Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu


__ADS_3

Belum jauh berlayar, tiga buah kapal menghadang mereka. Akma Jaya menatap sekilas, sebuah sorotan terpampang. Sesosok bajak laut yang telah bertemu pada beberapa kesan sebelumnya, kini mereka kembali bersitatap. Dialah Kapten Atlana bersama dua orang sahabatnya yang menghadang kapal Akma Jaya.


Tabra juga sama—bersitatap. Sementara Aisha mematung, para anak buah berada di belakangnya, hanya jadi penonton.


"Akma Jaya!" Kapten Atlana berseru seraya memasang wajah serius. Ada sorotan merendahkan di kedua matanya. Kapten Atlana meloncat ke kapal Akma Jaya.


Suatu kejadian yang dirasa mengganjal di pikiran, dari mana Kapten Atlana mengetahuinya, padahal waktu itu, dia hanya melihat sekilas, sepertinya ingatan di otaknya itu terlalu luas, lebar. Mungkin besar, bahkan dia menampung ciri-ciri dalam sekejap mata, dia ingat betul. Begitu, kadang kelebihan orang berbeda-beda.


Kapten Atlana memberikan isyarat kepada sahabatnya untuk meloncat sama seperti yang dia lakukan sebelumnya.


Kedua sahabatnya mendarat tepat di sisi samping kiri dan kanan. Kini, Kapten Atlana berada di tengah mereka berdua.


Kapten Atlana bertepuk tangan, tersenyum simpul. "Sekian lama aku menunggu pertemuan kita kembali, Akma Jaya. Sekarang, perkenalkanlah, mereka berdua adalah sahabatku, Ajadala dan Gogoria." Padahal tidak lama, benar saja, mungkin perasaan yang membuatnya terasa lama atau sekadar bualan kata semata. Kapten Atlana berucap seraya memperkenalkan kedua sahabatnya.


Akma Jaya mengangguk. "Atlana, untuk apa kau melakukan semua ini? Bukankah permasalahan di antara kita sudah selesai?" Akma Jaya memberikan pertanyaan seputar kejadian yang lalu. Kapten Atlana berdehem sejenak.


"Dari keadaanmu, kulihat raut wajah yang berembus napas lelah, sepertinya kau baru terlibat pertarungan. Akma Jaya, apakah ini yang kau inginkan, hiduplah damai sepertiku!" Kapten Atlana menatap tak tanggung-tanggung, sebutir ucapan kembali terlontarkan.


"Atlana, sikap dan ucapanmu sedikit berubah. Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Akma Jaya bertanya sekadar ucapan.


Kapten Atlana tersenyum miring seraya menggelengkan kepala. "Tidak ada, aku sekadar menyapa, kupikir kalian akan memilih jalan berbeda, ternyata kalian masih memilih jalan yang sama." Kapten Atlana tak menjawabnya, dia berucap kiasan tentang jalan—bukan berarti setapak atau tempat berpijak, ini lebih ke peristiwa yang dijalani dalam kehidupan, keseharian seseorang.

__ADS_1


Tabra bergumam sedikit geram, wajah Kapten Atlana terlihat begitu menjengkelkan. Duuh, raut wajah yang tak enak dipandang. "Atlana, apakah kau ingin bertarung?" Dia bertanya spontan dengan tangan menggenggam.


Melalui ucapan Tabra, Kapten Atlana tertawa. "Hohoho... Tabra, kau bodoh. Tidak menyimak dengan betul, bahkan berprasangka buruk terhadapku, bukankah sudah kubilang sebelumnya!" Setelah sejenak tertawa, dia melanjutkan ucapan serius, tak ada lagi tawa, tatapan mata itu masih sama, sedikit sinis terlihat.


Sementara kedua sahabatnya, hanya menjadi penyimak dan penonton saja, sama seperti Aisha dan masing-masing dari anak buah mereka.


"Akma Jaya, lain kali kita akan bertemu kembali, yakinlah. Saat itu tiba, kau jangan mati, tetapi buktikan kepadaku jalan yang benar-benar kau pilih, apakah akan terjadi penyimpangan dalam hidupmu?"


"Dunia ini kejam, dusta, semuanya hanya tipu daya, apakah kau ingin berlayar menjadi buronan, sampai kapan kau akan begitu, bahkan untuk membalas dendam saja kau tidak bisa. Kapten Kaiza tertawa lepas duduk di singgasananya, kekuasaannya semakin melebar luas, anak buahnya juga sama. Kau masih tetap ingin menjalani semua tipu daya ini—" Kapten Atlana berucap panjang lebar.


"Atlana, pemahamanmu begitu luas, kuakui kau hanya bisa menebak, tetapi dalam hal ini, kau sudah salah mengatakannya." Akma Jaya memotong ucapan Kapten Atlana. Mengatakan sesuatu berupa penolakan, terkadang pemikiran orang berbeda, seseorang yang mengatakan suatu hal, jauh sekali dari pemahaman orang lain.


Kapten Atlana mengangguk maklum. "Akma Jaya, apakah kau pernah berpikir satu hal dalam hidup, kedamaian tercipta atas bualan pikiran, khayalan, tapi pikiranmu, jiwamu akan tentram, jika kau punya beberapa kitab dari tatakrama dan membacanya secara renungan. Di sana jelas tertulis, jika kau berlayar hanya ingin mengikuti keinginan, kau akan terbunuh oleh sang waktu, berakhir menjadi debu. Lantas, ditiup angin, terbang melayang dan lenyap!" Kapten Atlana mendramatisir, mengenai ucapannya yang terdengar telinga, Akma Jaya tersenyum.


Kapten Atlana enggan berjabatan. "Itu bukan ucapanku, Akma Jaya, itu tertulis dalam kitab tatakrama. Hanya saja, kau percaya dan yakin dalam jalan yang kau pilih dan kau menempuhnya, percaya dirimu kuat, tetapi ingatlah dalam mengarungi lautan yang berombak ini, kau perlu persiapan matang. Jangan hanya berpegang pada keyakinan." Lagi-lagi Kapten Atlana berucap seolah-olah butiran mutiara berjatuhan dari mulutnya.


Tabra mengernyit. "Atlana, bagaimana kabar Kapten Gaiha?" Dia berseru seraya mengalihkan pembicaraan. Bertanya tentang keadaan ayahnya.


"Ayahku menjalani masa bersantai, dia berbaring dalam ruangan yang tak tembus cahaya. Maisya begitu khawatir akan kondisinya, setiap saat dia memeluk erat tangan si tua itu, sedangkan aku merasa senang, aku bebas berbuat semauku tanpa larangannya." Kapten Atlana tertawa.


Tabra sedikit terkejut karena mendengarnya, sesuatu hal yang tak bisa dia ucapkan, ada kekhawatiran menyentuh ruang di sanubarinya.

__ADS_1


Kapten Atlana kembali mendehem. "Aku hanya bergurau dan bodohnya kau percaya." Dia kembali tertawa, raut wajahnya sedikit menunjukkan rasa puas.


Tabra menggelengkan kepala. "Atlana, aku belum mengatakan apa pun." Alasan terucapkan, Kapten Atlana menghentikan tawa. Dia melambaikan tangannya berupa tepisan seraya membelakangi mereka.


"Sepertinya perbincangan kita sampai di sini saja, aku ada urusan di Wilayah Nanaina." Kapten Atlana beranjak menuju kapalnya. Sementara kedua sahabatnya mengikuti di belakang. Jelasnya meloncat bagai seekor kodok.


"Akma Jaya, sampai jumpa!" Kapten Atlana berseru lantang. Kapal mereka berlayar meninggalkan kapal Akma Jaya.


Aisha menghela napas lega, sangkanya Kapten Atlana akan menghunus pedang dan mereka bertarung, tetapi kenyataannya tidak demikian. Prasangka buruk yang bersemayam, manis bergelayut mimpi di pikiran itu kini telah pudar dan lebih baik menghilang saja, musnah, lebur pun tak apa.


"Kapten!" Tabra menepuk bahu Akma Jaya.


"Tabra, lanjutkan saja pelayaran!" Akma Jaya berucap seraya beranjak pergi dari hadapan Tabra.


Tabra mengangguk. "Baiklah, Kapten."


"Hei, kalian semua, bersegera untuk membentang layar. Saatnya kita melanjutkan pelayaran!" Tabra berseru lantang, sedangkan Akma Jaya berjalan menuju kabin, dia bermaksud beristirahat.


Aisha mengerti kondisi yang dialami oleh sang kapten, dia tidak menegurnya. Hanya memberikan sebuah senyuman manis.


Sementara, waktu sekarang menunjukkan beberapa bukti, sebuah sinar di ufuk barat semakin memerah, petang hendak terbenam, sekarang dunia sedang menanti waktu menuju malam. Angin bertiup sedikit kencang, ia mendorong kapal, suasana kicauan burung pelikan di atas cakrawala cukup menyertai suasana di sekitar mereka.

__ADS_1


Tabra menghirup napas damai, senang terasa, besok hari akan berganti, berlalu waktu meninggalkan jejak kehidupan.


Kenangan dan peristiwa hari ini mungkin akan teringat selamanya atau terlupa. Tidak akan tahu, menangis dan tersenyum, bahkan tertawa. Ekspresi berbeda di setiap hari berlalu.


__ADS_2