
Kapal mereka berlabuh di pinggir pantai, di tengah hari yang mana matahari berada tepat di atas ufuk kepala. Garis khatulistiwa di desa Lauma, partikel awan putih tak nampak, hanya biru dari bias cakrawala.
Panas dan melelahkan, dua kata itu bagai memenuhi isi kepala mereka.
Banyak orang di pantai berkerumun menatap dan menunggu turunnya Akma Jaya dari kapal.
“Kapten, sepertinya kedatangan kita disambut oleh mereka.” Tabra memandang ke arah kerumunan. Tersenyum kecut, wajahnya bersimbah peluh.
“Banyak sekali.” Salah seorang anak buah terkejut melihat kerumunan. Dia belum terbiasa ditatap banyak orang, terlebih disambut, itu adalah hal yang sedikit mengharukan baginya.
Air matanya berlinang, terharu.
“Eh, apa yang kau rasakan?” Salah seorang menepuk pundaknya. Tersenyum menyemangati.
“Aku merasa seperti terlahir kembali.” Orang itu berbahagia girang.
“Apa ini mimpi?” tanya salah seorang anak buah lagi, dia mencubit pipinya sendiri.
“Tidak, sepertinya kau sedang berada di alam kubur.” Salah seorang menyahut tertawa kecil.
“Apa? Aku tidak dengar.” Mereka tidak kuat, berucap melongo.
“Hahaha, aku bercanda.”
“Baiklah, saatnya kita turun dari kapal.” Dia kembali berseru girang.
“Hmmm, apa iya?” tanya orang di sebelah tidak percaya.
“Puyuuh, apa ini fatamorgana?”
“Hahaha, sudahlah.”
Mereka sibuk berbincang mengenai apa yang mereka lihat, baru kali ini kedatangan mereka disambut atau seolah kenapa dan bagaimana ketika melihat sambutan itu, rasanya seperti mimpi, tidak menyangka.
Tibalah sekarang, Akma Jaya turun dari kapal. Sorakan dan teriakan selamat datang bersahutan beserta senyuman yang terpampang jelas di wajah mereka.
“Akma Jaya, ternyata kau datang lagi ke sini, rasanya kau meninggalkan baru beberapa saat yang lalu, selamat datang kembali.” Adfain menghampiri seraya menyodorkan telempap.
Akma Jaya menyambut sodoran telempap. Kini mereka berjabat tangan layaknya kedua sahabat yang telah lama tak bertemu.
“Adfain, katamu seperti menolak kedatanganku.” Akma Jaya mencoba bergurau.
“Hahaha, tentu. Buat apa kau ke sini?” balas Adfain menyeringai. Keduanya saling berbalas, sedangkan Tabra menatap heran.
“Aku sekadar rindu.” Akma Jaya menunjukkan ekspresi serius, tak ada celah dusta di sana, kedua manik mata memancarkan bentuk cahaya damai.
“Hahaha, kau bergurau. Bagaimana perjalananmu ke Wilayah Nanaina?” tanya Adfain tersenyum simpul.
Akma Jaya menyeringai. “Aku hampir mati.”
“Astaga? Apa iya?”
“Ya, tapi benda pusaka Atramata yang kau berikan dapat membantuku,” jawab Akma Jaya menjelaskan.
__ADS_1
“Baik, nanti kita bicarakan lebih detail, sekarang saatnya menikmati suasana kedatangan, lihatlah mereka semua berkumpul di sini untuk menyambut kedatanganmu,” ucap Adfain mengisyaratkan sesuatu, sedangkan Akma Jaya menatap ke isyarat tersebut.
Tepat di belakang Adfain, mereka semua berkumpul, setiap pasang wajah bersitatap ke arah Akma Jaya.
“Aku tak menyangka akan disambut begini, apa ini rencanamu?” Akma Jaya bertanya.
“Hahaha, baru saja tadi aku berucap nanti kita bahas lebih detail. Sekarang, nikmati sambutan mereka.” Adfain berbicara seraya berjalan, lalu menoleh, “Hei, ayo, jangan hanya berdiam di sana.”
Akma Jaya mengangguk. “Baiklah.”
Sementara di waktu yang sama dari perbincangan Akma Jaya bersama Adfain.
“Haha, Aisha kenapa wajahmu terlihat datar begitu?” Tabra mencubit kedua pipi Aisha sembarangan.
Aisha lekas menepisnya. “Hei, kau kurang kerjaan atau apa? Dasaaar!”
“Tahu wajahmu seperti apa?” tanya Tabra ingin memberi tahu.
“Seperti apa?” tanya Aisha.
“Seperti rembulan redup, tak ada cahayanya.” Tabra berucap to the point.
“Iih, tidak jelas.” Aisha mengerut dan memalingkan pandangan.
“Heh? Berterimakasihlah, kakakmu ini baik sudah memujimu.”
“Memuji? Aneh.”
“Uuuh.”
“Apa?”
“Dasaar!”
“Tapi, lucu?” Tabra menyergah, bertanya.
“Lucu, tapi menurutmu!” Aisha menjawab cepat.
“Saat dilaut aku melihat ikan, tapi sayang ia kabur ketika aku melihatnya.”
“Hahaha, kau jelek, ia tidak suka.” Aisha tertawa.
“Apanya?” tanya Tabra memastikan, dia tidak percaya dengan sebutan itu.
“Jelek!” Aisha kembali meletupkan nada ucapan.
“Hahaha.” Tabra tertawa.
“Hehehehe. Kau jelek.” Aisha kembali ikut tertawa.
“Iya, kau juga.”
“Apa?” Aisha memelotot tajam, wajahnya dekat hampir 5 centi dari jaraknya.
__ADS_1
Tabra berkeringat, pucat pasi dan cepat berpikir untuk menjadi alasan. “Tidak, aku tadi bicara sama angin.” Tabra geleng-geleng kepala cepat tanpa ada jedanya.
“Baguslah.” Aisha menjauh darinya sejenak.
Para buah mendengarkan hampir tertawa, ketika Akma Jaya selesai berbincang, dia berjalan mengikuti Adfain. Para anak buah mengikuti di belakang Akma Jaya.
Sementara, Tabra dan Aisha, mereka saling tertawa kering dan masih mengoceh satu sama lain.
Tak tahu kenapa kadang Aisha mengerut dan mengepal tangan, tetapi anehnya dia selalu urung untuk menaboknya. Padahal, tinggal tabok selesai masalah agar Tabra jera.
Akan tetapi, dia enggan melakukannya, mungkin di depan sana ada banyak orang berkerumun atau kenapa, jelas tidak diketahui alasannya, kedua kakak beradik itu sering entah kenapa begitu.
“Aisha, lihatlah kapten sudah berjalan jauh meninggalkan kita, para anak buah juga.”
“Ini semua karenamu, Tabra.” Aisha balas ketus.
“Tidak, ini semua karenamu.” Tabra tak ingin disalahkan.
“Dasaar!” ucap Aisha memelotot.
“Kabuuur!” Tabra berlari, sedangkan Aisha menyusul di belakangnya.
Sementara, Akma Jaya berjalan dan berdekatan dengan Adfain, sampai mendekati orang-orang.
Mereka saling menyapa dan beberapa ada yang bergegas untuk mempersiapkan makanan.
Di saat itu, senyuman merekah dan penjelasan tuturan terucapkan mengenai apa yang sudah terjadi. Adfain menjelaskan tentang wilayah Valissa, sedangkan Akma Jaya menyimaknya.
Pada akhirnya, berakhir semua itu dengan kata perpisahan, tepatnya beberapa bulan kemudian Akma Jaya memilih merantau untuk mencari sumber mata air kehidupan.
Di pantai mereka bertatapan mengucapkan salam perpisahan, Akma Jaya beserta anak buahnya, juga Aisha dan Tabra naik ke atas kapal.
Asra Burona terdiam bersedekap, lamat-lamat mendongak. “Akma Jaya, arungilah lautan selama engkau mampu, jangan kembali lagi. Hilanglah bagai bintang kejora ditelan kabut jingga.”
“Hei, hei. Kau gila!” Tabra menyergah.
“Kapten, lupakan itu, saatnya kita berlayar menuju ke Wilayah Valissa, sebelum tiba cahaya petang yang hendak menjelang.” Tabra melambaikan tangan, meneriakan perintah ke semua anak buah untuk membentang layar.
“Tunggu.” Akma Jaya menghentikan pergerakkan semua anak buah. Tabra menepuk jidat, menyeringai ketus sepintas.
“Asra Burona. Jangan lupa, hari ini kau dan aku bersitatap dan berakhir berpisah. Titip salam untukmu, salam keselamatan dan salam kebahagian.” Akma Jaya beserta anak buah melambaikan tangan. Adfain tersenyum dari kejauhan.
“Akma Jaya, tiada kegilaan yang kualami selain berpisah denganmu, tahu luasnya samudra, ini tak sebanding dari apa pun.”
“Semakin lama, semakin tidak nyaman saja di sini.” Tabra menyergah ketus. Adfain tertawa, Akma Jaya menyeringai, Aisha menatap lamat-lamat seorang gadis kecil berlinang matanya.
“Kak Aisha.” Gadis itu memanggil. Tersenyum. Aisha balas melambai damai, air mata sembab, kapal berlayar ditiup angin, meluncur ke tengah lautan.
Semenjak saat itu, berbulan-bulan mereka mengarungi lautan dan mereka pun mendapatkannya dan memberikan sumber mata air kehidupan itu kepada Kapten Broboros.
Kapten Broboros menghidupkan kembali Kapten Riyuta dan sebagai hadiah, Akma Jaya diberikan hadiah berupa peta harta karun.
Mereka kembali berlayar mengarungi luasnya lautan dan tibalah cerita pada chapter 42—50 lalu. Di mana peristiwa sebelumnya, mereka diterjang ombak di tengah lautan hingga Akma Jaya mengalami mimpi aneh.
__ADS_1
Dalam mencari harta karun, ada banyak kesusahan yang mereka hadapi selama mencarinya, tetapi mereka tak berputus asa.