Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil


__ADS_3

"Sini, serahkan teropong itu!" Salah seorang anak buah berucap ingin merebut teropong, dia menggerakkan tangan, menunjukkan kecepatan ambilan.


Bersegera melihat ada yang ingin mengambil, teropong itu diangkatnya, teracung ke arah cakrawala. "Hei, hei. Ayolah, aku ingin melihat hingga selesai, aku belum puas melihatnya!" jawabnya bersikeras—tetap tak ingin memberikan teropong.


Mereka yang mendengar, mengernyit kesal.


"Giliranmu sudah selesai, sekarang adalah giliran kami!" Salah seorang lainnya menyahut lantang.


Tak bisa dimengerti, mereka semua ricuh seolah-olah kelaparan, kegaduhan terjadi di antara mereka semua, hanya karena memperebutkan sebuah teropong. Begitu, tidak habis-habisan mereka terus berucap, ada yang mengoceh, mengucapkan sembarangan kata tanpa pikiran jernih, meracau.


"Haduuuh, bisakah kalian tertib? Bukankah kita semua sudah sepakat untuk berganti giliran, serahkan teropong itu kepada giliran orang selanjutnya!" Salah seorang anak buah lainnya menegur, mengatakan hal demikian untuk mendamaikan situasi mereka. Hasilnya lumayan bagus, bahkan setelah mendengarnya, keadaan menjadi tertib, teratur giliran.


Sementara di tempat kejadian, Aisha berada di sekitar kerumunan menatap heran, mempertanyakan berbagai hal yang mengganggu pikirannya, tak berlangsung lama, Akma Jaya kembali meletakkan palu di sisi sampingnya.


"Tabra, aku akan turun, dan kau tetaplah berada di puncak menara ini," ucap Akma Jaya memandang ke arahnya sedikit tersenyum, seperti memberi salam perpisahan.


"Kapten, saya tidak akan meninggalkan Anda, selama kita bersama, hukuman apa pun yang Anda jalani akan saya ikuti—"


"Tabra, mengertilah!" Akma Jaya memangkas secara ringkas dan cepat.


"Apa yang Anda maksud?" Tabra mengernyit heran, apa yang hendak dimengerti, dia tidak mengerti karena maksud Akma Jaya terlalu ringkas.


Akma Jaya bergeming, berdesir suara angin, bertiup membelai kasar permukaan pakaiannya, jubah hitam pekat yang dikenakan Akma Jaya berkibar, berubah suasana saat itu, di mana kerumunan yang tadinya tak hirau menjadi menatap tidak berkedip sedikit pun. Menelan ludah.


"Kapten, katakan apa yang Anda maksud?" Tabra mengulangi pertanyaan karena Akma Jaya belum menjawabnya.

__ADS_1


Suasana di atas cakrawala masih mendung, tak ada sorotan matahari yang terlihat, di bawah menara, meraka—kerumunan melihat jelas keadaan Akma Jaya dan Tabra yang saling bertatapan, bermunculan pertanyaan di setiap mulut terlontarkan, terucap begitu saja.


"Tabra, aku ingin seperti daun yang jatuh tak membawa ranting, kuharap kau mengerti maksudku!" Akma Jaya mendramatisir sedikit saja senyuman yang terpampang.


Kata sederhana terucap dari mulut seorang kapten, di mana daun jatuh ke tanah, kadang jatuh ke sungai, ia jatuh tanpa membawa ranting. Lagi-lagi Tabra tak bisa mengerti, mungkin kata itu lumayan tinggi, dia tak dapat menyimpulkan tolak ukur dari semua itu.


"Bisakah Anda jelaskan lebih mudah?" Tabra kembali berucap meminta suatu kemudahan kata yang tak rumit.


Akma Jaya sedikit mengangguk, menyimak jelas pertanyaannya yang dapat disimpulkan, Tabra tak mengerti ucapan yang baru saja Akma Jaya ucapkan.


"Tabra, mengenai apa yang sudah kuucapkan, sederhananya aku tak ingin melibatkan seseorang, cukup aku saja!" Akma Jaya menjelaskan sedikit detailnya.


Kali ini, Tabra mengerti. Namun, dia tetap menolaknya. "Kapten, kita akan terus bersama, saya juga melakukan kesalahan, maka saya bersedia dihukum bersama." Tabra dipenuhi senyuman yang mendamaikan suasana di antara mereka berdua. Persahabatan, dalam hal apa pun, mereka telah lama bersahabat, bersama melewati waktu dalam suka maupun duka, tak ada rahasia di antara mereka berdua.


"Kapten, saya izin bertanya sebelumnya, sebelum kejadian ini, pernahkah kita terpisah atau berpisah? Jawabannya tidak. Kita selalu melewati masa berlalu, bersama-sama, apakah Anda ingin memutuskan ikatan persahabatan diantara kita?" Tabra kembali berucap, tentu ekstra dramatis. Bahkan, lebih dari ucapan Akma Jaya, bergetar mulutnya dengan tatapan mata serius.


"Sialan, sebenarnya apa yang mereka sedang bicarakan?" Salah seorang yang baru saja menembak itu menatap geram penuh pertanyaan heran.


Dia penuh hasrat untuk menembak, tetapi senjata itu telah dia hempaskan, rusak.


Sekilas pandang permukaan senjata itu masih utuh, dia percaya, maka senjata tembak yang tergeletak diambil.


Senjata tembak itu kembali dia luruskan, mengeker sasarannya, kali ini dia lebih teliti, lebih tenang, diam mematung seraya mencoba meluruskan arah sasaran.


Setelah puas mematung, dia berjalan pelan mencari posisi nyaman untuk menembaknya hingga tibalah pada posisi yang nyaman, dia menembak dan lagi-lagi berdecak kesal karena memang senjata itu telah rusak—tidak bisa digunakan lagi.

__ADS_1


Aisha dari kejauhan mendengar jelas. Lantas, tertawa kecil, dia mencoba untuk menahan tawa, tetapi tak bisa ditahan, seolah-olah suara tawa itu terkeluar dengan sendirinya, keberuntungan semata, setiap orang di situ bersikap acuh tak acuh.


Sepertinya itu tidak jadi masalah. Toh, tertawa adalah hak setiap individu, tetapi bukan begitu. Mereka hanya tidak menyadari Aisha tertawa saking kecilnya suara tawa tersebut. Bahkan, si penembak amatir itu menatap tajam.


"Siapa di antara kalian yang tertawa?" Dia bertanya mengeluarkan suara lantang, menengok ke sekeliling arah.


Rupanya si penembak ini, dia mempunyai telinga super peka, bahkan frekuensi suara sekecil itu pun masih bisa dia dengar.


Kerumunan diam, tidak mengerti karena mereka tidak mendengar suara tawa sedikit pun, mereka menggelengkan kepala. Cuma itu, tidak lebih.


"Kalian semua, jawablah!" Dia kembali berseru lantang, kerumunan menatap santai.


"Hei, kau ribut sendiri mempertanyakan siapa yang tertawa? Apa jabatanmu? Tidak lebih, kau sama dengan kami!" jawab salah seorang geram mendengar ucapan si penembak yang berlagak laksana seorang kapten. Yang lain pun sama, semuanya menatap geram, Aisha tertolong dari cengkeraman kejahatan.


Lantas, karena hal itu, dia meminta maaf ke arah kerumunan, bahkan mengalihkan perhatian ke puncak menara, di mana itu adalah tempat Akma Jaya dan Tabra yang sedang terlihat berbincang serius.


"Kapten!" Tabra berseru menepuk pundak Akma Jaya. Sebuah tatapan biasa memancar jelas ke hadapannya.


Akma Jaya tak hirau perkataan Tabra, dia menepis secara mentah. "Tabra, keputusanku tetap sama. Bukankah sebelumnya kau bertanya mengenai keputusan apa yang kuambil, maka inilah keputusan itu, kuharap kau menerimanya!" Akma Jaya menjelaskan lebih detail ucapan yang baru saja membingungkan Tabra.


Di mana pada episode sebelumnya memang tak bisa dimungkiri, bahwa Akma Jaya menjawab 'Tak ada.' Ringkas sekilas pandang, tetapi dia melanjutkan bicara terus menerus hingga jadilah sebuah keputusan.


"Kapten, apa Anda bercanda di saat genting seperti ini?" Tabra kembali menuturkan kalimat tanya seolah-olah tidak percaya dengan keputusan yang diambil oleh Akma Jaya.


"Memang, begitulah keputusanku." Akma Jaya lagi-lagi berucap ringkas seraya mengalihkan pandangan.

__ADS_1


Perlahan dia bergerak menuruni menara, palu besar itu tetap dia bawa, tepat di atas pundaknya, ditenteng. Warna, di kala itu, berjuta warna pakaian berkerumunan menatap seraya menunggu tibanya Akma Jaya ke bawah, tak sabar sepertinya.


__ADS_2