
Dari arah kejauhan, perlahan mendekat dan tiba di dermaga, ada banyak jumlah kapal berdatangan. Tepat di sana, mereka bersorak, bergembira karena akan melakukan perjudian.
"Oohooi, kali ini, aku pasti menang dari kalian semua," ucap salah seorang merasa bangga dan penuh keyakinan.
Salah seorang lagi menggeleng. "Tidak mungkin, kau lihat saja nanti, akulah yang akan menang!" jawabnya tak ingin kalah.
Suara mereka bertautan, saling berbincang mengenai sesuatu yang akan mereka lakukan. Sementara, sorotan sinar matahari telah tenggelam, tak ada lagi sinarnya, bulan di atas sana pun tampak tak ada, mungkin terhalang oleh awan.
Sekarang, suasana telah berganti malam, keheningan di samudera melalang jauh hingga ke pelosok pulau yang tak terjamah segenap suara manusia. Rintik hujan di pulau Andaba menetes ke rumah yang bekas di huni oleh Akma Jaya.
Lain tempat, lain cuaca. Di wilayah Nanaina, tempat bercuaca biasa, riuh dan penuh sorakan dari para bajak laut.
Sekarang, mereka berjalan menyusuri tempat, sebilah pembuluh obor menerangi jalan, padahal di sisi jalan telah terang oleh lampu-lampu rumah, kedai, tetapi entah apa alasan kuat yang membuat mereka melakukan hal tersebut. Terbiasa, mungkin atau hanya hiasan.
Mereka terus berjalan hingga tiba di menara, seketika ekspresi mereka berubah kaget, bertumpu kuat dengan tangan membentuk genggaman.
Sorotan mata terbelalak lebar karena ketidakpercayaan melihat rusaknya menara, bahkan ketujuh bola lampu yang mempunyai tujuh warna itu pecah, tak ada lagi cahaya, sisa-sisa pecahannya berhamburan di bawah menara, sebuah kolam bercampur kemerahan warna darah.
"Apa yang terjadi sebenarnya, mengapa kondisi menara rusak parah seperti ini?" Salah seorang bajak laut bergumam seraya mendongak, melihat ke arah pecahnya ke tujuh bola lampu.
"Hmmm.. aku tidak tahu, tapi melihat kolam yang berubah warna merah, sepertinya telah terjadi pertarungan besar di sekitaran tempat ini," ucap salah seorang lainnya, menggeleng.
"Apa mungkin—"
"Hentikan, lebih baik kita tanya-tanya kepada orang di sekitaran sini." Salah seorang memotong cepat seraya memberi saran. Saat itu, anggukan kepala dari beberapa setuju dan ada juga yang tidak setuju.
Perbincangan yang dilakukan oleh sekelompok bajak laut Adiya, Gagau, Baila.
__ADS_1
Tiga kelompok itu setuju untuk mematuhi saran yang diberikan oleh Kapten dari kelompok Asvaciya, bernama Dafata.
Kapten Dafata memilih untuk bertanya kepada sekitaran penduduk dan ingin mengetahui detailnya, sedangkan sekelompok yang tersisa berjumlah 24 kelompok, tentu yang berhadir adalah kapten dari masing-masing kelompok.
Mereka sibuk memasang wajah marah dan bertekad untuk menemukan pelakunya.
"Siapa pun dia, kita akan membunuhnya!"
"Benar, kita pasti akan membunuhnya!"
Kala itu, sorakan lantang bergemuruh bersama acungan pedang, ujungnya menghadap ke arah cakrawala di tengah kegelapan malam. Sorotan lampu dari rumah, kedai, gedung dan bangunan lainnya di sekitaran tempat itu terhalang oleh jarak yang lumayan jauh.
Pembuluh obor menyertai pedang, keduanya teracung, riuh sekali. Sampai terdengar ke kedai-kedai dan Kapten Atlana mendengar jelas sorakan tersebut.
Lantas, semuanya bersegera menuju ke arah menara, malam hari itu menjadi saksi perkumpulan besar akan kemarahan yang tidak terbendung lagi. Padat, jejal, semua orang bergencet di sela-sela kerumunan.
"Hei, biarkan aku lewat, mengapa kau menghalangi jalanku." Salah seorang rakyat biasa memaki marah kepada salah seorang yang menghalanginya.
Namun, untung saja, sikap bajak laut yang telah dia maki, tak sesangar wajahnya, helaan napas lega berembus dengan cucuran keringat membasahi area pelipis, dia seka perlahan dan menjauh, menuju ke tempat yang aman baginya.
Di tengah keramaian itu, Kapten Atlana yang sedaritadi berjalan dan tiba tampak tersenyum. "Wahai sekalian para bajak laut!" Kapten Atlana berseru lantang. Di sampingnya Ajadala dan Asgaha.
Melalui seruan itu, sontak saja mereka semua menoleh, memusatkan titik pandangan menuju ke arah Kapten Atlana.
"Perlu kalian tahu, pelaku dari semua ini adalah perbuatan dari kelompok Bajak Laut Hitam!" Kapten Atlana melanjutkan ucapan dan setiap pasang mata masih betah tuk menatap ke arahnya.
"Bajak Laut Hitam?"
__ADS_1
"Siapa mereka, kelompok bajak laut seperti apa?" tanya salah seorang kapten yang tak disebutkan namanya.
Kapten Atlana mendengus. "Kelompok yang mempunyai tujuan, mereka berlayar atas dasar kebencian terhadap para bajak laut, tepat beberapa masa yang telah lalu, saat kehancuran Desa Muara Ujung Alsa dan kematian Kapten Lasha."
"Kau tahu, anaknya masih hidup!" Kapten Atlana mendramatisir, suara intonasi cerita tampak berubah dingin dengan hawa-hawa merinding.
"Mereka menamai diri mereka sebagai kelompok Bajak Laut Hitam yang melakukan pemborantakan dan balas dendam." Kapten Atlana berusaha melakukan provokasi terhadap orang-orang yang di sekitarnya.
"Jadi, mereka adalah pelaku dari semua ini?"
"Bukan itu saja, bahkan Kapten Riyuta berada di pembaringan karena tertusuk oleh pedang Akma Jaya!" Kapten Atlana menyergah perkataan orang tersebut.
"Siapakah Akma Jaya?" tanyanya lagi. Sepertinya dia tidak mengetahui tentang sosok Akma Jaya dan yang lainnya tampak menyimak, sorotan mata mereka tertuju fokus menatap Kapten Atlana yang berbicara mengenai kelompok Bajak Laut Hitam.
Sekilas pandang, mata mereka bekerja keras tuk melihat, di tengah sesaknya kerumunan dan minimnya cahaya, Kapten Atlana berbicara seraya berjalan tak tentu arah.
"Dia adalah Akma Jaya, orang yang memimpin kelompok, menawarkan berbagai macam tipu daya terhadap anak buahnya," lanjut Kapten Atlana.
Kapten Atlana kembali berjalan ringan menatap ke sekeliling orang. "Dia adalah anak dari Kapten Lasha, dia memendam kebencian di dalam hatinya, kemarahan yang memusat di titik temu antara duka dan air mata. Kala dunia tak lagi memihak, dia akan mati terbenam, maka dari itu, detik ini, tanamkan niat kalian semua untuk membunuhnya di mana pun dia berada beserta kelompoknya, tanpa terkecuali!" Kapten Atlana berucap lantang.
Sebuah provokasi mantap terucap, mampu membuat orang yang mendengarnya terangsang tuk melakukan pembunuhan. Kendati demikian, sebelumnya mereka sudah geram, ditambah lagi seperti api unggun yang diletakkan kayu, terus-menerus hingga membesar.
Sayang sekali, Kapten Broboros masih dalam keadaan tertidur pulas, dia tidak mengetahui akan hal besar seperti ini, Kapten Atlana tersenyum sinis seraya bertepuk tangan sedikit saja suara tawa yang terdengar.
Bahkan, terkadang di balik seseorang saling tatap, bertemu, berbincang satu sama lain, ada suatu hal seperti itu, mungkin, bukan menuduh, melainkan begitu. Kenyataan ada, kepahitan juga sama. Jelas, seperti ada boom yang meledak di permukaan bumi.
"Wahai para bajak laut, tetaplah bernapas!" Kapten Atlana berucap sekilas, lalu berjalan menjauh dari tempat tersebut bersama Ajadala dan Asgaha yang tampak diam, tak bersuara sedikit pun.
__ADS_1
Sementara, mereka yang tertinggal di tempat itu sangat geram, raut wajah amarah mereka meluap-luap tak beraturan.
Salah seorang mengancungkan tangan, raut wajahnya terbilang santai. "Aku akan menaiki menara untuk mengetahui kerusakannya lebih jauh lagi," ucapnya berani, tak sekadar ucapan, yang lain mengangguk setuju, lalu dia pun bergerak cepat menaiki menara.