Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan


__ADS_3

Derap langkah saat itu bergema menyusuri jalan sepanjang batas pandangan netra, sekilas dugaan yang tertangkap sebelum berjelang bayang, juga berlambai ria sejenak warna. Setelah puas berjalan, Tabra berlari dengan sekuat tenaga, memelesat bersama para anak buah, juga Aisha.


Langkah yang berpacu dengan embusan napas cemas. Di batas pijakan lelah, pergerakan kaki mereka semua bertambah cepat, semakin cepat hingga tibalah mereka di tempat ikan tersebut.


“Mana ikan itu?” Tabra menatap, mencari-cari keberadaannya. Tidak ada ikan yang ternampak. Tidak ada wujudnya lagi, ikan yang tadinya ada di dalam wadah itu menghilang entah kemana.


Aisha memegang kepala. “Apa semua ini? Aku tidak mengerti ....” Wanita itu mengigit jari. Berduduk pelan, bersandar dengan rasa pusing yang menyerang dirinya. Astaga?Tidak bisa dipercaya, Tabra mengumpatkan kesal bertumpu hebat.


Kedua tangan mengepal kuat. “Tidak ... tidak mungkin!” Diam sebentar. Tabra lanjut menghela napas, memikirkan kata bijak, sejenak membayangkan di dalam sanubarinya setitik embun, juga cakrawala yang terbentang sajak menasehati diri.


Aswa Daula menghampirinya. “Tabra, tenangkanlah dirimu.”


“Benar, kita semua harus tenang.” Dasasa menyahut, mengatakan hari ini atau besok kita harus tenang, bagaimanapun dan apa pun. Andaba.


Saat Dasasa menyebutkan kata Andaba. Tabra memandang ke sepuluh jari, membenam wajah. “Aku tahu. Aku tahu!”


Tabra tidak bersuara lagi, dia berpejam membenam wajah di dalam dekapan telapak tangan.


Kalboza bergeming, berkutat mencari ide dan solusi. Selayang pandang, dia adalah orang yang selama ini banyak merenung, memikirkan alam semesta dengan bahasa yang hanya dimengerti olehnya.


“Aku tidak pernah menemui peristiwa yang seperti ini, aku tidak pernah.” Kalpra berduduk cemas. Peristiwa yang mereka alami sungguh di luar nalar.


“Tetaplah tenang, Kalpra. Hadapilah semua ini dengan kepala jernih.” Kalboza mengepal tangan, menguatkan tekad. Kalpra tertawa, menunjukkan jempol. Oke. “Benar, apa yang kau katakan itu memang benar. kepala kita harus tetap jernih.”—palingan asam kamal.


“Kau lihat saja wajah Aisha. Kepala kau langsung jernih dipukulnya.” Kalboza berbisik. “Ho-ooh.” Kalpra tertawa kecil.


“Ssstt... jangan tertawa. Nanti, dia mendengarnya, kau bisa—”


“Hei, hei, kalian. Cukup berbisiknya! Kalian ingin kupukul?” Aisha menyergah tegas.


“Eh, benjol. Eh, benjol. Hehehe.” Kalpra berucap terulang. Salah ucap, salah tingkah.


Aisha lanjut bersuara lantang, menghentikan tawa di antara mereka berdua. Dia sudah mengepal tangan, mempersiapkan diri melayangkan pukulan.


Aneh juga, padahal tadi mereka berbisik sudah sangat pelan—kemungkinan telinga Aisha lebih peka dari siapa pun hingga bisa mendengarnya, walaupun mereka berbisik tidak menjadi penghalang bagi orang yang selama ini terlatih hidup di pulau hutan.


Seperti biasa, matanya memelotot tajam. Kurang puas, tambah lagi bersuara lantang, berkacak pinggang. “Kalian benar-benar ingin kupukul?”


“Eee ... eh, jangan. maaf kami tidak sengaja, tadi kami benar tidak sengaja.” Kalpra


salah tingkah lagi. Sudahlah mangut-mangut saja—isyarat Kalboza.


Kalpra menatap isyarat itu setuju. Mereka mangut-mangut—meminta maaf, melakukan drama palsu, mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah berdampingan persis berbentuk (V)


“Lain kali, kami tidak akan mengulangi.”


“Baguslah. Camkan itu. Jangan pernah mengulanginya!” Aisha masih bersitatap—dasar singa kelaparan. Kalpra bergumam menatapnya. Wanita ketus, wanita kurang sopan santun.


Kalboza tertawa mendengar sedikit gumaman orang di sampingnya. Untung saja, Aisha tidak mendengar gumaman tersebut. Aneh juga, padahal tadi dia mendengar bisikan mereka, sekarang gumaman saja dia tidak mendengarnya.


Mereka berdua menghela napas. Perlahan, menjauh dari jarak Aisha agar masalah tidak bertambah melebar ke segala arah.


Para anak buah lainnya masih duduk tak menghiraukan perihal tersebut. Keadaan sejenak berubah sunyi.


Mereka saling terdiam merenung, tampak berkutat memikirkan keanehan yang sekarang mereka alami, ditangkap netra pun bingung mau ngapain. Astaga? Mereka telah kelelahan. Semula mereka itu berlari dari sana hingga ke tempat sekarang.


Begitulah helaan napas dan perasaan bergantung cemas. Angin berembus, melambaikan dedaunan. Pohon persik di sana alangkah indah warna daunnya, ternampak bagai petang di ufuk barat—mempesona.


Di tempat itu, salah seorang anak buah punya rencana. Dia telah berpikir sejak tadi mengenai pencarian sang kapten yang disangka jatuh ke dalam jurang. Dia tidak memikirkan ikan yang hilang, itu jelas ilusi untuk apa memikirkannya, tidak penting. Begitulah kiranya sudut pandang Kalpra.

__ADS_1


Ya, Kalpra yang semula ingin dipukul Aisha karena tertawa di hadapannya.


“Kawan, sebenarnya di dalam kapal kita ada tali. Kita bisa gunakan itu, nanti biar aku yang masuk ke dalam jurang, kalian memegang tali itu dari atas. Bagaimana menurut kalian?” Kalpra mendapatkan ide. Dia langsung menyampaikan keseluruhannya tanpa tanggung, tanpa ragu.


“Tapi, Kalpra itu berbahaya.” Dausa menyela ide, “Masih ada cara lain. Janganlah gegabah melakukan hal itu, Kalpra.”


“Cara apa yang kau maksud, Dausa?” Kalpra bertanya serius. Dausa berdiam sejenak, tak bisa menjawab pertanyaan Kalpra.


Merasa tidak ada jawaban. Kalpra memandang ke sekeliling mereka. “Sudah, kalian percaya saja, caraku ini pasti berhasil. Kalian juga tidak perlu khawatir.”


Khawatir? Siapa yang mengkhawatirkannya? Tanyakan saja pada mereka, jawabannya tidak ada yang mengkhawatirkannya. Haha, dia sekadar basa-basi memperpanjang dialog.


Astaga? Luar binasa sekali. Tega—tak punya hati. Oke, lanjutkan dialognya. Beginilah caranya. Tidak usah dibahas lagi, lupakan. Terlalu banyak bertele-tele.


“Kau bergurau di saat situasi tegang seperti ini. Astaga? Kau terlalu.” Tidak, lupakanlah. Sudah dibilang lupakan. Enak saja kalau bicara. Ada hal yang lebih penting.


Tabra daritadi mendengarkan tampak menghela napas, “Kalian ini ribut sendiri.”


“Berdamailah. Jangan saling ribut atau apalah yang membuatku tidak nyaman, sudahi semua itu.”


Jalbia mengernyit. “Hmm, siapa yang ribut?”


“Suaramu itu ributnya!” Tabra menyergah, menatap sangar.


“Masalah bagimu, ribut itu wajar!” Jalbia tidak terima, lanjut bersuara lantang.


“Bagiku itu tidak masalah, tetapi dengan kalian ribut di depanku itu tidak akan menyelesaikan masalah!” Tabra memalingkan pandangan. Dia marah tak sudi memandang orang di hadapannya.


Tabra menjauh dari mereka. Aswa Daula yang melihat kejadian itu menghampiri Jalbia yang tampak mengumpatkan kekesalan. Dua orang bersamanya juga ikut merasa kesal.


Bagaimana mereka tidak kesal. Sebelum Tabra menjauh, dia meludah di depan mereka. Apa itu akhlak yang baik? Buruk sekali—tidak punya sopan santun. Tetapi, apa pun itu Aswa Daula punya jurus mendamaikan. Dia mencoba mendehem sejenak.


“Apa yang dikatakan Tabra itu benar, ribut tidak akan menyelesaikan masalah. Jalbia, Glosia, Boba. Aku tahu ribut itu wajar, tetapi belajarlah mengendalikan situasi. Tempatkan diri kalian di saat yang tepat, kalian sekarang malah menunjukkan sikap bodoh yang tiada gunanya sama sekali.” Aswa Daula angkat bicara tegas. Siapa sangka? Dia memandang serius ke sekeliling mereka yang tengah ribut.


“Sini, maju kau!”


“Benar, kau berlagak pintar!”


Di antara mereka, Dausa yang semula diam, kini menyaksikannya tertawa. “Kalian ini, sudahlah. Ribut tidak akan menyelesaikan masalah. Akan kutambahi perkelahian juga tidak akan menyelesaikan masalah. Kalian bodoh!”


Mereka memalingkan pandangan, menatap Dausa yang menertawakan mereka. Dausa menyengir lebar. “Ya, kalian orang bodoh. Kalian marah padaku?” lanjutnya menggunakan kalimat tajam.


“Dausa, kau sama saja seperti Aswa Daula berlagak pintar di depan kami.” Tangan mereka sudah mengepal, siap menabok.


Dausa tertawa menatap mereka, lalu memalingkan pandangan. “Kalboza, cobalah kau sebutkan apa yang dimaksud pintar dan bodoh itu kepada mereka?” Dausa menatap Kalboza yang daritadi berdiam, tidak menghiraukan perdebatan mereka. Tabra dan Aisha tampak acuh tak acuh—sibuk memikirkan, juga menenangkan diri.


Kalboza kaget, garuk kepala. Eh, sibuk tidak bisa diganggu—dasar Dausa tukang libatkan orang saja kerjaannya. Astaga? Bukanlah itu perkataannya, melainkan sayur asam katanya. Pergi sana.


“Kalboza!” Dausa berseru kencang. Mengulangi ucapan berkali-kali, menatapnya dengan isyarat—ayo cepat kau katakan pada mereka. Kalboza elus dada. Astaga? Tahulah, ekspresinya macam gula dimakan sapi.


Jalbia, Glosia yang tadi berdebat perihal bodoh dan pintar masih setia menunggu jawaban dari maksud kata bodoh dan pintar. Dausa sekadar bertanya, tidak dalam konteks bicara.


“Kalian ini mengapa tidak mencari sendiri jawabannya. Bodoh!” Kalboza tertawa. Wah, hendak terkena tabok ini orang. Ayo, kerumuni dia. Mereka pun mengepal tangan berkemurun mengelilingi Kalboza, meremas tangan.


“Eh, bercanda. Astaga? Kalian ini, tidak punya selera humor, bodoh!” Kalboza lagi, lagi dan lagi mengucapkan kata yang tidak sopan. Sudah tabok saja. BUUK! aduh, Kalboza elus kepala, benjol. Kasihan tidak? Rasakan. Jalbia tertawa puas.


“Siapa yang bodoh, Kalboza?” Boba mengangkat kepala—ayo, sini maju lagi.


“Eh, jangan. Bodoh.” Ulangnya berulang kali tampak tertawa sejenak. Jalbia, Glosia, juga Boba menatap tidak mengerti. Dia baru saja terkena tabok, tetapi masih saja tertawa.

__ADS_1


“Tertawamu itu menular.” Glosia berbisik ke telinga Jalbia yang tadi tertawa. “Eh, mana ada. Kau bicara sembarangan!” Jalbia juga berbisik.


Kalboza bangun mengibas pakaian, menatap mereka serius. “Itulah kebodohan, kau bicara bodoh sama orang bodoh. Hasilnya sama saja.”


Sejenak diam. Mereka menatap penasaran. Pun Aisha, dia juga tampak memperhatikan, tidak berbicara sedikit pun.


“Kebodohan laksana awan yang menutupi sinar matahari. Seberapa jauh kau jelaskan, seberapa jauh kau ungkapkan, kesemuaan kalimat tidak akan merasuk ke dalam akal selama masih ada awan yang menutupinya.”


“Apa maksudmu, Kalboza?” Dasasa bertanya heran. Sekiranya makna awan membuatnya tidak mengerti atau dia tidak menyimak paragraf kalimat pertama yang disampaikan Kalboza.


Kalboza menatap serius lagi. “Kebodohan laksana awan. Akal adalah matahari.”


Dasasa memegang dagu, mangut-mangut berusaha memahami. Sementara, di sampingnya Boba tertawa mendengarnya.


“Kalboza, kau mengada-ada. Bukankah kebodohan itu akan hilang saat ada pelajaran, juga penjelasan dari sesuatu yang tidak dimengerti?”


Kalboza berdiam sejenak, tidak hirau. Boba merasa menang sendiri, berbeda dengan Ashraq yang sejenak mendongak, menatap sekumpulan awan, merenungi ucapan Kalboza yang bertutur aneh. “Aku tidak mengerti, jelaskanlah dengan saksama.” Ashraq menatap Kalboza serius.


“Kebodohan yang hakiki adalah di saat kalian diberi nasehat. Kalian mengelak, mengatakan ujaran membalas ucapan, terserah dan lain sebagainya. Selama awan itu masih melingkar, menutupi matahari, selama itu kalian diberikan nasehat pun percuma, tidak akan masuk ke dalam akal. Ia tertolak akan kebodohan kalian sendiri.” Kalboza menjelaskan panjang lebar.


“Bahkan di suatu kaum ada yang menyebut orang yang tidak mau menerima nasehat. Dia adalah orang bodoh yang merangkak di hamparan bumi tanpa badan. Masa bodoh dengan orang lain.”


“Bukankah sebelumnya Tabra dan Aswa Daula sudah menegah kalian? Tapi, kalian malah mengelaknya, bahkan berulang kali kukatakan bodoh, kalian tidak berpikir,” lanjutnya bersuara tegas. Dausa daritadi sudah mengerti maksudnya, dialah yang mengajukan pertanyaan. Walaupun jawabannya berbeda dari yang diharapkan.


“Kendatipun demikian, nasehat harus disampaikan dengan indah. Kala berbicara dengan seseorang gunakanlah bahasa yang tidak menyinggung. Sungguh, butuh pemahaman agar tidak terjadi perkelahian. Aswa Daula memang salah. Dia telah salah menyebut kalian bersikap bodoh.” Kalboza secara tak langsung membela, mengatakan sudut pandang miliknya, Aswa Daula mengerti. Dia berdiam menyimak.


“Hei, Kalboza. Kau sudah tahu. Aswa Daula yang lebih dulu menyebut kami bersikap bodoh, andai dia tidak mengucapkan kalimat itu, tentu kami tidak akan marah!”


“Iya, benar. Aswa Daula yang salah. Kau tidak bisa menyalahkan kami.” Jalbia menyilangkan tangan. Menatap ketus. “Nasehat apanya, itu bukan nasehat, melainkan cercaan!”


“Iya, benar. Sok pintar!” Glosia menyahut tajam, keduanya sama saja. Ashraq tertawa, ada-ada saja, dia gelengkan kepala.


“Lupakan sejenak masalah itu.” Boba menahan mereka. “Kalboza. Kalau begitu, bagaimana dengan maksud dari kata pintar. Tadi, kau hanya menjelaskan tentang kebodohan yang ada di diri kami. Lalu apa perbedaan di antara keduanya?” Boba lanjut bertanya mewakili Glosia dan Jalbia yang tampak diam.


Kalboza mengangkat bahu. “Cari saja sendiri.” Dia enggan menjelaskan. Di lain keadaan, dia menilai nantinya akan terjadi perbedaan dalam segi pemahaman yang akan memperpanjang perdebatan.


Glosia geleng kepala. “Haduuh, hendak terkena tabok lagi?” Di sampingnya, Boba sudah mengepal tangan. Begitu pun Jalbia, bahkan tampak menatap tajam.


Kalboza menghela napas, memahami tingkah laku mereka yang tidak terima dengan ucapannya.


Dia pun berdehem sejenak. “Sederhananya begini, kawan. Kepintaran itu ternampak dari cara seseorang bersikap, salah satu yang bisa dijadikan contoh adalah menempatkan situasi di situasi yang tepat.”


Jalbia, Glosia, Boba tampak tidak setuju. Bukankah itu bukan nasehat, Aswa Daula saja yang tidak pandai menghina.


“Kita tutup masalah ini. Aswa Daula, lain kali berucaplah yang lebih sopan. Aku sulit mencari penjelasan agar kalian bisa berdamai.” Kalboza cepat mengalihkan pembicaraan, memendekkan perdebatan.


“Benar, sudah jelas biangnya. Semua ini adalah kesalahan Aswa Daula.” Jalbia tetap bersikeras mengulangi tuduhan miliknya.


Aswa Daula tersenyum. “Benar saja, ini adalah kesalahanku. Kita saling memaafkan. Di lain keadaan nanti, aku tidak akan mengucapkan kalimat itu.”


Aswa Daula mengulurkan tangan—ingin bersalaman, tetapi mereka bertiga malah enggan menyambutnya. Ashraq juga yang lainnya ikut membantu perihal Aswa Daula dalam menenangkan tiga orang yang tampak enggan tersebut.


Mereka mewanti-wanti tiga orang itu untuk saling bermaafan. Kalimat maaf itu indah, memaafkan kesalahan orang lain jauh lebih indah dari apa pun di dunia ini.


Mereka bertiga sejenak saling tatap. Perlahan, mengulurkan tangan. Aswa Daula cepat menyambut, mereka pun bersalam-salaman, bermaaf-maafan.


Tiga orang itu saling tersenyum. Menyusul Ashraq yang terlebih dahulu tertawa. Dia memecahkan suasana. Disusul Kalboza dan yang lainnya satu per satu kelikikan.


Aswa Daula berangsur-angsur ikut tertawa, lalu melepaskan salaman. Dengan terpaksa Boba ikut tertawa. Jalbia, Glosia sama terpaksanya. Mereka tertawa.

__ADS_1


Kemarahan yang tadinya mengakar di dalam diri, kini meredam dipatahkan kata maaf. Patahnya kalimat bersamaan ketulusan yang terpancar jelas menyinari suasana mereka. Jalbia, Glosia tertawa. “Lain kali, kalimat bodoh itu tidak kau pakai. Percuma.”


“Benar, percuma.” Jalbia mangut-mangut setuju. Aswa Daula mengangkat alis, tidak mengerti. Mereka tertawa, sejenak pikiran yang tadinya keruh, hilang sudah semua itu, kini mereka tertawa lepas dengan rasa senang yang hinggap di lubuk hati.


__ADS_2