
Pegangan tangan erat memenuhi keinginan untuk menyerang, Tabra menelan ludah, memperhatikan pergerakan Kapten Riyuta yang sedang menaiki menara. Hampir dekat dari jarak puncak menara.
Tabra memandang Akma Jaya penuh ekspresi cemas, di mana atas menara, tinggi, memandang pun berat, memburam tak jelas memandang karena mereka terbiasa bergerak di luatan yang datar—sama rata permukaannya—tidak tinggi, tidak rendah.
"Kapten—" Tabra berucap, masih memandang. "Berhenti bicara, fokus bersiap!" Akma Jaya memotong cepat.
"Ba–baik, Kapten." Tabra menjawab, mengeluarkan kata terbata. Akma Jaya memaklumi. "Tidak apa, fokus saja!"
Sementara itu, Kapten Riyuta menaiki menara penuh semangat membara, wajahnya berkerut lelah, tetapi dari sorotan mata, dia cukup optimis tanpa sedikit pun mengeluarkan sepatah kata lelah.
"Tunggu saja, aku akan membunuh kalian berdua." Kapten Riyuta berucap. Masih sama, bertekad memburu, bahkan membunuh tanpa ampun.
Suasana di bawah, kerumunun yang berdesakkan, bergencet orang-orangnya, hal itu membuat keuntungan bagi pencopet, dia bergerak cukup lihai, cepat sekali pergerakannya, sampai-sampai orang yang tercopet tidak merasakannya. Salah satu yang menjadi catatan adalah sifat kewaspadaan, kekurangan sifat tersebut membuat pencopet tersenyum manis penuh hasrat mencuri begitu hebat.
Pencopet itu bergerak gesit—berlari ke lorong yang sepi, dia terkekeh seraya menghitung penghasilan yang dia dapatkan, lumayan. Cukup untuknya makan selama delapan tahun. Banyak sekali harta benda yang berhasil dia copet, aksi pencopetan dilakukannya begitu apik—dalam pandangan sesama kaum mereka—hingga membuat korban tidak mengetahui pergerakan tersebut.
Sementara, Kapten Riyuta telah berhasil mencapai puncak menara, tak disangka oleh prasangka—menduga, bahwa dia akan mencapainya, itu tidak disangka. Benar, tidak disangka.
Karena hal tersebut membuat kerumunan manusia di bawah menara menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya, menunjukkan berbagai ekspresi, sebagian berdecak kagum karena melihat keberhasilan Kapten Riyuta yang mencapai puncak menara.
"Jika aku adalah dia, aku tak akan sanggup menaiki menara itu!" Salah seorang lelaki berbadan gemuk, berambut jambul, dia berdecak kagum.
"Itu biasa, kau tak perlu berdecak kagum seperti itu, sebelum dirinya, mereka berdua sudah menaiki menara, bahkan sampai ke puncak." Salah seorang lagi menjawab, menunjukkan sikap bantahan—menolak dengan cara yang tidak kasar.
Namun, orang yang mendengar, mengerut marah.
"Kau ...!" Orang itu menunjuk marah, mempercepat gerakannya. "Apakah kau ingin berkelahi?" Dia menuturkan kalimat tanya beserta wajah yang memerah padam dipenuhi suara sangar. Gemetar orang yang mendengarnya dipenuhi tuturan kata ampun.
Kelakuan si gemuk membuat kerumunan menatap, memusatkan pandangan tertuju ke satu titik. "Hei, kalian berdua, jangan berkelahi di sini!" Salah seorang lelaki beramput pendek berusaha menghentikannya. Dia cukup berani. Toh, kerumunan, hal itu biasa terjadi.
__ADS_1
"Adakah seseorang? Tolong, tolong, tolong. Pisahkan mereka!" Salah satu lainnya berteriak peduli, teriakan yang mampu membuat orang lain bergerak, seperti sihir, mereka menegah kemudian memisahkan kedua orang tersebut.
Setelah itu, keadaan menjadi damai dari perkelahian mereka, walaupun masih riuh mengenai dugaan dan ketakjuban, seperti sedia kala. Sejenak, selepas kejadian itu suara riuh berhenti, bersibuk diri masing-masing menatap ke arah puncak menara.
Tiba di puncak menara, seketika Kapten Riyuta mengernyit kesal. "Kalian berdua berani membuat kekacauan di tempat ini!"
Mendelik penuh amarah. "Aku perhatikan lebih dekat, kalian berdua baru tiba di tempat ini, tapi kalian sudah berani melakukan semua ini." Lanjut Kapten Riyuta seraya menunjuk disertai sorotan mata membunuh.
"Apakah kalian berdua ingin mati?" tanyanya, sedikit lanjutan.
Akma Jaya dan Tabra, hanya berdiam tidak menghiraukannya. Sepuluh jari—Tabra meremas kuat, memegang erat pedang.
"Rupanya kalian berdua tidak menjawabnya. Jika begitu, aku yang akan maju menyerang!" Kapten Riyuta masih sibuk berbicara, tetapi tak menunjukkan pergerakan dari posisinya, walaupun dia berucap akan menyerang, bahkan dia berlama-lama dalam pijakan penuh ocehan.
Akma Jaya menunjukkan senyuman, dia meletakkan palu besar di lantai menara.
Kapten Riyuta mendengus marah. "Apa kepentingan kau mengetahui namaku?" Kapten Riyuta berucap penuh lantang, nada menggetar, terdengar kasar.
Akma Jaya menyimak, Tabra mengernyit kesal mendengarnya.
"Sederhana saja, kau mengatakan akan membuat kami mati, maka katakan namamu. Apakah itu susah?" Akma Jaya bertanya.
"Aku adalah Riyuta, pemimpin kelompok bajak laut Jimaya." Dia memperkenalkan dirinya, Akma Jaya mengangguk. "Oh, begitu. Riyuta, sebenarnya ada hal yang ingin kubicarakan denganmu, maukah kau mendengarkannya, walaupun sedikit saja!" Akma Jaya menjawab panjang.
Kapten Riyuta penuh kesal. "Apa yang ingin kau bicarakan?" Nada bergetar bercampur serak, itu menyeramkan.
"Tentang dunia yang kau pijak, tentang apa yang kau lihat, tentang semua yang kau punya, sesederhana itu, Riyuta."
"Pernahkah kau berlayar diterpa ombak, suasana lautan yang dipenuhi angin menderu, hujan petir menggelegar di atas cakrawala, pernahkah kau merasakannya?" Akma Jaya mendramatisir sedikit saja senyuman yang terpampang.
__ADS_1
Kapten Riyuta menggeram karena ucapan Akma Jaya seperti orang yang berkumur—tidak jelas. "Kau berbicara laksana air gelembung yang pecah, tidak memberi faedah!" Kapten Riyuta membalas ujaran singkat mengenai perihal Akma Jaya.
Dari jarak pandangan mata, tepat di bawah menara, tampak Kapten Riyuta dengan Akma Jaya seperti orang yang berbincang.
"Apa yang mereka bicarakan, ya di atas sana?" Lagi-lagi jiwa penasaran seorang wanita berambut lurus menjuntai ke bawah, panjang terurai indah, dia bertanya kepada rekan yang ada di sampingnya.
Rekannya menggeleng. "Aku tidak tahu."
"A–apakah benar akan terjadi pertarungan?" Wanita itu menutup mulut penuh gugup, sepertinya.
"Aku tidak tahuuu, mengapaaa kau sering bertanya kepadaku? Dasaaar!" Rekannya menyilangkan kedua tangan di area dada, mengeluarkan nada semangatnya, nyaring.
Namun, tidak terpandang kasar seperti ketus entah apa namanya.
Kadang kala dunia persahabatan, begitu penuh ketus, itu biasa saja, bukan tentang kemarahan seperti yang para lelaki lakukan.
Sementara, di puncak menara, mengenai permukaan maupun sekeliling, tidak ada dinding di keempat sisi sampingnya, dari bawah terlihat Kapten Riyuta masih berbincang, sebenarnya hanya dia yang berucap. Akma Jaya menyimak setelah menjelaskan, sedikit perkataan, bisa dibilang dalam bentuk ceramah.
Tabra membisu—tidak bergerak. "Begitu jelas di pandangan mataku, kau hanya mengatakan omong kosong!" Kapten Riyuta melanjutkan ucapan tanpa membiarkan Akma Jaya menjawabnya.
"Kalian berdua akan mati ditanganku, Keberanian yang kalian tunjukkan, kalian berani menghancurkan ke tujuh lampu menara, kalian akan membayar semuanya!" Teriakan lantang penuh amarah. Akan tetapi, Akma Jaya tersenyum santai.
"Riyuta, jika kau tak bisa membuat kami mati, apakah kau bersedia menebus ucapanmu dengan sumpah?" Akma Jaya memperlihatkan senyuman sedikit memberi rasa iba pada ucapannya.
"Sumpah? Kau ingin aku bersumpah!" Kapten Riyuta bertambah marah.
Namun, tak berlangsung lama—sejenak amarah kembali mereda setelah memandang ke arah kerumunan.
"Tapi, karena aku adalah seorang kapten terpandang, aku akan menyetujuinya, sebutkanlah sumpah apa yang akan kuucapkan." Kapten Riyuta mengangguk, mengangkat kepala, melakukannya berulang kali sedikit bergerak seraya menyipitkan matanya.
__ADS_1