
Bisik-bisik di sana masih saja terdengar. Akma Jaya sudah masuk ke dalam kabin kapal. Tabra tidak hiraukan mereka. Dia naik ke atas layar. Dan duduk di sana memandang arah mata angin. Lautan.
Tabra memejam dengan diri takzim. Melantunkan bait syair dalam benaknya. Merenungi kejadian siang dan malam.
Tibalah dia di dalam renungan jiwa yang terasa berat baginya. Mengapa kelelawar berwarna hitam pekat, berwajah menyeramkan itu terbang di malam hari dan pada siang harinya kelelawar itu tertidur nyenyak. Mengapa lautan bisa menjadi tempat kedamaian. Pun menjadi tempat yang paling menakutkan dan di manakah letak ujung lautan itu.
Apakah ada ujungnya? Tabra masih merenunginya sendirian dan tidak pula banyak mendesis seperti ular kelaparan.
“Bisa kupikirkan kalau ini hanyalah kata dalam benakku saja. Tidak berguna!” Dia menepis renungannya saat itu juga, memutuskan membuang jauh-jauh.
Untuk itu dia membuka selembar catatan yang telah lama dia simpan. Entahlah catatan apa itu? Tidak pernah dia beritahukan kepada siapa pun, entah itu Aisha ataupun Akma Jaya. Dia simpan sebagai kenangan, tidak untuk dipamerkan.
Mengenai catatan itu akan dijelaskan mungkin pada bab-bab selanjutnya. Mungkin atau juga tidak akan dijelaskan. Mengenai tentang apa dan mengapa bagi sosok Tabra catatan itu sangat berharga.
Di sisi tali-tali layar. Bagai seorang pemanjat handal Kalboza bergelantung di sana. Menikmati terpaan angin yang menyentuh wajahnya. Tenang tentram.
Di bawah layar. Beberapa masih sibuk berbincang-bincang. Salah satu dari mereka sambil makan cemilan khas dari desa seberang. Keripik ikan tuna, dimasak kering dan renyah dikunyah mulut.
Siapa lagi kalau bukan si Boba. Badan gendut yang sukanya makan. Kalpra beberapa kali mengejek badan gendutnya.
Bahkan cemilan yang dimakan Boba masih segar bergema suaranya. Dilakukan Kalpra dengan suara ejekan sambil ngelawak. Boba tidak begitu menelan seutuhnya. Malah sedikit lebih banyak tertawa mengikuti tawa Kalpra yang sedikit mingsang. Lama-kelamaan dia juga merasa jenuh mendengar semua itu. Tidak ada ujungnya, malah kian terasa menyebalkan.
“Cukup tertawanya, Kalpra. Kau tidak tahu kalau aku marah, aku bisa lebih ganas dari Singa, lebih buas dari Hiu.” Boba mulai menatap serius lawan bicaranya.
“Kau tidak pernah tahu lelucuan, teman. Baiklah, sepertinya aku terlalu memaksa kau untuk ikut tertawa bersamaku.” Kalpra menghentikan dirinya dan memulai basa-basi yang lumayan sudah basi.
“Kau sudah makan?” tanya si Kalpra tanpa dosa. Boba hanya memberikan sekilas senyuman. Entah apa maksudnya?
__ADS_1
Dalam hatinya. “Teman seperti apa dia ini, mempertanyakan makan? Hah, pertanyaan macam apa itu? Basa-basi saja.”
Kalpra berkeinginan mempertanyakannya, lantas menuturkan. “Kau tidak menjawabku, Boba. Kau pasti sedang berkata yang tidak-tidak dalam hatimu tentangku.”
Sekilas lihat saja. Kalpra seperti sudah tahu isi hati si Boba berbadan gendut itu. Kalpra cukup lihai meneliti lawan bicaranya.
“Hei. Kalpra, kau berlebihan, sikap sok tahu kau itu sungguh tidak baik. Kau berbicara seperti itu. Kubenci mengakuinya tapi kau seperti orang yang tidak punya pemikiran, tidak punya pemahaman.” Boba mengerutu.
“Lebih baik kita berhenti dari bicara seperti ini, kita main dadu saja. Itu permainan bagus untuk kau mengasah otak. Kau juga tidak becus mengurus persediaan makanan. Kau mempertanyakanku makan atau tidak? Itu pertanyaan tidak penting yang keseratus kalinya kudengar. Janganlah kau bertanya kepada seseorang akan sesuatu yang kau sendiri sudah tahu jawabannya. Itu basi, kau mau memakan makanan basi?”
Boba melanjutkan bicara dengan nada yang terdengar sedikit lebih tajam. Tapi, raut wajah terlihat cukup menyenangkan. Niatnya kali ini baik untuk mengajak Kalpra main dadu bersama. Tidak berdebat.
Sambil berjalan menjauh, meninggalkan Kalpra. Boba ingin tertawa terpikal yang sengaja dia tahan. Kalpra hanya bisa angkat bahu mengiakan tanpa banyak ucap, tidak pula membantah dan mengalah baginya adalah jalan yang lebih baik daripada berlawanan dengan si Boba. Dia pun ikut menyusul Boba yang sudah berjalan lebih dulu di sana. Aswa Daula cukup memperhatikan mereka dan mengecek peta pelayaran dan arah angin tempat mereka.
Sementara, Aisha sedang asyik di dapur. Terampil memainkan alat masak. Dia memasak dengan riang, tanpa dipaksa.
Di udara sana berkesiur angin membawa uap dan bau aroma masakan itu. Sangat istimewa yang sudah jelas tercium mereka.
Membicarakan masa itu. Kau mau pergi kemana, teman. Ke arah selatan atau ke arah bayangan masa lalu itu. Masih sajakah itu mengganggu perasaanmu? Masa lalu itu walau menyakitkan. Oh, tidak begitu.
Masa lalunya tidaklah menyakitkan. Masa itulah yang selalu dia rindukan.
Masih sampai sekarang diri itu terlena dalam mempertanyakannya. Pertanyaan? Filosofi kehidupan? Kenangan mantan?
Mantan wanita yang berambut pirang itu? Dia sudah menikah tiga tahun lalu.
Mengapa usai semua itu, usai setelah kepingan berantakan dan usai sekian lama waktu meninggalkannya dengan deretan angka bukan bulanan, tetapi tahunan. Lama per sekian waktu habis menumpang masa kini. Dan masa lalu itu masih saja kuat teringat hingga kini, hingga masa yang tidak bisa dijelaskan oleh ucapan kata.
__ADS_1
“Kau melamun lagi, Jalbia.” Glosia menghampiri dan duduk di sampingnya. Tersenyum ramah dengan dua gigi ginsul yang dia perlihatkan. Pamer!
Bagai orang yang sudah lama kenal. Ya, memang mereka sudah lama kenal. Lama sekali, bagi yang tidak tahu. Ya, sudahlah lebih baik tidak tahu daripada tahu. Itu menyebalkan buat dikenang, menyusahkan untuk diceritakan. Cukup inilah saja.
“Jalbia, kau terlalu sibuk menyendiri.” Glosia memulai basa-basi, ingin ngelawak.
“Kau tahu perbedaan ikan dengan kuda? Jawab saja tidak tahu. Dan menyerahlah.” Dia yang melontarkan pertanyaan. Eh, dia juga yang menyarankan untuk menyerah.
Jalbia tahu itu sekilas pertanyaan jebakan. Dia tertawa. “Apa maksudmu, Glosia. Kau sengaja mempertanyakan sesuatu kepadaku dan kau mengatakan hal demikian fasih kepadaku. Menyuruhku menyerah? Hahaha, dari dulu kau sudah tahu aku tidak pernah menyerah.”
“Itulah maksudku.” Glosia menambahkan.
Saat mendengar penuturan Glosia. Jalbia langsung mengerti maksud perkataannya. Wajah itu berpaling menatap arus ombak. Pemandangan itu, suasana itu amatlah terasa bagai coretan di atas kertas. Bagai lagu-lagu klasik yang diputar di tempat para kawanan Bajak Laut di siang hari.
Terik panas membahana dunia. Lautan yang terbentang di ujung sana. Apalah daya, apalah kata jika di situ bukanlah tempat dengan rasa nyaman didapatnya.
Perkumpulan masa lalu. Berhimpun dengan debaran jantung yang dirasakannya.
“Kau tidak akan bisa mengerti dengan diriku, teman. Wajahmu itu sudah jelas mengatakannya. Wajah kau tidak mirip pula dengan wajahku. Dan tentulah, kau tidak sependapat dan tidak sepemikiran juga denganku, otak kita tidak sama. Tinggalkan aku di sini dengan kesendirianku agar hari ini aku bebas mengeluarkan keluh kesah dan angan-angan dalam benakku.” Jalbia menyahut dengan sedikit keluhannya.
Glosia mendengarkan semuanya hingga menuturkan, “Kau panjang bicara. Banyak kata mubazir yang terbuang. Tahanlah sampai makan siang kita dilanjutkan.”
“Aku tahu, Jalbia. Apa yang kau pikirkan, apa yang kau rasakan. Kau mau pergi kemana? Dengan pikiranmu kau akan bisa pergi kemana pun atau kau akan tetap diam dan memilih tinggal di sini bersama-sama kita di dalam kelompok ini. Apakah sekarang kau masih saja merindukan masa lalu itu bersama guru? Kita yang sekarang memang hidup sebagai orang pengelana ke daerah satu ke dearah lainnya, percaya saja kalau ada waktunya kita akan bisa bertemu kembali dengan guru yang dulu telah membesarkan kita. Dia berjasa banyak dan tentu aku pun tidak bisa melupakannya. Saat kau mengingatnya cukup bayangkan saja apa yang terbaik saat ini kita lakukan.”
Jalbia cukup mendengarkan. Kau mau pergi kemana? Ke arah masa lalu itu, dia pun terdiam memikirkan kalimat 'Kau mau pergi kemana?' Glosia yang mengerti memilih meninggalkan Jalbia sendirian.
Menyendiri adalah cara Jalbia dalam menenangkan jiwanya. Glosia telah lama mengerti akan hal itu. Dia hanya berkata sedikit samar, “Jika dunia ini kau paksa ada hanya untuk mengingat masa lalu dan terjebak di sana, kau hanya akan menjadi batu yang tidak akan pernah bisa melihat dan merasakan bagaimana masa depan.”
__ADS_1
Angin barat bertiup lebih kencang sekarang. Musim barat yang terjadi di antara bulan Desember-Januari-Februari. Sekarang per tanggal Januari dengan angka yang disamarkan. Mengenai masa lalu itu seperti bayangan yang menyulitkan.
Jalbia tiga kata kau harus semangat.