
Sosok Ibu adalah kebanggaan, bagi Akma Jaya, Haima sama persis seorang pahlawan. Pahlawan tak pandang jasa, dia memberi kasih sayang dan meninggalkan kenangan yang berkesan.
Akma Jaya sama halnya dengan Haima, begitu, begitu dan begitu, sangat, sangat dan sangat dia mencintai serta menyayangi Haima.
Sesederhana itu, cinta dan kasih sayang yang tiada habisnya.
Dikala Akma Jaya bergeming, berdiam seraya menatap Kapten Atlana, Akma Jaya teringat kembali hari-hari yang dia lalui bersama Haima–sang ibu yang telah memberikan nasehat kepadanya.
Nasehat yang sederhana, kadar yang berkesan, terlihat berharga, pesan yang selalu diingat oleh Akma Jaya, kebahagian senyuman, apa pun itu.
Nasehat dari seorang ibu yang begitu menyayangi anaknya.
Akma Jaya, lihatlah sekuntum bunga ini, dia mekar dengan indah, berwarna merah, setiap pagi, ibu menyiraminya agar ia tumbuh dan segar, ia ceria pada pagi hari, ia tidur pada malam hari, ibu akan terus merawat dan menjaganya.
Bunga yang bermekaran, tentang semua ini, ibu berharap, semoga ibu diberi umur yang panjang agar ibu bisa terus melihatnya.
Bunga ini, bunga yang ibu rawat dari ia berukuran kecil, betapa ibu sangat berharap bisa terus melihatnya tumbuh dan bermekaran setiap bulannya. Dikala ia semakin besar, bunga ini memerlukan wadah yang besar pula, ibu ingin memindahkannya ke tempat yang bagus bukan ke tempat yang kotor.
Ibu akan memindahkan bunga itu ke pot bunga yang bersih, ibu akan terus merawat, menyirami hingga ia tumbuh segar dan mekar, bunga ini akan menjadi peneduh bagi hari-hari ibu yang terasa berat.
Bunga ini, ia juga memiliki keluarga, ibu menjejerkan semuanya. Menyatukan mereka dalam kebersamaan, ia tersenyum.
Akma Jaya, lihatlah air laut, ambillah air itu kemudian campurkanlah minyak goreng, keduanya tidak menyatu.
Sebuah perbedaan yang berlawanan, dikala sesuatu yang berlawanan bertemu, kedua itu tidak akan menyatu. Itu sebuah takdir antara air laut dan minyak.
Air laut dan minyak, keduanya mempunyai kegunaan dan manfaat masing-masing. Perbedaan memang ada dan seringkali perbedaan tak menyatu, saling bertentangan, temukanlah cara agar ia saling menyatu.
Lihatlah orang-orang itu, mereka melakukan sesuatu terhadapnya, mereka mengolah air laut itu, ia akan berubah menjadi garam.
Kemudian, minyak dan garam akan diolah menjadi masakan, semua bahan yang berbeda jenis bercampur di dalamnya
Dari sayuran hingga daging sapi, daging ayam, berbagai masakan.
Semua itu pada akhirnya menyatu, hanya saja butuh proses untuk mengolahnya menjadi satu perpaduan yang lengkap.
Akma Jaya, lihatlah awan yang mendung, ia berwarna hitam dan melebar memenuhi cakrawala, menutupi sinar matahari di atas kita, pakaian yang ibu jemur, belum kering. Ia masih basah.
__ADS_1
Apakah jika hari mendung seharian, pakaian ini akan terus basah, tentu tidak. Ia akan mengering dengan sendirinya.
Ibu pun pernah terpikir, pakaian ini tidak akan kering, tetapi apa yang ibu lihat pada keesokan hari, pakaiannya mengering.
Akma Jaya, lihatlah pohon kelapa itu, pohon yang serbaguna, dari daun, pucuk hingga lidinya, dari batang, buah, ketika buah itu dibelah, kulit yang terkupas bernama sabut, ia serbaguna dan bermanfaat. Alangkah ibu ingin melihatmu tumbuh laksana pohon kelapa.
Walaupun kehidupan, kadang berbeda dengan keinginan yang diinginkan, kelapa itu berbuah lebat, lihatlah daun-daun yang seakan melambai, ia tersenyum.
Akma Jaya, lihatlah ombak yang menerpa kapal, ia berasal dari angin.
Sang angin meniup permukaan air laut hingga muncul sebuah nama yang disebut ombak. Ia hadir bersama angin, sebab akibat ia ada dan dapat dilihat oleh mata.
Ketika kita berada di pantai, ombak itu, angin yang bertiup ini, kita berdiri tenang, menyaksikan dan merasakan hawa yang damai, suara deburan ombak serta desiran angin. Akan tetapi, saat ada badai, saat pergi berlayar, tak sedamai apa yang dirasakan saat kita berada di pantai.
Pesan ibu, jangan tenggelam karena ombak, sedahsyat apa pun, sebesar apa pun ombak yang menerpa dirimu, tetaplah berlayar, ibu ingin dirimu mengambil hikmah dari perlayaran. Dikala itu, dirimu mengingat pesan dari ibu.
Akma Jaya, lihatlah kapal tanpa layar, apakah ia bisa berlayar, tentu tidak. Ia memerlukan layar, bukan itu saja.
Kapal itu memerlukan perlengkapan, ada banyak hal yang diperlukan dalam berlayar. Bahkan, tanpa kemudi, apa ia bisa berlayar, tentu tidak.
Ada banyak hal yang harus dipersiapkan.
Akma Jaya, lihatlah kedua telapak tanganmu, jika dirimu berkuasa, perintah telunjukmu menjadi sorotan dan kemuliaan yang banyak disegani oleh orang-orang, peganglah kekuasaan dengan keadilan.
Telapak tanganmu memegangnya, jangan letakkan ia dibara api, jangan letakkan ia dibalok es. Kekuasaan yang dirimu pegang, bawalah ia berjalan ke jalanan yang berlampu, jangan dirimu bawa genggaman itu ke jalanan yang gelap gulita karena dirimu tak akan bisa melihatnya, bisa jadi dirimu terjatuh ke jurang atau tersesat arah tujuan.
__ADS_1
Akma Jaya, lihatlah ibu. Dikala ibu melahirkanmu, ibu begitu bahagia, dirimu lahir telah melengkapi hidup ibu.
Dikala itu, ibu berharap dirimu akan selalu ada di sisi dekapan ibu, betapa kasih sayang itu telah ibu curahkan segalanya.
Ibu meminta darimu balasan upah yang harus dirimu bayar, ibu tidak meminta hal yang berhubungan dengan harta ataupun dirimu membalasnya dengan kasih sayang.
Akan tetapi, jadikanlah dirimu pemaaf, belajarlah untuk mengendalikan emosi, menjadikan ia hanya tertuju pada yang seharusnya.
Akma Jaya, lihatlah dirimu. Dikala hatimu bersuara, ibu tidak dapat mendengar, begitu pun orang lain, hanya dirimu yang tahu tentang semua itu. Jadikanlah ia tempat curahan keluh kesah dari kehidupan yang kacau, berantakkan.
Segala keluhan apa pun itu.
Keluhan yang mengacaukan pikiranmu. Ingatlah ini, latih hatimu untuk menimbang permasalahan yang begitu rumit bagimu. Dimana gelapnya malam bersenandung, benar-benar saat itu, sang rembulan dapat menenangkan pikiran. Betapa ibu ingin terus memberimu uraian yang jelas, hanya saja ibu tak dapat menemukannya sekarang, bagaimana kalau lusa? Ibu berharap dirimu mengerti.
***
Namun, setelah nasehat yang kesepuluh, Akma Jaya menderita sakit akibat racun yang disuntikkan oleh bos penculik.
Pada saat itu, saat Akma Jaya sakit, Haima terus bersenandung, bersenandung dengan suara merdu, melantunkan syair-syair yang mengandung doa dan harapan.
Haima menatap sang rembulan, berucap mengeluarkan kata berbentuk sempurna, suara yang bernada doa, dia mendekap tangan, dia terus berucap, sedangkan air mata terus beruraian.
tetes
tetes
tetes
Air mata itu menetes jatuh terus-terusan.
Akma Jaya yang terbaring lemah, dia mendengar senandungan Haima, hanya saja dia tak dapat berbicara dengan kedua mata yang tertutup, badan yang lemas disertai wajah yang memucat.
Akma Jaya sering bergeming, melamun dan merenungi kejadian tragis tersebut.
Kejadian yang menyebabkan Desa Muara Ujung Alsa mengalami kehancuran, bukan itu saja, bahkan penduduk, mereka semua dibunuh melalui tebasan pedang, darah mengalir, membanjiri wilayah, Kapten Lasha dan Haima termasuk diantara orang yang terbunuh.
Dia masih bergeming dengan pedang yang siap untuk berduel, desir angin, gerak dahan pepohonan, apa pun itu, debur ombak yang menerpa pantai. Ya, sudahlah.
Kapten Atlana masih saja sibuk mengoceh, mengeluarkan kata serapah tak bermoral dan meneriakkan suara, sedangkan Akma Jaya sibuk mendengarkannya.
__ADS_1