Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah


__ADS_3

Anak buah itu bercerita cukup lama, Tabra menghela napas panjang karena cerita itu sudah berakhir.


Sementara itu, Akma Jaya tampak memperhatikan bagian dari lambang tersebut, dengan teliti dia memperhatikannya, ternyata ada tulisan kecil dengan debu yang menutupinya.


Setelah menyapu debu, Akma Jaya membacanya, tertera sebuah nama dari kelompok Bajak Laut Merah.


Dilain tulisan itu, Akma Jaya tak mengerti karena tulisannya yang kono dan sastra yang membingungkan.


Sesaat Akma Jaya melamun menatap lambang yang terukir beberapa tulisan yang tidak dia mengerti.


"Ka–kapten, tentang lambang ini, kita tinggalkan saja. Bukankah tujuan kita ingin mencari harta karun!" Tabra meruntuhkan lamunan Akma Jaya.


"Tunggu dulu, tulisan ini membuatku penasaran!"


"Kapten, tulisan ini berasal dari Benua Ruyanisma."


"Benua Ruyanisma?!"


"Iya, saya mengetahuinya, saat Kapten Kaiza menyerang desa kita, terdapat tulisan seperti ini di lambang mereka!"


"Kemungkinan Bajak Laut Merah ini sama seperti kelompok Kapten Kaiza, tetapi saya hanya menduganya!"


Tabra menjelaskan dengan detail. Akma Jaya masih menatap tulisan tersebut.


"Benua Ruyanisma, ada banyak negara di sana, engkau menyebutkannya lambang ini berasal dari sana."


"Tempat tinggal Kapten Kaiza, aku tidak mengetahuinya, mungkin saja Bajak Laut Merah ini tinggal pada negara yang sama dengan Kapten Kaiza!"


"Mungkin saja, Kapten." Tabra menjawab sambil menelan ludahnya.


Lambang tersebut diangkat oleh Akma Jaya, siapa sangka terdapat lembaran surat di sana.


"Kapten, ada surat!"


Salah satu anak buah tercengang dan langsung mengucapkannya, sedangkan Akma Jaya tak memperhatikan bahwa ada surat di balik lambang tersebut.


Tabra dan Aisha menoleh, sedangkan Akma Jaya mengambil dan melihatnya. Terdapat 4 lembar surat salah satu adalah :



Akma Jaya merenung sejenak menatap surat tersebut, betapa sulitnya tulisan itu dimengerti oleh Akma Jaya.


"Hei, kalian semuanya! Adakah diantara kalian yang bisa membaca tulisan ini?" Akma Jaya berseru dengan suara lantang.


Dia mengacungkan tangan ke atas seraya mengibar-ngibarkan surat tersebut.


Tabra meminta izin untuk melihat tulisannya, Akma Jaya memberikannya, Tabra mengangguk pelan sambil memahami tulisannya, tetapi dia akhirnya menyerah.


"Kapten, kata pertama yang kupahami mempunyai arti kata laut." Tabra menjelaskan apa yang dipahaminya walaupun melontarkannya tanpa alasan yang jelas.


Aisha langsung cepat mengambil surat yang berada ditangan Tabra. "Sejak kapan engkau bisa memahami bahasa dari benua Ruyanisma?" tanya Aisha seraya mengambilnya.


"Lihatlah hurufnya, bacalah secara terbalik, aku sedikit memahami itu!" Tabra menunjuk huruf tersebut.


"Tidak bisa begitu, kita tidak bisa asal menerjemahkan bahasa, janganlah engkau sekali-kali berbuat demikian, sungguh itu akan menciptakan kekeliruan yang sangat fatal!" Aisha bertegas dengan suara lantang.

__ADS_1


Setelah mendengar itu, Tabra tertegun. Dia mengaku bersalah karena asal menerjemahkannya.


"Kubilang adakah diantara kalian yang bisa membaca tulisan ini?" Akma Jaya kembali bertanya.


Salah satu anak buah yang telah bercerita panjang lebar tentang Bajak Laut Mereh, dia mengacungkan tangannya ke atas. "Kapten!" Dia berseru meminta izin untuk membacakannya.


Akma Jaya memberikan surat tersebut.


"Hei, apakah engkau benar-benar mengerti?" Tabra bertanya memandang ke arah anak buah tersebut.


"Benar, saya mengerti bahasa tersebut karena orang tua saya berasal dari sana."


"Jadi engkau adalah keturunan yang berasal dari benua itu, tak pernah kuduga!"


"Benar, setelah ayah saya meninggal, saya dan ibu memutuskan untuk pindah ke Benua Maura Hiba, tepatnya ke Desa Daura!"anak buah itu menjelaskan dengan tenang.


"Sepertinya mentalmu sudah kuat, ya. Hahaha ...." Tabra kembali tertawa.


"Saya mulai terbiasa dengan sikap Anda!"


"Ah, ya. Siapa namamu?"


"Na–nama?!" Anak buah itu tercengang mengucapkan kata dengan terbata, dari raut wajahnya, benar saja, dia terlihat gugup.


Tabra melebarkan senyumannya.


"Hei, engkau terlihat gugup di depanku, tidak usah gugup, jawab saja pertanyaanku!" Tabra tersenyum.


"Aswa, nama saya adalah Aswa Daula."


"Aswa Daula, baiklah. Aku akan mengingatnya, engkau akan kupanggil dengan Daula, aku suka nama itu, jadi bagaimana?"


Aisha dan Akma Jaya hanya terdiam memperhatikan mereka.


"Hei, Kapten. Lihatlah anak buah kita berasal dari benua Ruyanisma, ini keuntungan sendiri bagi kita!" Tabra menatap ke arah Akma Jaya sambil merangkul bahu Daula.


"Aku juga benar-benar tidak mengetahui bahwa engkau adalah keturunan dari benua tersebut, tetapi semoga engkau suka berada di dalam kelompok kami ini, lupakanlah masa lalu agar kita semua bisa rukun bersama-sama dalam kelompok ini, jangan jadikan masa lalu sebagai alasan untuk membuat kita saling serang satu sama lain, justru jadikan itu sebagai acuan untuk memperbaiki diri!" Aisha melontarkan uraian hikmah dari sebuah masa lalu.


Sementara itu, Daula mengangguk pelan, di sela ketengangan akibat uraian hikmah yang dilontarkan Aisha, Akma Jaya melontarkan ucapannya.


"Baiklah, bisakah engkau membacakan surat itu untukku?" Akma Jaya memohon dengan sikap rendah hatinya.


"Saya bersedia, Kapten."


Daula mulai membacakan surat tersebut.



...   "Kelebihan dan kekurangan seseorang terletak dari apa yang ada di dalam hati....


...       "Jangan menilai orang dari luarnya."...


...                               – Zaiya...


__ADS_1


..."Setelah kematian seseorang, mulut terkunci, barang yang berada didiri, semuanya tidak akan mengikuti."...


...                                        Zaiya...


...×××××××××××××××××××...



..."Kematian sebenarnya, ketika kerakusan, kesombongan menghancurkan kehidupan."...


..."Latah, mulut munafik melontarkan kata dengan durjana menyebabkan kematian mental tak rasional, pongah terlampau batas."...


..."Kehidupan ini menipuku!"...


...                                              Zaiya...



..."Engkau datang ke pulau ini untuk mencari Harta karun."...


..."Harta karun itu di atas gunung, di kelilingi awan dengan aroma semerbak bunga persik."...


...                                    Zaiya...


"Kapten, surat ini sudah selesai saya bacakan!" Daula memberi sikap hormat dengan membungkukkan badannya serta mengembalikan surat itu kepada Akma Jaya.


Akma Jaya mengambilnya.


"Lembaran surat ini dipenuhi nasehat, sungguh tak menyangka sebuah nasehat ditulis oleh orang yang seperti dia!" Akma Jaya berucap setelah mendengarnya.


"Benar, apa yang Anda bilang, dari apa yang tertulis di surat itu seperti sebuah nasehat, sedangkan diakhir surat itu cukup membingungkan!" Tabra menyahut perkataan Akma Jaya.


"Kapten, apakah ini sebuah teka-teki?!" Aisha melontarkan pertanyaan heran.


"Ini bukanlah sesuatu yang dapat kumengerti dalam hitungan detik, butuh beberapa saat untuk memikirkannya, bahkan berhari-hari, aku tidak mengetahuinya. mungkin saja ini adalah teki-teki atau surat ini hanyalah catatan dari Zaiya"


Akma Jaya kembali menatap tulisan itu, sedangkan Aisha dan Tabra tampak berdiam, mereka berdua membungkam mulutnya. Seketika suasana berubah menjadi hening.


"Ka–kapten, ini hanyalah uraian nasehat bukan apa-apa, sedangkan diakhir surat itu, kemungkinan itu adalah petunjuk untuk mencari harta karun tersebut." Daula memecah suasana hening dengan ucapannya.


"Akan tetapi, ini mengherankan. Jika itu adalah Petunjuk, kenapa ia membuatnya begitu rumit?" Tabra mengerutkan bibirnya.


"Ini sederhana!"


"Sederhana? Apa maksudmu?"


"Maksud saya adalah petunjuk yang tertera dalam surat itu membuat kita kelawahan dalam mencari harta karun, membuat kita was-was dan berpikir sesuatu yang tidak kita mengerti hingga kita tidak mendapatkan apa pun!"


"Bukankah engkau mengatakan surat terakhir itu adalah petunjuk? Kenapa engkau malah mengatakan itu?" Tabra bersuara keras. Lantas, membuat gemetar anak buah lainnya.


"Sepertinya Anda sudah salah dalam mencerna maksud perkataan saya!"


Aisha tersenyum dan memukul kepala Tabra dengan pelan.


"Tabra, kalau orang lain berbicara hendaknya engkau mencernanya dengan benar!"

__ADS_1


Akma Jaya tidak menghiraukan mereka. Dia terus saja memikirkan secara logika dengan pikirannya sendiri, sedangkan Tabra, Aisha masih sibuk berbincang-bincang dengan Daula, mereka bertiga saling membahas arti dari kata tersebut.


Anak buah lainnya hanya jadi penyimak dari mereka bertiga yang saling melontarkan pendapatnya masing-masing.


__ADS_2