Aswa Daula telah beranjak pergi menuju ke tempat yang katanya ada sungai.


Cahaya matahari di pagi hari itu menyentuh dedaunan. Sekilas embun mulai lenyap, matahari meninggi, menunjukkan kehangatan.


__ADS_2