
Matahari berpijar terang di permukaan langit. Suara keras beruang itu kembali menggelegar, menggetarkan sekitaran wilayah hutan pegunungan yang tampak fokus mereka tatap.
Aswa Daula semula menatap termenung ke arah pedang. Antara tidak kuasa atau tidak tega menatap ujung pedang yang mengilat terkena sedikit paparan sinar matahari.
Hingga dirinya jatuh pingsan. Mengejutkan sanubari yang lainnya mengapa Aswa Daula pingsan? Mereka tak kuasa angan.
Bertubi pertanyaan yang menggambarkan naluri dugaan macam-macam. Mengapa? Apakah dia baik-baik saja?
“Aswa Daula!” Hambala berteriak. Menghampiri. Mengguncang tubuh Aswa Daula yang semula jatuh pingsan.
“Aswa. Aswa. Hei, bangunlah!” Dia tetap bersikeras mengguncang tubuh Aswa Daula. Gejolak batin berguguran cemas.
Pandangan Aswa Daula tertutup. Napasnya tidak berembus lagi. Hambala merasa kian khawatir dan tidak nyaman pikiran.
Ditambah suara beruang yang menggelegar bagai guntur. Berharap tidak terjadi apa-apa. Doa bersuara, memuncak ke hadirat langit.
“Apakah dia tidak apa-apa, Hambala?” Ashraq menatap cemas. Pun yang lainnya.
Hambala diam, tak menjawab Ashraq yang bertanya. Dia terus mengguncang tubuh Aswa Daula.
Boba mendengus. “Jangan khawatir, kemungkinan dia itu hanya belum makan, jangan terlalu cemas padanya. Kita harus menghadapi beruang itu!”
Ashraq menilai Boba berlagak kuat dan tidak punya sikap menghargai orang lain. Itulah Ashraq sekarang merasa geram saat mendengarnya.
Batinnya mengatakan ujaran kebencian yang memuncak beserta sebutan najis seraya mengutuk dan mengatakan ejekan tidak tahu perasaan. Ashraq sangat geram.
“Boba, kau tidak setia kawan!” Ashraq menatap tajam. Menunjuk-nunjuk.
“Selama ini kita selalu bersama mengarungi lautan, apa yang kau pikir tentang kebersamaan, hah?” Ashraq sangat geram.
Boba balas menatap tajam. “Ini bukan masalah perkara setia kawan atau tidak, Ashraq. Lihatlah beruang itu, apa kau ingin perasaan cemas membuatmu mati diterkam beruang? Ini bukan perkara masalah setia kawan atau tidak, melainkan untuk saat ini kita harus memikirkan keselamatan diri!”
“Aswa Daula itu apakah baik-baik saja atau tidak. Nanti saja, sekarang pikirkanlah sesuatu yang membahayakan diri kita saat ini!” Boba menyambung ucapan lantang.
“Boba benar!” Glosia mendukung. Siap dengan pedang menggerakkannya.
Tabra tidak ingin ikut campur. Cukuplah mereka saja yang bersuara. Adapun Aisha sejak dari semula tidak ingin bicara, perasaan wanita itu kalau dibahas akan membingungkan. Maka, lebih baik tidak usah dibahas. Melelahkan.
Glosia sedikit angkat bahu. Memalingkan pandangan. “Bagiku juga sama seperti Boba. Apa yang terpenting saat ini adalah keselamatan diri kita!” Glosia lanjut bicara.
Beuh, luar biasa. Inilah yang terasa sangat menyebalkan bagi Ashraq. Dia tidak bisa membendungnya hingga memuncakkan emosi dengan suara lantang. Bertubi-tubi kalimat memaki tidak ditulis.
“Kalian ternyata sama saja, tidak punya perasaan!” Ashraq menggertakkan gigi. Itulah kalimat ringkas dari ucapannya yang semula panjang enggan ditulis.
Hambala juga sama. Menatap tidak suka terhadap mereka. Ini hanyalah masalah perasaan dan ketidakseimbangan di antaranya. Mereka itu sepertinya kurang pengalaman dalam hal ini. Seorang pemula yang tidak mengerti keadaan. Boba sedikit geram mendengarnya, bahkan baginya Ashraq itu seakan sok tahu sekali seperti orang yang kekurangan vitamin.
“Boba, Glosia. Benar apa yang dikatakan Ashraq ternyata kalian tidak punya perasaan dan tidak memikirkan keadaan Aswa Daula. Hanya sibuk memikirkan keselamatan diri kalian sendiri!” Hambala ikut bicara, memasang wajah tidak suka.
“Heh, memikirkan diri sendiri?” Boba menatap tajam.
Kemudian mengepal tangan. “Siapa yang memikirkan diri sendiri, hah? Ini semua demi keselamatan kita bersama. Perlu kau tahu, Hambala, Ashraq yang berlagak sok peduli. Tengoklah baik-baik, pasang kedua mata kalian. Aswa Daula itu hanya pingsan.”
__ADS_1
Wajahnya terpampang sangar. “Tidak ada yang perlu dicemaskan. Tapi, lihatlah beruang itu yang kemungkinan tidak hanya menerkam satu orang. Beruang itu akan terus mengganas hingga kalian diterkam olehnya satu per satu!”
Di sana ada Tabra. Aisha. Dasasa. Dausa. Kalboza dan Kalpra, juga Jalbia yang ikut mendengar semuanya. Mereka tidak bisa memberikan tanggapan.
Ashraq mencih. “Itu hanya alasan yang kau buat-buat saja!”
“Itu benar, bagiku kau mengatakan alasan yang dapat kutebak hanya ingin membela diri semata!” Hambala mendukung ucapan Ashraq. Sama kuat bersalah salahan.
Ashraq yang semula tidak ingin berdebat, kini kembali berdebat berkencang urat leher. Beruang itu masih menghampiri mereka.
Jalbia menghela napas. “Kalau begitu kita bagi tugas. Kalian yang tidak terima mendengar ucapan Boba. Lebih baik bagi kalian bertugas menjaga Aswa Daula dan memastikan dia tidak kenapa-kenapa, lalu tugas kami akan menghadapi beruang itu.”
Jalbia mencoba meleraikan perdebatan di antara mereka. Itu ide bagus, mereka menerimanya dengan tidak banyak ucap.
Boba mendengus. “Jalbia, kau pintar.”
Tabra selaku orang yang menggantikan posisi kapten dikacangin, tetapi baginya itu tak mengapa dia tidak protes, juga tak membahasnya. Bahkan mengangguk setuju mendengar saran Jalbia. Sementara Aisha diam menyaksikan, tak bersuara sedikit pun.
Mereka semua telah setuju membagi tugas. Ashraq dan Hambala menjaga Aswa Daula, membawanya sedikit menjauh dari tempat tersebut.
“Semoga Aswa Daula tidak apa-apa.” Ashraq menatap cemas.
Di arah sana. Utara mendekati jarak sepuluh pohon berjejer dengan kerapatan yang menghalangi sinar matahari. Sedikit teduh tampak gelap. Di balik pepohonan rimbun, pancaran sinar mata beruang itu ternampak jelas mengerikan.
Bahkan gigi-giginya menyeramkan. “Kalian tahu beruang itu kelaparan!” Boba mengatakannya seakan tidak punya insting lain, sekadar menduga.
Dugaan yang diucapnya pasti. Yang lainnya pun kala mendengarnya tentu tidak langsung mempercayainya begitu saja.
Kalpra menatap serius. “Kemungkinan bisa saja ada alasan lain mengapa beruang itu mengamuk.”
“Kalpra, apa yang kau ucap itu bisa saja ada kemungkinan dan alasan lainnya, tetapi saat ini aku sangat yakin beruang itu kelaparan dan sedang mencari mangsa, itulah alasan mengapa ia mengamuk.” Boba menjawab.
Tabra menggenggam erat pedang, menatap dengan hirupan napas. “Ini mengingatkanku pada masa lalu di desa Muara Ujung Alsa!”
“Ini begitu mengingatkanku!” Tabra berkata pasti. Menatap pedang dengan tawa yang tergambar kala itu bersama Akma Jaya.
Boba mendengarnya sedikit tertawa tidak nyaring, ditambah gaya mendengus. “Masa lalu, heh? Masa lalu itu tidak penting, Tabra. Buktikan bahwa kau tidak terkekang dalam masa lalumu sendiri!”
Nada bicaranya berubah serius. “Seperti yang dikatakan Kalpra sebelumnya. Bisa saja seseorang terkenang, bahkan terkekang oleh masa lalunya sendiri.” Boba melanjutkan bicara. Sedikit mencopas ucapan Kalpra sebelumnya.
Dengan perasaan yang tak lagi sama. Tabra menatap angguk. “Kau benar. Perlu kau tahu, Boba. Selama ini aku tidak pernah terkekang masa lalu, sekadar mengingatnya untuk bernostagia.”
“Heh, apa salahnya?” Tabra tertawa pelan.
“Terserahlah!” Boba menjawab lelah.
Dasasa di belakang bersama Dausa menyimaknya. Kalpra bersama Kalboza tidak hirau dalam perkara tersebut.
“Beruang itu sangat ganas.” Dausa menggeleng. Menatap pepohonan di sana.
Banyak pepohonan yang tumbang, juga sebagian hancur dedaunannya akibat beruang itu mengamuk tidak terkendali emosi, bahkan hanya sekali pukul saja sudah banyak dahan besar yang patah.
__ADS_1
“Boba, apa kau yakin kita bisa mengalahkan beruang yang tampak mengerikan itu?”
Glosia bicara gemetar. Jalbia pun terlihat sama dengan pedang yang hendak terlepas dari genggaman tangannya.
Boba tidak suka mendengar nada bicara mereka yang terdengar menyebalkan.
“Kalau kalian merasa takut melawannya, kalian lebih baik bertugas menjaga Aswa Daula, bergabung bersama Ashraq dan Hambala!” Boba bicara tegas.
Tabra memalingkan pandangan dari semula menatap beruang, kini menatap mereka yang tengah ribut. “Apa yang dikatakan Boba itu benar. Jalbia dan Glosia, lebih baik kalian bergabung bersama Ashraq dan Hambala. Ketakutan adalah perasaan yang menghalangi kemampuan bertahan!”
Kalboza balik arah menatap mereka. “Lebih baik begitu, Jalbia dan Glosia. Perlu kalian tahu bahkan dalam kasus yang lebih mengerikan ada yang mengatakan bahwa ketakutan bisa membunuhmu dengan ingatan ingatan yang bergentayangan di otakmu dan menciptakan gumam suara dari waktu ke waktu hingga kau tersungkur pingsan, walaupun sekilas pandang itu hanya sebatas perasaan. Tabib pernah berucap padaku dulu. Ketakutan seseorang dalam dosis yang berlebihan bisa membahayakan tubuh dan dalam tanda kurung kalian harus sesegera mungkin menyingkirkannya!”
Ucapan Kalboza seakan keluar tanpa kendali pikirannya. Glosia langsung terbayang Aswa Daula yang memang takut darah. “Kalboza, kemungkinan ucapanmu itu ada hubungannya dengan Aswa Daula!”
Dia sekarang mengatakannya pasti. Kalboza mengangguk. “Itu hanya kemungkinan yang kau katakan, Glosia.”
“Jika itu benar, semoga Aswa Daula baik-baik saja.” Tabra menyahut.
“Secara tak langsung Kalboza memberikan gambaran kepada kita mengenai keadaan Aswa Daula.” Tabra kembali bicara. Gelegar suara beruang bersuara. Aisha saat itu tanpa ucapan malah maju lebih dulu.
Tabra pun sama, meninggalkan mereka yang masih sibuk bersitatap bicara.
“Aisha, jangan gegabah!” Tabra berseru menghampiri.
Aisha tidak menjawab. Beruang semakin dekat. Sosok wanita semampai berambut pirang itu menghunus pedang. Melancarkan tebasan dan serangan yang dapat ditangkis dengan mudah oleh beruang tersebut.
Tabra tidak mengerti ada apa dengan Aisha, mengapa dan kenapa adiknya itu tidak menjawab sedikit pun ucapannya. Cakaran beruang hampir mengenai Aisha.
Tabra sigap menangkisnya. “Aisha, sudah kubilang jangan gegabah!”
Mereka berdua menjauh sejenak. Aisha masih tidak berbicara mengusap keringat di area pelipisnya.
Keempat orang yang bertugas menjaga Aswa Daula menatap menelan ludah. Sisanya masih menatap tidak maju.
Boba di antaranya sibuk mempersiapkan diri. Menatap kedua sahabatnya yang kini bertugas mengikuti arahan untuk menjaga Aswa Daula.
Masih dalam waktu yang sama saat Aisha maju menyerang sendirian. Boba saat itu tersenyum sepintas. “Aswa Daula itu ternyata orang yang lemah, heh. Kalian harus menjaganya agar dia baik-baik saja. Glosia, kemungkinan dugaanmu memang benar saat Aswa Daula mengingat darah. Dia ketakutan hingga jatuh pingsan dan kemungkinan apa yang kupikirkan dia baru saja membayangkan apa yang akan terjadi pada pedangnya. Dia membayangkan pedang yang berlumuran darah. Itulah kemungkinan terbesar bagiku dan alasan kuat mengapa Aswa Daula pingsan.”
Boba menjelaskan panjang lebar. Orang yang mendengar pun ada yang percaya, juga ada yang tidak percaya.
“Kau sok tahu, Boba.” Kalpra sedikit tertawa. Ini bercanda, dia tidak serius.
Boba tidak marah karena tahu Kalpra hanya sekadar bercanda. “Aku memang tahu segalanya!” balasnya pasti bertambah berlagak mengusap hidung.
Kalpra tertawa. “Yeah, kau jagonya, teman!”
“Sudah pasti.” Boba menyeringai.
Sejenak setelahnya Boba kembali memandang sepintas ke arah Glosia dan Jalbia. “Jagalah Aswa Daula, aku akan pergi ke sana sekarang!”
Dengan tanpa banyak ucap lagi, dia berlari menyusul Tabra dan Aisha yang sudah memelesatkan serangan.
__ADS_1
Boba maju lebih dulu dari Kalpra. Kalboza. Dausa dan Dasasa yang masih terdiam menatap.
Dengan tekad kuat Boba berniat ingin membantu Tabra dan Aisha yang tengah gentar melawan dan melancarkan serangan, walaupun sekarang mereka menghindar untuk sebentar mengatur strategi.