Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 49 – Lelah


__ADS_3

Kapten Kuja sudah pergi jauh dan menghilang dari hadapan mereka.


"Kapten, apa yang telah dikatakan olehnya sama persis dengan apa yang ada di dalam surat itu!" Aisha memandang ke arah Akma Jaya sambil mengatakan sesuatu yang dia dengar sebelumnya.


"Iya, aku juga merasa begitu!" Akma Jaya menjawab ringkas.


"Kapten, apa Anda yakin bahwa dia tidak berbohong?" Tabra bertanya dengan wajahnya yang tampak serius.


"Aku percaya!" jawab Akma Jaya ringkas.


Tabra merasa tidak puas dengan jawaban Akma Jaya, terlihat jelas dari sorotan matanya yang menunjukkan ada rasa kejanggalan yang belum dia temukan jawabannya. Melihat wajah Tabra yang begitu, Akma Jaya melanjutkan ujarannya.


"Dia tidak mungkin berbohong, sedangkan kita tidak pernah membocorkan isi surat itu, bahkan kita tidak menyebutkannya!"


"Apa yang dikatakannya sama persis dengan isi surat tersebut! Dia bahkan memberi rincian untuk menemukan harta karun itu!"


Akma Jaya berjalan mendahului mereka, meninggalkan Tabra yang tampak mengiakan lanjutan dari Akma Jaya.


Tabra, Aisha serta anak buah lainnya mulai mengikuti Akma Jaya dari arah belakang.


Mereka semua menelusuri jalan tebing pegunungan, jalanan yang menanjak, Tabra begitu bersemangat tatapannya dipenuhi cahaya binar.


Aisha yang melihat itu, dia menyernyit kesal.


"Hei, Tabraaa!! Bisakah kau jangan membuatku kesal!"


"Apa salahnya? Kenapa kau kesal?" Tabra bertanya dengan wajah konyolnya.


Aisha memalingkan wajah, dia tidak menjawab perkataan Tabra.


"Aishaaa!! Ada ular dikakimu!" Tabra berteriak dengan nada kerasnya seolah benar ada ular dikaki Aisha.


"Aaaaa!!" Tanpa memperhatikan sekitaran, Aisha langsung berteriak kaget karena mendengarnya.


Seketika dia menutup matanya sambil berlari, setelah jarak yang lumayan jauh, dia membuka matanya dan menatap ke arah semula dia berlari.


Dari yang terlihat, tidak ada apa-apa. Tabra terbahak, anak buah lainnya hanya memperhatinkan dan tampak mereka sedang menahan tawa, sedangkan Akma Jaya hanya berdiam dan tampak menggelengkan kepalanya.


Aisha sudah terkecoh oleh perkataan Tabra, lantas saja dia marah. Wajahnya berubah sedikit menyeramkan.


"Tabraaa!! Awas kau!" Aisha berlari menghampiri Tabra dengan telempap tangan yang sudah siap sedia untuk mendaratkannya.


Tabra langsung berwajah kecut.


"Aishaaa, tu–tunggu ...."


Plakkk!!

__ADS_1


Pukulan telempap tangan Aisha mendarat tepat di area pipi Tabra.


Aisha bernapas puas, sekarang dia tertawa dengan mulut yang terbuka lebar dan menyuruh anak buah yang dia perhatikan sejak tadi menahan tawanya untuk melampiaskan dan menertawakan Tabra.


Suara tawa bergema menyelimuti suasana kebersamaan mereka. Anehnya Tabra malah ikut tertawa, sedangkan Akma Jaya hanya menampakkan giginya tanpa mengeluarkan suara, bisa dibilang sebuah senyuman.


Setelah itu, mereka semua melanjutkan perjalanannya. Tak lama, belum seperempat perjalanan beberapa anak buah mengalami kekelahan.


Begitu pun dengan Tabra, dia sudah merasa lelah, napasnya berembus ngos-ngosan. Sementara Aisha tidak terlihat kelelahan, dia seorang wanita yang kuat.


Akma Jaya yang melihat Tabra kekelahan, dia mengulurkan tangannya kemudian merangkul Tabra, mereka berdua berjalan berbarengan.


"Kapten, saya bisa berjalan sendiri."


"Aku tak bisa membiarkannya!"


Akma Jaya tak memperdulikan apa yang dikatakan Tabra, dia terus merangkulnya, mereka berdua berjalan bersama-sama menanjaki jalanan hingga mereka sampai di sebuah pohon yang besar dan rindang.


"Hei, kalian semuanya. Kita akan beristirahat di sini!"


"Ba–baik, Kapten."


Mereka semua beristirahat karena peluh keringat yang terus membasahi sekujur tubuh, rasa lelah sudah mencapai batasnya.


Mereka baru berjalan dua jam, mungkin karena mereka terbiasa di lautan dan belum terbiasa menjalani jalanan yang menanjak seperti itu hingga membuat mereka kelelahan.


Sebelum menanjak, dia begitu bersemangat untuk menjalaninya dan beranggapan bahwa itu mudah, sekarang dia mengetahui bahwa anggapannya itu ternyata salah.


"Gunung ini lumayan tinggi, bahkan untuk mencapai tengahnya saja, kita sudah kehabisan tenaga!"


Tabra berbicara sambil menghela napas lelah, tetapi Aisha membantahnya.


"Aku tidak lelah sedikit pun!"


"Kau pasti berbohong!" Tabra menyahut cepat perkataan Aisha.


Tabra menunjukkan tanggapannya bahwa dia tidak percaya dengan ucapan Aisha.


"Cobalah lihat, aku bernapas seperti biasa, tidak kehabisan tenaga sepertimu!"


"Haaaaaa!!"


Aisha meneriakkan suara untuk menunjukkan bahwa dia tidak kelelahan.


"Aku tetap tidak percaya, walau bagaimanapun kau menunjukkannya kepadaku!"


"APA?! Apa yang kau bilang? Aku tidak mendengarnya, bisakah kau mengulanginya?" Aisha berkata sambil menarik kerah baju Tabra dengan matanya yang terbelalak lebar.

__ADS_1


Tabra mengiakan bahwa Aisha tidak kelelahan, sebetulnya dia terpaksa mengiakannya, tatapan Aisha baginya begitu mengerikan.


Sementara itu, Akma Jaya tak menghiraukan mereka, dia cukup mengenal kebiasaan kakak beradik tersebut, mereka berdua sering kali tidak sependapat dan akibat dari itu, keduanya malah berseteru.


Setelah Tabra mengiakannya, Aisha melepaskannya kemudian ia menjauh dari tempat Tabra dan mencari tempat untuknya beristirahat, menyendiri sambil menikmati suasana pegunungan dengan hawa sejuk yang menyertainya.


Aswa Daula tampak merabahkan dirinya, beberapa anak buah lainnya sama seperti Aswa Daula, mereka semua merabahkan diri untuk beristirahat.


Pada waktu istirahat itu, Akma Jaya tampak berduduk dengan santai menatap sekitarannya.


"Ka–kapten!" Tabra menghampirinya, sedangkan Akma Jaya hanya mengangguk pelan.


"Ada apa?" jawab Akma Jaya.


"Bolehkah saya mengingat beberapa nostagia bersamamu!" Tabra memulainya.


"Aku hanya mengingat sedikit ingatan karena mimpi itu membuat beberapa ingatanku pudar dengan sendirinya! Ini adalah kesempatan yang bagus untukku!" Akma Jaya bergumam dalam hatinya.


"Baiklah, aku memperbolehkannya!"


"Aaa–aa. Saya bingung memulainya harus dari mana?! Bisakah Anda memulainya duluan, Kapten?"


Sesaat Akma Jaya tertegun, apa yang ada di ingatannya separuh ada di alam mimpinya dan bercampur dengan kehidupan yang dia alami, keduanya hampir membuat delima yang cukup membingungkan.


Pada akhirnya, dia mengingat satu peristiwa saat dia berjanji dengan Tabra. Dia pun mengatakannya.


"Salah satu janji yang kuucapkan kepadamu, apakah kau mengingatnya?"


"Ah. Itu! Saya mengingatnya!" Tabra berwajah senang mendengarnya.


Akma Jaya dan Tabra memperbincangkannya, mengingat kembali peristiwa itu, janji yang diucapkan Akma Jaya kepadanya, saat Tabra ingin bercerita, dia mengajukan sebuah syarat, jika Akma Jaya ingin mendengarkannya.


Syarat itu adalah menjadi sahabatnya, sejak saat itu mereka berdua resmi bersahabat, bersama-sama dalam ikatan hubungan dan saling menguatkan.


Kemudian, mereka saling berlatih pedang bersama-sama hingga menciptakan goresan luka dan sampai sekarang bekas luka itu ada ditubuh Tabra.


Mereka mengingatnya kembali dan membahasnya, bahkan Tabra menunjukkan bekas luka yang ada ditubuhnya.


Setelah itu, Tabra tertawa karena sudah puas membahasnya.


"Tak disangka, kau masih mengingatnya dengan jelas."


"Iya, Kapten. Saya mengingatnya, waktu berlalu meninggalkan kita, meninggalkan beberapa kenangan, saya tak akan melupakannya karena ini adalah tanda persahabatan kita."


Tabra terlihat cukup senang karena Akma Jaya mengingat janji tersebut, beberapa hal yang dianggapnya berubah tak seperti yang dia bayangkan.


Akma Jaya tetaplah seperti dulu, hanya saja sikap dewasa sudah lekat pada dirinya, berbeda dengan Tabra, sampai sekarang dia masih saja seperti dulu, tetapi dia hanya berani bercanda dengan Aisha dan tidak berani bercanda dengan Akma Jaya karena wibawa seorang Kapten yang terpancar jelas dari sosok Akma Jaya.

__ADS_1


__ADS_2