Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah


__ADS_3

Aswa Daula di alam batin masih bersitatap diri yang berada di ambang trauma. Bentuk cahaya putih menyeruak, menembus dinding ke dinding kenangan. Ini buruk!


Tatapan mata lesu, kosong. Ingkar kalimat saat itu diucapkan. Lelah berembus napas sekian keluhan memuncak ke langit. Kapten Zaiya muncul di belakang. Wajah sembunyi di balik kain hitam itu menyeringai. Tatapan mata teduh. Kibaran jubah melenyapkan cahaya putih. Hitam sejenak.


Tak berangsur lama kembali membawa Aswa Daula berada di moment yang kala itu memancar cahaya merah di langit petang. Cahaya yang lain dari biasanya. Termenung lagi, lagi dan lagi menatap lautan.


Menatap ke sekian kalinya harapan yang seakan menghilang. Angan telah melayang. Kapten Zaiya menatap dari kejauhan.


Jubah dilepasnya. Melayang diterbangkan angin. Baju keemasan tampak membalut tubuhnya yang kekar. Melangkah pelan. Corak pakaian kali ini berbeda dari jabatannya sebagai pemegang Pilar Tujuh Lantai dulu. Kapten Zaiya tidak memakai pakaian kesehariannya dulu lagi.


Aswa Daula membenam wajah di lutut. Mengembuskan napas keluh. Kapten Zaiya masih menghampiri. Sekuat hati Aswa Daula terus berusaha bertahan. Dongakkan kepala sejenak mengusap mata. Langit masih terpampang merah.


Kapten Zaiya mencih, menatap tidak suka. Jaraknya kini dekat. Di belakang tanpa suara dengan gaya bersedekap. “Kau pembohong, Aswa Daula. Ternyata selama ini kau adalah seorang pembohong!”


Kapten Zaiya bernada ucap santai. Menggelengkan kepala pelan, masih bersedekap. Aswa Daula tertekun mendengar suara. Astaga? Itu suara Kapten Zaiya? Dia mengangkat kepala. Menoleh. Terkikuk. Bagaimana?—bagaimana mungkin? Itu pertanyaan yang ada dalam benaknya. Bukankah Kapten Zaiya berlayar bersama anak buahnya ke laut Farida untuk berperang?


Bagaimana mungkin sekarang?—Ah, ya—ya. Jawabannya simpel. Seufil. Tidak perlu banyak bacot. Ini di alam batin. Jelas beda sama dulu. Aswa Daula sama sekali tidak menyadarinya. Bahkan dia menyangka itulah kehidupannya yang bagai dijalani serasa nyata, padahal tidak. Sendirian, sunyi tanpa ada orang di dekatnya.


Relung hati bergemetar. Limpahan kata maaf ingin bersuara, tetapi tertahan.


“Mengapa kau berbohong?” Kapten Zaiya mengulangi pertanyaan sebelumnya.


Melepaskan gaya sedekap. Menatap teduh berjalan semakin dekat hingga kedua matanya saling tatap.


Aswa Daula kembali mengingat waktu itu. Kejadian yang kini tergambar di otaknya. Kejadian yang dulu membuatnya terpaksa berbohong sakit kaki terpeleset dan berujung ingin menangis. Itu kemungkinan terbesar Aswa Daula mengenai satu kebohongan yang tidak diterima Kapten Zaiya. Benak Aswa Daula mengukirkan kalimat.


Yes!—ya—ya, itu benar. Itu satu kebohongan yang amat jelas dipandang Kapten Zaiya hina. Anak sekecil itu sudah bisa berbohong. Heh, tidak bisa dibayangkan.


Mencari alasan secepat yang dia bisa dan bermaksud ingin berbohong lagi. Kapten Zaiya menatap paham tanpa banyak ucap dan belum sempat alasan itu didapatkannya. Kapten Zaiya menamparnya.


“Sadarlah!” Suara lantang. Aswa Daula tertegun mengusap bekas tamparan.


“Hilangkan dan buang jauh-jauh pikiranmu untuk melakukan kebohongan.”

__ADS_1


Kapten Zaiya tegak berdiri menatap dengan pancaran mata. Kesiur angin, juga suara ombak bersatu padu. Aswa Daula menggeleng pelan. Rasa tidak percaya. Ini ada di mana? Tidak mungkin hari itu? Hei, hei. Haduuh, ini tidak mungkin.


Kapten Zaiya sekarang berubah tatapan. Menepuk pelan pundak Aswa Daula yang masih saja tertegun. “Heh, kau pasti merasa heran mengapa aku ada di sini bukan?”


Berbeda sama yang tadi ditanyanya. Berubah pertanyaan. Kapten Zaiya pun sudah tahu apa yang terjadi. Sekadar bertanya memulai topik pertemuan. Bahkan kini tampak tertawa ringan dan memberikan pertanyaan baru. Mengganti pertanyaan yang sebelumnya. Aswa Daula mengangguk dengan mulut terkatup diam.


Kapten Zaiya sejenak berjalan. Berduduk. Melambai lagi. Menyuruh Aswa Daula ikut duduk bersamanya. Lautan di sana terpampang jelas membias cahaya dari langit. Merah. Berkilauan bagai mutiara.


“Alam kita berbeda, Aswa.” Nada ucapannya samar bercampur angin. Kapten Zaiya melemparkan pasir ke lautan.


Aswa Daula menelan ludah. “Berbeda?”


“Ya—berbeda.”


“Dan kau ingin tahu aku datang ke sini hanya sebatas ingin menyapamu. Aku tahu kau telah banyak melewati kenangan. Pasti berat, terlalu berat bagimu yang memiliki trauma darah. Tapi, ingatlah itu kejadian lama. Bisa-bisanya kau masih terkenang sesuatu yang telah lama.”


“Bahkan kau tahu Lasha? Si kapten bajak laut yang bagiku menyebalkan itu. Dia telah membunuhku saat perang di laut Farida, sesekali dia tidak merasa trauma, mungkin dengan kematianku. Syukurlah, dia mendapatkan hikmah bertaubat.”


Aswa Daula menunduk diam. Memeluk lutut. Kapten Zaiya kembali menepuk bahunya. “Aswa, kau tidak boleh lemah—”


“Kau bicara atau berkumur-kumur?” tanya Kapten Zaiya.


Aswa Daula garuk kepala, sedikit canggung. Tidak tersenyum. Wajahnya serba salah, tidak pula menjawab.


Lagi, lagi dan lagi Kapten Zaiya menatap paham. Oh—oh, tidak mengapa.


“Aswa Daula, aku mengerti—kau tidak perlu bicara, cukuplah diriku. Dan satu lagi, kau tidak perlu trauma hanya karena mengingat darah. Trauma untuk apa? Itu jelas menunjukkan bahwa kau lemah dan orang yang lemah akan mudah ditinjak atau bahkan diremukan dengan mudah.”


“Sudah, ini harimu dan lapangkanlah sejenak. Lupakan semua masa lalu, hiduplah di masa sekarang kau hidup.”


“Satu lagi, jangan pernah berpura-pura sakit kaki. Berbohong terpeleset seperti hari itu kau berbohong kepadaku. Yang ternyata faktanya ayahmu sendiri berperilaku jahat menyiksamu kala itu. Dan saat ini kau trauma darah hingga ke batas yang tidak wajar. Sesekali waktu itu aku tidak akan memaafkannya. Karena saat ini aku bertemu kembali denganmu, aku berharap kau telah melupakannya. Dengan itu aku juga akan memaafkannya. Pikirkanlah lagi untukmu mengenai kejadian itu yang telah lama, bahkan kalau aku masih hidup pasti usia dan badanku telah tua renta.”


Aswa Daula mengangguk. Tidak menjawabnya. Cahaya putih berjalan pelan dari sisi ke sisi. Melenyapkan pemandangan di sana sini. Lautan itu ternampak seperti kertas yang dilahap api, perlahan.

__ADS_1


“Memang benar kata orang waktu terus berputar, sepertinya waktu tidak memberi banyak pada kita untuk berbincang lebih lama. Cahaya putih itu menunjukkan kau harus kembali bertemu mereka yang saat ini mengkhawatirkanmu.”


“Aswa Daula, untuk seterusnya hilangkan keluh kesahmu dan traumamu terhadap darah akan musnah hari ini. Mengenai itu juga bukan perkara mudah dan butuh waktu lama. Melainkan, perkara itu pasti sulit dan percayalah lambat laun apa yang tersirat dalam hatimu akan tergambar lebih jelas ditatap, kekuatan hati akan membuatnya lapang, luas membentang.”


“Kau tidak perlu berpura-pura sakit. Pun tidak perlu berpura-pura kau baik.”


“Tentang mata, juga air yang ada di dalamnya yang saat ini membuatmu menangis tanpa mengeluarkan air mata. Bersatu keduanya di dalam keremangan cahaya di sana. Redup, tak mampu engkau lihat sendiri, aku melihatnya. Terlebih di lain hari. Dari hari ke hari, perasaanmu akan membaik. Ditatap pun nantinya akan terasa nyaman, tenang tentram.”


“Bisa kuberikan perumpamaan kepadamu, perasaan itu laksana kemudi kapal yang bisa kau kendalikan. Untuk saat ini mulailah belajar supaya kau bisa mengendalikannya. Terlebih kau sekarang tidak sendirian lagi, kulihat sejenak. Teman-temanmu saat ini mengkhawatirkanmu. Mereka telah menjadi teman yang sebenar-benarnya teman. Tidak meninggalkanmu di saat kau pingsan dan tidak menertawakanmu di saat kau susah.”


“Aswa Daula, aku sebagai orang yang telah kau kenal dulu. Walaupun saat itu tidak dalam waktu berdetak banyak, tidak dalam hitungan putaran waktu satu tahun, saat itu aku benar-benar tidak menyangka.”


“Lasha yang kukenal dulu melalui rumor itu ternyata mutlak kebenarannya hingga aku terlalu memandang remeh kepadanya dan akhirnya itulah yang terjadi. Sebab akibat dari sikapku sendiri. Aku terbunuh naif di tangan Lasha. Sesekali aku tidak marah, bahkan itu semua sudah kurencanakan saat sebelum bertarung dengannya. Sengaja kuletakkan catatanku di kantong yang hendak terlepas. Berharap supaya dia mengambilnya. Nama Akma Jaya berasal dan tersimpan dalam buku catatan itu.”


“Nama yang istimewa. Selama ini kau tidak tahu, bukan? Kemungkinan sang pemilik takdir telah mempertemukanmu dengan Akma Jaya yang namanya ada dalam buku catatanku. Nama yang tercatat di posisi nomor satu dari ketujuh nama yang kutulis mengenai ketujuh orang yang akan mendapatkan kehormatan di Pilar Tujuh Lantai kelak.”


“Itu hanya nama yang kutulis, belum terjadi atau mungkin tidak sama sekali.”


Kapten Zaiya masih berbicara. Cahaya putih mulai melenyapkan lautan yang saat itu mereka tatap, tersisa sekitaran tempat duduk dan jaraknya lima belas senti mulai perlahan satu sisi ke sisi menghilang.


Aswa Daula sudah daritadi ingin menyela kala mendengar nama Akma Jaya disebut. Dia ingin bertanya di mana sekarang sang kapten itu berada? Apakah Kapten Zaiya tahu keberadaannya? Sayang, cahaya putih lebih cepat bergerak daripada mulutnya. Kapten Zaiya perlahan menghilang.


“Aswa Daula, jaga dirimu. Ini hari terakhir kita berjumpa. Jangan berpura-pura sedih ataupun berpura-pura sakit dan hilangkan keluh kesah dari dalam hatimu. Perkuat dan perkukuhlah selalu agar kau bisa terus menatap hidup ini dengan kedamaian.”


Aswa Daula ingin bertanya. Masih ingin dan enggan menyela. Kapten Zaiya hilang seutuhnya sebelum pertanyaan itu sempat dipertanyakan olehnya. Pun dirinya perlahan lenyap dan terangkat kembali ke dunia yang saat ini dia terbaring pingsan.


Aswa Daula membuka mata pelan. Terpampang awan putih dan birunya langit.


Hambala menatap senang. “Aswa Daula, syukurlah. Kau sudah sadar!”


“Oohooy, Aswa Daula telah sadar!” Jalbia bersorak girang. Glosia menggoyang bahu Aswa Daula bentuk kesenangan. Pun Ashraq menatap semringah. Senyuman terbaik. Menandakan telah hilangnya perasaan cemas yang selama itu ada di dalam benak pikirannya.


Tabra menatap sepintas ke arah sana. Senang mendengarnya. Aisha mengusap keringat. Boba kian bersemangat. Kalboza dan Kalpra saling pandang. Dausa dan Dasasa tersenyum.

__ADS_1


Mereka lupa ada beruang di sana yang masih mengamuk. Astaga? Hampir saja Dasasa terkena cakarannya.


__ADS_2