
Boba benar-benar tidak hirau apa pun lagi. Pikirannya sedang melambungkan doa agar sang kapten bisa ditemukan dalam waktu yang secepatnya.
Setelah sang kapten ditemukan dan berhasil mendapatkan peti harta karun itu dia sekarang menanamkan niat ingin keluar dari kelompok Bajak Laut Hitam.
Kelompok yang baginya tempat tiada artinya, kelompok yang baginya tiada punya tujuan apa pun. Nama saja bajak laut. Apa yang selama ini mereka lakukan? Apa mereka selama ini pernah melakukan perampokan, pembajakan kapal-kapal?
Justeru anehnya sang kapten berjubah hitam itu beralasan ingin menciptakan lautan tanpa bajak laut. Boba tidak habis pikir mengenai semua itu. Dia sangat kesal.
Tabra menghentikan latihan angkat batunya. Mengibas pakaian. “Apa yang tadi kalian bahas sehingga Boba menjauh dari kalian?”
Dia berjalan menghampiri. Bicara santai menatap ke sekeliling mereka. Boba telah jauh jaraknya dari mereka semua.
Kalpra berusaha menjelaskan sesuai dengan apa yang tadi mereka bahas. Tabra mendengarnya diam mangut-mangut. Dia langsung mengerti alasan mengapa Boba menjauh dari mereka.
“Kalpra, apa benar ucapanmu mengenai Kalboza?” Tabra bertanya lagi memastikan.
Kalpra mengangguk. “Iya, begitulah kenyataan yang sebenarnya. Aku tidak berdusta. Hanya saja malas menjelaskan untuk kedua kalinya. Boba mengatakanku pendusta. Biarkanlah, aku tenang menerima apa pun yang dia katakan tentangku.”
“Kalpra, bukan begitu caramu berbicara kepada sesama. Apa kau ingin dalam hidupmu dicap sebagai pendusta?” Tabra kembali bertanya dengan raut wajah serius.
“Bagiku cap bukan suatu perkara sebenarnya dalam hidupku. Orang lain bebas berkata apa pun tentangku.” Kalpra menjawab pasti.
Jalbia mengernyit. “Kalpra, ucapanmu itu kurang nyaman kudengar. Kau tahu apa yang jauh lebih menyebalkan di dunia? Mengatakan diri pasrah pada keadaan, kau tidak ada pembelaan sama sekali seakan kau telah kehabisan semangat hidupmu untuk ke depannya.”
Glosia yang mendengarnya mangut-mangut mendukung ucapan Jalbia. “Benar, apa yang diucapkan Jalbia, bagiku lagi kau tampak berputus asa atas apa pun yang orang lain katakan kepadamu.”
Kalpra tersenyum sepintas. “Tidak mengapa, kawan. Bagiku itulah yang terbaik untuk saat ini. Setiap orang punya mulut, aku punya pikiran dan akal sehat untuk tidak menghiraukannya.”
“Lebih-lebih mengenai ideku sebelumnya yang tidak didengar sama sekali oleh kalian.” Kalpra lanjut bicara.
__ADS_1
Ada perasaan mengkal di dalam batin, bergetar. Ide sebelumnya tidak didengar, maksudnya tidak dianggap itu sebuah ide yang bagus. Mereka dengar Kalpra mengatakannya, jelas mendengarnya.
Tabra menatap senyum. “Kalpra, baru sekarang idemu kupikirkan. Bagaimana kalau kita mencobanya?”
Jalbia, Glosia menggeleng kompak. Tabra memandang mereka. “Ada apa dengan kalian berdua?”
“Kami berdua tidak setuju. Bagiku sendiri itu sama saja bunuh diri dan akan lebih ngeri lagi kalau Kalpra jatuh ke jurang sana.” Jalbia menjawab, mewakili jawaban Glosia yang kini mengangguk saat mendengarnya.
Benar, itu bahaya katanya menyambung ucapan Jalbia. Tabra berpegang dagu, memikirkan sejenak. Menatap Kalpra.
“Bagaimana menurutmu, Kalpra?” Tabra bertanya memastikan orang yang sebelumnya punya ide.
“Apa ini menurutmu pantas untuk dilakukan?” lanjutnya bicara mengeluarkan kalimat tanya.
Hambala terdiam di sisi Jalbia. Daritadi ingin menyahut, tetapi dia menahannya agar tidak menjadi tersalah ucap.
Aswa Daula menyimak. Ashraq dan yang lainnya berdatangan menunggu jawaban atas pertanyaan Tabra sebelumnya. Apakah jawaban yang akan dikatakan Kalpra? Semua orang masih menunggu jawabannya.
Kalpra mengangguk. “Pastilah, Ashraq.”
“Keputusanku sudah bulat. Aku akan menuruni jurang dengan tali yang kalian ikat padaku. Sebelum itu kita perlu ke kapal untuk mengambil talinya.” Kalpra melanjutkan dengan nada bicara serius.
Tabra mengiakan tanpa banyak pikir. “Aku sudah setuju untuk mengikuti idemu, sejauhnya nanti asalkan yakin tidak akan terjadi apa-apa.”
“Kalian hanya perlu percaya kepada Kalpra bahwa dia bisa melakukannya.” Tabra memandang ke semua anak buah.
Kalboza mendengus. “Kalpra, aku ingin meminta maaf atas perkataanku sebelummya. Semoga ini bukan perpisahan antara aku dan dirimu.”
“Heh, Kalboza. Ucapanmu itu tidak akan membuatku lebih hilang semangat hari ini, besok-besok aku ingin minum sepuasnya bersamamu, Kalboza.” Kalpra menyeringai, menatap senyuman mantap.
__ADS_1
Boba dari kejauhan mendengarnya sedikit. Ini jauh dari pemikirannya. Rasa kurang tega kalau itu benar akan dilakukan. Walaupun Boba dibuat kesal karena mendengar ucapan Kalpra yang sebelumnya dianggapnya sebagai ucapan dusta.
Akan tetapi, mendengar ide gila seperti itu seakan dia tidak tega. Ini baginya sama saja dengan menumbalkan seseorang hanya untuk mendapatkan apa yang diinginkan angan semata dan itu sia-sia.
Boba memilih tidak bicara apa pun. Dia seakan sudah mengunci mulutnya. Tidak ingin berbicara untuk saat ini. Tabra melambai, menyuruh mereka semua berkumpul karena beberapa ada yang masih sendiri-sendiri di pojok batu sana termasuk Aisha. Lantas kesepuluh anak buah dan Aisha yang kini semuanya telah berkumpul.
“Dengarkanlah kalian semua. Aku sudah setuju untuk mengikuti ide Kalpra sebelumnya. Marilah untuk saat ini kita pergi ke kapal mengambil tali.” Tabra memberikan pidato suara. Beberapa yang tidak tahu merasa terkejut mendengarnya.
Salah satunya adalah Dasasa. “Kalpra, apa kau yakin dengan semua ini?” tanyanya memastikan.
Jangan-jangan dia itu hanya dipaksa oleh Tabra mengikuti ide gila seperti itu. Boba mendengus pelan, matanya memelotot menunduk ingin mendengar jawaban langsung dari ucapan Kalpra.
“Aku sudah yakin, Dasasa. Kau tidak perlu cemas, ideku akan baik-baik saja.” Kalpra menatap penuh keyakinan.
Boba sekali lagi dibikin berkeringat dingin. Sosok gendut itu cukup mempunyai rasa iba atas ide yang akan dilakukan Kalpra. Hei, tidak adakah ide lain? Boba tidak setuju di dalam batinnya.
Saat pertama kali mendengarnya aduhai, mengapa memilih ide seperti itu. Kalpra justeru tersenyum. “Besok atau nanti, cukuplah bagiku ini sebagai pengingat antara perjuangan dan pengorbanan.”
Boba terbelalak, menatap dengan raut wajah campuk aduk. “Kalpra, kau tampaknya serius untuk masalah ini, aku orang yang tadi lancang kini merasa bersalah karena telah menyebut ucapanmu adalah ucapan dusta, maka hari ini aku ingin meminta maaf padamu, kau bagiku sosok yang pemberani.”
“Boba, santai saja. Kau tidak usah menatapku sepertiku.” Kalpra tertawa.
Ini seperti perpisahan baginya. Kenapa mereka malah begitu khawatir? Bukankah sebelumnya mereka tidak begitu? Kalpra bertanya-tanya di dalam benaknya. Astaga? Ini seperti perpisahan yang jauh, jauh sekali meninggalkan kampung halaman.
Sanak keluarga berdatangan menghampiri, memberikan kalimat perpisahan satu per satu. Kalpra sekali lagi tertawa karena membayangkannya. Entahlah apa alasannya dia tertawa, bahkan yang lainnya saja tidak mengerti. Mereka ini sebangsa tidak punya pengalaman, susah kalau tidak punya itu, hal sederhana saja dibikin khawatir.
Bahkan ide Kalpra dianggap ide gila sama saja bunuh diri. Tabra menyeringai. “Kalpra, aku percaya denganmu, kau pasti bisa.”
Tabra menatap kesepuluh anak buah yang tampak beberapa tidak percaya. “Satu hal untuk kalian semua. Jangan pikirkan hal buruk yang akan terjadi, tetapi yakinlah Kalpra pasti bisa. Kita hanya butuh percaya dan mendukung niatnya.”
__ADS_1
Boba berpejam. Dia mencoba meringankan isi kepala berat. Mengembuskan napas keluh, mengapa jadi seperti ini? Kalpra justeru mengorbankan dirinya sendiri, Boba bergumam terus menerus di dalam batinnya. Merasa kurang nyaman.