Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas


__ADS_3

Tabra menelan ludah, dia tertegun menatap ke dalam gua, sedangkan Akma Jaya sudah memasuki gua tersebut.


Aisha menepuk bahu Tabra. "Engkau tidak perlu khawatir, kita percayakan saja semua ini kepada Kapten!"


"Aisha, aku percaya!" Tabra tersenyum menatap Aisha.


"Baiklah, semuanya! Kita harus bersedia, ketika Naga itu keluar, kita akan langsung menyerangnya!" Tabra berseru tidak sabaran.


"Bukankah kita harus menunggu aba-aba dari Kapten?" Salah satu dari mereka mengajukan ujaran.


"Tidak, kita sendiri tahu situasi, ini demi kebaikan Kapten!" Tabra menolak dengan suara tegasnya.


Mendengar itu, semua orang yang berada di dekatnya mengangguk termasuk Aisha.


***


Sementara itu, Akma Jaya yang berada di dalam gua, dia terus berjalan, menelusuri dan memeriksanya, keadaan di dalam gua begitu gelap, Akma Jaya terus berjalan dengan sebuah obor yang berada ditangannya.


Gua yang sembap, namun hawa di dalam gua itu cukup panas, tampak sekujur tubuh Akma Jaya meneteskan keringatnya, wajahnya pun bersimbah peluh.


Seakan-akan Akma Jaya telah menceburkan dirinya ke sebuah sungai, laut atau apa pun itu yang membuat sekujur tubuhnya menjadi basah.


"Arrgghh ...." suara keluhan Akma Jaya yang berjalan menelusuri gua tersebut.


Terdengar suara ngauman, suara itu semakin jelas terdengar, hawa di sekitarannya pun terasa panas.


Semakin ditelusuri ke dalam gua, maka hawa panas itu semakin terasa, dia menghela napas untuk beristirahat.


Pada akhirnya, dia tak sanggup untuk melanjutkan langkah kakinya.


Dia mengambil batu kecil kemudian melemparnya ke arah depan dan sepertinya lemparan tersebut mengenai sesuatu.


Dia terus melempar hingga ngauman itu terdengar jelas mendekat ke arahnya.


"Sepertinya ngauman itu semakin mendekat ke arahku!" gumam Akma Jaya seraya terus melempar batu.


Tak lama kemudian, ditengah gelapnya gua, sebuah obor menampakkan cahaya, embusan napas naga terdengar jelas, Akma Jaya mengarahkan cahaya obor ke sudut suara, bayang-bayang sayap naga terlihat.


"Ini ...." Akma Jaya tertegun menatap bayangan tersebut.


Kini, Akma Jaya melihat keseluruhan Naga tersebut. Perlahan dia menghunus pedangnya, tetapi naga itu langsung memuntahkan api, api yang cukup ganas, untungnya Akma Jaya menghindar dengan cepat.


"Naga ini terlalu agresif, aku harus berlindung!!"


Api yang keluar dari naga tersebut, bernyala-nyala sampai keluar gua, membuat Tabra mengigit jarinya, tampak kekhawatiran memenuhi pikirannya.

__ADS_1


Lagi-lagi Aisha menepuk bahu Tabra sambil mempersiapkan senjata miliknya. "Kalau engkau ingin membantu kapten, lebih baik persiapkan senjata milikmu!" Aisha sibuk menambah peluru pada pistolnya.


Mendengar itu, Tabra mulai menghunus pedang miliknya, dia sudah bersiap dengan senjata yang ada ditangannya.


"Aisha, terlalu lama bagi kita menunggu di sini, alangkah baiknya kita masuk ke dalam gua!" Tabra berdiri dengan suara lantang.


"Tunggu saja, jangan gegabah. Dilain hal, ini adalah perintah Kapten!" Aisha bertegas dengan suaranya yang terdengar seperti lelaki.


"Benar, apa yang dikatakan Aisha, ini adalah perintah Kapten!"


"Kalau engkau gegabah masuk ke dalam gua tersebut, nanti engkau hanya akan menyusahkan kapten dalam memancing naga itu keluar!"


"Baiklah." jawab Tabra ringkas, dia terpaksa membungkam keinginannya.


***


Akma Jaya bersembunyi di batu besar yang melindunginya dari embusan naga tersebut.


"Dari yang kulihat di pulau ini hanya ada satu naga, tetapi ini begitu sulit untuk dihadapi." Akma Jaya bergumam sambil menghela napas.


Sekarang, suasana di sekitaran Akma Jaya menjadi gelap gulita karena sebelumnya obor yang ada ditangannya sudah di lahap oleh semburan api naga, sedangkan api naga tersebut menghilang setelah melahapnya.


"Aku harus memikirkan taktik!"


"Kulit naga ini begitu keras, ini percuma!"


"Ditambah aku sedikit kesusahan menyerangnya dalam kondisi gelap seperti ini, memang aku harus memancingnya keluar dari gua!"


Akma Jaya memilih untuk keluar gua dengan tergopoh, sedangkan naga tersebut mengiringinya di belakang sambil memuntahkan api yang cukup besar.


"Ah. Sial! Semburan api itu begitu merepotkan, aku harus menghindarinya!!"


Akma Jaya terus menghindarinya, berlari dengan penuh kewaspadaan, berkali-kali dia menengok ke arah belakang.


Untungnya dia berhasil keluar dengan selamat. Melihat itu, Tabra langsung meloncat dengan pedang yang terhunus.


Dia langsung menebaskan pedangnya ke arah sayap naga tersebut, tetapi sama seperti tebasan Akma Jaya, tebasan itu tidak mempan.


"Apa? Tebasan ini tidak berguna!" Tabra menjauh dengan cepat.


"Ah, sial!"


"Kapten, apa Anda baik-baik saja?" Tabra bertanya dengan wajah yang tampak cemas.


"Tidak apa, kita akan menyusun taktik, kita akan menggabungkan teknik pedang!" Akma Jaya menatap ke arah Tabra.

__ADS_1


Tabra mengangguk. "Baiklah, Kapten!"


"Pertama-tama kita akan menyerang secara bersamaan untuk membuat naga itu lengah kemudian Aisha diam-diam membidik naga tersebut!"


"Aisha, apakah kamu bisa melakukannya?"


"Baiklah, Kapten. Aku bisa melakukannya!"


Di balik semak-semak Aisha bersiap membidik naga itu dengan pistol, semua itu adalah taktik Akma Jaya, Aisha membidik dan berusaha mengenai mata naga tersebut.


Akma Jaya menatap ke arah Aisha, menandakan aba-aba, Tabra berada di samping Akma Jaya, mereka berdua memelesat cepat dengan pedang yang berada ditangannya.


Tebasan pedang seolah-olah berusaha mengenai naga tersebut, Tabra tertatih, namun dia terus melancarkan serangan, Akma Jaya menebaskan pedangnya ke arah kaki Naga, mereka berdua langsung menghindar setelah naga tersebut memuntahkan semburan apinya.


Semburan api itu menyebar melahap pepohonan yang terkena semburan api tersebut. "Aishaaaa!!!" Teriak Tabra memberi arahan untuk menembak.


Tabra langsung pergi menjauh untuk mengembalikan stamina yang dia miliki.


Berbeda dengan Akma Jaya, dia berlari ke arah naga tersebut, bidikan Aisha seolah menyatu dengan pergerakan Akma Jaya dalam menyerang, seketika Aisha mengunci targetnya, peluru itu memelesat tajam menuju ke arah mata naga, berbarengan dengan tebasan yang dilancarkan oleh Akma Jaya.


Peluru itu memelesat dan mengenai tepat ke arah mata naga tersebut, ngauman naga itu semakin meronta, menggemparkan burung-burung yang hinggap di dahan pohon, burung-burung itu berterbangan tak keruan, memecah suasana hening dengan ngauman yang cukup keras.


"Ngauman naga itu mengerikan!!" Salah satu anak buah terkesima mendengarnya dengan wajah yang tampak ketakutan.


"Tenanglah, naga itu sekarang tidak bisa melihat kita!" Tabra menjelaskan dengan nada seriusnya.


Pada saat-saat itu, embusan napas naga itu keluar tak beraturan, embusan api menyebar kemana-mana.


"Semuanya berlindung!!" Akma Jaya berteriak memberi arahan.


Sementara itu, Akma Jaya terus maju menyerang, tak memedulikan semburan api naga tersebut.


"Kapteenn!!"


Beberapa dari mereka kompak berseru mengkhawatirkan Akma Jaya, tetapi dia terus kokoh dengan keinginannya untuk menghabisi naga tersebut.


Akma Jaya terus menebaskan pedangnya hingga dia lelah dengan semua itu, sambil menyerang, otaknya terus berpikir, dia pun memilih untuk menusukkan pedangnya.


Beruntungnya, bagian terlemah dari naga itu dapat diprediksi oleh Akma Jaya, dia pun langsung menusukkan pedangnya.


Pedang itu tertusuk tepat di bagian leher dan itulah bagian yang terlemah dari Naga tersebut.


Perlahan Naga itu terjatuh, tumbang. Terkapar mati di hamparan hutan yang lebat.


Lantas, semua orang yang bersembunyi langsung keluar dan bersorak dengan senang, Tabra tampak tersenyum lelah, napasnya berembus dengan ngos-ngosan.

__ADS_1


__ADS_2