
Aisha mengernyit heran, melontarkan pertanyaan di mana Tabra mendapatkan ikan tersebut. Sama halnya, Akma Jaya juga sama. Wal hal, sekarang mereka sedang berada di tengah gunung.
Bagaimana mungkin ikan bisa hidup di sekitaran bebatuan tanpa air, itulah yang tebersit di dalam benak pikiran kapten tersebut, dataran tinggi menurun, juga sungai rasanya tidak mungkin. Akma Jaya mempertanyakannya—bingung.
Seorang kapten pemula, wajar saja. Tabra mengangkat bahu, enggan bercerita. Entahlah, buat apa juga mengetahuinya, tidak penting.
Udara di sekitar seolah-olah berubah hawa, muncul dugaan lain. Perasaan pun bergejolak. Para anak buah saling pandang, bulu kuduk pun merinding.
Keadaan sunyi kian menyeluruh, Akma Jaya berpikir sejenak. Dia diam menatap ke sekeliling mereka.
“Di antara kalian, adakah yang mau menceritakannya.” Setelah berdiam. Dia berbicara sedikit kaku—memang kebiasaan.
Apa yang dipandang mereka mengenai sosok kapten itu sedikit sulit dibayangkan. Persepsi, sudut pandang masing-masing bergumam di dalam sanubari hingga tidak ditangkap telinga. Bisa dirasa diri, tak bisa dirasa orang lain.
Aswa Daula mengangkat tangan, mencoba memberi penjelasan mengenai apa yang sudah terjadi.
Di tengah perjalanan mereka menuruni gunung katanya muncul kabut tebal menyelimuti pandangan, menutupi sekitaran.
***
Sejenak samar. “Hei, hei. Kalian baik-baik saja, tetap berpegangan. Jangan berpisah atau kabut ini akan membinasakan kita.” Tabra mewanti-wanti, melambai-lambai.
Penglihatan mereka benar memburam. Tiada apa pun yang ternampak, jalanan yang semula menurun, mereka pijak berkuat kaki, semoga tidak apa-apa, katanya Dausa.
Kalboza menutup mata. “Kalian semua apa baik-baik saja?” Dia berteriak tanya.
Tabra menyahut, lalu mengatakan hal yang sama. Dia berucap semakin nyaring. Sepuluh anak buah bersamanya saling berpegangan tangan. Kabut semakin tebal.
“Sebenarnya kabut apa ini?” Tabra memandang sekeliling, tiada tampak apa pun.
Dasasa khawatir. “Tabra, semuanya tetaplah bersama.” Dia juga sama, berteriak memberitahu.
Keanehan muncul di depan matanya sendiri, bahkan Ashraq menelan ludah, bingung dengan apa yang tengah dia tatap.
Mengapa gerangan kabut itu menyelimuti sekitaran, kemungkinan di tempat kapten berada juga ada kabut seperti itu. Ashraq mengatakan demikian.
“Ashraq, dari semula aku berada di sini bersama Aisha, tetapi selama itu juga tidak ada kabut yang muncul.” Akma Jaya menyela cerita Aswa Daula.
Mereka semua mendengarnya. Termasuk Aisha mengiakan, mengatakan kebenaran perkataan sang kapten. Selama mereka berada di sana, menunggu kedatangan mereka, tidak ada kabut yang muncul.
Tabra menengahi. “Kapten, itu wajar saja. Sepertinya dugaan Ashraq yang salah. Kami menuruni gunung. Sementara Anda berada di tengahnya. Angin bertiup itulah mengapa di tempat Anda menunggu kami tidak ada kabut yang terlihat.”
Aswa Daula berhenti sesaat bercerita. Akma Jaya memandang Tabra yang mengatakan demikian. Sejenak memalingkan pandangan, menatap Aswa Daula. “Ya, sudah. Aswa Daula, lanjutkan bercerita.”
Aswa Daula mengangguk mendengarnya. Dia pun lanjut bercerita. Awal dari cerita berhenti. Di saat Ashraq mengatakan kemungkinan di tempat kapten juga berkabut sama seperti yang mereka alami. Di jalanan menurun itu, mereka hanya bisa menelan ludah.
“Tabra, bagaimana ini?” Kalboza berseru-seru cemas. Dia seperti teringat sesuatu yang menakutkan, membayangkan hal yang tidak-tidak.
Mereka adalah sekelompok orang yang selama ini berlayar, tidak terbiasa di pegunungan.
__ADS_1
“Kalboza, berhenti berteriak. Aku mendengar jelas ucapanmu. Tidak perlu kau merasa khawatir. Ini hanyalah kabut.” Tabra menepuk pundaknya, pandangan mereka benar tidak tampak apa pun.
Kalboza kaget ada yang menepuk pundak. “Aaah!” Dia berteriak nyaring.
Tabra menyumbal mulut Kalboza. “Hei, ini aku. Astaga? Kau ini, bagaimana mungkin kau tidak mengenaliku? Astaga. Astaga?” Tabra mendekatkan wajah konyolnya. Dari situ, Kalboza merasa tenang menatapnya.
Para anak buah lainnya menahan tawa. Lucu juga mendengar Kalboza memekik, dia bagai anak kecil yang menjerit ketakutan.
“Semuanya, aku memutuskan kita akan menelusuri jalanan ini, kalian tidak perlu takut. Ada aku yang juga berjalan bersama kalian. Asalkan kita tetap bersama.” Tabra memecahkan suasana, berlantang suara seakan memberi semangat kepada mereka.
Di dalam benaknya, perut lapar sangat ingin makan. Dia tidak terpikir lagi masalah lain. Tabra menginginkan makanan segera. Rasa takut tak menjadi penghalang. Mereka telah mengalami, juga sudah merasakan ketakutan mendalam saat berada di wilayah Valissa.
“Ingatlah, kalian sudah terbiasa. Kuatkanlah mental, kita akan terobos ketebalan kabut ini.” Tabra berseru lagi memberikan semangat.
Kendatipun demikian. Di tengah tebalnya kabut pikiran mereka mengatakan itu amat berbahaya. Bisa saja, saat berjalan menuruni pijakan, kaki mengarah ke jalan yang salah hingga menyebabkan diri tersesat. Lebih nahas lagi terpeleset, jatuh terguling ke dasar jurang.
“Yakinlah tidak apa-apa. Ini hanya kabut. Kalian ini astaga pengecut sekali!” Tabra berseru lagi, lagi dan lagi. Ingin terkena tabok ini orang—bicara seenaknya.
Baiklah. Iya, iya. Mereka semua tidak banyak protes, setuju mengikuti kehendak orang yang daritadi berseru-seru. Astaga? Kurang kerjaan sekali itu.
Mereka pun menelusuri jalanan menurun. Terlihat samar, benar saja kaki mereka sulit menentukan arah pijakan. Kabut berjalan pelan, perlahan menghilang—tertiup angin.
“Nah, kalian melihatnya. Kabut ini tidak perlu terlalu kalian khawatirkan, asalkan kita tetap bersama, berjalan beriringan tidak akan terjadi masalah.” Tabra menjelaskan, kabut benar perlahan dibawa angin.
Terlalu. Kata itu menjadi renungan, terlalu mengkhawatirkan hanya akan menimbulkan perasaan bertumpuk yang membebankan diri sendiri.
Tidak sepantasnya sikapnya itu berada di dalam diri. Usirlah sebelum menjadi kebiasaan. Begitulah kiranya lanjutan dari ucapan Tabra yang sok tahu.
Aisha memandang ketus. “Tabra, sejak dari dulu. Aku mengatakan jangan menyela di saat orang sedang berkata atau bercerita.”
“Eh? Tadi Kapten, dia menyela, tapi kau tak mengatakan apa pun.” Tabra menyengir.
“Ah, aku tahu, kau ingin menyinggung kapten karena sebelumnya dia menyela. Jujur saja padaku.” Kali ini, Tabra berbisik agar tidak terdengar yang lainnya.
Akma Jaya mendengar jelas, tetapi menganggapnya biasa saja. Toh, itu hak orang lain untuk berbicara, bagaimanapun kata itu terucap. Peristiwa masa lalu seakan menjadikannya lebih tidak hirau dengan sesuatu yang ada di pandangannya.
“Tabra, tutup mulutmu. Aswa, lanjutkan bercerita.” Aisha cepat memintanya.
Aswa Daula mengangguk. “Tentu saja, cerita itu belum selesai saya ceritakan.”
Akma Jaya cukup berdiam. Aisha sudah mewakilinya, Tabra juga tampak diam tidak berpekik lagi. Sekarang pun dia menanamkan niat untuk tidak menyela bagaimanapun ceritanya.
Cerita di mulai kembali. Aswa Daula saat itu berada di dekat Kalboza menahan tawa. Kabut telah hilang dibawa angin.
Di depan mata ternampak sungai kecil memanjang seakan menuju ke laut. Pertanyaan pun bergelayut rindang di dalam benak.
Bagaimana mungkin di tengah gunung ada hal seperti itu, penglihatan mereka memburam.
Ini adalah pertama kali pendakian, mereka belum tahu persis. Tidak tahu keadaan sebenarnya, tidak tahu dan tidak tahu.
__ADS_1
Mungkin di belahan bumi sana, di tengah gunung ada sungai. Entah bagaimana secara pemahaman mereka, semua yang terlihat di penglihatan tampak normal. Memang tidak ada hal lain yang diduga.
Tersenyum, suka dan syukur. Mereka berlarian menceburkan diri ke dalam sungai kecil itu, hanyalah Tabra yang termangu di tempat. Berdiri melamun, ikan berkecempung, melup-lup gelembung di air.
Mereka berenang. “Wah, di sini ada ikan!” Dausa, salah seorang anak buah berambut kribo. Berbadan gemuk, tabiat makan. Dia sedang menyelam sejenak, lantas muncul seraya menunjukkan ekspresi senang.
“Iya, benar.” Salah seorang menyahut.
Tabra mendengarnya. Dia lekas menceburkan diri, menghunus pedang, menebasnya. Air memercik ke sana kemari.
Tebasan di dalam air menimbulkan gelembung. Ikan-ikan gesit berenang. Tabra kewalahan, dia berusaha mempercepat pergerakan pedang, semakin cepat.
“Ayo, Tabra. Tebaslah terus ikan itu, kami di sini menunggu saja, ya.” Kalboza berseru tertawa.
Tentu saja, sangat diperlukan keahlian khusus untuk melakukan hal tersebut, para anak buah lainnya jelas tidak bisa, mereka cukup menyimak, menatap kagum ke arah Tabra.
Dari awal pun Ashraq menatap mereka, mempertanyakan berkali-kali, mustahil bagaimana mungkin ada sungai. Bukankah tadi jelas jalanan menurun, sekarang lihatlah ada sungai, juga jalanan terasa rata. Semua ini hanya ilusi yang menjebak katanya.
“Jangan sebut begitu, kau ini sama saja dengan Aisha. Bicara sembarangan!” Tabra berpindah dari sungai menghampiri Ashraq.
Ashraq tersenyum gontai. “Eh? Iya, maaf. Bagaimana ikannya?” tanyanya, seperti ingin mengalihkan perhatian.
“Oh. Ikan? Banyak, kau lihatlah.” Tabra mengada-ada. Pas dilihat Ashraq, dia pun tertawa. Astaga? Tabra berbohong, mungkin sekadar bercanda, candaan orang yang kurang wawasan. Aswa Daula tertawa.
Para anak buah lainnya cukup memperhatikan. Kurang lebih keseluruhan jumlahnya ada lima. Lumayan, tidak banyak.
Dasasa menatap Tabra semringah. “Kau cukup hebat, Tabra.” Tepukan tangannya bertitik ke pundak, seperti biasanya alami tanpa pemanis buatan.
Tabra tersedak. “Kau ini, memujiku berlebihan.” Dasasa mendengarnya, cukup tertawa. Para anak buah lainnya menyimak diam, menatap tertawa, juga senyuman.
Tabra kembali menghela napas sebentar, menatap dalam-dalam. “Ayo, kita bawa ikan ini, lanjut memasak. Makan. Makan.” Tabra berseru, lanjut berjalan.
Para anak buah mengiringinya, juga tertawa kecil. Lucu, menatap ekspresi Tabra yang berseru sambil nyengir.
“Aswa Daula, kau berlebihan lagi. Itu tidak lucu, eh kau bilang lucu. Bagaimana? Munafik atau tidak itu?” Tabra kembali menyela cerita, mengeluarkan suara ketus dengan tangan menyilang di bawah dada.
Padahal, sebelumnya dia sudah menanamkan niat untuk tidak menyela.
Akan tetapi, Aswa Daula seakan sengaja membuat kata-kata yang benar menurut persepsi miliknya, beda dengan persepsi Tabra yang tidak suka dengan penyampaian miliknya.
Aswa Daula tertawa. “Lucu, benar itu tidak bohong,” ujarnya meniru tingkah laku Tabra yang sejak dulu sering bercanda.
Tabra ikut tertawa. “Lanjutkan bercerita.” Kali ini, tumben Aisha tidak berbicara. Dia berdiam mendengarkan. Akma Jaya masih duduk juga mendengarkan kelanjutannya.
Aswa Daula menuturkan saat itu, lereng pegunugan ternampak menawan, indah dengan embusan angin tenang, mereka berjalan menyusuri jalanan.
Dausa menenteng wadah yang di dalamnya berisi lima ikan. Kalboza berwajah datar, bercengkrama ketus dengan Kalpra.
Mereka terus berjalan hingga tiba di tempat Akma Jaya dan Aisha. Begitulah cerita itu selesai diceritakan, juga dijelaskan Aswa Daula.
__ADS_1
Mereka semua menyimak, walaupun mereka sendiri mengalami kejadian tersebut. Selain, Akma Jaya dan Aisha yang tidak mengalaminya.