Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan


__ADS_3

Pada saat Kapten Atlana meninggalkan Akma Jaya, suasana masih petang, ketiga kapal itu menuju ke Wilayah Nanaina, tibalah mereka tepat di mana matahari bersembunyi dibalik bumi, sembunyi setengah permukaan, sorotan warna, begitu seperti biasanya.


Pada saat Tabra terdiam di atas tiang layar, bentuk bundar, serpihan kenangan menciptakan kata tuturan sejenak bersama helaan napas yang terkeluar damai, tanpa keluh, syukur pun terucap seperti terbentuk sebuah kata berputar di ruang pikiran, semata ideologi.


Ketiga kapal itu singgah di dermaga, seketika sesosok mereka, seorang kapten, tetapi bukan seorang, melainkan tiga orang kapten, masing-masing dari mereka memakai setelan baju bercap mantap, wajah sedikit sangar terlihat, mereka turun dengan sikap gagah dan wibawa.


"Ajadala, Gogoria!" Kapten Atlana berucap dengan nada sangar.


"Saatnya kita melakukan pembunuhan!" Dia melanjutkan ucapan, kini matanya membelalak lebar dengan tangan menggenggam.


***


Di sebuah tempat minuman, Kapten Broboros meminum, seteguk, dua teguk, tiga teguk, empat teguk, lima teguk, dia mabuk berat. Lantunan kata sesederhana ini, tentang peluit wasit ketika di mulainya permainan sepak bola, menerjang ke tiang gawang, sesederhana itu mengenai rumah, gedung, tempat keramaian, pusat informasi di dalam pikiran, itu semua hangus dibakar oleh keserakahan, senyuman berhamburan gelak tawa. Hahaha.


Doouurr! Saat itu, kosa kata terucap begitu saja, tanpa pemikiran jernih seorang manusia, tak ada apa-apa. Ini semua hal yang tak bisa dipercaya. Sesosok luka masih terasa dalam peputaran waktu.


"Hei, tambahkan minumannya!" Nada keras, tetapi bertolak keadaan dengan tubuh yang melembek, melemah, bahkan lunglai, Kapten Broboros tak tanggung-tanggung dia berucap ingin menambah.


Semakin tinggi minuman yang diteguk, melalui istilah kadar di atas sewajarnya, terpandang strong katanya.


Sungguh, nelangsa sekali. Sudut pandang berucap kuat membabi-buta atau bodoh tak terkira. Semua itu, dikalangan bajak laut menjadi kebiasaan yang kadang hanya beberapa dari mereka. Tak semuanya, dunia punya warna, tak selalu warna kelabu, ada banyak sudut pandang.


Sekarang, suasana mendekati malam, Kapten Broboros sedang menenangkan pikiran, dia tak sanggup mengingat sahabatnya hingga memilih hal demikian.


Tepat di dermaga, Kapten Atlana melangkahkan kaki bersama dua orang sahabat di samping kiri dan kanan, mereka menuju ke salah satu kedai. Di wilayah Nanaina memang terdapat banyak kedai, berjejer hampir di setiap pinggir jalan, ada kedai yang berukuran besar, sedang, dan kasihan, ada juga yang kecil.


Besar tidak terlalu besar, ukuran yang wajar untuk sebuah kedai, Kapten Atlana berduduk sejenak.

__ADS_1


"Apakah Anda ingin memesan?" tanya salah seorang yang menjaga kedai.


Penjaga kedai itu tidak lain adalah Asgaha, dia membungkuk pelan dengan tangan yang memegang buku pesanan. Memberi hormat, sebenarnya Asgaha cukup mahir dalam tersenyum, dia setiap hari melakukannya, senyuman palsu dan gaya hormat tak ada kesan apa-apa.


Akan tetapi, mampu menghipnotis orang yang memandang, akibatnya orang tak menyadari bahwa semua itu palsu, kepiawaiannya dalam berakting luar biasa.


"Ambilkan aku air putih!" Kapten Atlana berucap tegas.


"Eh?" Asgaha sedikit heran, dia bergumam kaget. Tapi, dia tak berani mengucapkannya secara terus terang. Lantas, mengangguk dan pergi dari hadapan Kapten Atlana.


Di sisi sampingnya, seseorang sedang menoleh-noleh. Lantas berucap, "Atlana, sebenarnya di mana dia berada?" Ajadala bertanya tidak sabaran.


"Tunggu saja, saat dia muncul. Kita akan segera mengetahuinya." Kapten Atlana tidak segan menatap, setelah berucap, dia bergeming sesaat.


Ajadala mengangguk, sedikit mengerti. "Baiklah, Aku merasa sangat ingin cepat membunuhnya, aku tak bisa menunggu lama. Atlana, apakah kau yakin dia berada di wilayah ini?" tanya Ajadala lagi, sedangkan Gogoria tampak menyimak perbincangan mereka berdua.


Mereka kuat menghadapi semua itu karena jalur di depan mata, sama. Tidak berbeda. Hari itu, tepat beberapa minggu yang lalu, sebelum Kapten Atlana berlayar menuju ke Wilayah Nanaina.


"Ajadala, ikutlah bersamaku ke Wilayah Nanaina dan kau juga Gogoria." Saat itu mereka bertiga saling berbincang di salah satu pulau, duduk bersama seperti orang yang sedang piknik, tepat di pinggir pantai.


"Untuk apa?" tanya Gogoria singkat, Ajadala sedang meminum sesuatu.


"Untuk membunuh Riyuta!" Kapten Atlana bersuara ganas, permukaan bibir lebih tipis dari biasanya.


"Kita akan berlayar pada besok hari." Kapten Atlana menyambung ucapan.


Ajadala tersenyum konyol. "Membunuh? Apa kau tidak salah?" tanyanya, lalu tertawa seraya meletakkan gelas minuman.

__ADS_1


"Atlana, sejak kapan kau mempunyai niat untuk membunuhnya, apakah kau masih geram kepadanya?" Gogoria bertanya serius memecah tawa dari Ajadala.


"Tidak, aku tidak suka dirinya. Lebih baik kita musnahkan saja," jawab Kapten Atlana ringkas.


"Jadi, kita akan berlayar ke Wilayah Nanaina?" Ajadala mendongak.


"Ini pasti seru, hahaha," lanjutnya tertawa.


Semenjak musyawarah singkat, pada besok hari mereka berlayar menuju ke tempat keinginan, suatu hal yang begitu tidak bisa dipercaya, Kapten Atlana berlayar atas dasar keinginan membunuh.


Mendekati wilayah hampir berjarak 10 meter, mereka menghadang kapal Akma Jaya, sebelumnya.


"Heh, Akma Jaya. Rupanya kau telah berkunjung ke Wilayah Nanaina, sungguh amatir yang tidak punya nyali!" Kapten Atlana bergumam melihat lambang dan permukaan kapal Akma Jaya.


Lantas, berteriak lantang kepada Ajadala dan Gogoria untuk menghadang kapal Akma Jaya, mereka pun bertemu, berbincang mengenai sesuatu yang tidak penting, tetapi cukup berkesan bagi Kapten Atlana.


Dia sedang mencoba tuk memotong-motong rambut Akma Jaya, memangkas habis sampai ingin membelah isinya, tetapi debat argumennya terhenti karena petang mendekati suasana malam. Namun, belum terlalu dekat. Kapten Atlana mengingat tujuannya.


Lantas, mereka bertiga melanjutkan pelayaran tanpa sepatah kata pun dari Ajadala dan Gogoria, hanya anggukan saja.


Kini, mereka bertiga sedang menunggu kehadiran Kapten Riyuta. Menurut kabar yang beredar dikalangan orang-orang, dia sering minum di kedai tersebut, tempat sekarang Kapten Atlana duduk bersama dua orang sahabatnya.


Suasana tampak biasa tak menunjukkan dukacita atau sekilas tampak baik-baik saja, semenjak perkataan kakek tua yang mengatakan ada sumber mata air kehidupan, sedangkan di tempat menara, tidak ada yang berani mendekati tempat tersebut, mereka takut dijadikan kambing hitam atas rusaknya menara.


Ada banyak bajak laut yang belum berdatangan ke Wilayah Nanaina, suasana masih petang menyorot waktu malam, beberapa pun masih asyik duduk berbincang di kedai-kedai terdekat serta tempat hiburan lainnya.


Kapten Broboros menghentikan minumnya, lalu beristirahat tidur pulas di waktu petang yang mendekati malam. Bahkan, sekarang sangat dekat hingga permukaan matahari berjarak dua jari dari hilang dirinya karena ditutupi bumi. Rotasi yang menyebabkan adanya siang dan malam. Begitu, dunia itu berputar.

__ADS_1


Dari waktu ke waktu, hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, berganti dan terus berlalu. Di kala ratusan kapal berlayar, terbentang layar didorong angin, tangisan sang kenangan tertinggal dalam pikiran, renung, sesak mungkin ada, semua itu terlukis menjadi kenangan.


__ADS_2