Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 50 – Ini Sulit


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, setelah mereka puas beristirahat. Akma Jaya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke tengah gunung.


"Cukup sampai disini saja waktu kita beristirahat, waktunya kita melanjutkan perjalanan!" Akma Jaya berseru dengan suara yang lantang.


Mendengar seruan Akma Jaya, mereka mengiakannya, mereka pun melanjutkan perjalanan. Kala itu, hari pun terlihat cukup cerah dan mereka semua terlihat antusias dalam menanjak.


"Aisha, selama kita beristirahat, kau pergi kemana?"


Tabra bertanya memandang Aisha, dia berbicara sambil berjalan pelan berbarengan dengan Aisha, sedangkan Akma Jaya berada di depan mereka berdua, dia sedang memimpin jalan.


"Buat apa kau bertanya? Itu bukan urusanmu!"


"Sebagai adik, kau harus menghormatiku, bicaralah yang sopan terhadapku!" jawab Tabra dengan nada yang pelan serta wajah yang terlihat serius.


Aisha yang melihat Tabra seperti itu, dia mulai bertanya, "Apakah kau marah?"


Tabra mengernyit mendengarnya, suara Aisha seperti orang yang hendak mengajak untuk berkelahi. Akan tetapi, Tabra membungkam keinginannya, dia menarik napas pelan untuk meredakan emosi.


"Tidak!" jawab Tabra ringkas. Dia pun mempercepat langkah kakinya untuk menjauh dari Aisha.


"Hei, ada apa denganmu?" Aisha juga berjalan cepat, berusaha mendekati Tabra yang menjauh darinya.


Tabra tetap saja bergeming, tak menghiraukan seruan Aisha, setelah Aisha mendekat ke arahnya, Tabra langsung mengalihkan pembicaraan.


"Sudahkah kau makan, Aisha?" Tabra bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.


"Ini makanan untukmu!" Tabra melanjutkan bicaranya dan memberikan sebungkus makanan.


Aisha menunjukkan ekspresi heran, dia membuka bungkusan tersebut, tampak sebuah paha ayam kalkun goreng, betapa itu adalah makanan yang terenak dan digemari oleh semua orang. Akan tetapi, setelah itu dia langsung mengembalikannya.


"Aku tidak lapar!" Aisha berkata sembari mengembalikan bungkusan tersebut.


"Ah. Jadi begitu!" Tabra langsung cepat mengambilnya.


"Huh, untunglah. Aku begitu naif karena memberikan bungkusan paha ayam ini ...." Batin Tabra seraya meletakan bungkusan makanan itu ke tempat semula.


"Kutanya, apakah kau marah? Bukankah ini bukan kali pertama kita berseteru?" Aisha kembali melontarkan pertanyaan.


"Aku sudah menjawabnya, aku tidak marah!"


"Kenapa kau menjauh dariku?"


"Aku tidak ingin berlama-lama berseteru denganmu, jujur itu membuang waktuku!"


"Kenapa kau mengejarku?" Tabra melanjutkannya dengan bertanya.


"Tidak apa. Aku hanya penasaran!"


"Ini pertama kalinya, kau penasaran dengan sesuatu yang engkau temui!"

__ADS_1


Sesaat Aisha bergeming, Tabra mempercepat langkahnya, sedangkan Aisha memperlambat langkahnya.


Percakapan mereka berdua berakhir.


***


Mereka terus menelusuri jalan yang menanjak, dimana bebatuan yang besar, keras mengkilat dengan warna kecoklatan, ada yang berwarna kehitaman bercampur keputihan, bebatuan itu menjadi pijakan mereka dalam menanjak.


Serta dimana matahari bersinar mulai condong ke arah barat, tepatnya hari sudah mendekati petang, cakrawala di atas mereka diselimuti awan gelap serta menggumpal, perlahan matahari itu tertutup dengan awan tersebut.


Cuaca yang semula cerah berubah mendung disertai embusan angin yang cukup kencang.


Beberapa anak buah menggigil karena embusan angin itu terasa dingin, jika dilihat dari arah atas, perjalanan mereka hampir mendekati tengah gunung.


Dari kejauhan sudah terlihat bunga persik yang berjatuhan akibat terkena embusan angin tersebut. Akan tetapi suasana menggelap dengan begitu cepat.


"Kapten, sepertinya cuaca akan segera hujan!" Tabra berseru kepada Akma Jaya.


"Benar, kita harus cepat sampai sebelum hujan!" jawab Akma Jaya memandang ke arah Tabra.


Tabra mengangguk, mereka terus menanjak hingga pada akhirnya mereka sampai ke tengah gunung tersebut.


Sayangnya, angin yang bertiup kencang, ia meniup bunga persik, membuatnya terbang melayang dan jatuh entah kemana, bunga itu beterbangan tak beraturan.


Akma Jaya terpaksa memutar otaknya–berpikir keras dengan logika untuk memperkirakan letak jatuhnya bunga tersebut.


Sementara itu, tidak terlihat tanda bekas bunga itu terjatuh, seharusnya walaupun tertiup angin, masih ada bekas bahwa bunga itu jatuhnya di situ, tepatnya sebuah bunga yang sudah layu dan bersatu dengan tanah. Akan tetapi, tidak ada bekasnya sama sekali.


"Tidak, selama ada usaha. Kita akan berhasil mendapatnya!"


"Ka–kapten, saya mempunyai saran, bagaimana kalau kita menunggu besok hari?" Aswa Daula mengajukan saran.


"Ah, benar, Kapten! Hari pun mulai beranjak petang, sedangkan cuaca mendekati hujan." Tabra menyahut cepat setelah ucapan Aswa Daula.


"Sebelum itu, Kapten. Kita harus membangun tempat penginapan!" Aisha juga menyahut cepat setelah Tabra.


"Baiklah, kalau begitu!"


Akma Jaya mengangguk.


Mereka semua bergotong-royong membangun penginapan sederhana dengan bahan yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Untung saja, persiapan mereka cukup matang, tetapi dilain keadaan, angin yang bertiup kencang menjadi masalah tersendiri bagi mereka.


Berusaha menguatkan pondasi yang mereka dirikan, pada saat mereka membangun penginapan, Akma Jaya menjelajahi keadaan sekitar.


Siapa sangka terdapat sebuah gua di sana, Akma Jaya masuk di dalamnya, gua yang cukup hangat, tempat yang sangat cocok untuk dijadikan tempat beristirahat.


Sementara itu, beberapa anak buah kewalahan dalam membangun, angin itu benar-benar mengganggu dan mereka harus extra sabar untuk menghadapinya.


Beberapa saat kemudian tempat yang dibangun oleh salah satu anak buah itu sudah berdiri, pondasi yang tertancap cukup kuat.

__ADS_1


Namun, beberapa dari mereka masih ada yang kewalahan dalam menancapkan pondasi untuk penginapan yang lainnya.


Akma Jaya menghampiri mereka.


"Hei, kalian semua. Aku baru saja menemukan sebuah gua, kita akan beristirahat di sana!" serunya dengan suara yang lantang.


Tabra bergembira mendengar seruannya, begitu juga dengan yang lain, mereka semua meninggalkan apa yang mereka lakukan dan menyusul ke tempat yang diberitahu oleh Akma Jaya.


Sesampainya mereka ke dalam gua itu, senyuman dan keindahan wajah mereka terpancar jelas, sebuah ekspresi bahagia yang mereka perlihatkan.


"Ini adalah tempat yang nyaman untuk beristirahat," ucap salah satu dari mereka.


"Benar, hawa di luar sana, jauh berbeda dengan hawa di dalam gua ini," ucap orang yang berada di sampingnya.


Sementara itu, Aswa Daula keluar gua, terlihat dari kejauhan dia sedang memperhatikan angin yang bertiup kencang. Betapa awan hitam itu semakin menggumpal dengan bunyi guntur yang bersahutan. Semesta menggelap, sinar matahari telah lenyap ditelan oleh awan tersebut.


"Dunia ini terlalu luas untuk kujalani, bahkan kesabaran kian menunjukan arah yang membingungkan."


"Sesaat aku berjalan dengan harapan yang menjulang, tiba-tiba saja itu runtuh oleh kepalsuan yang menelan hari-hariku."


"Cuaca yang kulihat sekarang begitu mengingatku dengan masa yang telah berlalu, masa silam yang menakutkanku!" Batin Aswa Daula menatap cakrawala yang sudah siap memuntahkan airnya.


Tak lama, tetesan air hujan berjatuhan, Aswa Daula berdiri serta terpaku, berdiam dalam menikmati tetesan air yang jatuh mengenai sekujur tubuh, dia tak bergerak sama sekali.


Akma Jaya menghampiri Aswa Daula.


"Ada apa denganmu?" tanya Akma Jaya sembari menyentuh bahu Aswa Daula.


Sontak, Aswa Daula terkejut, seperti yang terlihat, dia terjepak dalam lamunan.


"Ka–kapten, see–sedang apa Anda di sini?"


Suara tetesan hujan serta angin yang menderu, kedua suara itu bercampur dalam satu perpaduan.


Aswa Daula terbata dengan kemunculan Akma Jaya, sedangkan hujan turun dengan begitu deras, dia berhujan menghampirinya, pakaian yang dikenakan Akma Jaya terlihat basah dipenuhi air.


"Justru, akulah yang seharusnya bertanya. Sedang apa kau di sini? Ayo, masuklah!" Akma Jaya menarik tangan Aswa Daula.


Aswa Daula mengikuti tarikan Akma Jaya dan mereka berdua memasuki gua.


"Daula, sedang apa kau diluar? Kapten mengkhawatirkanmu!" Aisha bertanya dengan wajah yang tampak marah.


"Saya.."


"Tak apa, lebih baik kau beristirahat, jangan katakan apapun!" Akma Jaya memotong cepat perkataan Aswa Daula.


"Ba–baiklah, Kapten!" jawab Aswa Daula dengan terbata.


Dia pun mengganti pakaian dan menyelimuti diri dengan kain yang cukup tebal, untung saja dia membawa kain itu dalam persediaannya.

__ADS_1


Beberapa anak buah yang lain, mereka berusaha menyalakan api untuk menambah kehangatan, betapa hawa dingin itu begitu terasa bahkan gua yang awalnya terasa hangat, sekarang terasa dingin.


__ADS_2