
Di pertengahan malam itu. Tak lama dari terlelapnya mereka. Tepat di tengah lautan, sesosok makhluk mendekati pulau Butariya.
Beriringan dengan gelembung yang meletup dari dalam air, perlahan naik ke permukaan. Gelembung itu meletup, mengeluarkan bunyi, perlahan jumlahnya semakin banyak menuju ke arah pulau.
Air laut bergerak menciptakan ombak sekilas menerpa kapal. Kapal itu bergoyang pelan. Dengan goyangan yang terus-menerus bergoyang hingga membuat Tabra terbangun dari tidur nyenyaknya.
Dia pun bangkit dari kasur, keluar kamar seraya bertanya-tanya di dalam benaknya, mengapa kapal bergoyang seperti diterpa ombak, padahal malam itu tidak ada angin sama sekali.
Dia pun keluar kapal ingin mengetahui sesuatu apa gerangan. Entahlah, jelas dia sekarang sedang penasaran. Di gelapnya malam yang tidak begitu terlihat, tersamarkan oleh keremangan. Tabra melihat ada berupa benjolan besar di lautan dan itu cukup membingungkan.
Tabra tampak menunjukkan ekspresi penasaran, benjolan itu begitu besar. Tabra garuk-garuk kepala, mulutnya menguap karena baru bangun dari tidur.
Di sekitaran tampak suasana hening tanpa adanya tiupan angin, menyisakan bunyi dari hewan-hewan kecil seperti jangkrik, juga beberapa hewan lain yang mengeluarkan bunyi khasnya, memekik di keremangan.
Tabra masih fokus menatap makhluk itu yang mulai bergerak lagi, memperlihatkan sesosok hewan, tetapi dari yang tertampak cukup mengerikan, sosok itu besar. Dengan tentacle bergerak mengibas-ngibas air laut hingga gerakannya menghasilkan ombak, perlahan menerpa kapal.
Tabra masih menatap, memaksimalkan netra supaya jelas melihatnya. “Aaaah! Ma–makhluuuk apa ii–itu?!” Dia berpekik takut, terbata-bata. Dengan volume tinggi memancar kesekeliling tempat.
Pekikan yang membuat sebagian kru kapal terbangun. Mereka cukup bingung, tidak tahu alasan seorang anak itu berpekik. Di dalam kabin kapal, suara itu terdengar jelas berasal dari luar kapal.
Mereka bertanya-tanya di dalam benak masing-masing. Lantas mereka keluar kapal. Ternampak seorang anak kecil yang langsung mengisyaratkan ke arah laut.
Mereka semua menatap ikut berteriak. Gabungan suara tinggi memancar kesekeliling lagi, teriakan yang membangunkan Akma Jaya, Aisha, juga Altha.
Tabra bersama sebagian kru kapal bergerak cepat, berlari ke arah rumah. Mereka semua pergi menjauhi kapal. Hewan yang mereka lihat tampak besar, bahkan menakutkan.
Altha terbangun mendengar teriakan mereka. Dia keluar dari rumahnya, menatap ke arah mereka yang bergerembul satu sama lain, Dia menghampiri ingin bertanya. Altha berjalan hingga berdekatan, sejenak saling tatap, mempertanyakan alasan mereka bergerembul. Salah seorang langsung mengisyaratkan ke arah laut tanpa menjelaskan alasan.
Altha menatap ke titik tunjuk. Dia tercengang, menyaksikan sendiri sesosok makhluk bernama Kraken yang selama ini banyak dibicarakan orang-orang. Dia pun menelan ludah tegang. Itulah alasan mereka semua bergerembul, bahkan Tabra berseru-seru takut.
Akma Jaya berada di samping Tabra cukup menatapnya kuat. Dia bersiap menghunus pedang. Aisha ketakutan, gemetar membenam wajahnya di telapak tangan.
Altha kembali menelan ludah, baru pertama kali ini dia menyaksikan sendiri sosok Kraken yang dia ketahuinya melalui rumor.
Rumor itu banyak beredar di kalangan bajak laut, saat itu Altha mendengarkan mereka saling berbicara tentang sosok Kraken. Tidak peduli seberapa kuat dirimu, Kraken akan melahap kapal sekali makan.
Begitulah kabar itu didengar olehnya. Kata-kata yang terngiang jelas di dalam pikiran, melambungkan netra ke ujung saksi buta, tak ternampak cahaya.
Kendatipun demikian, sosok Kraken itu masih misteri tersendiri di kalangan bajak laut yang belum terpecahkan hingga saat ini, bahkan beberapa orang yang mendengar kabar mengenai Kraken, geleng kepala—tidak percaya.
Dulu, termasuk di antaranya Altha yang tidak mempercayainya, tetapi di malam yang sekarang dia menatap diam, menyaksikan jelas sosok yang bagaikan meruntuhkan bangunan ketidakpercayaan miliknya, membangun suatu bangunan baru yang tegak berdiri, percaya dan tercengang. Dua kata itu menancapkan pondasi di dalam benaknya.
Sosok Kraken ternyata benar-benar nyata, ia terpampang jelas di pandangan Altha, juga yang lainnya. Sesosok makhluk berukuran besar mempunyai tentacle sebesar ukuran kapal mereka.
Altha mengerjap-ngerjap. Beranggapan bahwa dia sedang bermimpi, ternyata tidak, itu jelas benar bukanlah mimpi. Kru kapal berwajah cemas. Tabra apalagi, lebih cemas gemetar takut di samping Akma Jaya.
__ADS_1
Altha menghampiri seorang anak yang tengah ketakutan di dekatnya. “Tabra, tenangkan dirimu, ia hanyalah makhluk laut, ia tidak bisa naik ke daratan. Kalian semua juga, ia tidak bisa naik ke daratan.” Dia mengatakannya lantang dengan niat untuk menenangkan para kru kapal, juga tiga orang anak yang dia tatap.
Sementara, para kru kapal masih tetap tampak tercengang menatap sosok di hadapan mereka. Kraken ternampak seperti gurita, tetapi ukurannya jauh melebihi gurita pada umumnya, seluruh badan, kepala Kraken berada di dalam laut.
Apa yang terlihat di pandangan, hanyalah tentacle yang tak berdiam, tentacle yang terus bergerak. Riak ombak menerpa pesisir pantai. Akma Jaya menatap diam menunggu.
“Altha, makhluk apa itu sebenarnya?” tanya salah seorang kru kapal. Dia berseru khawatir, dia tidak ingin dimakan kraken tersebut. Pelipisnya bersimbah peluh, tangannya kaku bergerak. Ya ampun, ini adalah pertama kali mereka menyaksikan makhluk sebesar itu.
Altha menatap ke arah sosok itu, sejenak mendongak. “Makhluk itu disebut Kraken, makhluk yang bisa menghancurkan kapal dalam sekali lahap, ia memakan kapal bersama apa pun yang ada di dalamnya.”
“Kraken?!” Tabra tercengang mendengarnya. Tangannya memegang wajah, menatap takut ke arah Kraken.
Altha mengangguk. “Iya, Kraken. Konon ada banyak kapal yang sudah dimakannya, beberapa dari kabar para bajak laut menyebutkan ada banyak kapal berlayar melewati pulau Butariya, kapal itu dimakan lahap, ada seseorang yang selamat dan menyebarkan kabar tersebut.” Dia menjelaskan panjang lebar. Altha mengelus jenggot putihnya sekilas.
“Eh? Kabar itu, iya aku tahu kabar itu. Kapten Riyuta pernah menceritakan panjang lebar ketika saat berlayar. Dialah orang yang selamat waktu itu, terdampar di dermaga Sakala, untung saja, bahasanya dimengerti orang-orang di sana.” Salah seorang kru kapal menyahut. Altha mengangguk, Akma Jaya menelan ludah, juga Tabra menggelengkan kepala, Aisha mendekap tangan berada di belakang mereka.
“Tapi, kabar itu sedikit sekali orang yang mempercayai keberadaan makhluk bernama Kraken ini. Dikarnakan ukurannya yang terlebih besar, juga orang-orang menyebutkan hal itu mustahil, tapi lagi, banyak bajak laut yang menyakininya, bahkan tidak berani pergi ke tempat ini.” Altha menjawab, menyambung penjelasan yang sebelumnya berhenti.
“Satu hal. Kalian bertiga harus terbiasa hidup berdampingan dengan makhluk tersebut, seperti rumor yang beredar di setiap malam, makhluk itu akan datang ke pulau ini. Aku tak menyangka rumor itu bukan sekadar rumor belaka, melainkan aku sekarang melihatnya sendiri.”
“Kalian bertiga harus tahu lagi, makhluk yang ada di hadapan kalian ini, itulah alasanku membawa kalian bertolak dari dermaga Sakala menuju ke pulau ini.”
Apa yang telah dijelaskan Altha, kesemuaan menurut pengetahuannya, dari penjelasan yang rumit tampak membuat mereka bertiga tercengang, Aisha berembus napas takut, dia mengatur pernapasan.
Kini, suasana menyelimuti mereka dengan hawa penuh rasa ketegangan, makhluk itu bisa saja melahap mereka. Jarak jangkauan dari tempat mereka cukup dekat dengan jarak yang bisa dipandang netra.
“Altha, kau sengaja ingin membunuh kami. Kau tidak berpikir di pulau ini ada makhluk ganas. Bisa saja dia naik ke daratan, lalu memakan tubuh kami.” Tabra memulai ocehan, mengatakan sesuatu yang dia anggap sedang mengeluarkan perasaan yang tersembunyi di dalam dirinya, bentuk kalimat pertentangan sederhana.
“Tenanglah, aku juga akan tinggal di pulau ini, rencananya besok hari aku akan ke Kota Taiya untuk membawa seseorang kepada kalian dan orang itu akan melatih kalian, adapun tentang makhluk ini, cukuplah ia tidak akan mengganggu atau menyakiti kalian. Asalkan kalian jangan menganggu makhluk tersebut.” Altha menjelaskan serius. Di samping itu, dia berusaha menenangkan Tabra yang tampak panik dengan apa yang dilihatnya.
Akma Jaya mengangguk, menatap serius ke arah Altha. “Baiklah, aku akan mencoba mendekatinya dan menganggunya!” Akma Jaya seakan ingin menunjukkan sikap keberanian miliknya.
Altha berdecak kesal, Akma Jaya seolah menantang apa yang dilarangnya, sedangkan Tabra mengerutkan dahi, tak paham dengan pola pikir sahabatnya.
“Akma, apakah engkau bergurau?” Tabra menunjukkan ekspresi panik. Dia menepuk-nepuk kedua pipi Akma Jaya.
“Aku hanya ingin membuktikan perkataan Altha dan menjamin keselamatan kita di pulau ini, apakah makhluk itu benar akan menyerang kita hingga ke daratan atau ia hanya akan menyerang kita di lautan? Tabra, kita ini kuat, bukan sekadar kekuatan, melainkan juga kebersamaan.” Akma Jaya menjelaskan. Jiwa masa muda seakan bergejolak kuat, mungkin itulah yang membuatnya yakin—percaya bisa mengalahkan Kraken.
Sejenak semuanya diam, menyisakan desir angin yang mulai bertiup, memecah suasana ketegangan mereka, suara Akma Jaya terkeluar bersamaan dengan desiran angin yang bertiup, suasana itu membuat Tabra berseru mengeluarkan suara nyaringnya.
“Baiklah, aku akan mendukungmu. Ayo, kita membuktikannya!” Tabra merangkul bahu Akma Jaya dengan wajahnya yang tampak tersenyum lebar.
Sementara, Altha berkali-kali menegahnya. “Kalian berdua. Jangan gegabah!” Tangannya bergerak mengikuti ucapan.
Tabra melepaskan rangkulannya dari bahu Akma Jaya, menatap seorang tabib yang menegah mereka. “Altha, engkau belum pernah melihat kemampuan pedang kami berdua. Jika kau melihatnya, aku yakin kau akan terperangah.” Tabra cukup percaya diri, rasa takutnya sudah menghilang.
__ADS_1
Mendengar perkataan Tabra, Altha pun menggertakan gigi, menyuarakan ucapan keras. “Kalian berdua, jangan gegabah. Kraken termasuk makhluk ganas, ia akan melahap mangsa dengan kecepatan yang tak bisa dilihat pergerakannya, ia bergerak gesit di dalam air, walaupun sekarang ia di dekat pantai, tetap saja kalian berdua, jangan gegabah!” lanjut Altha berucap panjang lebar menegah mereka dengan mengulang-ulang perkataannya.
Akma Jaya tak peduli, Tabra mendukung di sisinya mangut-mangut setuju. Sementara, Altha kembali mengeluarkan suara bagai petir menggelegar membuat kru kapal yang mendengarnya tampak menelan ludah.
Akma Jaya mencoba mengerti pola pikir Altha, dia pun menimbang di dalam benaknya, menimbang untuk kesekian kali ucapan yang dilontarkan Altha. Dia bukan tidak percaya dengan kekuatan yang dimiliki Akma Jaya, melainkan sekadar menegah agar tidak terjadi apa-apa.
Di saat itu, Akma Jaya percaya Altha adalah seorang tabib yang berhati kasih seperti ibunya yang tak ingin dirinya terluka.
“Baiklah, Altha. Aku akan menuruti apa yang engkau katakan.” Setelah lama memikirkan perkataan Altha, Akma Jaya menyahut setuju dengan tegahannya.
Mendengar jawaban sahabatnya, Tabra mengembuskan napas kecewa.
“Akma, kau tidak tidak jadi menyerangnya? Kau malah mendengarkan ucapan Altha begitu saja. Hei, pikirkan lagi.” Tabra sedikit mengeluarkan suara kecewa, lesu dan tampak ada semangatnya. Para kru kapal menatap heran, mereka semua memberikan kata-kata seraya mengelus punggungnya.
Akma Jaya tersenyum. “Tabra, cobalah kau lihat makhluk itu, selama kita tidak mengganggunya, ia tidak menyerang. Ia akan tetap berada di sana.” Dia menjelaskan, menunjuk ke arah Kraken. Tabra diam tak menyahut, dia sudah kecewa.
“Sudah malam. Jika kau takut tidur di kapal, tidurlah di rumahku.” Akma Jaya mengajak, menepuk pundak sahabatnya.
Tabra tak punya pilihan lain. Dia mengangguk setuju. Mereka pun lanjut berjalan menuju rumah. Masing-masing pun juga sama. Malam hari itu, rasa ngantuk sudah tak bisa ditahan.
Di dalam benak pikiran Tabra masih bergelayut jelas, juga membekas tentang sesuatu yang membuatnya tak nyaman. Mereka masih berjalan pelan, tidak menengok ke belakang, lurus ke depan.
Tabra memalingkan pandangan, memandang serius ke arah orang yang berjalan di samping dirinya.
“Hei, Akma. Bagaimana menurutmu?”
“Bagaimana apanya?”
“Apa kau berpikir sama denganku?
“Sama bagaimana?”
“Makhluk itu bisa saja melahap kapal, lalu ia akan menyerang kita semua.” Tabra mengatakan dugaan miliknya.
Akma Jaya tertawa. “Tenang saja, ia tak akan melahap kapal kita, jika dilihat lebih teliti sepertinya setiap malam, ia akan tidur di dekat pantai dengan kepalanya yang menancap ke dalam laut.”
Altha mendengar ucapan mereka. Lantas menyerukan suara. “Selama kalian tidak mengganggunya, ia tidak akan menyerang.” Dia masih terus berjalan. Para kru kapal pun juga sama. Mereka berjalan beriringan.
Akma Jaya mengisyaratkan bentuk kalimat untuk mempercayai Altha, dia tidak banyak bicara. Tabra mengembuskan napas mengiakan, dia tidak dapat berkutat lebih banyak mencari bahan menjawab.
Mereka semua pun tidak menghiraukan lagi tentang keberadaan Kraken, walaupun jaraknya berdekatan dengan mereka.
Karena suatu alasan yang masuk benak pikiran mereka, selama makhluk itu tidak diganggu, maka ia akan tetap berdiam di sana dan tak akan menyerang mereka.
Itulah ucapan Altha yang dipikirkan lebih dalam oleh Akma Jaya, dia tahu sekadar mana batasnya, tidak dalam konsep berbangga diri atau orang yang kurang wawasan membantah peringatan.
__ADS_1