Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur


__ADS_3

Apa yang menjadi dugaan Tabra. Di mana prasangkanya mengatakan bahwa Akma Jaya jatuh ke dimensi lain itu memang benar. Doa Aisha yang menjulang ke langit terkabul. Sosok kapten itu baik-baik saja.


Lebih tepatnya Akma Jaya jatuh ke dimensi waktu. Hamparan putih tidak ada apa pun. Detak jam di sana lebih nyaring daripada yang ada di dunia nyata. Warna dan luka berderai lantar memenuhi sanubari.


Lihatlah. Dimensi waktu memperlihatkan kejadian tragis dibunuhnya Kapten Lasha dan sosok ibu yang ditebas dileher. Setelah sekian lama, Akma Jaya kembali melihatnya di dimensi waktu. Tertegun menatap kosong. Kapten berjubah hitam itu terduduk, sendirian tanpa siapa pun.


Sanubarinya berkata berbagai hal yang membuat pikirannya melanglang. Terus berlapang dada.


Dia berusaha untuk tidak berpikir hal lain. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, itu sudah lama berlalu. Kejadian yang menghilangkan nyawa seluruh penghuni pulau. Bajak laut Mafia Kelas Kakap yang dipimpin Kapten Kaiza membabi buta serangan.


Kelompok yang tanpa kenal peduli menghabisi seluruh nyawa. Darah memuncrat, memenuhi dataran pulau. Kobaran api besar melahap rumah, habis tertinggal puing-puing berserakan. Akma Jaya memegang semua bayang-bayang, ingin membalas dendam.


Apa yang dikatakan Kapten Atlana tempo lalu? Rasa dendam itu pasti ada. Betapa rasa itu kini menghantui Akma Jaya. Bunuh, balas dendam. Hancurkan tanpa ampun.


“Kapten Kaiza. Kaulah yang merenggut kebahagian yang selama ini ada di dalam hidupku, selama itu kau bernapas. Aku harus membalas dendam, memberikan rasa sakit yang selama ini kuderita.” Akma Jaya mengepal tangan, memegang pedang.


Di atas. Cahaya putih turun mendekati ke arah Akma Jaya. Sosok kapten itu tidak tahu mengenai hal tersebut.


Elusan tangan lembut menyentuh bahu Akma Jaya. “Akma, janganlah kamu menjadi seorang yang pendendam. Kuatkanlah hatimu, sekarang kamu sudah besar, bukan anak kecil lagi. Ini ibu, lihatlah kemari.” Suara lembut dari seorang Haima membuat Akma Jaya menoleh, menatap ke arahnya senang.


“Ibu. Ibu baik-baik saja?” Akma Jaya memegang tangan ibunya. Bayangan putih telah berubah sosok. Wajahnya tidak menua persis sama yang dilihat Akma Jaya di waktu kecil.


Mereka saling tatap sebentar. Haima mengelus pipi Akma Jaya. “Selama ini ibu selalu memperhatikanmu, kamu tidak perlu menjadi seorang yang pendendam. Jadilah dirimu sendiri.”


Bayangan ibunya lenyap bagai ditiup angin. Persis saat kata-kata itu berakhir diucapkan, sedangkan Akma Jaya belum menjawabnya. Berapa usia Akma Jaya sekarang? Dia lahir di tahun 1650. Sudah lama waktu berlalu, sekarang dia berada di 1690. Maka usianya adalah 40 tahun.


Dan dalam usia yang sudah lumayan tua itu, dia belum juga memiliki kematangan sikap. Sama seperti seluruh anak buahnya, Tabra dan Aisha.


Bayangan putih yang lainnya muncul mengelilingi tubuh Akma Jaya. “Apa tujuan hidupmu, mengapa kau bisa terdampar di dimensi waktu ini?” Salah seorang bayangan menanyakan pertanyaan ringan.


“Hah, siapa itu... siapa yang bicara?” Akma Jaya tidak bisa melihatnya. Sekeliling tempat sudah berwarna putih.


Sementara, bayangan juga putih, putih bertemu putih. Tidak terlihat di pandangan, hanya bentuk suara yang tertangkap, juga sekilas sentuhan dan pergerakan yang terasa dekat dengan dirinya.


“Akulah yang bicara.” Bayangan itu menyahut.


Akma Jaya masih diam. Salah seorang bayangan lainnya menyikut lengan bayangan yang tadi menyahut. “Hei, kau tidak berpikir apa? Wujud kita ini putih, tempat ini juga putih. Bagaimana mungkin dia bisa melihat kita?” Itulah kata-katanya.


“Benar juga, ya?”


“Hmm... berikan dia kacamata ghaib agar dia bisa melihat kita.” Salah seorang lainnya menyahut. Total bayangan yang mengelilingi Akma Jaya ada sepuluh jumlahnya. Mereka semua adalah penghuni di dimensi waktu.


“Tapi, kacamata ghaib itu... apakah kau yakin? Jangan-jangan dia manusia jahat. Dunia kita bisa hancur karenanya.”


“Kulihat dari masa lalu. Dia bukanlah orang jahat. Kau bisa melihat waktu di mana dia hidup di masa lalunya, mengapa berprasangka buruk seperti itu.”


“Ah. Maaf, aku lupa soal itu.”


Akma Jaya terdiam mendengar semua percakapan mereka. Ada suara mencerocos, tetapi tidak ada orangnya.


“Cepat, pasangkan kacamata padanya.”


“Sabar, ini aku lagi jalan.”


“Lambat!”


“Kaulah yang pasang, enak saja kau menyuruhku.”


“Iya, sini kacamata itu, berikan padaku.”


“Nih, makan itu kacamata, biar kenyang.”


Salah seorang bayangan meleraikan mereka. “Hei, kalian ini ribut saja kerjaannya. Ayo, cepat, cepat!”


Dua bayangan yang tadi berlawanan, kini keduanya tidak lagi. Berjalan menghampiri Akma Jaya. Kacamata terpasang.


Akma Jaya mengerjapkan mata, menatap cahaya putih yang berangsur-angsur berubah keseluruhan menjulang bangunan. Jalanan dan terakhir bangunan yang dipijak berubah menjadi sebuah tempat kontrol.


Dia sedang berada di suatu ruangan khusus tempat sepuluh bayangan yang tadi mengelilinginya.


“Apa yang terjadi? Mengapa yang kulihat tadi cahaya putih sekarang berubah menjadi seperti ini?” Akma Jaya terbelalak menatap sekelilingnya. Sepuluh bayangan tadi menyapa, masing-masing tersenyum.


“Siapa kalian? Di mana aku sekarang?” tanya Akma Jaya kebingungan.


“Tenangkanlah dirimu. Kawan, kau sedang berada di dimensi waktu. Tempat kaum kami tinggal. Kami adalah kaum yang tidak pernah tidur, selalu bekerja menata waktu.” Salah seorang bayangan menjelaskan.


Mereka tidak lagi dalam wujud bayangan. Masing-masing berjubah merah. Wujudnya marmut dan menatap Akma Jaya bukan sebagai musuh, melainkan manusia biasa. mereka cukup tahu masa lalu seseorang dari tatapan, tetapi mereka tidak tahu mengenai alasan mengapa Akma Jaya bisa terdampar di dimensi waktu. Entahlah atau mungkin saja mereka tahu, itulah yang menjadi pertanyaan saat ini.


“Hei, teman baru. Kenalkan namaku Aygha. Kau tahu aku adalah orang terpintar di antara mereka.” Aygha tertawa. Yang lainnya tampak menatap mengerut.


“Aygha, apa yang kau bilang, haah? Kebiasaan yah kamu!” Salah seorang bayangan berkacak pinggang. Dia adalah seorang wanita, menghampiri Aygha lantas menjewernya. Aygha berpura-pura kesakitan, meminta maaf.

__ADS_1


Akma Jaya tertawa tanpa suara. Entah mengapa saat menatap mereka, teringat sosok Tabra dan Aisha yang sering juga begitu. Baru beberapa saat rasa rindunya ingin berkumpul kembali muncul.


“Aygha. Daraysiraswati. Kita sedang kedatangan tamu, harap tingkah laku kalian dijaga!” Salah seorang bayangan tampak membulatkan mata, memancarkan sinar wibawa menyahut lantang.


Daraysiraswati mengangguk. “Iya, baik. Perkenalkan namaku Daraysiraswati, seorang wanita lembut dan penyayang. Huhu ....” Dia melakukan gaya sok imut.


Lihatlah, ekspresi Aygha menatap hendak muntah, tetapi dia menyembunyikannya takut terkena tabok dan berakhir menjadi perdebatan panjang, seperti yang telah dibilang oleh salah seorang bayangan tadi, mereka sedang kedatangan tamu. Harus menjaga sikap—perilaku mereka.


Baru dua orang yang berkenalan. Sebenarnya Akma Jaya tidak membutuhkan perkenalan. Dia masih bertanya di dalam benaknya sebenarnya ada di mana dirinya sekarang, perasaan tidak disangka dan malah menjadi seperti itu. Lelah letih selama ini berlayar, mengarungi lautan, menempuh ombak demi ombak ingin mencari harta karun, ternyata gagal total semuanya. Dia terdampar di dimensi waktu seperti apa yang telah didengarnya.


Dari penjelasan ke penjelasan panjang. Di buku-buku tebal berjilid, selama itu memang Akma Jaya tidak pernah membaca adanya soal dimensi waktu, dia tidak pernah membacanya. Pun menemuinya tidak pernah. Baru sekarang semua itu dia temui adanya dimensi waktu.


Tidak terjamah indera manusia. Tidak pernah disangka dia akan terdampar di dimensi waktu. Di kelilingi sepuluh bayangan yang sekarang berwujud marmut memakai jubah merah. Sudah dua marmut yang memperkenalkan namanya.


Agar lebih mudah menyebutnya. Marmut berjubah merah itu sering menggunakan kalimat sederhana yaitu bayangan. Sebut saja begitu. Semua orang tahu mereka itu bayangan, tinggal di alam bayangan.


Di dimensi waktu yang menunjukkan sekilas catatan lama bertumpuk rasa kekesalan. Salah seorang bayangan lainnya menyeringai. “Akma Jaya, perkenalkan namaku Dagya. Jangan heran, aku tahu namamu. Kami semua tahu tentangmu.”


“Jadi ini adalah dimensi waktu. Bisakah kalian memberitahuku bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke dunia asalku?” Akma Jaya bertanya serius.


Dagya masih berpikir. “Itulah yang membingungkan. Selama ini di dalam sejarah kami tidak pernah ada manusia yang terdampar di dimensi waktu. Kami tidak pernah tahu bagaimana caranya keluar, bahkan kami pun heran bagaimana mungkin kau bisa masuk ke dimensi ini?”


“Bukankah kalian menata waktu, seharusnya kalian tahu alasanku masuk ke dimensi ini?”


“Tidak, kami tidak diizinkan tahu soal masuk dan keluar dari dimensi ini, itu terkunci pada sistem yang memberi kami ruangan ini. Tidak dalam seberapa banyak kalimat yang kuucap, semoga kau bisa menemukan jalan keluarnya sendiri.” Dagya kembali bersuara.


Kesembilan bayangan lainnya menyimak. Aygha hendak berucap, tetapi dia urungkan takut tersalah dan terkena tabok oleh Daraysiraswati.


“Sekilas ada penjelasan mengenai seseorang bisa masuk ke dimensi ini.” Salah seorang bayangan mengangkat tangan.


“Katakanlah, Babolata.” Dagya menyahut.


“Tujuan hidup yang dijalani seseorang bisa memicu ketidaknyambungan antar ruang dan waktu. Tujuan hidup seseorang yang di mana dia sendiri kadang bingung dengan tujuannya. Aku sudah menanyakan kepadamu sebelumnya apa tujuan hidupmu hingga kau bisa masuk ke dimensi ini?” Babolata menjelaskan.


“Sepertinya bukan itu penyebabnya.” Dagya kembali mengatakan optimis.


“Benar, kau tahu ada berapa banyak manusia di muka bumi. Kalau mereka semua, tidak. Anggap sepuluh orang saja yang kehilangan tujuan hidupnya atau mengalami tujuan hidup yang membingungkan. Sudah dipastikan mereka akan masuk dan terdampar ke dimensi waktu ini, tapi kenyataan yang terjadi apa? Selama ini tidak ada manusia yang masuk ke dimensi ini, itu berarti membuktikan tujuan hidup bukan alasan seseorang terdampar ke dimensi waktu.” Salah seorang bayangan menyahut, membenarkan sekaligus menambahkan argumen dari perkataan Dagya.


“Selama ini kami memang tidak pernah tahu mengenai ini, kemungkinan kau adalah salah satu dari kami.” Aygha menengahi, tersenyum serba segalanya.


Akma Jaya masih terdiam. Sejenak mendongak. “Apakah bisa kalian mengirimku ke masa lalu. Di mana bajak laut mafia kelas kakap menyerang desaku.”


“Itu, belum pernah kami mencobanya. Apa mungkin itu adalah cara keluarnya?” Aygha memandang kesembilan bayangan lainnya.


Yang lainnya mencari alasan. “Jika kau kembali ke masa lalu, kau memang akan bisa menyelamatkan desa dan seluruh orang di sana, tetapi kau bisa saja mati di tangan Kapten Kaiza.” Salah seorang bayangan lainnya menyahut.


Akma Jaya menatap serius. “Aku hanya bergurau. Bukankah kalian tidak tahu caranya keluar dari dimensi waktu ini, mengapa kalian mengatakan bahwa aku bisa kembali ke masa lalu? Ini tidak nyambung dengan ucapan kalian sebelumnya. Katakanlah yang sebenarnya!”


Mereka semua menelan ludah. Ini semua karena kesalahan Aygha yang terlalu ceplos-ceplos mengucapkannya.


“Sebenarnya itu rahasia kami yang tidak boleh dikatakan kesembarangan orang. Lebih-lebih lagi kami tidak mengenalmu. Kalau kau ingin kembali ke masa di mana kau kembali ke waktu semula, kau perlu tinggal di sini membuktikan bahwa kau adalah orang yang bisa kami percaya.” Salah seorang bayangan cepat mencari alasan.


“Bukankah sebelumnya Dagya, rekan kalian sendiri mengucapkan kalian mengenalku? Bahkan dia menyebutkan namaku.” Akma Jaya mencoba membalik ucapan. Mereka seakan telah kalah telak.


Akma Jaya cukup matang menjawab ucapan mereka. Sebelumnya Dagya mengucapkan tahu tentang Akma Jaya. Tentulah kesemuaan sikap dan percaya itu dapat diketahui. Ini bisa dipahami oleh Akma Jaya tidak adanya kenyambungan antara ucapan sekarang dan sebelumnya.


“Kau cukup pintar.” Dagya bersedekap memuji. Tidak ada TimeTravel di antara kisah yang melanglang ini, sejauh mana kesabaran diuji sampai di titik jenuh, keluh, lelah dan entahlah.


“Kalau begitu aku bisa kembali ke dunia asalku?” Akma Jaya kembali bertanya memastikan kenyambungan ucapan sebelumnya dan sekarang.


Dagya mengangguk. “Benar. Kau bisa kembali ke dunia asalmu.”


Jawaban didengar sontak membuat semua bayangan serba salah, entah apa maksud mereka menahan Akma Jaya. Semuanya mulai bersibuk diri masing-masing, lebih tepatnya Dagya menyuruh mereka untuk tidak hirau lagi perihal Akma Jaya.


“Perlu kau tahu. Kau memang bisa kembali ke masa lalu, tetapi temukanlah jalan keluarnya dengan caramu sendiri hingga kau berhasil menemukannya atau kau tinggal di sini hingga kami bisa mempercayaimu.” Dagya melanjutkan ucapan. Masih mengulangi ucapan sebelumnya.


Akma Jaya heran. Dia tidak mau membahasnya lagi, kemungkinan mereka jarang berkomunikasi sehingga ucapannya terulang, bahkan berusaha ingin menyembunyikan perkara, sialnya mudah ditebak dari segi ucapan.


“Tidak perlu, aku akan mencari sendiri jalan keluarnya. Sebelumnya, aku ingin bertanya kepadamu mengenai Kapten Kaiza. Bagaimana dia sekarang?” Akma Jaya bertanya.


“Oh, Kapten Kaiza? Sebentar, aku mengecek tentangnya. Ini adalah riwayat terbaru, dia tetaplah seperti dulu. Usianya tidak beranjak dari usia saat membunuh ayahmu.”


Berkas dan hologram ditampilkan. Di ruangan waktu itu peralatannya serba canggih. Bunyi mesin terdengar memberikan lembaran-lembaran.


Akma Jaya tercengang menatapnya. “Bagaimana mungkin?” Kedua tangannya mengepal, menguatkan tekad ingin membalas dendam, tetapi jauh di dalam benaknya menyadari bahwa dia tidak akan sanggup melawannya.


“Itulah yang kenyataannya.” Dagya menjawab santai.


“Bisakah kau jelaskan padaku?”


Dagya bersekedap, mengangguk. “Dia punya pusaka yang mampu memberikan kekuatan dan ketahanan tubuh tanpa berkerut sedikit pun dan usianya bisa mencapai jutaan tahun lamanya. Aku tahu kau ingin membalas dendam. Saat kau bisa berlayar ke Wilayah Sakumitra, maka berlayarlah untuk mendapatkan pusaka. Pusaka itu mampu membantumu dalam mengalahkan Kapten Kaiza. Kalau kau hanya menggunakan tekad dan kekuatan biasa, maka sudah dipastikan kau akan mati di tangan Kapten Kaiza. Kekuasaan yang sekarang dimilikinya sudah melebar luas. Terlebih sekarang kau adalah buronan yang dicari banyak bajak laut. Bergembiralah dibalik itu ada orang baik yang selalu bersamamu. Kesepuluh anak buah yang selama ini mendampingimu berlayar ke mana pun, juga dua orang sahabat yang selalu dekat denganmu.”

__ADS_1


Akma Jaya sejenak memikirkan mereka. Bagaimana sekarang kabarnya. Kemungkinan terbesar yang dia anggap adalah mereka tengah mengkhawatirkannya, terlebih Aisha. Dia mengenal sosok wanita itu yang mempunyai perasaan cemas berlebihan.


Dia berusaha tidak memikirkannya dulu. Mengenai ucapan Dagya yang mengucapkan pusaka. Dia penasaran dengan hal itu, lantas memutuskan bertanya, “Pusaka apa namanya dan di mana letak keberadaan wilayah Sukamitra yang kau maksud?” Akma Jaya memancarkan tatapan serius.


Dagya menyuruh Akma Jaya agar mengikutinya ke sebuah ruangan khusus. Di sanalah mereka membicarakan panjang lebar mengenai nama benda pusaka dan di mana letak keberadaan Wilayah Sukamitra.


Semuanya dibahas panjang lebar. Melewati perbincangan dengan suara penjelasan di dalam ruangan waktu. Kapsul menyala, memancar cahaya dengan suara.


Layar muncul. Ini lebih canggih dari yang pernah dilihat Akma Jaya, lebih tepatnya dia tidak pernah menatap hal demikian, selama ini hanya menjalani waktu dalam keseharian yang orang pun tahu tidak begitu semestinya. Usai membahas panjang lebar mengenai benda pusaka dan wilayah Sukamitra.


Ada terdengar langkah demi langkah bergema menyusuri tempat ke tempat. Itulah memori jangka panjang dari ayahnya. Layar menampilkan dengan bentuk sempurna kejadian kala itu.


“Kau memperlihatkan ingatan ayahku?” Akma Jaya memegang layar, menatap ibunya yang saat itu berlarian dengan Kapten Lasha dan seorang bayi berada di dalam dekapan penuh kasih sayang. Akma Jaya masih berusia bayi tertawa kecil menatap ke arah ibu dan ayahnya.


Kapten Lasha berkata, “Akma Jaya, kau harus tahu ayah tidak pernah merasakan hal seperti ini, saat pertama kali menatapmu rasa cinta dan kasih sayang tumbuh. Di dalam kenaungan matahari, di bawah birunya langit. Ayah tahu kau lebih dari yang bisa dipercaya. Ini lebih dari apa pun. Sayangnya ayah tidak bisa memberikan banyak ucapan seperti ini, lebih banyak nanti kau tidak akan dengar. Lihatlah ibumu yang dari malam berganti siang. Dia senantiasa mendekapmu, menyanyangimu.”


Seorang singa yang selama ini Akma Jaya kenal bersikap sangar, ternyata punya memori di dalam ingatannya seperti itu.


Akma Jaya tidak pernah tahu. Waktu itu dia masih kecil, tidak tahu mengenai hal itu. Perasaan yang telah lama ada, membentuk sungai-sungai kecil, memberikan sumber yang tidak pernah tahu apakah itu bisa membuatnya tenang atau tidak.


Rasa yang telah lama bersemayam, tidak tahu seorang ayah ternyata punya sisi tersembunyi. “Akma Jaya, terkadang dibalik seseorang mungkin ada suatu hal yang tidak diketahui orang lain. Ayahmu jauh menyayangimu dari siapa pun. Bahkan saat kau sedang terbaring sakit lemah terkena racun. Dia menempuh berbagai lautan di seluruh penjuru benua Maura Hiba hingga pergi ke benua Palung Makmur, membelah lautan ombak. Deru angin memenuhi suasana, ombak besar menghempaskan kapal. Lihatlah pengorbanan ayahmu hingga tidak sadar dia membahayakan dirinya sendiri untuk menyelamatkanmu.”


Dagya mendramatisir. Akma Jaya jelas memperhatikan layar, melihat sosok ayahnya yang tengah bertarung dengan ganasnya ombak di samudra Albamia.


Para awak kapal kala itu bahu membahu. Kepalan tangan Kapten Lasha bertumpu kuat memenuhi doa-doa yang dia kirimkan ke langit sana. Wajah yang bersimbah air laut, berusaha menstabilkan keadaan kapal.


Hingga mereka berhasil terlepas dari badai ganas. Mereka kini bersorak girang menunggu pelayaran sampai ke Dermaga Sakala. Tak berlangsung lama, kapal berukuran besar berlambang tengkorak dengan bendera merah itu tiba di dermaga. Ringkasnya mereka mencari tabib dari sudut ke sudut kota, bertanya dan bertanya. Hasil dari perjuangan lelah mencari seorang tabib yang katanya begitu terkenal seantero negeri itu tidak ditemukan.


Di bawah naungan cahaya petang berselang, Kapten Lasha berpasrah diri, melantunkan bait-bait syair kelapangan hati, setelahnya ada suatu keberuntungan di sana setelah mereka tahu bahwa sosok kakek tua yang semula menyapa mereka adalah seorang tabib yang selama ini mereka cari dari sudut ke sudut kota. Betapa perasaan senang hinggap melantunkan syukur di dalam sanubari dengan keindahan-keindahan suara kicauan burung. Begitulah kisahnya(Chapter. 14)


Kisah itu jelas ditatap Akma Jaya di depan layar hologram. Penglihatan nyata dengan puluhan tahun lamanya, menyaksikan perjuangan sang ayah dalam deru angin kencang—mencari pengobatan untuknya.


Sekilas mengenai wajah tabib itu tidak asing baginya. Dia menatap layar hologram lebih jelas, lebih teliti mengamati bentuknya. “Sosok tabib itu ....” Akma Jaya menatap kuat-kuat, lebih berusaha mengenalinya.


“Kau kenal dia atau ingin mengenalnya?” Dagya bertanya memperhatikan Akma Jaya. Lebih dekat lagi berusaha memahami apa yang tengah dipikirkan seorang kapten tersebut.


Akma Jaya baru mengingatnya. Dia sejenak melepaskan topi bundar, lantas memasangnya kembali.


Dia menatap serius ke arah Dagya. “Dulu, aku mengalami mimpi aneh. Saat berlayar mencari karun, mengarungi lautan menuju ke pulau itu, aku tidur di dalam kabin kamar. Itulah mimpi anehku yang mana aku mati karena dibunuh Kapten Kaiza. Tabib itu bernama Altha, dialah orang yang menyelamatkanku, juga Qaisha orang yang melajariku pedang tewas terbunuh. Saat kematianku, aku terbangun dari mimpi itu. Mimpi yang terasa begitu nyata. Bisakah kau jelaskan mengenai mimpi yang pernah kualami?” Akma Jaya bertanya, sebelumnya menjelaskan tentang kejadian aneh yang hari itu menimpanya. Mimpi buruk yang hingga saat ini terpikirkan olehnya.


Saat Akma Jaya berlayar menempuh lautan. Tertidur pulas di dalam kabin dia bermimpi dengan mimpi yang terasa nyata. Di mana kejadian saat kehancuran pulau terjadi, dia diselamatkan dari kejadian yang mengenaskan malam hari itu. Dibawa ke dalam kapal yang mana adalah kapal ayahnya sendiri.


Kapal yang mempunyai ciri khas berukuran besar berlambang tengkorak dengan bendera merah yang berkibar, menandakan pertumbahan darah dan siapa pun yang tidak memihak akan tenggelam di dalam lautan tanpa dasar.


Kapal itu melaju dibawa angin. Di tengah kegelapan malam. Kobaran api terlihat menyeramkan, tebalnya kabut bercampur dengan ketebalan asap. Malam hari itu sosok Althalah yang telah berjasa menyelamatkan mereka, memberikan ketenangan dan lain sebagainya, tetapi sayangnya dia mati dibunuh Kapten Kaiza, bahkan dirinya pun sama mati, lantas terbangun dari mimpinya.


Itulah yang membuatnya bertanya-tanya heran mengenai mimpi tersebut.


Dagya tersenyum. “Kadang di duniamu begitulah takdir berkata lain. Kematianmu dialihkan ke alam mimpi, itulah kejadian sebenarnya, ringkasnya kau telah diselamatkan. Alam mimpimu telah merenggut kematianmu dan kau hidup hingga saat ini.”


“Kau bergurau?” Akma Jaya berucap memastikan, menatap serius. Dia kurang percaya dengan perkataan Dagya.


“Tidak. Aku tidak bergurau. Itulah kenyataannya.” Dagya menjawab tersenyum, lanjut berkata, “Ah, ya. Tentang pusaka yang sebelumnya kukatakan, terletak di wilayah Sukamitra. Kau harus mengingatnya, pesanku jangan pernah gegabah, jangan pernah menganggap remeh lawanmu. Bukankah sebelumnya kau pernah mati di tangan Kapten Kaiza? Takdir memindahkan kematianmu ke alam mimpi. Begitulah penjelasannya, jalanilah kehidupanmu dengan hati yang lapang dan tentram.”


Akma Jaya tidak bersuara. Dia sekarang berdiam diri memikirkan cara agar bisa keluar dari dimensi waktu yang sekarang membuatnya tertahan.


Dagya menyeringai. “Sudah berpikirnya? Ini minuman untukmu.” Dia melemparkan pelan botol kemasan.


Akma Jaya menyambutnya, menatap permukaan botol, menerawang dari sisi ke sisinya. “Selama hidupku di muka bumi, aku tidak pernah melihat minuman seperti ini.”


“Oh, minuman ini dari masa depan. Kami menata waktu di sini. Mudah saja bagi kami memesan makanan dan minuman dari zaman mana pun. Itu namanya produk asli buatan pabrik yang kami pesan di tahun 2021. Lagi trending di twitter. Kau tahu itu?” Dagya tertawa menatap Akma Jaya, menjelaskan dengan gayanya.


Sosok kapten berjubah hitam itu meminum airnya tanpa banyak ucap. Dia tidak heran karena memang dia sedang berada di dimensi waktu, apa yang diucapkan Dagya tidak ingin membuatnya banyak bertanya. Lumayan, rasanya segar di tenggorakan.


Akma Jaya tidak heran sama sekali, justeru Dagya yang merasa heran, menatap seseorang yang kini hanya berdiam kala mendengar akan perkara asing.


Dari perkataan Dagya. Akma Jaya tersenyum penuh dugaan di dalam benaknya yang dia gabungkan dengan ucapan sebelumnya. Itu berarti ada cara agar dia bisa leluasa pergi ke zaman mana pun, tetapi Akma Jaya masih belum tahu caranya, sekarang hanya sibuk menyelidik, mengumpulkan bukti-bukti kuat.


Bayangan yang tadi tertawa, duduk di sampingnya itu cukup bisa ditebak dia orangnya punya kepribadian suka berbicara ceplos-ceplos yang malah mengarahkan ke pemahaman dan wawasan baru kala mendengarnya.


Akma Jaya menduga semua bayangan itu memiliki kepribadian yang sama—berbicara tanpa kendali pikiran. Mereka berkeinginan menyembunyikan perkara yang justeru mereka sendiri terlanjur ucap dan itu terjadi tanpa disadari sedikit pun, kecuali ada yang mengingatkannya atau bersegera menegah sebelum ucapan itu terlontarkan.


“Bagaimana minumannya segar?” Dagya menatap senyum. Dia kembali menegok minumannya.


Akma Jaya balas tersenyum. “Lumayan. Minuman lebih segar dari minuman yang selama ini kuminum.”


Dagya terkekeh. “Tentu, ayo minumlah lagi.”


“Sudah ini saja sudah cukup.”


Begitulah keadaan Akma Jaya sekarang. Dia berada di dimensi waktu, bercengkrama dengan sosok bayangan putih yang sekarang berwujud marmut berjubah merah.

__ADS_1


Mereka adalah sejenis kaum yang tidak pernah tidur. Selalu terjaga menata waktu di dunia, meneliti pergantian bulan-bulan.


Jauh di dalam kekosongan pikiran para anak buah tidak pernah terbayangkan sesuatu yang seperti itu. Tabra menduga, mengatakan sesuatu yang benar, tetapi para anak buah tidak percaya dengan dugaannya.


__ADS_2