
Malam hari itu Tabra meminta maaf lagi kepada Boba yang pada satu kesatuan masa semua itu dengan mudah dimaafkan Boba, tanpa pertentangan ataupun perdebatan.
“Tidak mengapa, Tabra. Kau bukanlah orang yang bersalah atas kejadian sebelumnya, bahkan tanpa kau meminta maaf sendiri aku sudah memaafkannya. Untuk apa menaruh dendam hanya karena masalah sepele seperti itu. Benarlah apa yang dikatakan Kalpra, dan beberapa waktu lalu aku merenungi dan mendapati bahwa yang bersalah adalah aku sendiri dan mengenai kejadian sebelumnya, semua itu kuanggap sekilas peristiwa yang tidak perlu kuingat-ingat.” Boba menuturkan dengan nada sedih membuncah. Pedih.
Tumpang tindih luka yang menganga dirasakannya dalam batin. Perasaan bersalah yang bagai jarum menghujam kepalanya.
Ada burung pelikan malam itu bertengger menatap mereka di atas layar hendak tertawa. Ngek ngok ngek ngok—bunyi tiang layar yang ditiup angin ikut menyertai suasana sunyi di antara mereka, memang suaranya begitu terasa dramatis, apalagi kalau hujan atau badai. Beuh, bisa patah.
Tabra di situ merasa bersalah sendiri. Dia tidak mau mengatakan apa-apa terlebih dahulu, hanya memastikan. “Apa kau berkata jujur atau berbohong?”
Jauh di dalam hati Tabra merasa bersalah. Ini semua bukanlah salah Boba, begitu hatinya berbicara menuduh diri sendiri.
Mencoba untuk tersenyum dan tersenyum lagi, wibawa itu tidaklah ada gunanya. Wibawa itu lenyap akibat perasaan sedih karena merasa bersalah atas sebelumnya.
“Heh, rupanya kau sedang meragukan perkataanku. Kau tidak percaya, aku benar-benar tidak berbohong dengan perkataanku sebelumnya dan kalau aku berbohong dengan perkataanku itu untuk apa, tidaklah ada gunanya dan sepertinya ini sudah menjadi kebiasaanmu yang buruk. Kau tidak pernah berubah, dasar bodoh kau selalu memancing kemarahanku!”
Boba tidaklah marah. Kali ini hanya mempertegas perkataannya untuk dipercaya dengan menekankan suara.
Itu menandakan suatu pertanda bahwa dia benar-benar serius dan bahkan tidak berbohong. Dia usai merenungkannya.
“Yeah, aku tidak bermaksud begitu.” Tabra menarik ulur perkataan dengan suara yang terdengar setenang ombak di malam itu.
Baiklah, dirasa olehnya basa-basi malam hari itu sudah cukup, mengenai ini Tabra menyodorkan wadah makanan misterius berbungkus kain, lalu melanjutkan ucapannya. “Kau nikmati saja sup yang dibuat Aisha ini. Aku meminta dia untuk membuatkannya khusus untukmu.”
Ternyata di dalamnya ada sup. Boba bisa menerka bahwa itu adalah sup wortel yang usai dulu mencobanya walau hanya sekali. Kala itu dia langsung menjadikan sup itu ke dalam kategori kesukaannya. Awal mula dia menyukai sup wortel itu terjadi karena mengetahui Akma Jaya menyukai sup wortel tersebut. Itulah alasan mengapa dia menyukainya, terlebih rasa sup itu memang sedap, pas di lidah seorang Boba.
“Ini sup wortel.” Tabra melanjutkan ucapannya yang semakin membuat Boba girang seakan ingin berjingkrak kesenangan. Dugaan Boba benar. Itulah yang membuatnya girang kesenangan.
“Kau akan kumaafkan walaupun kesalahanmu seperti layaknya sebuah gunung, bahkan seperti layaknya lautan dan tingginya langit yang bertingkat. Dan sering-seringlah memberiku sup ini. Karena ini adalah sup kesukaanku.” Boba menjelaskan usai mengambil wadah makanan yang berbungkus kain tersebut.
Tabra tertawa. Boba itu kadang lucu perutnya sudah berbunyi dan siap menyantapnya. Tabra tahu akan hal itu dia pun mengatakan ada keperluan lain. Dan pamit meninggalkan Boba dengan sup wortel tersebut. Boba amat senang akan hal demikian, tidak ada lagi kemarahan yang tersimpan dalam hatinya.
Malam hari itu di atas kapal. Di atas langit yang bertebaran bintang gemintang. Cahaya langit malam hari itu amat indah dipandang mata. Akma Jaya sedang berada di dalam kabin dengan sebuah surat yang digenggam. Surat siapa lagi? Itu surat yang sama saat pelayaran ke wilayah Kaima, surat yang ditulis oleh Kapten Atlana.
Detik ini. Perasaan yang bergetar pada masa itu cukup menyulitkan sanubari. Kapten Atlana berkata. “Jika hanya kau lari dan lari saja, bahkan sampai ribuan abad berlalu sampai sungai Aufrat mengering kempes dihisab bumi. Yakinlah, kau adalah seorang pecundang yang tidak tahu apa itu artinya berjuang. Kau tidak lebih hanyalah seorang pecundang yang tidak waras!”
Kelompok mereka memang tidak bersalah. Dan para bajak laut lainnya itu pun sama tidak ada salahnya mengejar kelompok mereka untuk dibunuh. Persepsi di kedua belah pihak ini terjadi hanyalah karena semata kesalahpahaman yang terjadi.
Apa yang bisa engkau katakan Wahai SANG KAPTEN. Kau yang sekarang memimpin kelompok, walaupun di balik semua ini seorang Author tengah mencarikan jalan keluar yang terbaik dari masalah tersebut.
“Surat ini memang benar. Aku seperti seorang pecundang yang lari.” Akma Jaya merenungi surat itu yang kian membuat hatinya merasa sesak dan mati rasa.
Berbicara cinta yang katanya mampu menghilangkan perasaan resah gelisah? EH, TAPI Jangan pernah bercanda tentang cinta. Semua kecintaan yang ada di hatinya sudah terkuras habis kala hari itu bertemu sang putri duyung yang berada di ujung pulau Magenda. Pulau di mana para putri duyung datang berkumpul dan bermukim di sana setiap tahun baru, menyemarakkan suasana indah nan bercahaya. Kalau mengingat tentang semua itu, pulau Magenda bagai surga di alam dunia. Keindahan alam maupun keindahan putri-putri yang berlibur di sana.
Tidak akan mampu dibayangkan dengan benak. Itu sudah berlalu, tempo dulu.
“Kapten, apakah Anda sibuk di dalam sana? Katakan saja kalau Anda tidak sibuk karena saya saat ini ingin membicarakan sebuah rencana yang telah saya siapkan sejak siang tadi, rencana yang ingin saya diskusikan ke mereka, tetapi malah gagal. Rencana ini amatlah serius dan penting, Kapten. Mengingat Raja Hurmosa memang adalah orang yang tidak bisa dipercaya, kita harus bersegera membuat rencana agar tidak menjadi bahan tertawaan mereka.”
__ADS_1
Tabra bersuara mengutarakan apa yang hendak dia katakan dan berdiri di depan pintu kabin, usai mengetuk dengan bunyi yang kau tahu, teman... begini bunyinya.
Tok.. tok.. tok..
Usai juga menemui Boba dan sudah memberikan sup wortel kepadanya, lantas berbicara mengenai dirinya ada keperluan, pamit meninggalkan Boba. Oh, begitu rupanya inilah suatu keperluan, yang dia maksud sebelumnya. Keperluan ingin membicarakan rencana itu kepada Akma Jaya. Kalau kapten sudah setuju, pikir Tabra yang lainnya akan setuju mengikuti.
Akma Jaya membuka pintu. Tabra masuk dengan menyibas pakaiannya. “Lama sekali Anda membukakan pintu, Kapten. Kalau Anda ingin tahu kaki saya tadi hampir bergetar dan saya haus perlu minum.”
Tabra memulai tingkah laku di hadapan Akma Jaya. Sang kapten itu hanya tertawa sambil menuangkan air ke gelas dan memberikan air itu kepada sahabat yang tengah berdiri dengan gagah di sana.
Tabra menyambutnya. “Dari wajah Anda sepertinya masih teringat tentang bagaimana kecantikan putri duyung itu.”
“Hhaha..” Tabra berkata sebelumnya sambil berjalan, lalu duduk di salah satu meja.
Dia memulai basa-basi. Kebiasaan Tabra memang begitu sejak dulu. Dia selalu memulai pembicaraan dengan basa-basi terlebih dahulu, tidak pernah langsung ke inti. Dan Boba amatlah tidak suka tentang itu, seringkali menyebut Tabra bertele-tele.
Begitulah Tabra, dia bisa berbasi-basi dengan apa saja yang kadang menyakitkan, kadang malah mengesalkan seperti yang usai dulu dia duduk bersama salah seorang dari anak buah. Tentang basa-basi itu dia dapatkan dan diajarkan langsung oleh Aswa Daula bagaimana tentang basi-basi bisa membuat obrolan terasa lebih santai, tetapi sayangnya Tabra malah salah kaprah dalam memahaminya. Sampai kepada hal yang tidak sewajarnya pun masih saja dia katakan sebagai alasannya dalam basa-basi. Sebuah ucapan omong kosong belaka yang tidak penting. Kadang itu menyenangkan, kadang juga sebaliknya.
“Jawab saja, Kapten. Apakah itu benar? Apa Anda sudah terkena hawa kerinduan dan sudah jatuh cinta pada putri duyung itu?”
“Hhaha..” Tabra masih saja tertawa. “Jika itu benar, selamat berjuang untuk bertemu dengannya setiap tahun baru.”
Akma Jaya juga memegang minuman dan sambil memainkan gelas dan berjalan ke sana kemari. Dia menatap Tabra dan berkata, “Kau ada benarnya. Bagaimana mungkin kau bisa mengetahui tentang apa yang kupikirkan? Kau sudah hebat rupanya dan bisa membaca pikiranku.”
Usai itu tertawa sedang. “Putri duyung itu dapat kubayangkan.. bagai samudra yang luas. Menghiasi pemandangan mataku dengan cahaya biru nan berkeliuan. Langit di atasnya bersih menerangi, suasana itu jauh lebih indah dari hanya sekadar berdiri di pelabuhan ikan di turtoga. Yeah, bahkan jauh lebih... indah dari yang kau tahu.”
“Anda lucu sekali, Kapten.” Mendengar kata itu tampak sedikit berlebihan bagai kue stroberi yang ditaburi garam di atasnya.
“Tentang hal ini aku serius dan kau tahu aku tidak bercanda.” Akma Jaya berucap demikian, selanjutnya malah tertawa.
Lalu berkata, “Tertawalah, Tabra. Dengan senang hati tanpa beban yang kau pikirkan atau kau pikul, jangan menahan tawa di depanku. Aku sengaja mengatakan itu dan anehnya kau malah tidak tertawa. Lebih tepatnya kupikir kau sedang menahan tawa.”
Tabra tertawa, lantas berkata, “Itu sebenarnya tidaklah lucu, Kapten. Saya hanya tertawa karena mendengar suara tawa Anda. Mungkin, itulah sebabnya saya sudah ketularan.. Haha..”
Akma Jaya saat itu tengah meminum air, sedikit hendak tersedak. “Itu jelas mengherankan.”
Tabra angkat bahu. “Memang itu jelas mengherankan, Kapten. Malah tawa Anda membuat saya ikut tertawa seperti penyakit menular yang kalaupun tidak lucu, tetap saja membuat saya malah ikut tertawa.”
“Lebih baik begitu daripada hanya aku yang tertawa sendirian. Bisa-bisa kau menyangka aku orang gila. Haha.”
“Hahaha... Anda itu tidak lucu, Kapten. Tapi, saat Anda tertawa itulah anehnya saya malah ikut tertawa. Saya sudah tertular.” Tabra terpingkal memukul-mukul meja. Seperti sebuah kue yang ditimpakan ke wajah. Plakk!
Berbekas dengan bentuk bulat oval bak telur ayam. Eh, salah bukan itu maksudnya.
Tabra perlahan menghentikan tawa dan berpikir untuk bahan basa-basi berikutnya.
“Baiklah, yang tadi itu tidak penting, Kapten. Kita cari topik lain saja. Kalau tidak salah pernah suatu ketika dulu Kapten Atlana berbicara tentang angka yang sulit saya mengerti. Putri Duyung, tentang putri duyung itu dia mengejanya dengan sangat aneh. Kata-katanya itu sungguh kalau dimuat dan dicantumkan ke dalam kamus mungkin akan berguna dengan angka-angka yang tidak bisa dimengerti orang seperti saya. Itu kode atau apalah saya tidak mengetahuinya.” Tabra kembali mengingat-ingat tentang Kapten Atlana.
__ADS_1
Hari itu adalah pertemuan mereka yang amat tidak pernah dibayangkan dan bagi Kapten Atlana begitu berkesan. Bergelantung melayang di pertingkatan satu dua tiga empat dan lima. Tabra baru tahu di hari itu bahwa Kapten Atlana adalah anak dari Kapten Gaiha. Garis takdir yang rumit telah mempertemukan mereka.
“Itu adalah jurus pedang kesembilan. Ternyata kau masih mengingatnya juga.”
“Jangan mengatakan hal itu di depan saya, Kapten. Bahkan saya mengingat semua hal tanpa saya lupakan sedikit pun. Karena dalam hidup ini segala sesuatu yang telah kita lewati adalah kehidupan namanya. Kehidupan yang sungguh bagaimanapun dan apa pun yang terjadi, itu semua adalah kehidupan dan hanya akan menjadi sebuah cerita lama dan sejarah bagi masing-masing diri mau bagaimanapun cerita itu, apa pun segala peristiwanya. Dan apa pun itu saya menerima semuanya dan mengingat pun mengenang berbagai peristiwa penting dalam kehidupan saya.”
“Ya, begitulah. Tabra. Kita memang tidak seharusnya melupakannya, cukup menjadi bahan renungan dan pelajaran. Itu saja.”
“Tidak baik juga berlagak bijak seperti itu. Saya masih mengingat perkataan Kalboza, bahwa seseorang bijaksana harus diikuti dengan perbuatan nyata, tidak hanya sekadar kata-kata. Siapa pun bisa mengatakan dengan mudah saat melihat api dengan kobaran besar katanya padamkanlah wal hal dia sedang berada di suatu ruangan yang bebas dari api, katanya bersabarlah wal hal dia dalam kenikmatan duniawi, katanya jangan menumpahkan air mata wal hal hari-harinya dijalani dengan tawa dan kesenangan. Tidak bisa saya bayangkan, Kapten. Kalau api besar itu yang dulu pernah terjadi di desa Muara Ujung Alsa. Pada saat itu kita tidak mampu memadamkannya hanya bisa lari, tidak mampu pula untuk bersabar, kita menangis sehabis mungkin. Tapi, satu hal mengenai itu tidak membuktikan apa pun, saya tahu itu bukanlah maksud dari kata itu. Intinya kalau salah dalam menggunakan kata saat itu bisa saja sesuatu yang amat sepele menjadi hal yang berantakkan dan tidak sesuai logikanya. Tidak pula diperkenankan bagi diri dalam melaksanakan tuturnya.”
“Kau banyak bicara dan malah menjadi seorang yang berlagak bijak, Tabra. Kau juga mencontohkan kata yang salah.”
“Hhaha.. saya hanya ingin menguji Anda saja, ternyata Anda masih bisa berpikir jernih. Itulah mengapa otak itu diperlukan agar mampu berpikir dalam membedakan mana yang benar dan mana yang salah.”
“Kau benar lagi mengenai itu. Itulah kegunaan manusia punya otak.” Akma Jaya mengiakan dan tahu itu hanya basa-basi.
“Hahahahahahaha.”
“Hahahahahahahaha.”
Masih banyak kosa kata dalam benak Tabra yang belum dikeluarkan olehnya, tawa itu seakan menjadi pertanda awal.
Usai meredakan tawa dia mengatakan hal yang berbeda dari sebelumnya.
“Tapi yang ini serius, Kapten. Seseorang itu seharusnya kala mengucapkan kata bersabar, apalagi menyuruh orang lain bersabar. Dia harus tahu apa itu hakikat sabar dan apakah dalam hidupnya pernah bersabar. Jika tidak, itu berarti menandakan bahwa dia hanya sok bijak saja dengan kehidupan ini. Karena sesungguhnya dia tidak tahu penderitaan dan seperti apa rasa sakit seseorang hingga dia mengalami sendiri dan mampu bersabar atau tidak. Di situlah seseorang dapat memahami hakikat sabar bagi dirinya.” Dilanjutkan malam hari itu.
Sebuah cerita lama yang diceritakan Tabra. Perjuangan seseorang dalam hal bersabar. Dan tentang ahli hikmah yang mengunci mulutnya dari bicara tentang hikmah. Ahli hikmah itu menyadari banyak di antara makhluk yang dapat berbicara ke sana kemari mengumbar kata, hingga binasa karena lidah dengan tutur kata yang cacat.
“Begitulah. Aah, ya. Mengenai putri duyung sebelumnya. Saya terlalu banyak bicara hingga membuat saya lupa pembicaraan kita ini sudah melenceng jauh dari semula.”
Usai itu Tabra tertawa, tetapi tidak nyaring. Entah dia ingin menciptakan suasana yang tenang atau hanya sekadar gurauan saja.
Akma Jaya juga ikut tertawa. Menghargai orang yang tertawa di sampingnya. “Tidak mengapa aku bisa memaklumi semua ini.”
“Ceritamu itu sedikit membuatku menyadari tentang satu hal. Tentu saja tentang putri duyung itu yang tentu aku harus bersabar kalau ingin menyatakan cinta kepadanya.” Akma Jaya tidak serius, dia hanya bergurau.
“Hhaha.. saya yakin Anda pasti bisa. Hanya menunggu waktu di setiap tahun baru, putri duyung itu ada di pulau Magenda dan kalau jodoh tidak akan kemana.”
“Yeah, kau benar tentang itu. Kalau tidak salah kau kemari ingin membicarakan rencana kepadaku. Jadi, apakah rencana yang akan kau bicarakan, Tabra? Dan tentang putri duyung itu kita bahas di lain waktu saja. Bukankah katamu ada rencana penting yang ingin kau bicarakan? Maka bicarakanlah hal itu terlebih dahulu.” Akma Jaya lanjut bicara dan langsung ke inti.
Kalau terus berbasa-basi seperti itu kapan akan berakhirnya, pikir Akma Jaya malam hari akan semakin larut dan Tabra boleh jadi malah mabuk dalam berbicara.
Dalam artian dan makna yang sebenarnya tidak sadar bahwa waktu itu terus berdetak, tidak peduli kau berbaring ataupun berlari.
Seringkali itu terjadi, seringkali tidak sadari olehnya tentang apa yang dikatakannya itu mubazir dan terlena dalam basa-basi itu yang malah berujung ke suatu ucapan yang kian melebar ke penjuru kutub utara.
Membekukan otaknya. Sementara, waktu itu terus berdetak dari detik berganti menit hingga ke jam. Itulah alasan mengapa Akma Jaya tidak ingin terlalu menanggapi ucapan Tabra yang hanya akan membuang banyak waktu dan malam hari itu akan semakin larut dengan basa-basi itu saja.
__ADS_1
“Benar sekali, Kapten.” Tabra tertawa lagi dan berniat mengakhiri basa-basi. Itu karena dia teringat Akma Jaya yang jatuh cinta sama putri duyung. Itu baginya lucu.
Mengenai Putri Duyung yang sebelumnya dibicarakan mereka, betapa rasa cinta itu sudah tertanam subur dalam benak sang Kapten dan menjadi tujuan hidupnya. Entah cinta itu akan didapatkan Akma Jaya atau tidak. Itu hanya akan menjadi teka-teki diri.